Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
27. Terkejut


__ADS_3

"Bella?" Brian merasa terkejut saat mengenal siapa wanita itu.


Wanita itu tersenyum menyeringai menatap Brian.


"Selamat siang," sapa Bella tersenyum.


"Siang," jawab Brian dengan datar.


Bella tidak sendiri disana, akan tetapi bersama asistennya. Disana juga bukan Bella sendiri yang hadir, ada beberapa pimpinan perusahaan lainnya.


"Previously, I really thank you very much for attending our meeting, as well as discussing our cooperation agremeent," sahut Mr. Zoda.


Para pimpinan yang hadir pun hanya tersenyum sambil menatap Mr. Zoda.


"Can we start now?" tanya Mr. Zoda


"Of course," jawab Brian.


Mr. Zoda pun segera memulai membahas kerjasamanya. Beliau orang yang berpengaruh besar di paris, bahkan perusahaannya sukses besar dan terkenal mendunia.


Brian merasa risih saat Mr. Zoda menjelaskan kerja samanya, Bella terus menatapnya bahkan kakinya pun tidak tinggal diam, di menyenggol kaki Brian.


"Ck, ini orang enggak bisa diam apa? Dari tadi kakinya menyenggol kakiku mulu. Mau dia apa sih? Aku jadi enggak konsen nih menyimak pembahasan dari Mr. Zoda batin Brian."


Pria itu benar-benar kesal dan ingin rasanya menyeret Bella ke luar.


*

__ADS_1


*


Dua jam sudah mereka membahas tentang kesepakatan dalam kerja sama. Satu persatu pun mereka berpamitan. Kini hanya tinggal Brian dan Bella disana ditemani oleh sang asistennya masing-masing.


"Maaf, aku harus segera pergi dari sini!" pamit Brian.


"Kenapa cepat sekali kamu pergi? Sudahlah, disini aja kita nikmati makanan dan minuman. Sudah lama kita tak jumpa," lirih Bella menatap Brian.


"Maaf, aku benar-benar enggak bisa!"


"Egois sekali sih kamu! Walaupun kita pernah menjalin hubungan bukan berarti kita putus segalanya. Enggak bisa apa menerimaku sebagai temanmu," jelas Bella menatap kesal Pria yang dulu pernah ada di hatinya.


Brian pun menghembuskan napasnya dengan kasar. Memang benar apa yang dikatakan oleh Bella, walaupun dirinya sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi bukan berarti putus segalanya.


"Baiklah, jika kamu memaksaku terus untuk menemanimu makan disini."


Bella pun tersenyum pada Brian dan sangat senang akhirnya dia mau makan bersama dengannya. Wanita itu segera memesan makananya pada sang pelayan.


"Enggak, dia sekarang sedang sibuk kuliah."


"Oh."


"Baguslah kalau begitu, ini waktu yang tepat aku bisa selalu manja di paris bersama Brian. Makasih Tuhan, engkau telah pertemukan aku dengan orang yang sangat aku cintai batin Bella."


Sang pelayan pun kini datang dengan membawa pesanan makanannya, lalu menaruh satu persatu makanan tersebut di atas meja.


"Enjoy the food," lirih sang pelayan.

__ADS_1


"Thank you very much," ucap Bella.


Sang pelayan pun segera pergi berlalu dan mereka kini sedang menikmati makan siangnya.


*


*


Bell pun berbunyi, kini seluruh mahasiswa dan mahasiswi pun siap-siap untuk pulang.


Vanes pun kini sedang membereskan bukunya ke dalam kantong.


"Hei, Nes. Kita pulang bareng yuk?" ajak Vika.


"Boleh," jawab Vanes menatap Vika.


Saat Vanes selesai membereskan bukunya, kemudian mereka berjalan keluar dari ruangan kelasnya.


Langkah Vanes harus terhenti saat seseorang berjalan menghampirinya dan berdiri di depan pintu keluar.


"Hei, anak baru mau kemana?" tanya Mela menatap sinis Vanes.


"Tentu saja mau pulang. Sekarang minggirlah!" ketus Vanes menatap Mela.


"Waw, anak baru tapi berani sekali dia menyuruh kita untuk minggir," Mela merasa tidak percaya dengan keberanian Vanes.


"Sudah jangan banyak bicara, minggirlah sekarang!" pinta Vanes.

__ADS_1


Mela pun merasa kesal, lalu meraih dagu Vanes dengan kasar, "kamu tuh anak baru, sudah sok belagu lagi!" Mela menghempaskan dengan kasar.


Ingin rasanya Vanes melawan tapi merasa males bila harus ribut dengan Mela. Wanita itu lebih memilih untuk pergi dari hadapan Mela dan teman-temannya.


__ADS_2