Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
hutang baru


__ADS_3

Ini adalah pagi pertama di rumah Nisa yang baru. Pagi minggu yang cerah. Nisa dan saudari saudarinya sedang membereskan rumah. mengepel tiap sudut rumah. Banyak debu yang menempel di kaca jendela mereka.bersihkan. Maklumlah kaca itu baru di ambil.langsung di pasang. Tentu banyak debu yang menempel di sana.


Berada di lingkungan baru tidak membuat Nisa dan saudarinya kesepian. Banyak dari tetangga mereka adalah teman Nisa di TPA. Ada Aryani, ada Yuli serta Apri. di lingkungan ini baru ada beberapa rumah saja. rumah keluarga Apri di samping kanan. Ada keluarga Aryani di depan. sedang keluarga Yuli berada.sedikit jauh di sebelah kiri. sekitar Seratus meter ke depan ada rumah Kak Yansyah. Hanya itu baru penghuni di sekitar sini. Ada sebuah mushola di sebelah rumah Yuli. Nisa paling suka berada di dekat mushola. Suara azan selalu menghiburnya. Nisa juga jadi tidak terlambat bangun untuk sholat subuh sekarang.


Sedang asyiknya bersih bersih rumah, terdengar seseorang mengetuk pintu.


"tok.. tok.. tok..assalamualaikum".


"waalaikumsalam" jawab mereka bersamaan.


"siapa ya yang datang?" tanya Kak Mita.


Mama sedari subuh sudah berangkat berjualan pakaian. Jadi hanya ada mereka.bertiga di rumah.

__ADS_1


"buka saja kak" saran dik Laras.


pelan pelan Kak Mita membukakan pintu, sedang Nisa dan Laras mengekor di belakangnya. Nampak seorang lelaki laruh baya yang datang.


"Apa ini rumah keluarga Man dan Desi?" tanyanya pada Kak Mita.


"iya Mang. benar. Papa sudah meninggal Mang. Mama sedang pergi. Mamang ada keperluan apa nanti di sampaikan?" tutur Kak Mita "ayo Mang masuk dulu".


Sang tamu pun masuk dan duduk. Nisa pun segera mengambilkan air minum untuk sang tamu.


"sampaikan pada Mama kalian. ada Mang Arif ke rumah. Mang Arif dulu memperbaiki kursi jati milik kalian. Nah kursi yang itu." tunjuk Mang Arif ke arah ruang tengah. Nampak kursi jati tersusun si sana. Memang beberapa bulan yang lalu kursi ith di perbaiki. di ganti busa dan kain pelapisnya.


"Papamu yang mengorder. Maaf masih bersisa lima ratus ribu lagi."ujarnya.

__ADS_1


"oh begitu ya Mang " jawab Kak Mita.


"iya tolong sampaikan pada Mama ya. Tak apa jika belum ada. Mamang hanya menyampaikan saja. Mamang pamit ya."


"iya Mang jati jati di jalan."


Selepas si tamu pergi Nisa dan saudarinya melanjutkan membereskan rumah. Selesai bersih bersih mereka pun mulai memasak.


Tak ada yang membahas tentang apa yang sang tamu sampaikan. mereka sibuk memetik sayur, membuat sambal dan menggoreng tempe. selesai memasak mereka oun dengan riangnya makan bersama sambil menyalakan televisi.


Pukul dua siang Mama pun pulang. Sang supir mengantar sampai ke pintu belakang. Jarak rumah Nisa ke jalan raya cukup jauh sekitar dua ratus lima puluh meter. Jalannya masih bebatuan. Tak ayal ketika hujan turun cukup sulit mobil lewat. Tak jarang mobil jadi sedikit oleng membawa beban berat. Terkadang ada sopir yang menolak mengantar sampai rumah dengan alasan jalan jelek. Jadilah sekarang Kak Mita, Nisa dan Laras bergotong royong meminjam gerobak Mang Ujang, Ayah Aryani yang membantu Mama mengangkut barang.


Selesai memasukkan barang, Mama pun beristirahat di kamar. Kak Mita mengisyaratkan agar jangan ada yang bicara tentang tamu pagi tadi.

__ADS_1


"Biarkan Mama istirahat dulu. Nanti malam saja kita bicarakan pada Mama."tutur Kak Mita.


__ADS_2