
Malam hari Uwak Panji pun datang ke rumah. Nampaknya yuk Mita dan Dik Laras sudah bercerita pada Uwak.
Selesai makan malam bersama kami pun duduk di ruang depan. Rara anak Uwak yang paling bungsu ikut serta. Usianya tiga tahun di bawah ku.
"lantas rencanamu sekarang bagaimana des?"tanya Uwak panji to the point membuka obrolan malam ini.
"aku sebenarnya ingin membeli rumah Kak, agar ada tempat anak anak bernaung jika Aku tak ada. Dan Tak ada lagi yang akan mengusir jika tak mampu membayar kontrakkan." jawab Mama pelan.
"hutang suamimu bagaimana?"
"sekarang hanya ada lima puluh juta lagi Kak, rencananya aku akan bayar tiga puluh juta dulu. dua puluh jutanya akan ku belikan rumah. tak apalah hanya sejengkal. cukup untuk kami berempat tidur. bila esok ada rejeki semoga kami mampu membeli yang lebih besar."
"aku setuju rencanamu Des." jawab wak Muk. Ayuk perempuan Mama yang sedari tadi diam mendengarkan dengan seksama.
"iya, itu bagus Des. Hanya saja aku mengkhawatirkan tentang adik adik iparmu. akankah mereka ikhlas baru di bayar tiga puluh juta? Setengahnya pun belum." timpal Wak Panji.
"aku juga cukup khawatir kak."Mama tertegun."bagaimana jika aku menitipkan uang ini kepada Kalian, sampai aku menemukan rumah untuk kami beli"Tanya Mama.
"Tidak Des, maaf aku tidak bersedia". jawab wak Panji dengan sangat tegas.
__ADS_1
Kami yang sedari tadi mendengarkan tertegun mendengar kata tidak dari saudara ipar Mama itu.
"saranku kau titip saja ke bank Des, aku ini manusia biasa. nanti aku khilaf lalu terpakailah uangmu itu. Lagipula aku juga butuh uang untuk kuliah Tyo nanti. Bisa jadi ku pakailah uangmu itu."jawab uwak Panji bijak.
oh begitu alasannya. Kami lega
"besok temani adikmu ke bank Ma."tuturnya pada istrinya Wak Muk.
"sementara itu sampai empat puluh hari bahkan kalu bisa tunggulah sampai seratus hari meninggalnya kakak barulah kalian mencari rumah dan pindah dari sini."saran Uwak Panji
"iya aku juga berencana sampai empat puluh hari memang tetap disini kak." ujar Mama. "lagi pula kata orang Kakak masih disini selama masih empat puluh hari"
"lantas bagaimana dengan Mak dan Bak mertuamu Des?"
"iya aku sudah ke sana tadi sore kak, sudah di jelaskannya bahwa mereka yang meminta suamiku untuk melunasi hutang mereka pada Pak Saleh. Sebenarnya tidaklah sampai seratus juta hutang itu, tetapi Mak meminta lebih" Mama berujar.
"aku sudah memberi mereka uang duka itu sebesar sepuluh juta."
"apa mereka menerimanya? hanya di beri sepuluh juta Des?"tanya wak Muk.
__ADS_1
"terpaksa Mak mau kak, karena bak. menurut Bak mereka sepantasnya tidak menerimanya. Tetapi aku tidak ingin Emak malah mengoceh di belakang."
"kau benar. memang sebaiknya seperti itu. lagi pula mungkin masih haknya Emak dan Bak pula uang itu. yang harus kita pikirkan bagaimana tambahan uang untuk membayar sisa hitang itu. kurasa mereka tak ingin menunggu terlalu lama. mereka pasti akan mendesakmu terus. apalagi nanti jika mereka tahu kalau kau akan membeli rumah Des."
mereka para orang dewasa itu nampak sedang berfikir memikirkan langkah apa yang bisa mereka tempuh.
"kenapa kau tidak pinjam lagi ke bank Des? bukankah kemarin pinjamannya sudah lunas?" tanya iwak Panji hati hati.
"maaf kak, aku agak berat melakukannya. kakak tau sendiri, adikmu itu semasa hidup susah sekali di suruh meminjam ke bank rasanya tak mungkin Ia rela aku meminjam lagi."
"Ia sudah tak ada Des, Ia tak akan keberatan."ujar wak Muk.
"akan ku pikir kan kak. lagi pula daganganku sedang sepi. bagaimana aku menyekolahkan anak anak jika uang gaji bapaknya sudah ku bayarkan ke bank"
"kau pikirkan dulu saja Des. jika adik iparmu itu setuju menunggu untuk di cicil tak apa kau tak meminjam lagi ke bank."
"iya kak"
obrolan pun berganti topik ke arah yang lebih ringan. nampaknya membicarakan hutang cukup memberatkan kepala, maka terciptalah tawa ketika uwak Panji mulai menggoda dik Laras yang kemarin sempat mengompol dikasur.
__ADS_1
Malam pun mulai larut uwak dan keluarga pun pamit pulang.