Jangan Ada Duri Diantara Kita

Jangan Ada Duri Diantara Kita
28. Akhirnya


__ADS_3

Seorang wanita cantik dengan memakai baju piyama kini sedang merebahkan tubuhnya diatas kasur. Wanita tersebut menatap ponselnya   dan benar-benar sangat kesal karena hampir sudah seminggu suaminya tidak ada kabar.


'Nih orang kemana sih? Kok enggak ada kabarnya? Mana enggak aktip mulu kalau di telepon lagi.' gumam Vanes merasa kesal, lalu melemparkan ponselnya  ke sembarangan arah.


Tiba-tiba ponsel miliknya pun berbunyi, tanda ada panggilan masuk. Kemudian Vanes pun dengan segera mengambil ponsel tersebut. Betapa bahagianya kini sang suami menelpon dirinya.


'Mas Brian? Aku merasa enggak percaya, baru saja aku merasa kesal karena kamu enggak ada kabar padaku.' gumam Vanes merasa senang.


Wanita itu pun dengan segera mengangkat telepon tersebut.


"Selamat sayang, apa kabar?" tanya suaminya di sebrang sana.


"Baik," jawab Vanes dengan singkat.


"Kenapa jawab gitu sih? Marah ya, karena aku enggak kabar sama kamu?" tanya Brian saat melihat sang istri menatap ke arah lain bukan dirinya.


"Tau, ah."


"Maafin suami ini, Sayang. Emang aku salah jarang mengabarimu. Tapi kamu harus mengerti aku ini sibuk banget kerja sampai makan pun kadang suka telat," jelas Brian.


"Pasti cape banget ya, Mas?" tanya Vanes.

__ADS_1


"Ya pastinya, Sayang, cape banget. Ini pun mumpung lagi nyantai, makanya langsung menelpon kamu," Brian sambil menatap istrinya disebrang sana.


Mereka betulan sedang melakukan video call.


"Maaf ya Mas, tadi aku sudah cuek banget sama kamu dan jawab kayak gitu," Vanes merasa bersalah.


"Iya tidak apa apa, Sayang. Sudah hampir dua bulan kita enggak bertemu. Aku sangat rindu dan kangen sama kamu, Sayang. Apalagi  kangen sama gunung kembar kamu dan hutan yang lebat," Brian tertawa terkekeh.


"Maksudnya gunung kembar? Hutan lebat? Apaan sih Mas,  jangan bilang kalau Mas ngatain aku kayak hewan gitu yang suka berada digunung dan dihutan!" Vanes merasa kesal.


"Ya ampun, Istriku ini benar-benar polos atau gimana ya? Emangnya siapa yang ngatain kamu hewan?" tanya Brian.


"Tadi kamu bilang katanya kangen sama gunung kembar milikku  dan kangen .... " ucapan Vanes mengantung di udara, lalu menatap tajam suaminya.


"Ih, Mas benar-benar mesum banget ya, malah tertawa lagi enggak lucu tau," gerutu Vanes sambil menatap sebal Brian.


"Maaf Sayang, habisnya lucu sih dengan kepolosanmu itu dan sekarang baru nyadar," Brian masih menertawakan istrinya.


"Ih, sumpah enggak lucu ih. Awas saja kalau sudah pulang, aku enggak akan membiarkan kamu masuk ke dalam kamar."


"Iss, enggak boleh gitu dong, Sayang, dosa lah sama Suami gitu. Iya, aku salah deh minta maaf ya, Sayang," Brian tersenyum.

__ADS_1


"Karena aku orangnya baik, oke aku maafin deh. Oya, Mas lagi apa sih?" tanya Vanes.


"Lagi duduk di kursi kerja," jawab Brian disebrang sana, lalu memperlihatkan seluruh ruangan kerja nya.


"Oh. Mentang-mentang yang punya perusahaan jadi seenaknya yang mau telepon juga," sindir Vanes.


"Masa bodoh! Lagian kamu enggak mau ditelepon ya? Ya sudah, aku matiin nih."


"Jangan dong Mas, lagian aku cuma bercanda kok."


"Oya, gimana kabar kuliah kamu? Baik- baik saja 'kan disana? Dan tidak adakah orang yang berani macam-macam terhadapmu?" tanya Brian disebrang sana.


"Enggak ada kok, semuanya baik-baik saja. Jangan khawatirkan aku, Mas."


"Syukurlah kalau begitu. Mau tidur ya?" tanya Brian.


"Iya, Mas. Enggak apa-apa aku tidur duluan?"


"Enggak apa-apa, Sayang. Met bobo istri cantikku, sun jauh dari suamimu yang tampan ini," ujar Brian.


"Iya, makasih suamiku yang sok merasa cakep. Aku tidur duluan ya, love you ."

__ADS_1


"Love you too, Sayang."


Vanes pun segera mengakhiri teleponnya dengan sang suami. Perasaan Vanes kini sudah mulai tenang dan tidak memikirkan yang aneh-aneh tentang suaminya.


__ADS_2