
"Sayang, kamu kenapa diam aja? Kalau suami bertanya jawab dong."
Brian menyelipkan anak rambut ke belakang telinga istrinya. Vanes pun tersenyum kepada suaminya.
"Lagian enggak apa-apa kok kamu pergi juga. Ini semua 'kan demi perusahaanmu juga."
Lelaki itu pun tersenyum, lalu memeluk istrinya.
"Makasih, Sayang. Kamu sudah mengertiin Mas."
"Tentu saja sebagai istri harus dong pengertian pada suaminya. Aku percaya walaupun kita jauh pasti kamu bisa menjaga hatimu hanya untukku." Vanes menguraikan pelukannya lalu menatap laki-laki yang kini ada di depannya dengan intens.
"Kenapa kamu berkata seperti itu? Lagian mana mungkin aku berpaling sama wanita lain. Hatiku sudah menjadi milikmu seutuhnya," Brian meraih tangan Istrinya, lalu menaruh di dada bidang laki-laki tersebut.
Vanes merasa bahagia mendengar perkataan suaminya dan Vanes berharap laki-laki itu menjaga janjinya.
"Makasih, Mas, aku sangat senang mendengarnya."
"Ya sudah, kita tidur yuk sudah malam nih," ajak Brian.
Vanes dan Brian pun berjalan menuju menuju ranjang. Saat mereka ada di tempat tidur tersebut dengan segera merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Perlahan-lahan mereka pun tertidur dan kini berada di alam bawah sadarnya.
*
*
Keesokan Harinya
Hari ini adalah hari dimana Brian harus pergi meninggalkan Istrinya karena ada pekerjaan dan proyek di luar negeri. Vanes kini sedang membereskan baju milik suaminya ke dalam koper.
"Oya Sayang, gimana sudah bereskan semuanya?" tanya Brian yang kini sedang mengancingkan baju di pergelangan tangannya.
"Iya sudah kok, Mas," jawab Vanes sambil menatap suaminya.
"Baiklah kalau begitu. Oya Sayang, jaga diri kamu baik-baik disini ya Sayang. Ingat jangan telat makan dan jika ada apa-apa, kasih tau aku ya," Brian sambil berjalan mendekati Istrinya.
"Iya pastinya. Mas, juga disana jaga diri baik-baik, semoga proyek dan pekerjaan disana lancar," ucap Vanes, sambil menatap suaminya.
"Iya. Makasih, Sayang," Brian, kemudian mencium lembut pucuk rambut Istrinya.
Tiba-tiba ada seseorang masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu.
"Selamat pagi semuanya, gimana sudah siap 'kan?" tanya Alvin, sang asistennya.
__ADS_1
"Enggak sopan banget main nyolonong aja," omel Brian, menatap kesal Alvin.
"Maaf, Bos, lupa," Alvin cengengesan.
"Bukan lupa, tapi kebiasaan!" Brian, merasa tidak aneh dengan sikap asistennya.
"Nah, tuh Bos tau sendiri."
Brian mengelengkan kepala, lalu mengembuskan napasnya dengan kasar.
"Sudah jangan adu mulut mulu. Sekarang waktunya berangkat sudah siap nih," lirih Vanes.
"Ya sudah, ayo kita pergi dari sini," ajak Brian kepada istrinya dan sang asisten.
"Siap," jawab Alvin.
"Oya, jangan lupa bawa koperku," pinta Brian kepada sang asisten.
"A-apa aku bawa koper kamu? Kamu menyuruhku?" tanya Brian.
"Tentu saja, aku menyuruhmu untuk membawa koperku. Enggak mungkin Istriku yang membawa koperku, kasihan terlalu berat itu kopernya," jelas Brian.
"Baiklah kalau begitu."
"Selamat pagi, semuanya," sapa Nana saat melihat Brian, Vanes dan Alvin tepat berhenti di ruang tamu.
"Pagi juga Nana," jawab Vanes.
"Alu sudah siap membawa semua perlengkapan baju untuk disana lho," ujar Nana.
Brian menaikan satu alisnya, lalu menatap Nana. Lagi-lagi pria itu hanya mengelengkan kepala saat Nana berkata seperti itu.
"Ayo, sayang," ajak Brian meraih tangan istrinya untuk keluar dari rumah.
"Kasihan banget deh, enggak ada yang jawab. Lagian enggak ada yang sih," Alvin tertawa renyah.
"Ih, menyebalkan sekali dirimu," gerutu Nana sambil menatap kesal Alvin.
Alvin tidak memperdulikan perkataan Nana, dia langsung berjalan menyusul Brian dan Vanes. Nana pun semakin kesal karena perkataanya tidak gubris sekali.
'Menyebalkan sekali mereka.' gumam Nana merasa kesal.
Nana langsung berjalan menyusul Brian, Vanes dan Alvin yang sudah duluan jalan.
__ADS_1
Mereka segera masuk ke dalam mobil. Hari ini Vanes sengaja libur dulu kuliah, Dia lebih memilih untuk ikut mengantarkan suaminya ke bandara.
Ketika keadaanya sudah siap, pak Wawan, sang sopir segera menjalankan mobilnya.
*
*
#Satu jam sudah mereka sampai ke bandara, lalu mereka pun dengan segera keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam bandara.
"Sayang, mas berangkat dulu ya," pamitcap Brian, sambil memeluk istrinya.
"Iya Mas, semoga selamat sampai tujuan," jwab Vanes membalas pelukan suaminya.
"Iya Sayang, maafkan, Mas harus pergi meninggalkan kamu. Enggak apa-apakan Sayang, bila Mas, pergi?" tanya Brian kepada Istrinya sambil menguraikan pelukannya.
"Iya, Mas, Vanes enggak apa-apa kok. Lagian aku ngerti kok, disana masa 'kan karena ada pekerjaan yang sangat penting," ujar Vanes sambil menatap suaminya.
"Makasih, Sayang, sudah mengertiin Mas," Brian kembali memeluk Istrinya.
Entah kenapa begitu berat bagi Brian bila harus pergi meninggalkan Istrinya. Padahal Brian berharap istrinya mau ikut dengannya, tapi tidak mungkin karena Vanes baru saja masuk kuliah.
"Oya Kak Alvin, Vanes titip Suamiku ini ya, Kak. Bila dia Nakal dan berpaling dariku, jangan lupa hubungiku dan Bunuh saja dia," Vanes, tiba-tiba merasa kesal.
"Siap Nes, Kamu enggak perlu takut dan khawatir suamimu akan berpaling, ada aku disini semuanya beres," ucap Alvin.
"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu. Kamu enggak percaya sama Mas, ya? Lagian Mas berjanji akan selalu menjaga hati dan perasaan ini hanya untuk kamu seorang, Sayang," Brian menguraikan pelukannya, lalu menatap wanita yang ada di depannya.
"Baiklah kalau begitu. Janji ya, Mas?"
"Iya, Sayang. Ya sudah sekarang waktunya berangkat nih, jaga diri kamu baik-baik dan jaga selalu hatimu, Sayang, sampai Mas kembali lagi kesini," Brian mengusap lembut rambutnya.
"Iya, Mas."
Brian mencium lembut pucuk rambut Istrinya dan kemudian mencium bibirnya, Vanes pun menyalami dan mencium tangan punggung suaminya.
"Ya sudah, Mas berangkat dulu ya."
"Iya, Mas, hati-hati dijalannya."
Brian, Alvin dan Nana berjalan masuk ke dalam pesawat. Brian pun sekilas menatap Istrinya dan melambaikan tangannya, kemudian Vanes pun membalas lambaian tangannya terhadap sang suami.
Kini pesawat pun akan pergi dan berangkat menuju tempat yang dituju. Dengan segera sang pilot pun segera menjalankan pesawatnya sehingga terbang ke atas langit dan Vanes hanya melihat kepergian Suaminya dari pesawat yang kini semakin menjauh.
__ADS_1