
Tanah kuburan Papa masih basah. Papa baru saja di makamkan tiga hari yang lalu. Tetapi Wak Ujang sudah terus membujukku untuk ikut dengannya ke Palembang.
Namaku Nisa. Khourunnisa Azzahra. Aku sekarang baru saja kelas satu SMP Negeri di Muara Enim, Sumatera Selatan.
Papa meninggal karena sakit gagal ginjal. Entah kenapa bisa sakit ginjal. Padahal setahuku beberapa bulan terakhir ini Papa cuma sakit bisul saja. Ya memang bisulnya lumayan besar ukurannya. Tetapi sungguh, Aku tidak menyangka kalau Papa mengidap sakit ginjal sejak lama. Bahkan ternyata sejak Papa masih kecil.
Aku Anak kedua dari tiga bersaudara. Ayuk (Kakak perempuan disini di panggil ayuk) Mita dan Dik Laras adalah saudari ku. Iya, kami tiga bersaudara dan semuanya perempuan.
Mamaku seorang pedagang pakaian yang menjajakan jualannya ke dusun dusun. Sedangkan Papa adalah Pegawai Negeri Sipil di sebuah kantor Pemerintah.
" Meloklah Wak ke Palembang bae Nisa, Biar sekolah di sano (Ikutlah Wak ke Palembang saja Nisa, Biar manti sekolah disana)" Ajak Wak Ujang Pagi ke empat sejak Papa di Makamkan.(Wak adalah sapaan kakak lelaki dari Mama)
"Endak Wak. Aku nak disinilah samo Mama bae( Tidak Wak. Aku ingin disini saja bersama Mama)" jawabku.
" Jangan cak tu Nak. Kasian Mama Kau kalo nak ngidupi Kamu betigo(Jangan begitu Nak, Kasihab Mama Jikalau harus menghidupi kalian bertiga)" , bujuk Wak lagi.
" Ngapo aku Wak? Ngapo dak Yuk Mita bae? Apo Adek Laras tu na(Kenapa aku Wak? Kenapa tidak Kak Miya saja? Atau Dik Laras saja?)" . Aku mulai menangis.
Melihatku menangis Wak Ujang pun terdiam.Seolah memahami perasaanku kemudian Uwakmenghela nafas dengan berat.
" Yo sudah kalo Nisa dak galak. Tapi pikirke baek baek Nak yo. Kasian igo Mama (Ya sudah kalau Nisa tidak mau. Tapi pikirkan baik baik ya Nak. Kasihan sekali Mama)" Ujarnya seraya menepuk pundakku. Taklama kemudian Ueak meninggalkan Aku yang masih duduk di bale bale depan rumah.
Sedih sekali rasanya harus meninggalkan kota ini. Begitu banyak kenangan bersama Papa. Oh Papa.. Andai Ku tahu Papa akan pergi secepat ini, ingin rasanya aku mengulang semuanya. Seperti yang biasa kita lakukan. Papa selalu menemaniku bermain, bermain bola basket, sampai main boneka juga. Bahkan jika Aku sakit Papa selalu setia di sampingku. Membujukku makan nasi, menyuapiku minum obat. Bahkan membuatkan PR sekolahku karna Aku masih ngotot ingin pergi ke sekolah.
__ADS_1
Hari hari terasa abu abu sejak Papa tiada. Mama jadi banyak termenung di kursi depan. Seolah olah Mama masih menunggu Papa kembali. Di Tempat dimana Mama dan Papa biasa duduk ketika sore menjelang.
Ayuk Mita sekarang sudah masuk ke sekolah lagi. Begitu juga Dik Laras. Hanya aku saja yang belum ke sekolah. Enggan rasanya meninggalkan Mama sendirian dirumah. Apalagi melihatnya termenung sendiri seperti itu. Mama seperti menunggu Papa pulang dari bekerja. Seperti yang biasa Ia lakukan.
" Ma..." panggilku
"Iya Nak, kenapa sayang?" Tanya Mama
" Apa Uwak Ujang dari mengatakan sesuatu kepada Mama?" Tanyaku hati hati.
"Apa? Sepertinya Uwak tidak bilang apa apa"
"Anu Ma... Em..." Aku nampak ragu ragu bertanya.
"Anu apa Ngah?". Mama suka memanggilku Ngah. Ayuk Tengah maksudnya.
Mama terdiam cukup lama. Kemudian Mama tersenyum lalu merangkulku.
"Tidak perlu Nak. Mama masih mampu membiayai kalian. Lagi pula uang pensiun Papa juga ada. InsyaAllah cukup. Mama juga akan jualan lagi. Kamu cuma harus rajin belajar. Kalau ada apa apa bilang Mama ya Nak. Mama aku selalu ada untuk Nga" ucap Mama sambil memelukku. Kami bertangisan berdua. Mama tahu kalau aku yang paling dekat dengan Papa.
Sekarang rasanya lega, setelah membicarakannya dengan Mama. Rasa di hati pun terasa plong. Tidak ada lagi beban jadi nanti kalau Uwak datang lagi, Aku sudah punya jawaban.
Malam ketujuh meninggalnya Papa, Uwak Ujang datang lagi. Uwak nampak diam saja tidak lagi membicarakan ajakannya tempo hari. Aku sangat bersyukur kalau Uwak tidak membahasnya lagi. Jujur saja, Aku merasa tidak enak menolaknya. Uwak juga sudah cukup baik kepada Kami. Apalagi jika Uwak berkunjung selalu memberi Mama uang dapur, bahkan uang jajan kepada kami bertiga.
__ADS_1
Padahal Uwak Ujang sendiri sedang butuh biaya tambahan. Mengingat anak anaknya sedang dalam masa sekolah. Selalu butuh uang sekolah, uang mengaji, bahkan uang bimbel. Tetapi dengan ringan Uwak selalu menyisihkan untuk Mama dan Kami. Hatiku selalu merasa tak enak jika Uwak selalu memberi kami.
Rumah sudah ramai, Tetapi Aku masuh dikamar. Tiba tiba saja kak Mita masuk.
"Nis.. Nisa.." panggil Kak Mita
"Kenapa kak?" Jawabku sambil berbaring dikamar.
"Kenapa masih berbaring. Ayo siap siap. Kita akan tahlilan Papa. Dan kau tau.. Putra malam ini datang. Pakai pakaian yang cantik ya" Ujarnya menggodaku.
"Ah ayuk..." Aku jadi tersipu malu. Ayuk Mita mengacak acak rambutku kemudian Ia keluar dari kamar.
Ayuk Mita tau. Kalau Putra adalah pemuda yang aku taksir akhir akhir ini. Kami sama sama menimba ilmu di TPA yang sama. Dan malam ini, semua santri dan santriwati di undang untuk datang ke acara tahlilan tujuh hari Papa.
Bergegas Aku keluar kamar. Setelah memoleskan sedikit bedak my baby dan lipgloss Aku segera bergabung.
Ternyata semua sanak saudara, tetangga dan Para santri dan Santriwati TPA ku sudah berkumpul. Ku lihat disana ada Putra bersama teman lainnya. Ah, dia manis sekali dengan koko lengan panjangnya. Selalu begini, Aku tak pernah berani berbicara dengannya. Hanya berani tersenyum ketika kami berpapasan.
Putra pun sama, Terkadang Ia lebih suka menunduk walau Ia tau dari kejauhan yang lewat itu aku.
Melihat sikapnya itu malah membuatku semakin penasaran padanya. Aku bahkan menunggu kapan mata itu tak lagi menunduk kala berpapasan denganku.
Entah kapan Putra akan menyapaku. Tetapi aku yakin dia akan menyapaku lebih dulu suatu hari nanti. Lagi pula Aku dan adiknya, Putri cukup akrab.
__ADS_1
Dari Putri aku mengetahui bahwa kalau aku absen tidak datang ke TPA Putra akan bertanya pada Putri alasanku mengapa aku tidak datang. Apa aku sakit? Atau ada apa denganku. Selalu Ia mengkhawatirkan keadaanku. Bukankah itu artinya Putra peduli padaku.
Artinya Aku Khoirunnisa Azzahra ini cukup spesial baginya. Haha Putra memikirkannya dan memandanginya dengan diam diam dari jauh seperti ini saja sudah membuatku bahagia. Apalagi bisa bersamanya suatu hari ini. khayalanku cukup tinggi sampai sampai rasanya kakiku taklagi berpijak pada bumi.