
Tiba-tiba airmata Vanes terjatuh, tidak tahu kenapa merasa sakit harus ditinggalkan suaminya pergi. Sebenarnya Vanes ingin membantalkan kepergian suaminya, akan tetapi dirinya tidak boleh egois.
'Kenapa aku jadi menangis, kenapa juga hatiku sakit melihat kepergian suamiku? Lagian aku enggak boleh egois, dia pergi bukan untuk rekreasi tapi untuk bekerja demi masa depan keluarga kecil kita nanti. Semoga saja nanti disana suamiku tetap setia dan menjaga hati untukku.' gumam Vanes, lalu mengusap air mata yang membasahi wajah cantiknya.
Wanita itu langsung keluar dari bandara tersebut, kemudian berjalan menuju mobil, dimana Pak Wawan, sang sopir menunggu dirinya dari tadi.
Vanee segera masuk ke dalam mobil, lalu duduk di jok kursi belakang.
"Ya sudah Pak, kitq berangkat," pinta Vanes.
"Baik Non," jawab pak Wawan.
Sang sopir segera menjalankan mobilnya dan pergi meninggalkan bandara tersebut dan berjalan menuju rumah.
"Non Vanes, baik-baik sajakan?" tanya Pak Wawan.
Dari tadi melihat majikannya tidak berbicara sama sekali hanya diam saja tidak seperti biasanya dan kadang Vanes tiba-tiba menangis.
"Iya Pak, Vanes baik-baik saja kok. Cuma lagi sedih saja harus di tinggal pergi sama Suami." Vanes mengembungkan pipinya lalu tubuhnya menyender ke jendela mobil.
"Sabar, ya, Non. Harus gimana lagi? Den Brian harus menjalankan tugas pekerjaannya demi masa depan Non Vanes juga."
"Iya, Vanes juga tau, Pak."
__ADS_1
Pak Wawan tersenyum, lalu menatap majikannya dari kaca depan mobil, "oya Non, mau pulang ke rumah?" tanya Pak Wawan.
"Iya, pulang saja ke rumah, Pak," jawab Vanes.
"Baiklah kalau begitu Non."
Vanes dan Pak Wawan pun sedang berada di perjalanan menuju pulang ke rumah.
*
*
Satu jam sudah, mereka sampai di rumah. Vanes pun segera keluar dari mobil dan segera berjalan memasuki rumah.
'Sedih, sepi dan sangat sakit ketika harus di tinggal pergi oleh suami. Akan tetapi bukan pergi untuk selama-lamanya. Sekarang Vanes bakal kangen sama kamu, Brian Wijaya. Enggak akan ada lagi yang selalu bikin Vanes kesal, bikin Vanes emosi dan tidak akan ada yang bisa memeluk aku.' gumam Vanes sambil menatap foto dirinya dengan sang suami yang ada di dalam ponsel.
'Sudahlah Nes, jangan berlarut- larut sedih begini dong, lagian suamimu kerja disana dan doakan saja semoga bisa menjaga hatinya hanya untuk istri cantik ini.' Vanes membanggakan dirinya sendiri.
Lebih baik sekarang, aku pergi ke rumah Ibu saja agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan. Mungkin tidur saja bersama Ibu disana untuk sementara waktu untuk menghilangkan rasa sedih ini.
Vanes segera beranjak ranjang lalu berjalan menuju lemari.
'Ya sudah sekarang harus siap-siap dulu masukin baju ke dalam koper dan peralatan alat tulis buat berangkat disana.' gumam Vanes pada diri sendiri dan mulai memasukan baju cuma lima baju dan perlengkapan alat tulis dan buku untuk besok berangkat kuliah dirumah Ibunya.
__ADS_1
Setelah beres, kemudian Vanes dengan segera keluar dari kamarnya dan berjalan ke bawah tangga.
"Nona Vanes, mau kemana Non?" tanya Bi Ita merasa terkejut saat melihat majikannya membawa koper dan perlengkapan lainnya.
"Vanes mau pergi ke rumah Ibu, Bi. Enggak apa- apakan bila tinggal di rumah Ibu hanya sementara, untuk hari ini dan esok aja," tanya Vanes sambil menatap Ita.
"Iya, enggak apa-apa Non, tapi masalahnya masa rumah ini kosong sih," Bi Ita sambil menatap balik wanita tersebut.
"Kata siapa kosong, Bi? Lagian disini kan ada Bibi, pak Wawan dan yang lainnya," ujar Bi Ita.
"Maksudnya Bibi bukan gitu Non, maksudnya enggak ada orang dari pemilik rumah ini. Kita ...." ucapan Bi Ita harus tergantung kareba Vanes menyela pembicaraannya.
"Sudahlah Bi, lakukan saja pekerjaannya seperti biasa. Lagian Vanes enggak bakal lama kok, soalnya Vanes lagi butuh Ibu saja sekarang. Apalgi sekarang Mas Brian, enggak ada disini, Bi," jelas Vanes, memotong pembicaraan sang pembantu
"Baiklah Non kalau begitu."
Vanes pun berpamitan kepada Bu Ita untuk pergi ke rumah Ibunya.
"Hati hati dijalannya, Non Vanes."
"Iya Bi."
Vanes segera pergi menuju keluar dan berjalan memasuki mobil. Saat keadaanya sudah siap, Pak Wawan segera menjalankan mobilnya untuk mengantarkan Vanes ke rumah Ibunya.
__ADS_1