
Ketika mereka sudah selesai mandi dan selesai memakai baju. Kini mereka berjalan menuju sofa yang berada di kamar untuk makan malam.
"Enggak salah kita makan jam segini?" Vanes menatap jam dinding menunjukan pukul jam sepuluh malam.
"Ya tentu saja salah sayang, malahan enggak baik loh malam-malam gini makan. Tapi mau gimana lagi 'kan kita sama-sama lapar dari siang belum makan," ucap Brian sambil menatap Istrinya.
"Iya juga sih, tapi tidak apalah asal jangan terlalu sering saja kali ya."
"Iya sayang. Suapin lagi dong," Brian membuka mulutnya. Kemudian Vanes dengan segera menyuapkan makananya ke mulut suaminya.
Setelah menyuapkan kepada suaminya kemudian Vanes menyuapkan makanan pada dirinya. Begitulah yang dilakukan wanita cantik tersebut hingga makanan habis semua.
"Makasih Sayang, sudah nyuapin aku makan," ucap Brian menatap Istrinya yang kini sedang membereskan piring- piring yang kotor.
"Iya. Oya Kak disini ada eskrim enggak?" tanya Vanes sambil menatap suaminya.
"Eskrim? Emangya kamu mau eskrim ya?" Brian pada Istrinya.
"Iya. Eggak tau kenapa tiba-tiba pingin eskrim nih."
"Aneh sekali Istriku ini, malam-malam gini masa pingin eksrim sih? Atau jangan jangan kamu lagi hamil ya sayang," ucap Brian menatap perut istrinya yang masih rata.
"Iss kamu ini mana mungkin aku hamil. Baru juga kita melakukanya tadi dan setelah menikah jadi jangan ngacoo deh," ucap Vanes dengan polosnya.
"Iya siapa tahu saja 'kan langsung tokker dan langsung ada benih-benih junior di dalam perut kamu. Biasanya kalau orang ngidam katanya suka minta tiba -tiba saja."
"Hadeuh, please deh kamu berpikir logika saja, orang yang suka minta sesuatu tiba-tiba bukan berarti dia lagi hamil kali. Lagian aku sering gitu kok malam-malam sama Ibu minta eskrim," jelas Vanes.
"Bila dong dari tadi itu mah namanya kebiasaan kalau kamu sering gitu sama Ibu kamu," Brian sambil menatap kesal Istrinya.
"Emangnya kamu nanya enggak tadi? 'kan kamu sendiri yang tiba-tiba rusuh mengatakan kalau aku hamil."
"Eh iya juga ya," Brian cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
__ADS_1
"Jadi gimana ada enggak eskrimnya?" tanya Vanes sekali lagi.
"Kayaknya ada deh, soalnya Ibu suka membeli eskrim dan menyetoknya untuk Calista."
"Gimana mau eskrimnya?"
"Tentu saja mau," jawab Vanes.
"Ya sudah kamu tunggu disini biar aku yang ambil eskrimnya, sekalian aku mau ambil laptop di ruang kerja untuk mengecek tentang perusahaan."
"Oke, baiklah."
Brian pun berjalan menuju ruang kerja untuk mengambil laptop.
'Oya, hari ini ada Film drama korea nih yang lagi trend, jangan sampai ketinggalan nih nonton drakor.' gumam Vanes pada diri sendiri lalu mengambil remote tivi dan menekannya.
Vanes pun kini sedang asyik nonton drama korea yang kini sedang berlangsung.
"Eh Brian? Iya nih lagi asyik nonton drakor seru banget," Vanes sekilas menatap suaminya lalu fokus kembali menonton tivi.
"Nih, eskrimnya," Brian sambil menyodorkan eksrim tersebut.
"Makasih," lirih Vanes.
"Iya, Sayang," Brian lalu duduk di samping Istrinya kemudian membuka laptopnya untuk memeriksa laporan tentang perusahaanya.
"Awas nanti baper tuh biasanya kalau aku lihat orang kebanyakan nonton drakor suka nangis-nangis sendiri, tertawa sendiri bahkan senyum senyum sendiri," Brian sekilas menatap Vanes lalu kembali ke laptopnya.
"Emang Kak! Itu tandanya berarti filmnya bagus, bisa membawa penonton ikut serta dalam penghayatan dan emosional drama tersebut Kak," jelas Vanes.
Dua jam sudah Vanes nonton drama korea, sang suaminya merasa ilfil ketika melihatnya. Gimana enggak ilfil? Vanes tiba-tiba menangis kemudian tertawa dan setelah itu senyum-senyum sambil menggoda suaminya yang hampir membuat lelakinya kehilangan konsentrasi.
Tiba-tiba rasa kantuk pun melanda dirinya.
__ADS_1
"Hoamm ... Ngantuk nih, oya masih lama ya?" tanya Vanes saat melihat suaminya masih fokus dengan pekerjaan.
"Sebentar lagi beres kok sayang. Ngantuk ya, Sayang? Ya sudah tidur duluan saja," ucap Brian sambil menatap istrinya.
"Baiklah kalau begitu, aku tidur duluan ya."
"Iya."
Vanes pun berjalan menuju ranjang kemudian membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Ketika Vanes memejamkan mata tiba-tiba suaminya pun langsung naik ke atas ranjang kemudian memeluk Istrinya layaknya bantal guling.
"Eh kamu ngapain sih? Bukannya tadi belum beres ya, kenapa ikut tidur?" Vanes merasa terkejut saat tubuhya merasa ada yang memeluknya.
"Aku pun sama sudah ngantuk. Lagian masih ada waktu besok. Kenapa sih setiap aku peluk kamu suka membrontak?" Brian lalu menarik tubuh Istrinya hingga kini berada diatas tubuhnya.
"Pe-perasaan enggak, cuma aku kaget saja kamu datang tiba-tiba ada di samping terus memeluk aku. Untung itu kamu coba kalau orang lain kan bahaya."
"Iss alasan saja, lagian mana mungkin ada orang lain berani memeluk kamu ? Yang ada aku langsung bunuh dia kalau berani macam-macam apalagi sampai menyentuh tubuhmu. Lagian kamu sekarang sudah milikku seutuhnya," Brian sambil menarik wajah istrinya sehingga kini mereka semakin dekat cuma beberapa senti saja.
Hidung mereka pun saling bersentuhan dan mata hitam mereka pun saling menatap satu sama lainnya. Kemudian mereka pun memejamkan matanya lalu satu ci*man mendarat di bib*r mungil milik istrinya. Kemudian Brian pun ******* bib*r manis milik Istrinya dan merenspon setiap ci*man yang di lakukan suaminya sehingga kini keduanya merasakan hawa panas dan hasrat yang tidak bisa di tahan lagi. Brian pun menarik tubuh Istrinya hingga kini posisi Brian berada di atas tubuh Vanes. Pria itu langsung membuka pakaian milik dirinya dan Istrinya satu persatu hingga kini tubuh mereka keadaan polos tanpa ada tersisa. Karena sudah tidak bisa ditahan lagi dengan segera Brian pun melakukan penyatuannya hingga miliknya memasuki **** **********.
"Enggak apa-apakan, Sayang?" tanya Brian pada Istrinya.
"Enggak kok," jawab Vanes sambil tersenyum.
Brian pun menci*m lembut bib*r Istrinya dan menci*mi jenjang leher Istrinya lalu satu persatu dijelajahinya hingga sampai dua bukit kembarannya lalu meremas lembut dan menci*mnya dan mengigitnya dan Brian lebih semangat memompa miliknya yang kini memasuki daerah int*m Istrinya ketika Vanes mendesah.
Vanes mendesah saat suaminya terus mengobrak ngabrik miliknya di daerahnya. Kemudian Vanes pun menjambak lembut rambut suaminya. Kini pergumulan panas pun masih berlangsung di sertai dengan suara erangan dari kedua pasangan suami Istri tersebut.
"Aku sangat puas sekali Istriku, terima kasih atas semuanya," Brian menci*um lembut bib*r miliknya Istrinya yang kini sudah jadi candu baginya.
Vanes pun hanya tersenyum tanpa menjawab perkataan suaminya.
Mereka merasa kelelahan akibat pergumulan panasnya yang sudah mereka lakukan. Rasa kantuk pun menghampiri mereka dengan segera sepasang suami tersebut langsung tidur dengan keadaan tubuh polosnnya.
__ADS_1