
Kini Brian dan Vanes pun sudah tiba di kediaman rumah orangtua, Brian.
"Ayo sayang, kita keluar dari mobil sudah sampai nih," lirih Brian sambil manatap wanita yang ada disampingnya.
"Baiklah," ucap Vanes lalu membuka saltbelt nya dan kemudian keluar dari mobil tersebut.
Lalu mereka pun berjalan memasuki rumah Brian. Kedatangan mereka disambut baik oleh orangtua kedua pihak tersebut.
"Ternyata kalian sudah pulang juga ya, sini, Sayang duduk disini," panggil Tika pada calon menantunya. Lalu Vanes pun berjalan menghampiri Bu Tika lalu duduk disampingnya.
"Oya Bu, Ayah, aku permisi dulu ya mau ke kamar untuk ganti baju sekalian mandi dan kamu tetap tunggu disana ya jangan kemana-mana ya," ucap Brian, sambil mengedipkan satu matanya.
"Iss dasar genit memalukan saja," gerutu Vanes dengan pelan dan menatap sebal kekasihnya.
Brian pun tidak menghiraukan Vanes. Dia memilih tidak peduli lalu berjalan menuju kamarnya.
"Lihat Nak, calon suamimu perhatian sekali sama kamu beruntung tuh kamu mendapatkan dia," bisik Bu Lia.
"Ih ibu apaan sih, dia mah orangnya suka gitu menyebalkan!" ucap Vanes.
Tika pun menatap calon menantunya lalu mengelengkan kepalanya saat tidak sengaja terdengar ucapannya. Vanes cengengesan dan merasa malu karena telah berkata seperti itu di depan orangtuanya.
"Oya Nak, kebetulan kita disini sengaja berkumpul untuk mengadakan meeting tentang acara pernikahan kalian yang akan dilaksanan tiga hari lagi," ucap Tika sambil mengusap lembut rambut Vanes.
"A-apa? Tiga hari lagi?" Vanes, merasa terkejut.
"Iya Nak, kenapa emangnya Ibu salah ya mengatakannya?" tanya Tika.
"Eh enggak kok Bu, cuma Vanes merasa tidak percaya saja secepat itukah pernikahannya harus dillaksanakan," Vanes, sambil menatap Ibunya.
"Lebih cepat lebih baik Nak," ucap Tika, kemudian tersenyum.
"Benar tuh Vanes, apa yang dikatakan Ibu Tika. Kamu harus secepatnya menikah dengan Brian agar kejadian tadi tidak terulang lagi apalagi kalau sampai-"
__ADS_1
"Bu, itu semua salah paham. Itu enggak seperti yang Ibu pikirkan," jelas Vanes memotong pembicaraan Ibunya.
"Sudahlah Nak, jika pun kamu tidak melakukan apa-apa, kita tetap memutuskan pernikahan kalian tiga hari lagi," kekeuh Tika sambil menatap Vanes.
"Aku setuju banget dengan keputusan Ibu. Lebih cepat lebih baik Bu," ucap Brian datang tiba-tiba lalu duduk disamping kekasihnya.
"Ck, dasar nih orang datang tiba-tiba langsung nyahut," gerutu Vanes merasa gemas lalu mencubit pinggang Brian.
"Aww ... sakit, Sayang. Benar-benar kamu bar-bar banget ya. Bu enggak salah anakkan? Ini anak Ibu bukan sih?" Tanya Brian sambil menatap Bu Lia.
"Tentu saja dia anak Ibu. Emang kamu pikir anak siapa tuh?" tanya balik Bu Lia, sambil menatap menantunya.
"Ya barang kali anak orang nyangkut dirumah Ibu. Habisnya ini cewek bar-bar banget Bu terus ...." ucapan Brian sengaja d gantung lalu menatap Vanes.
"Iya terus apa?" Vanes sambil menatap tajam Brian.
"Yaa terus dia yang telah berhasil meluluhkan hatiku dan membuat hidupku lebih berharga begitu maksudnya," ucap Brian lalu tersenyum.
"Enggak nyambung banget. Huh dasar gombal, enggak ada receh tuh buat bayarnya," gerutu Vanes sambil menyunggingkan bibir atasnya.
Vanes lalu menatap Brian sehingga netra mereka saling bertemu.
"Jadi orang sombong banget ya, mentang-mentang pengusaha bicara seenaknya," gerutu Vanes, sambil mencubit pinggang Brian dengan keras.
"Cewek bar bar sakit tahu!" pekik Brian.
Karena tidak terima di cubit begitu saja Brian membalas mencubit pipi wanita yang kini ada disampingnya.
"Ih Brian .... ! Aku juga sama sakit tau," kesal Vanes.
Bu Lia mencoba untuk menghentikan perdebatan antara putrinya dan calon menantunya.
"Sudah kalian ini gimana sih dari tadi adu mulut mulu, gimana nanti kalau sudah nikah?" Bu Lia sambil menatap Vanes dan Brian bergiliran.
__ADS_1
"Enggak apa apa Bu, kalau sudah nikah mah paling bertengkar dalam kasur dan selimut," celetuk Brian.
"Iss dasar mesum ...." ucap Vanes dengan menatap sinis Brian.
Lalu Bu Lia, Tika dan Andrew pun hanya tersenyum sambil mengelengkan kepala lihat anak anak mereka.
"Ingat ya Brian, jika nanti resmi sudah menikah jadilah suami yang bertanggung jawab terhadap Istrimu, bimbinglah dia ke jalan yang benar dan ingat tetap lah selalu setia kepada Istrimu," ucap Andrew, sambil menatap putranya lalu menatap calon menantunya.
"Iya siap Ayah, akan Brian laksanakan," ucap Brian, sambil mengangkat satu tanggannya dan hormat.
"Baguslah kalau begitu Nak," ucap Andrew sambil tersenyum.
"Oya jadi gimana keputusannya? Sudah pada sepakat kan tiga hari lagi kalian menikah?" Tanya Tika sambil menatap Vanes dan Brian bergiliran.
"Iya kalau itu sudah kemauan Ibu dan Ayah, Syiffa setuju saja," ucap Vanes, sambil tersenyum.
"Oke, baiklah kalau begitu nanti besok kita datangi Wedding organizer dan MUA untuk persiapan pernikahan kalian nanti," lirih Tika.
"Baik Bu," ucap Vanes dan Brian secara bersamaan.
"Cie calon manten kompak banget ya," goda Bu Lia.
"Ih apaan sih Bu," ucap Vanes menatap sebal Ibunya.
"Apakah kalian sudah Makan?" Tanya Tika sambil menatap Vanes dan Brian bergiliran.
"Belum Bu," lagi lagi Vanes dan Brian menjawab secara bersamaan.
"Hadeuh benar benar ini calon manten kompak mulu ya," ucap Bu Lia sambil tertawa.
"Ih Ibu apaan sih kalau bicara bikin malu aja," protes Vanes.
"Ya sudah kebetulan tadi Bi Ita sudah mempersiapkan untuk makanĀ malam yuk kita makan bersama," Ajak Tika.
__ADS_1
Lalu mereka pun berjalan menuju tempat makan yang sudah di siapkan oleh Bi Ita. Kini mereka pun sedang menikmati makan malam bersama.