Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
15. Pamit Pulang


__ADS_3

Keesokan Harinya


Pagi pun telah tiba. fajar menyongsong disebelah timur dan mengeluarkan cahaya yang menembus jendela kamar pengantin baru. Vanes pun terbangun dan langsung melihat jam dinding.


'Ya ampun sudah siang, hari ini 'kan harus pergi mengantarkan Ibu pulang ke kampung halaman.' gumam Vanes lalu bangun dari tempat tidurnya kemudian  menatap suaminya yang masih tertidur pulas. Ternyata suamiku tampan sekali ya, aku sangat beruntung memiliki dia.' Vanes kemudian tersenyum.


Saat Vanes akan berjalan menuju bathroom tiba-tiba merasa kesakitan diarea kewanitaannya akibat pergumulan panasnnya. Wanita tersebut berjalan memunguti bajunya yang berantakan dilantai lalu berjalan ke bathroom.


Suara air membasahi tubuhnya, kemudian Vanes pun mengambil sabun dan shampoo lalu merendamkan tapi tubuhnya di dalam bathtub. Vanes memejamkan matanya kini merasa rileks pikirannya saat mencium aroma wangi bunga sakura yang menempel ditubuhnya.


'Segar banget nih tubuhku. Apalagi aroma sabunnya wangi banget membuat pikiran ku jadi rileks nih. Aku enggak menyangka akan menikah dengan seorang pengusaha yang terkenal di negeri ini. Padahal kalau pikir banyak wanita cantik dan kaya raya tapi kenapa dia lebih memilih aku jadi Istrinya? Tapi sudahlah jangan dipikirin mungkin ini sudah jodohnya aku di atur oleh sang maha Kuasa. Sekarang aku harus jadi istri yang penurut dan melakukan yang terbaik untuk Brian Wijaya.' gumam Vanes tiba-tiba tertawa renyah karena merasa lucu.


Satu jam sudah Vanes mandi di dalam bathtub lalu memakai 'kan handuk kimononya dan segera keluar dari bathroom.


"Eh, ternyata sudah bangun ya?" Vanes merasa kaget saat melihat suaminya berada di balik pintu.


"Seperti yang kamu lihat, pastinya sudah bangun. Aku dengar tadi kamu tertawa di dalam ada apa?" tanya Brian.


"Mau tau? Kepo!"


"Iss menyebalkan sekali. Pasti mengingat kejadian tadi malam 'kan? Malam yang penuh hot dan sensasi," Brian menaikan turunkan kedua alisnya.


"Iss so tahu lagi. Sekarang kamu pikirannya mesum mulu ih. Sudah awas, minggirlah!" Vanes mendorong tubuh suaminya.


"Iss Istriku ini keterlaluan banget ya. Emangnya enggak mau nih kita melakukannya lagi seperti semalam?" terik Vanes yang kini masih berada di balik pintu.


"Enggak!" Vanes, sambil berjalan menuju lemari untuk mengambil bajunya dan menyiapkan baju suaminya.


"Ck, dasar Istriku ini ya. Bilang saja enggak mau bentar 'kan? Pinginnya lama," Brian tetrtawa lalu masuk ke dalam bathroom.


'Dasar menyebalkan sekali dia.' gerutu Vanes dengan menyunggingkan bibir atasnya.


Vanes pun kini sudah selesai memakai baju dress berlengan pendek dan panjang sampai sebawah lutut berwarna biru muda lalu menyisir rambut panjangnya setelah itu memakaikan sedikit lipstitn dan sedikit alas bedak.


Brian yang sudah selesai mandinya lalu berjalan menghampiri istrinya.


"Sayang mana bajunya, sudah kamu siapinkan?" tanya Brian sambil  mengusap rambut basahnya dengan handuk.


"Sudah, ini baju sama celananya," ucap Vanes sambil menyodorkannya.

__ADS_1


"Makasih sa-" ucapan Brian harus tergantung saat menatap Istrinya.


Brian begitu terpesona dengan penampilan istrinya dan wajahnya yang sangat cantik.


"Kenapa bengong sih? Ini baju sama celananya." Vanes, menyadarkan lamunan suaminya.


"Eh iya sayang, terima kasih," ucap Brian sambil mengambil baju dan celananya yang sudah disiapakan oleh Istrinya.


"Oya sayang, kamu cantik banget hari ini. Tapi sayangnya kecantikanmu mungkin bukan buat aku pasti buat orang lainkan?" tuduh Brian.


"Iss kamu ini apaan sih nuduh orang sembarangan saja. Ya tentu sajalah ini demi kamu. Lagian baru kali ini loh dandan seperti ini supaya tidak memalukan orang  saja kalau kamu punya Istri cantik," jelas Vanes.


"Iya juga sih emang bagus. Tapi aku enggak suka bila kamu harus memperlihatkan tubuh indahmu dengan memakai pakaian seperti ini. Apa kamu lupa ya lihat masih ada kelihatan kissmart dilehermu."


"Aku lupa." Vanes pun segera mengganti bajunya.


Mereka pun kini sudah selesai memakai bajunya, lalu Vanes mengajak suaminya untuk ke luar dari kamar.


"Ayo, kita ke bawah kasihan mereka pasti nungguin kita," ajak Vanes, sambil menatap suaminya.


"Baiklah, ayo!!" Brian kemudian menyelipkan tangannya ke tangan Istrinya.


"Selamat pagi semuanya," sapa Vanes pada orang-orang yang ada di meja makan lalu tersenyum.


"Selamat pagi juga Nak, sini duduk Nak. Kebetulan Bi Ita sudah memasak makanan yang banyak nih buat kita," ucap Tika.


"Bukan cuma Bi Ita saja yang masak tapi Ibu kamu juga ikut masak," sambung Tika.


"Benarkah itu Ibu?" tanya Vanes pada Ibunya sendiri.


"Iya betul Nak. Ya sudah Nak Brian, mari duduk cobain masakan ala Ibu siapa tau pada suka," ajak Bu Lia sambil menatap menantunya dan anaknya kemudian menatap Besannya.


Vanes dan Brian berjalan menuju meja makan dan duduk dikursi yang kosong.


"Ehmz ... pengantin baru nih, asyik bebas dong mau kemana-mana juga enggak bakal ada yang larang," sindir Calistra sambil menatap Kakaknya.


"Apaan sih ini anak tiba-tiba nyindir. Makanya cepat nikah biar enggak syirik mulu," Brian menatap adik kembarannya.


"Siapa juga yang syirik? Salah paham nih orang! Aku ...."

__ADS_1


"Sudah jangan berantem kita mau makan lho," sela Tika memotong pembicaraan putrinya.


"Oya Bu Lia, ini makanannya enak sekali ya Bu. Kenapa enggak mencoba usaha bisnis saja misalnya membuka warung makan gitu Bu," lirih Tika sambil menatap besannya.


"Ya benar Bu Lia apa yang dikatakan oleh Istriku itu, ada baiknya membuka usaha warung makan. Sangat di sayangkan makanannya selalu enak tapi tidak dikembangkan bakatnya," lirih Ayah Andrew sambil menatap Bu Lia.


"Ya maunya sih gitu Bu Tia, Ayah Andrew, itu sudah impian aku dari dulu. Tapi mau gimana lagi 'kan Ibu Tika sama Ayah Andrew tau sendiri, aku ini hanya orang biasa jadi mustahil bisa membuka warung makan," ucap Bu Lia sambil menatap besannya.


"Kalau masalah itu Ibu tidak usah khawatir Bu, biar Brian yang akan membelikan tempat yang bagus untuk membuka usaha Ibu," Brian sambil menatap Bu mertuanya.


"Enggak usah Nak, kamu enggak perlu repot-repot. Biarkan saja nanti kalau Ibu ada rezekinya insya allah Ibu akan membukanya sendiri," tolak Bu Lia.


"Jangan berkata begitu Bu, sekarang Brian kan anak Ibu, jadi enggak salahkan bila membelikan tempat usaha buat Ibu?"


"Ya enggak sih Nak, tapi-"


"Sudahlah Bu, terima saja tawaran Brian. Lagian enggak baik loh menolak rezeki. Apalagi yang dikatakan Brian benar, dia sudah menjadi anak Ibu juga jadi enggak ada salahnya 'kan seorang anak  memberikan sebuah tempat usaha untuk Ibunya," Ayah Andrew memotong pembicaraan Bu Lia.


Bu Lia merasa bingung karena merasa tidak enak saja.


"Sudahlah Lia terima saja, enggak perlu merasa bingung gitu. Kita disini satu keluarga demi kebaikan masa depan Ibu juga," jelas Tika lalu terseyum pada Bu Lia.


"Ya betul apa yang ucap oleh Ibuku tapi ini terserah Ibu, kita tidak memaksa kok," sahut Calista sambil menatap Bu Lia.


"Ya sudah kalau begitu, sebelumnya saya ucapkan terima kasih kepada Bu Tika, Ayah Andrew dan juga Nak Brian," Bu Lia merasa terharu kepada keluarga Wijaya yang begitu sangat baik.


"Jadi Ibu menerimanya 'kan?" tanya Brian untuk memastikan dulu.


"Iya Nak," jawab Bu Lia sambil menganggukan kepala.


"Syukurlah kalau begitu. Besok Brian akan membelikan lahan untuk tempat membuka warung makan ya Bu."


"Iya Nak, terima kasih." ucap Bu Lia.


"Iya Bu."


"Ya sudah mari kita lanjutin lagi  makannya, mumpung masih hangat kalau sudah dingin tidak enak," ucap Tika.


Mereka kini sedang menikmati sarapan paginya tanpa ada yang berbicara satu pun.

__ADS_1


__ADS_2