
"Selamat siang," ucap seseorang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan kerja Brian.
Brian merasa terkejut saat orang yang dikenalnya masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu.
"Bella?" Brian merasa terkejut. "kamu mau ngapain kesini?" tanya Pria itu menatap tidak suka wanita tersebut.
"Apakah kamu lupa? Tentu saja kita akan meeting membahas kerja sama kita selama dua bulan," jawab Bella, kemudian tersenyum.
"Tak bisa kah, kamu menunggu di ruang rapat? Masuk begitu saja tanpa mengetuk pintu," Brian menatap wanita cantik yang kini berdiri di sampingnya.
"Jangan marah-marah gitu, aku salah telah masuk begitu aja dan maafkan, aku ya, Sayang," Bella merangkul lengan Brian.
Pria itu dengan segera menghempaskan tangan Bella.
"Jangan sentuh aku!" ucap Brian dengan datar.
Bella pun memutarkan matanya dengan malas dan tidak menyangka orang yang dulu pernah ada di hatinya kini menjadi dingin dan arogan.
"Sejak kapan kamu berubah menjadi orang yang kasar? Dulu kamu selalu meratukan aku dan enggak pernah bersikap dingin padaku," jelas Bella menatap kecewa.
"Sudahlah jangan ungkit masa lalu, biarkan itu berlalu. Sekarang aku sudah punya istri jadi jangan berani menyentuhku!" Brian merasa geram.
__ADS_1
"Aku enggak peduli kamu sudah menikah. Lagian enggak ada salahnya dong aku jadi istri kedua kamu," Bella menatap Brian.
"Dasar gila, mana ada orang yang mau jadi istri kedua," Brian menatap sinis Bella.
"Emang aku gila karena kamu! Aku mohon sama kamu kembali lah padaku," Wanita itu menatap sendu Brian.
"Aku menyesal telah pergi begitu aja dan menikah dengan pria lain. Kenyataannya dia emang pria brengsek! Dia tega selingkuh dengan wanita lain," Bella meneteskan air matanya membasahi wajah cantiknya.
Ada rasa belas kasihan saat mendengar perkataan dari orang yang dulu sangat ia cintai.
"Kamu yang sabar ya, aku yakin pasti akan mendapatkan pria yang jauh lebih baik dari dia," lirih Brian menatap Bella.
"Aku berharap itu kamu. Ayolah, kita bisa memulainya dari awal," kekeuh Bella.
Bella tertawa terkekeh, lalu menatap sinis Pria yang ada di depannya.
"Itu cuma alasanmu! Mana mungkin kamu mencintai wanita kampungan seperti dia," Bella melipatkan kedua tangannya.
"Barusan kamu bilang apa!" bentak Brian merasa tidak terima istrinya di rendahkan.
"Aku cuma mau bilang kalau ...." ucapan Bella sengaja di gantung, lalu dengan berani mencium bibir pria tersebut.
__ADS_1
Brian merasa terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bella.
Tiba-tiba seseorang masuk dan berdehem, Brian segera menghempaskan tubuh Bella.
"Nana ...." Brian merasa terkejut saat sekretarisnya masuk begitu aja.
"Maaf, Pak, saya lancang," lirih Nana merasa tidak enak hati.
"Kalau masuk ketuk pintu dulu. Jangan mentang-mentang jadi sekretarisku seeneknya masuk!" Brian merasa geram.
"Maaf," ucap Nana merasa bersalah.
Bella menatap sinis sekaligus kesal pada Nana karena telah membuat kacau sehingga dirinya tidak bisa lama-lama dengan Brian.
"Ini Pak, berkas laporan selama dua minggu terakhir bekerja," Nana menyodorkan berkas tersebut kepada Atasannya.
"Makasih." Brian, sambil mengambil berkas dari tangan Nana.
"Oya, lebih baik kamu segera keluar dari ruanganku!" usir Brian pada Bella.
"Dengar enggak apa yang barusan bilang Pak Brian? Sekarang kamu keluar!" Nana, mengulangi pembicaraannya.
__ADS_1
"Shitt," umpat Bella merasa kesal.
Akhirnya, wanita itu memilih mengalah dan segera pergi dari ruangan tersebut.