
Satu Bulan kemudian...
Sepasang suami-istri pun kini sedang sibuk dengan memakaikan pakaiannya masing-masing. Hari ini adalah hari pertama Vanes masuk kuliah dan hari ini juga hari pertama masuk kerja setelah lebih Brian, cuti dari pekerjaannya dan menghabiskan waktu bulan madunya dengan Istri tercinta di Paris.
"Oya Sayang, gimana sudah siapkan?" tanya Brian, sambil menatap Istrinya yang kini sedang membereskan buku-buku serta peralatan tulis ke dalam tas.
"Sudah kok, gimana bajunya enggak terlalu mencolokkan dan sudah sopankan?" Vanes meminta pendapat suaminya.
"Sudah, Sayang. Kamu kalau pakai baju apapun tetap cantik ya Sayang, aku jadi enggak rela bila kamu kuliah," Brian sambil menatap Istrinya.
"Lho, kenapa kamu bilang begitu? Jadi kamu enggak mau ya bila aku harus kuliah untuk mengejar cita-cita yang akuĀ impikan?" Vanes merasa kecewa.
"Bu-bukan begitu sayang maksudnya, tapi ...." ucapan Brian, sengaja tergantung lalu menatap Istrinya.
"Tapi kenapa? Vanes penasaran dengan ucapan suaminya yang menggantung.
"Sudah enggak usah dipikirin. Sekarang, ayo kita ke bawah untuk sarapan pagi!" ajak Brian, sambil merangkul pundak Istrinya.
Brian dan Vanes pun berjalan ke bawah tangga menuju ruangan meja makan. Sebenarnya Brian enggak rela bila istrinya kuliah bukan karena tidak peduli dengan cita-cita Istrinya, akan tetapi takut ada pria yang banyak mendekati istrinya.
Saat Brian meminta orang suruhan untuk meminta data dan poto- poto orang yang berkuliah di kampus sana.
Alhasilnya sangat menakjubkan ternyata Istrinya yang paling cantik dengan kulit putihnya, hidungnya yang mancung, bulu matanya yang lentik dan perawakan tinggi seperti bak model yang pastinya sangat diimpinkan oleh setiap para wanita. Dulu
Dulu Vanes tidak pandai merawat diri tapi setelah bersama suaminya jadi rutin melakukan perawatan bersalon seminggu sekali dan hasilnya membuat orang tidak percaya dengan kecantikan Vanes yang sekarang jauh lebih cantik.
"Selamat pagi semuanya," sapa seseorang yang kini tiba-tiba memasuki ruangan meja makan. Kebetulan juga Vanes dan Brian tiba disana.
"Pagi juga Nak Nana, sudah sampai juga ternyata Nak?" tanya Bu Tika.
"Sudah tante baru saja. Eh Kak Brian sudah lama kita tidak berjumpa. Wah, semakin cakep saja," Nana menghampiri Brian lalu memeluknya.
Brian langsung menguraikan pelukannya lalu membersihkan baju dengan tangannya dimana tadi Nana memeluknya seolah-olah kotor.
"Tetaplah jaga sikapmu! Apalagi disini ada Istriku, hargailah dia," ucap Brian dengan datar.
"Eh maaf Kak, habisnya sudah terlalu kebiasaan seperti itu. Oh jadi ini istrinya Kak Brian, ya?" tanya Nana menatap Vanes.
"Iya Nak, dia namanya Vanes, istrinya Brian," sahut Bu Tika.
"Oh, cantik juga ternyata. Kenalkan nama saya Nana puspita," Nana mengulurkan tangannya.
"Vanesa Angelia," jawab Vanes sambil membalas uluran tangan Nana.
"Senang bisa berkenalan dengan kamu, Kak," ucap Nana tersenyum.
Brian segera menarik tangan istrinya untuk duduk di meja makan.
"Ayo, kita sarapan pagi keburu siang," ambil menarik tangan Istrinya menuju meja makan.
Nana memutarkan matanya dengan malas lalu menatap Brian dan Vanes dengan tatapan tidak suka.
"Oya bolehkah, aku bergabung sarapan pagi dengan kalian?" tanya Nana.
"Tentu saja boleh, Sayang. Ya sudah mari duduk Nak," ajak Bu Tika.
"Terima kasih, Tante."
__ADS_1
Nana berjalan menuju meja makan kemudian duduk.
"Oya, Ibu lupa kedatangan Nana kesini, katanya dia mau bekerja menjadi sekretaris kamu, Nak. Menggantikan Istrimu, gimana bolehkan?" tanya Bu Tika menatap putranya.
Brian hanya diam saja tanpa menjawab perkataan Ibunya lalu menatap Nana
"Kenapa kamu meski harus kerja diperusahaanku? Bukannya keluarga kamu juga seorang pengusaha," Brian, sambil menatap sinis Della.
"I-iya karena aku pingin cari pengalaman kerja di perusahaan lain. Jadi tidak ada salahnya 'kan untuk mencoba. Jadi gimana boleh iya, Kak?" tanya Nana dengan memohon.
"Kamu-"
"Sudahlah Mas, tidak ada salahnya terima dia sebagai sekretaris kamun Kasihan dia sudah jauh-jauh datang kesini," ucap Vanes memotong pembicaan Suaminya.
"Baiklah, jika kamu yang meminta untuk menerima dia sebagai sekretarisku," Brian, kemudian tersenyum kepada Istrinya.
"Jadi gimana aku di perbolehkan bekerja jadi sekretaris Kakak 'kan?" tanya Nana, sambil menatap Brian dan Vanes bergiliran.
"Tentu saja boleh kok, mulai hari ini kamu sudah di perbolehkan bekerja. Iya 'kan Mas?" Vanes, menatap Suaminya.
Brian menghembuskan napasnya dengan kasar lalu tersenyum pada istrinya.
"Iya."
"Oke, terima kasih. Akhirnya, Tante, aku di perbolehkan bekerja di perusahaan Kak Brian," Nana merasa senang.
"Iya Nak. Tante juga yakin, kamu pasti bisa bekerja menjadi sekretaris Brian," Bu Tika, sambil menatap Nana.
"Iya, pastinya Tante."
Nana tidak menyangka bisa langsung di terima bekerja jadi sekretaris Bria
Mereka pun kini sedang menikmati sarapan paginya hingga selesai.
Saat sarapan pagi sudah selesai, Brian mengajak istrinya untuk berangkat.
"Ya sudah mari kita berangkat, Sayang," ajak Brian saat sudah selesai sarapannya.
"Baiklah, Mas."
Vanes dan Brian berpamitan kepada Bi Tika sebelum berangkat kerja.
"Ya sudah Bu, saya dan Mas Brian, permisi mau berangkat dulu," pamit Vaned kepada Ibu mertuanya yang masih menikmati sarapn paginya.
"Iya silahkan Nak, hati-hati dijalannya."
Vanes dan Brian segera melangkahkan kakinya untuk pergi dari ruang makan tersebut.
Namun, tiba-tiba seseorang memanggil sehingga mereka menghentikan langkahnya.
"Tunggu Kak Vanes, Kak Brian ...." teriak Nana, berjalan menghampiri Vanes dan Brian.
Brian dan Vanes menghentikan langkahnya, kemudian membalikan badan dan menatap ke arah sumber suara.
"Iya ada apa Nana, memanggil?" tanya Vanes.
"Bo-bolehkah aku ikut bersama kalian untuk berangkat kerja?" tanya Nana.
__ADS_1
Brian dan Vanes saling menatap satu sama lain. Brian merasa keberatan bila Nana ikut dengannya.
"Enggak boleh!"
Nana merasa kecewa saat Brian menolaknya.
"Tapi kalau aku tidak ikut kalian, pasti bakal nyasar. Lagian aku tidak tau dimana perusahaan Brian berada," Nana, dengan menautkan wajah kecewa.
"Benar juga apa yang dikatakan oleh Nana. Dia 'kan pertama masuk kerja, jadi bolehlah ikut bersama kita," Vanes sambil menatap suaminya.
Brian kemudian menatap Istrinya, lalu menatap Nana sekilas.
"Baiklah kalau begitu."
Nana merasa senang saat Brian membolehkan ikut, "terima kasih," Nana, sambil mengalungkan tangannya ke lengan Brian.
Laki-laki itu langsung menghempaskan dengan kasar. "Jaga batasanmu!"
Brian menarik tangan istrinya untuk pergi menuju mobil.
"Maaf."
Nana merasa bersalah dan kesal melihat Brian yang memperlakukan dirinya seperti itu.
Nana pun berjalan menyusuli Brian dan Vanes yang sudah duluan jalan.
Brian dan Vanes segera masuk ke dalam mobil saat sudah dekat dengan mobilnya.
"Kenapa kamu bersikap datar dan kasar sama dia, Mas?" Vanes merasa tidak suka dengan sikap suaminya tadi terhadap Nana.
"Lagian aku enggak suka jika dia menyentuhku. Aku ini Suamimu jadi hanya kamu yang boleh menyentuhku. Seharusnya dia menghargai kamu sebagai sebagai istriku," Brian, menatap Istrinya.
"Terima kasih, Sayang."
Vanes merasa bahagia suaminya melakukan itu demi menjaga perasaan Istrinya.
"Sayang? Tumben sekali Istriku ini mengatakan sayang, ada angin apa ini," Brian menilisik Istrinya.
"Lho emangnya salah ya, Vanes mengatakan kamu, Sayang?"
"Tentu saja boleh, kalau bisa tiap hari panggil sayang, jangan panggil Mas, mulu," protes Brian.
"Aku belum terbiasa!"
"Makanya mulai sekarang biasain panggil, Sayang!" Brian, kemudian mengimpit hidung Istrinya karena merasa gemas.
"Ih Mas ...." Vanes merasa kesal pada suaminya, lalu mencubit pinggang laki-laki itu.
"Ih, Sayang, sakit," pekik Brian
"Biar imbas," Vanes, cengengesan.
Ehmzz ... suara deheman seseorang memasuki mobil lalu memasang saltbelnya.
"Eh Na, gimana sudah siapkan?" tanya Vanes.
"Iya, sudah siap."
__ADS_1
Brian dengan segera menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Vanes terlebih dahulu ke kampus kemudian menuju perusahaan miliknya.