
"Lagian kamu ngasih kejutan apa sih, ini banyak banget barangnya," tanya Vanes lalu turun dari kasur tersebut.
"Coba saja kamu buka, pasti kamu suka barang-barang itu," jawab Brian, kemudian duduk di sofa yang berada di kamar tersebut.
"Seriusan nih, boleh aku buka?" tanya Vanes kembali.
"Iya seriuslah Sayang, ngapain bohong," Brian mengelengkan kepala saat wanita yang dicintainya berkata seperti itu.
"Baiklah kalau begitu aku buka ya," ucap Vanes, sambil berjalan menuju barang- barang tersebut.
"Heem," jawab Brian hanya menganggukan kepala.
Vanes pun segera membuka barang tersebut dan merasa terkejut saat membuka barang yang kasih oleh calon suaminya.
"Ini seriusan buat aku?" Vanes benar- benar tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
"Iya serius, Sayang. Emang kamu pikir itu buat siapa?" tanya Brian berjalan menghampiri wanita yang sangat ia cintai.
"Makasih, aku makin terharu deh sama kamu," Vanes menatap Brian.
"Lho kok terharu sih, Sayang? Harusnya kamu tuh bahagia kali," ucap Brian, menghimpit hidung Vanes.
Vanes menatap kesal Brian karena kerjaannya selalu menghimpit hidungnya.
"Iya, maksudnya terharu karena bahagia juga. Kok bisa tau kalau barang ini yang saya sukai tadi?" tanya Vanes.
"Ya tentu sajalah tau sama orang yang aku cintai dan sayangi. Apapun kemauannya pasti tau maunya apa," lirih Brian, sambil menaikan satu alisnya.
"Yaelah ini orang so tau lagi," ucap Vanes menatap sebal Brian.
"Emang iya, buktinya saja aku tau apa yang kamu suka 'kan."
"Iya deh, lagian enggak apa-apa nih kamu kasih barang semahal ini buat aku nih?" tanya Brian.
"Demi kamu apupun akan aku kasih asal kan kamu bahagia. Gimana kamu suka 'kan?" tanya Brian yang kini ada di depan dirinya.
"Tentu saja aku suka. Lagian ini barang yang aku suka," ucap Vanes cengengesan.
"Kenapa tadi aku suruh ambil enggak mau hah?" tanya Brian sambil menatap wanitanya.
"Abisnya kasihan saja sama kamu nanti uangnya habis dipakai beli barang mahal kayak gini dan ada baiknya kenapa enggak di kasih sama yang membutuhkan saja. Di luar sana pasti banyak yang membutuhkan uang dan makanan," lirih Syiffa.
"Ya itu beda lagi Sayang. Sekarang aku kasih untuk kamu dan demi membahagiakan kamu dulu. Kalau masalah untuk orang membutuhkan setiap seminggu sekali aku suka mengadakan donasi santunan memberikan uang ke fakir dan miskin," jelas Brian kemudian tersenyum.
"Benarkah itu?" tanya Vanes.
__ADS_1
"Benarlah Sayang, kalau enggak percaya tanya saja sama Gilang. Dia juga suka membantu aku membagikannya." Ucap Brian.
"Baguslah kalau begitu. Sungguh mulia banget ternyata hatimu. Nanti aku boleh dong ikut gabung membantu juga."
"Tentu saja boleh, Sayang," ucap Brian sambil mengusap lembut pucuk rambut Vanes.
"Oya, terima kasih iya ini barang-barangnya. Mmzz... sekarang sudah malam nih kamu cepat tidur sana enggak enak nih bila ketahuan sama Ibu dan Ayah nanti dikira kita melakukan apa-apa lagi."
"Iya, Sayang. Lagian aku juga ngantuk nih, semoga kamu nyenyak tidurnya dan moga mimpiin aku, sayang," Brian sambil mencium lembut pucuk rambut Vanes dan pergi berjalan menuju kamarnya.
"Iya."
Entah kenapa hari ini Vanes merasa senang apalagi tadi di sambut baik oleh keluarganya dan kini Brian memberikan kejutan yang membuatnya tidak percaya. Padahal dirinya tidak meminta apa-apa tadi kepada kekasihnya. Akan tetapi kenapa dia bisa tau yang tadi dirinya suka. Vanes tidak mempermasalahkan hal itu.
'Hoamm ... ngantuk nih aku harus cepat tidur sekarang. Lagian besok harus menemui organisasion wedding.' gumam Vanes pada diri sendiri lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur dan menyelimuti tubuhnya dengan selimut. Perlahan lahan Vanes pun mulai terlelap dan kini berada di bawah alam sadarnya.
.
.
Keesokan Harinya
"Selamat pagi cantik," ucap Brian tiba-tiba masuk ke dalam kamar dimana Vanes berada.
"Kenapa masih tidur? bangun sudah siang nih," ucap Brian.
Namun tiba-tiba Vanes pun terbangun ketika mendengar suara yang tidak asing menurutnya.
"Brian ngapain disini .... " teriak Vanes dan merasa kaget saat Brian ada di depannya.
"Kenapa kamu kaget? Bukannya kamu tahu dari tadi kalau aku ada disini?" tanya Brian.
"Tau? Sejak kapan? Emangnya aku mengetahui kedatanganmu kesini, hah!" Vanes, sambil menatap Brian.
"Lho tadi 'kan kamu menyambut kedatangan aku disini kamu ini pikun ya?" Brian merasa kesal.
"Kurang ajar banget ngatain aku pikun ya. Lagian ... ah, Sudahlah enggak bakal kelar urusannya bila bergerutu dengan kamu. Lagian kamu mau ngapain sih kesini?" tanya Vanes.
"Ya tentu saja untuk membangunkanmu. Ibumu tadi yang suruh buat bangunin kamu."
"Masa iya Ibuku menyuruh kamu untuk membangunkanku? Sungguh aneh sekali, jangan- jangan ini cuma akal-akalan Kakak 'kan?" Vanes menyipitkan matanya.
"Ya ampun ini orang tidak percayaan banget ya. Ya sudah sekarang aku susul Ibu kamu, biar percaya sama aku."
"Eh, jangan. Lagian aku percaya kok sama kamu."
__ADS_1
"Ya sudah sana kamu mandi dulu, nanti keburu siang ke sananya. Lagian aku ada rapat siang dikantor," lirih Brian.
"Baiklah. Terus kamu ngapain disini?" tanya Vanes.
"Mau nungguin kamu," jawab Brian dengan datar.
"Iss enak saja aku di tungguin. Mending kamu tunggu saja diluar deh, kalau enggak aku teriak nih," ucap Vanes sambil membuka mulutnya untuk berteriak.
"Eh jangan dong nanti dikira aku ngapain kamu."
"Ya sudah sana cepat keluar!" perintah Vanes, sambil memdorong tubuh kekasihnya.
"Oke baiklah aku akan keluar dari sini," ucap Brian. sambil berjalan menuju keluar.
'Iss, itu orang ada-ada aja tingkahnya. Semakin seenaknya saja.' gerutu Vanes pada diri sendiri dan menggelengkan kepala.
Vanes segera berjalan menuju bathroom untuk membersihkan diri.
.
.
Setengah jam kemudian..
Kini mereka sedang menikmati sarapan paginya. Mereka sangat bahagia sebentar lagi akan menyambut pernikahan putra dan putri sulung mereka. Orangtua Brian dan Vanes berharap mereka langgeng sampai tua nanti dan ini bisa menjadi pernikahan terakhir mereka.
"Oya, Sayang, kamu sudah siapkan?" Tika pada Vanes saat sudah selesai sarapan paginya.
"Sudah kok Bu," jawab Vanes, sambil tersenyum.
"Karena kita sudah selesai sarapan paginya, gimana kalau berangkat sekarang?" ucap Bu Lia.
"Boleh juga tuh. Ya sudah mari kita berangkat sekarang," ajak Tika.
"Oya Bu, Ayah enggak ikut sarapan pagi juga ya?" tanya Vanes menatap calon mertuanya.
"Enggak Nak, tadi pagi-pagi Ayah sudah berangkat ke luar kota ada urusan penting," jawab Tika.
"Oh gitu ya Bu."
"Ya sudah mari kita berangkat sekarang Bu, nanti Brian siang ada rapat di kantor."
"Baiklah, ayo!" Ajak Tika.
Mereka pun berjalan menuju mobil dan Brian segera menjalankan mobilnya saat keadaannya sudah siap. Mereka pergi menuju ke suatu tempat.
__ADS_1