
Dua Hari Kemudian.
Hari ini Bella sudah diperbolehkan untuk pulang. Dia tidak sendirian di rumah sakit tapi ada Alvin dan Nana ikut menemaninya. Brian sengaja mengubungi anak kerjanya untuk menemani dirinya karena merasa sepi dan tidak ada teman untuk saling mengobrol.
Alvin pun kini mendorong kursi roda dimana Bella duduk dikursi tersebut. Mereka berjalan menuju sebuah mobil.
Saat mereka sudah ada di dalam mobil, Alvin pun segera menjalankan mobilnya menuju apartement.
"Enggak apa-apa aku ikut tidur di apartement kalian?" tanya Bella merasa tidak enak hati.
"Sebelum ingatanmu pulih, tidurlah dengan Nana disana," lirih Brian.
"What, tidur denganku?" Nana merasa terkejut.
" Aku lupa belum kasih tau kamu ya? Sekarang kamu tidur dengan Bella, dia hilang ingatan. Jadi aku enggak tau rumahnya dia dimana," ujar Brian.
"Tinggal liat aja di ktp pasti ada alamatnya," ucap Alvin.
"Sudah, tapi enggak menemukan ktpnya dan ponselnya pun enggak ada. Jadi mau enggak mau dia harus tinggal bareng dengan kita," ucap Brian.
Alvin pun menatap Bella dari kaca depan mobil. Dirinya merasakan ada kejanggalan dengan apa yang terjadi pada Bella.
Entah kenapa tiba-tiba Brian merasa rindu pada istrinya, sudah dua hari pria itu tidak mengabari Vanes.
Brian mengambil ponselnya, lalu menghidupkan ponsel tersebut karena sudah dua hari ponsel lupa tidak di bawa dan baru di bawa oleh Alvin.
Brian merasa terkejut sang istri meneleponnya sudah ratusan kali. Pria itu mencoba menelepon balik istrinya.
"Tidak aktif? batin Brian."
Brian pun mencoba menghubungi istrinya kembali dan lagi-lagi tidak bisa dihubungi.
"Dia kemana sih? Kenapa enggak terus? Sudahlah mungkin batrainya habis dan lagi di cas. Mungkin setelah sampai di apartement akan coba ulangi telepon dia batin Brian."
__ADS_1
Pria itu segera memasukan ponselnya ke dalam saku celana.
"Bisa lebih cepat lagi menjalankan mobilnya?" tanya Brian menatap Alvin.
"What? Yang benar aja mau di percepat mobil lagi, ini sudah cepat menjalankan mobilnya, Bos. Mau cari mati ya?" Alvin menatap Brian.
"Iss, kalau ngomong sembarangan!" Brian menatap kesal Alvin.
"Tadi Bos bilang suruh cepetin mobilnya berarti mau cari mati dong? Ini udah cepat, Bos," ucap Alvin.
"Tau ah, udah cepetin jalannya," pinta Brian.
"Iss dasar punya Bos selalu salah dimatanya," gerutu Alvin menatap kesal atasannya.
Brian yang mendengar perkataan Alvin hanya bersikap masa bodoh tidak pedulikan asistennya tersebut.
Alvin terus menjalankan mobilnya menuju apartement.
*
*
Mereka pun kini sudah sampai di apartement. Mereka dengan segera keluar dari mobil tersebut.
Saat Brian akan melangkah kakinya, tiba-tiba Bella mengalungkan tangannya ke tangan Pria itu. Brian menatap Bella dengan tatapan tidak suka netra menatap tangan Bella yang merangkul lengannya.
"Eh, maaf," ucap Bella dengan segera melepaskan tangannya.
Pria itu tidak menghiraukan perkataan Bella, dia memilih terus berjalan memasuki apartement tersebut.
Tiba-tiba Nana berjalan menghampiri Bella, lalu dengan sengaja menyenggol pundak wanita tersebut yang kini sedang berdiri menatap Brian yang sudah duluan berjalan.
"Aww," pekik Bella merasakan sakit di pundaknya.
__ADS_1
"Ops, sorry aku enggak sengaja," ucap Nana sambil berlalu dari hadapan Bella. Dia tersenyum sinis dan merasa puas dengan apa yang dilakukannya.
"Dasar menyebalkan sekali dia tanpa memperdulikan aku yang kesakita," Bella merasa geram. " liat aja aku akan buat kamu berlutut padaku!" Bella tersenyum menyeringai.
"Ayo, kita masuk ke dalam," ajak Alvin.
"Heem," jawab Bella menganggukan kepala.
Bella dan Alvin pun segera berjalan memasuki apartement tersebut.
Brian kini sudah sampai di dalam kamarnya, lalu merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Pria itu dengan segera mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubungi istrinya kembali. Lagi- lagi tidak bisa tersambung karena tidak aktip nomor tersebut.
'Dia kemana sih? Di telepon enggak aktip mulu? Apakah dia marah karena sudah dua hari aku tidak mengabarinya?' gumam Brian berbicara pada dirinya sendiri dan mengkhawatirkan sang istri.
Tiba-tiba notip pesan masuk, Brian dengan segera membuka pesan tersebut. Pria merasa terkejut dan merasa tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
'Ini enggak mungkin, pasti ini bukan istriku! Tapi kenapa seperti istriku? Apakah benar dia selingkuh disana? Lihat aja Vanes jika benar-benar kamu telah selingkug dengan pria itu! Arrrghh ... teriak Brian kemudian melemparkan ponselnya ke sembarangan arah.
Pria itu benar-benar sangat marah dengan apa yang dilakukan oleh istrinya.
#######
promo lagi nih, yuk kepoin karya dari author ini pasti bikin kita baper dan greget nih, cus langsung mampir.
Blurb
Pernikahan Dinniar selalu menjadi panutan bagi kedua sahabatnya, pernikahan yang bak di Negeri dongeng membuat semua orang merasa iri, karena Dinniar memiliki suami yang tampan dan mapan.
Dinniar juga dikaruniai satu orang putri yang sangat cantik berusia empat tahun, Darius suami Dinniar selalu memperlakukan anaknya seperti seorang putri. Anastasya buah hati dari Darius dan Dinniar yang lucu dan juga pintar, membuat semakin lengkap pernikahan mereka.
Suatu hari, Dinniar mendengar selentingan tentang kedekatan suaminya dengan seorang model viral, Dinniar berusaha mengelak semua yang dia dengar, tapi sikap Darius menumbuhkan rasa curiga yang besar, sehingga Dinniar menyelidikinya.
Bagaimana hasil penyelidikan Dinniar? Benarkah suaminya memiliki wanita lain?
__ADS_1
Nantikan kisahnya di Not Perfect Wedding by Biggest