
Mobil yang dikendarai Brian pun sudah sampai di kampus tempat kuliah istrinya.
"Maaf ya Sayang, aku tidak bisa mengantar kamu ke dalam, karena pagi ini ada pertemuan penting bersama para pengusaha," lirih Brian yang kini sudah menepikan mobilnya dipinggir jalan kampus.
"Iya enggak apa-apa kok. Ya sudah kalau begitu aku permisi dulu ya Mas," Vanes ambil menatap suaminya lalu mencium punggung tangan suaminya
"Iya sayang, semoga kamu betah kuliah disini dan bisa mendapat ilmu yang sangat berharga buat kamu," Brian mengusap lembut rambut Istrinya.
"Iya Mas."
Vanes pun keluar dari mobil tersebut lalu berjalan menuju kampun. Brian segera menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan tempat kampus Istrinya.
'Semoga saja apa yang di cita-citakan aku dan berkuliah disini bisa sukses mengapai mimpiku. Aku berjanji mulai detik ini akan terus berjuang mewujudkan mimpi aku dan tidak akan mengecewakan orang-orang yang sangat aku sayangi termasuk suamiku.' gumam Vanes bicara pada diri sendiri lalu berjalan masuk ke dalam kampus.
Betapa terkejutnya semua orang saat melihat kedatangan Vanes saat memasuki kampus tersebut. Termasuk semua pria yang kini menatap Vanes tampak berkedip sama sekali dan merasa terpesona. Bahkan ketua basket yang terkenal dingin dan playboy pun di buat takjub oleh kehadiran wanita
"Wiss itu cewek cantik banget bos, mahasiswi baru kali ya, soalnya baru lihat cewek itu," Riko masih menatap Vanes yang berjalan menjauh dari segerombolan genknya.
"Kayaknya iya Ko, soalnya aku juga baru lihat cewek itu," sahut Kiki ikut menimpali.
"Emang iya sih dia anak baru. Cantik juga itu cewek," puji Eka sang ketua basket lalu tersenyum.
"Cie si Bos kayaknya sedang jatuh cinta nih sama itu cewek, aku dukung deh bos Eka," Riko merangkul pundak Eka.
"Apalagi kamu itu ganteng, pinter, seorang pengusaha dan cewek itu cantik banget kayaknya orang kaya juga sih, pokoknya kalian cocok deh," Kiki merangkul pundak Eko juga.
"Apaan sih kalian ini, tapi apakah cewek itu mau menerimaku enggak? Jadi jangan so kepedean bakal diterima," Eka sambil menghempaskan tangan kedua sahabatnya yang merangkul pundaknya.
"Bakal kok," jawab Riko dan Kiki bersamaan.
"Kalian itu so tahu lagi, ayo kita masuk bell berbunyi tuh tanda waktunya kita belajar," ajak Eka.
Eka pun berjalan menuju kelasnya lalu disusul oleh kedua sahabatnya.
"Selamat pagi semuanya?" ucap sang Dosen ya kini sudah berada di dalam ruangan kelas.
"Pagi juga Pak," jawab mahasiswa dan siswi serempak.
"Oya kebetulan hari ini ada mahasiswi baru yang akan belajar dan kuliah disini. Bapak akan memperkenalkannya kepada kalian," ucap Pak Edi( Seorang Dosen).
"Vanes, ayo masuk kedalam," panggil Pak Edi.
Vanes pun masuk ke dalam sesuai apa yang diperintahkan oleh Pak Edi. Tanpa disangka Eka bisa satu ruangan dengannya. Eka pun terus menatap Vanes dan menelisikinya.
"Ya sudah kamu perkenalkan sama teman-teman, siapa nama diri kamu," Pak Edi, sambil menatap Vanes.
"Baik Pak. Oya perkenalkan nama saya Vanesa Angelina, saya anak baru disini," Vanes memperkenalkan dirinya kepada teman temannya.
"Kalian sudah tahu kan, nama dia siapa? Ya sudah silahkan Nak Vanes duduk," perintah Pak Edi.
"Iya, baik Pak," Vanes lalu berjalan menuju kursinya dan kebetulan sejajar dengan Eka.
.
.
PT. CHAYA
Brian dan Nana pun kini sudah berada diruangannya. Della segera duduk tempat kerjanya yang dulu pernah ditempati oleh Vanes.
"Oya, ini berkas berkas yang harus kamu kerjakan," Brian sambil menyodorkan berkasnya.
"Baik Pak," Nana mengambil berkas tersebut.
"Apakah kamu sudah paham bagaimana mengerjakannya?" tanya Brian menatap Nana.
"Tentu saja belum Pak," Nana cengengesan.
"Ya sudah sini aku jelasin dulu," Brian kemudian membuka berkasnya lalu menjelaskannya.
Kini jantung Nana pun berdetak begitu cepat saat Brian menjelaskannya begitu dekat dengan dirinya. Wajah tampannya, hidung mancungnya dan bibir tebal kecoklatan yang membuat Nana semakin terpesona dan betah terus menatapnya.
__ADS_1
"Gimana kamu sudah pahamkan?" tanya Brian lalu menatap Nana.
"Eh iya pak Brian, saya paham kok," Jawab Nana.
"Ya sudah sekarang kamu kerjakan berkas berkas tersebut," Brian, kemudin beranjak pergi dari ruangannya.
"Iya baik Pak! Oya pak Brian mau kemana?" tanya Nana saat Brian sudah berada didepan pintu.
"Mau ke ruangan rapat ada pertemuan bersama para pengusaha," Jawab Brian.
Brian pergi meninggalkan Nana dan kemudian Nana pun mengerjakan berkas-berkas tersebut dengan seutas senyumannya.
*
*
Bell pun berbunyi, pertanda seluruh Mahasiswa/Siswi saatnya untuk pulang. Kini Vanes pun sedang membereskan buku pelajarannya, lalu seseorang pun mendekati dirinya.
"Hei Nes, lagi beresni buku mau pulang ya?" tanya Riko basa basi.
"Hei, iya," jawab Vanes, lalu tersenyum.
"Ya ampun tambah cantik banget kalau senyum. Kenalin namaku Riko."
"Namaku Kiki," Sahut Kiki ikut memperkenalkan diri.
"Hei, Kak Riko, hei Kak Kiki," sapa Vanes.
"Kok panggil Kakak sih, panggil saja nama," protes Kiki.
"Baiklah kalau begitu."
Vanes kini sudah beres memasukan bukunya ke dalam tas.
"Oya Nes, kenalin nih pria paling cakep, pintar, seorang pengusaha muda yang sukses dan juga ketua tim basket disini namanya Eka Pratama," Riko sambil menepuk pundak sahabatnya.
Eka pun hanya tersenyum kepada Vanes, kemudian wanita itu membalas senyumannya.
"Iya silahkan sayang, eh maksudnya cantik," Canda Riko.
Vanes pun hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Kemudian wanita itu pergi meninggalkan ruangan kelas dan berjalan keluar.
"Hei Bos, kenapa diam saja lihat cewek cantik hah? Biasanya langsung di gebet tuh kalau ada cewek cantik," ucap Kiki menghampiri Eka.
"Emagnya harus ya, setiap ada cewek cantik aku samperin hah?" Tanya Eka sambil menatap Kiki.
"Biasanya juga emang suka gitu, Bos ini gimana sih ah," Kiki sambil merangkul pundak Eka.
"Aku lihat itu cewek kayaknya bukan cewek biasa deh, kelihatannya itu cewek suka dengan kelembutan deh," ucap Eka sambil menatap Vanes yang kini sudah berada digerbang pintu.
"Kelembutan? Maksudnya Ka?" tanya Riko merasa tidak mengerti.
"Iya itu cewek orangnya kalau aku lihat lemah lembut, jadi jangan asal sembarangan main deketin aja tapi harus menaklukannya dengan otak dan perasaan," Eka sambil menunjuk bagian otak dan hati dengan tangan.
"Oh jadi gitu maksudnya. Tapi emang iya sih saya lihat emang gitu, ramah, murah senyum lagi."
"Benar itu, pokoknya dia beda dari yang lain," sahut Kiki ikut menimpali.
Eka mengajak kedua sahabatnya untuk pulang karena hanya ada mereka di kelas saat ini.
"Ya sudah ayo kita pulang, sebentar lagi ada rapat diperusahaan," ajak Eka segera beranjak dari tempat duduk belajarnya.
"Siap Bos," jawab Kiki dan Riko bersamaan.
Lalu mereka pun pergi meninggalkan ruangan kelas, dan berjalan menuju parkiran mobil.
"Maaf Non, saya disuruh menjemput Nona oleh Den Brian."
Pak Wen tiba-tiba datang dan keluar dari mobil tersebut.
"Emanya Mas Brian kemana Pak? Sibukkah dia?" tanya Vanes sambil menatap Pak Wen.
__ADS_1
"Iya Non. Den Brian bilang katanya bakal malam juga pulangnya, karena masih sibuk ada pertemuan penting dengan para pengusaha," jawab Pak Wen.
"Oh gitu ya Pak Wen, ya sudah kalau begitu enggak apa-apa."
Vanes tersenyum, lalu masuk ke dalam mobil tersebut. Vanes pun kini berjalan menuju pulang kerumahnya.
.
.
Satu jam kemudian ...
Vanes pun sudah sampai dirumah, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Wanita itu merasa di rumahnya sepi. Biasanya ketika suaminya masih cuti, dia orang yang selalu bikin dirinya kesal dan ketawa. Apalagi mertuanya kini pergi keluar negeri karena Ayah Andrew dan Bu Tika harus menemani putrinya yang kuliah diluar negeri. Vanes pun berjalan menuju kamar, lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur.
'Jangan malam-malam pulangnya Mas, aku merasa kesepian disini meski ada Bi Ita dan Asisten rumah tangga lainnya.' gumam Vanes sambil menatap photo suaminya dan dirinya di atas meja. Rasa kantuk pun menghampirinya Vanes, langsung memejamkan matanya dan kini sedang berada dibawah alam sadarnya.
.
.
PT. CHAYA
"Gimana sudah beres dan bisa'kan mengerjakan tugas pekerjaannya?" tanya Brian, masuk ke dalam ruangannya.
"Sudahlah Pak, seperti inikan Pak?" Nana menyodorkan berkas tersebut kepada atasannya.
"Iya, baguslah kalau kamu sudah paham!"
Brian, kemudian menatap jam tanggannya.
"Oya Pak, apakah sudah beres acara pertemuannya dengan para pengusaha?" tanya Nana.
"Tentu saja sudah. Ya sudah mari kita pulang sekarang sudah malam."
Brian langsung berjalan menuju tempat kerjanya untuk merapihkan meja kerja.
"Baik Pak," jawab Della sambil merapihkan tempat kerjanya.
Setelah semuanya rapi dan tidak ada sesuatu yang ketinggalan, lalu Nana dan Brian pun berjalan menuju parkiran mobil untuk pulang ke rumah kediamannya.
.
.
Seseorang mengetuk pintu kamar, dengan segera Vanes pun terbangun dari tidurnya kemudian menatap jam dinding.
'Ya ampun sudah malah ternyata, sudah jam tujuh malam.' gumam Vanes langsung bangun dari atas ranjang lalu berjalan menuju pintu karena tadi ada yang mengetuk pintu.
"Maaf Non, ganggu."
Bi Ita merasa tidak enak hati karena tau kalau Vanes baru bangun tidur.
"Tidak kok Bi, oya ada apa ya Bi?" tanya Vanes menatap Bi Ita.
"Bibi cuma mau ingetin Non Vanes saja untuk makan malam Non. Bibi sudah siapkan makanannya di atas meja makan."
"Baiklah kalau begitu Bi."
Karena belum lihata suaminya pulang, Vanes pun menanyakan kepulangan suaminya.
"Mas Brian, belum pulang ya?" tanya Vanes.
"Belum Non, mungkin bentar lagi kali Non," jawab Bi Ita.
"Sibuk banget 'kah dia? Jam segini belum pulang? Sudah Nes, jangan berpikiran macam-macam batin Vanes.
Vanes pun mengajak sang bibi untuk ke bawah menemani dirinya makan malam.
"Kita ke bawah Bi, temanin aku makan."
"Baik Non."
__ADS_1
Mereka pun segera berjalan menuju ruangan makan dan pergi dari kamar tersebut.