Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
42.Terbongkar


__ADS_3

Seorang dokter pun kini sudah selesai memeriksa pasien yang ada di dalam ruangan tersebut. Dokter itu segera keluar dari ruangan. Brian dan Vanes pun segera berjalan menghampiri sang dokter.


"Bagaimana keadaan dia, Dok?" tanya Vanes merasa khawatir.


"Pasien dalam keadaan baik-baik aja. Beruntung pasien segera di larikan ke rumah sakit kalo enggak entahlah gimana nasih pasien tersebut," jawab Drs. Mia sambil menatap Vanes dan Brian bergiliran.


Vanes pun mengerutkan keningnya karena ada sesuatu yang janggal dengan kejadian yang menimpa Nana.


"Emangnya dia kenapa, Dok?" tanya Vanes.


"Pasien mengalami keracunan," jawab Drs. Mia.


Brian terbelelak merasa terkejut saat mendengar perkataan dokter tersebut.


"Pasien mengalami keracunanan?" Brian mengulami perkataan sang dokter merasa tidak percaya.


"Iya, Pak," kata Drs. Mia tersenyum.


Brian pun mengepalkan kedua tangannya merasa geram, lalu menatap Bella dengan tatapan susah di tebak.


"Kalo begitu saya permisi karena ada pasien yang harus saya tangani," pamit Drs. Mia.


"Iya, silahkan dok," Vanes tersenyum pada dokter tersebut.


Dokter tersebut segera pergi dari hadapan mereka dan berjalan menuju ruangan yang harus dia tangani.


Rasa gelisah pun menyelimuti Bella. Dia merasa jadi tidak tenang, apallagi melihat Brian dengan tatapan bagaikan menerkam mangsa.


"Ma-maaf, saya permisi mau ke tolilet dulu," ucap Bella dengan nada kaku.


Saat Bella akan melangkahkan kakinya berjalan menuju toilet, tiba-tiba seseorang langsung mencengkram lengannya.


"Mau kemana kamu!" Alvin langsung mencengkram lengan Bella.


Bell pun menatap kesal Alvin yang tiba-tiba main tahan lengannya begitu saja.


"Enggak dengar ya? Aku mau ke toilet!" sentak Bella menatap kesal Alvin.


"Lepaskan tanganku!" lanjutnya.


"Kamu pikir kita bodoh? Aku tau kamu mau larikan atas kejadian ini!" Alvin balik sentak Bella.


"Kenapa kamu menuduhku seperti itu? Aku enggak lakuin apa-apa sama Nana, kok," ucap Bella.


Brian langsung berjalan menghampiri Bella, lalu mencengkram dagu wanita itu dan Alvin segera melepaskan lengannya.

__ADS_1


"Katakan yang jujur ... kalo kamu menaruh racun di dalam minuman itu 'kan!" Brian menatap tajam Bella.


Wanita itu merasa kesakitan saat Brian semakin mencengkram dagunya dengan kasar. Vanes yang melihat Bella merasa kesakitan segera berjalan menghampiri sang suami.


"Lepasin dia, Sayang. Lihatlah dia merasa kesakitan," kata Vanes menatap sang suami.


"Aku enggak akan melepaskan dia sebelum dia jujur!" Brian menatap kesal mantan kekasihnya itu.


"Bicara dengan jujur apa yang di pinta oleh Brian. Jangan membuat dia marah," ucap Vanes menatap Bella.


"Sekarang lepaskan dia, Sayang. Aku yakin pasti dia akan kasih kepastian," Vanes menatap sang suami.


Brian pun segera melepaskan cengkraman tangannya dan Bella langsung mengusap-usap dagu yang terasa sakit.


"Coba katakan dengan jujur!" pinta Brian menatap Bella.


Wanita itu pun segera menarik nafasnya, lalu menghembuskan dengan kasar.


"Emang, aku pelakunya! Puas!" Wanita itu menatap Brian.


"Asal kamu tau ya, aku lakuin ini karena enggak rela bila melihat kalian bahagia! Harusnya kamu itu milikku, Brian!"


Bella merasa tidak rela mantan kekasihnya bahagia bersama Vanes. Makanya wanita itu akan melakukan cara apapun agar hubungan keduanya hancur.


Brian pun tertawa terbahak-bahak mendengar perkataan Bella, lalu mengangkat satu tangannya dan menampar pipi mulus milik wanita itu.


"Dasar wanita laknat, mau membunuh istriku ya! Wanita jahat sepertimu pantasnya hidup di geruji besi!" Brian benar-benar emosi ternyata Bella berniat untuk membunuh istrinya.


Seorang polisi pun tiba-tiba datang menghampiri mereka.


"Maaf, apakah disini ada yang namanya Bella Saputri?" tanya Pak polisi tersebut.


"Tangkap aja, dia orangnya, Pak," ucap Brian dengan datar.


Bella pun merasa terkejut saat Brian menyuruh dirinya untuk di tangkap, lalu menatap kesal pria itu.


"Gila ya, kamu mau aku mati di sana!" geram Bella.


"Iya, emang itu cocok tempat untukmu. Wanita laknat dan suka merusah rumah tangga orang serta suka menyebar fitnah tentang poto yang kamu kirim!" Brian menatap kesal Bella.


Wanita itu benar-benar tidak menyangka, secepat inikah apa yang dia lakuin harus terbongkar juga.


"Aku sudah jelasin kalo ...." ucapan Bella harus terputus saat Brian menyela pembicaraannya.


"Bawa dia pergi, Pak. Biarkan selesaikan masalahnya di sana aja," kata Brian.

__ADS_1


"Baik, Pak," ucap Brian.


"Ayo, ikuti saya biar selesaikan masalah ini di kantor," kata Pak Polisi.


"Aku enggak mau, Pak!" tolak Bella.


"Brian tolong aku, kamu tega liat aku masuk penjara?"


Wanita itu berharap Brian mau membebaskannya. Akan tetapi, Brian tidak peduli dengan teriakan Bella yang meminta tolong dirinya.


Bella pun di tarik paksa oleh pak polisi agar mau mengikuti dirinya ke kantor.


"Kerjaanmu sangat bagus! Akan aku naikan gajihmu 2x lipat," kata Brian menatap asistennya itu.


"Benerkah itu Pak?" Alvi merasa tidak percaya.


"Heem."


Alvin pun merasa senang gajihnya di lipatkan. Lima belas menit yang lalu, dia sengaja melaporkan tindakan Bella yang menurutnya sudah termasuk kriminal.


Vanes menatap suaminya, lalu tersenyum. Dia tidak menyangka ternyata pria yang kini jadi suaminya, setia dan berani melawan orang-orang yang ingin menghancurkan rumah tangganya. Vanes pun percaya jika sang suami tidak akan tega selingkuh di belakangnya.


Tiba-tiba Vanes memeluk sang suami. Brian pun mengerutkan keningnya tiba-tiba sang istri memeluk dirinya.


"Maafkan aku, Mas. Aku telah menuduhmu yang enggak-enggak," Vanes menguraikan pelukannya.


Brian pun tersenyum, kemudian mengusap rambut sang istri.


"Beginilah ujian di dalam rumah tangga, pasti ada masalah yang menimpa kita. Tapi percayalah di hatiku cuma ada kamu yang aku cintai dan sayangi."


Brian mencium kening sang istri, kemudin tersenyum.


"Makasih, Mas," Vanes membalas senyuman sang suami.


"Ekhemz ... masuk ke dalam yuk, aku merasa panas nih liat kalian mesra mulu," kata Alvin.


"Iss, apaan sih. Makanya cepat-cepat nikah jangan jombo mulu. Tuh si Nana nikahin sama jomblo," gerutu Brian.


"Apaan sih Bos ngaco kalo ngomong! Udah ayo, masuk ke dalam," ajak Alvin dengan segera masuk ke dalam ruangan dimana Nana ada disana.


"Tuh liatlah, Sayang, dia mau nengokin calon istrinya udah duluan masuk," Brian menatap istrinya, lalu terkekeh.


"Ada-ada aja," Vanes mengelengkan kepalanya.


Mereka pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut dengan saling bergengaman tangan sepasang suami istri itu.

__ADS_1


Vanes dan Brian berharap tidak ada lagi orang yang akan merusak rumah tangganya.


" Tamat/ End"


__ADS_2