
Pagi hari ketika bangun kepala Nisa terasa berat. Matanya sembab.
Laras yang melihat hal itu merasa sedih.
"Nis matamu bengkak. Kenapa tidur sambil menangis begitu." Kak Mita membelai rambut Nisa.
Nisa hanya terdiam.
"Kamu ada masalah Nis?" Kak Mita bertanya.
"Kok kakak malah bertanya." Nisa kembali sedih. Apa kak Mita lupa yang terjadi semalam.
"Sudah jangan sedih terus. Kakak nggak tahu kamu kenapa, tapi sekarang sudah siang kamu harus sekolah. Ayo cepat siap siap." Kak Mita mendorong Nisa segera ke kamar mandi.
"Nis.. nanti ke sekolah pake kaca mata Kakak saja. Diatas lemari ya. Kakak pergi duluan sama Laras. Jangan Lupa tutup pintunya ya." pesan Kak Mita dari luar kamar mandi.
Mama sudah pergi berjualan sejak subuh. Jadi rumah tidak ada orang jika pagi. Baru nanti saat siang rumah kembali ramai.
Nisa bergegas berpakaian. Dengan tergesa menghabiskan sarapannya.
"Nisa.. sudah berangkat belum?" Teriak Yenni dari depan rumah.
"Belum. tunggu sebentar Yen. aku sedang mencari kacamata."
"Nah ini dia ketemu." batin Nisa.
__ADS_1
Bergegas Ia mengunci pintu dan menghampiri Yenni.
"Kau kesiangan? Aku menunggumu dari tadi." Gerutu Yenni.
"Hei.. ngapain pake kacamata segala."Yenni bertanya heran. Tak dilihatnya mata Nisa bengkak karena sudah tertutup kacamata. Nisa masih enggan bercerita. Nanti saja saat istirahat. Batinnya.
Saat istirahat Nisa segera menghampiri Poppy dan menceritakan kejadian semalam.
"Nggak mungkin Mama mu menyuruhmu nikah muda Nis. Aneh aneh saja kamu. mungkin Mama cuma bercanda." ujar Poppy menenangkan.
"nggak Mpop. Masak yang kayak gituan jadi bahan candaan. Nggak mungkin lah."
"Kamu udah tanya Arif belum? Kalian kan sekelas."
"nggak aku nggak mau bicara sama Arif. Nanti dia malah besar kepala lagi. Ke-GR-an dia."
"Aku mau minggat aja dari rumah Pop."
"Ha? Kamu mau minggat kemana. Jangan bercanda ah Nis."
"nggak. Eh, jangan hasil tahu Yenni. Yenni kan naksir Arif nanti dia malah galau."
"Iya iya."
Nisa sudah memutuskan akan kabur dari rumah. Sepertinya isi celengan ayam jagonya dikamar sudah lumayan banyak. Nisa berencana kabur ke tempat Uwak ke Palembang saja. Bukankah Uwak tempo hari menawarinya sekolah di Palembang. Artinya Uwak memang berniat menyekolahkannya. Daripada Nisa harus nikah muda, dengan Arif lagi. Orang yang sama sekali Ia tak suka.
__ADS_1
Saat jam sebelas, Nisa pamit pulang karena mengaku tidak enak badan. Nisa sudah berencana akan segera berkemas. Selagi tidak ada orang dirumah. Jadi Ia leluasa pergi.
Setelah laporan ke guru piket, Nisa pun pulang naik angkot. Nisa menolak di antar pulang. Ia tidak mau merepotkan teman ataupun gurunya.
Benar saja, rumah masih terkunci seperti pagi tadi saat Ia pergi sekolah. Laras juga belum pulang sekolah. Apalagi kak Mita pulangnya masih lama jam dua siang nanti.
Dengan segera Nisa mencari celengan ayam jagonya. Setelah menemukannya Nisa memecahkannya. Nampak lembaran yang bertebaran di lantai.
Nisa cukup rajin menabung. Apalagi dulu Papa rajin memberinya uang lebih untuk di tabung.
"tiga ratus tujuh puluh lima ribu."Batin Nisa.
"Lumayan untuk ongkos. Aku harus segera berkemas."
Nisa bergegas memasukkan beberapa potong pakaian tas ransel sekolahnya. Tak lupa Ia menulis pesan untuk Mama. Biar bagaimana pun juga Nisa tak ingin Mama khawatir.
*Assalamualaikum Mama..
Maafkan Nisa Ma.. Nisa pergi..
Mama jangan mengkhawatirkan Nisa. Nisa akan baik baik saja.
Mama juga jaga diri, jaga kesehatan. Maafkan Nisa Ma.
Wassalam,
__ADS_1
Khoirunnusa Azahra*.