
Malam ini Malam ke empat puluh meninggalnya Papa. Nisa beserta keluarga besarnya mengadakan tahlilan bersama keluarga besar dan jiran tetangga.
Alhamdulillah acara berlangsung lancar dan hikmat.
Pagi hari Nisa di bangunkan Mama untuk berziarah ke makam Papa. Kebetulan kemarin ada keluarga dari Ranau datang berkunjung menghadiri tahlilan empat puluh hari Papa. Wak Nel. Sudah seperti Keluarga sendiri saat Nisa di Ranau.
Dahulu kala setelah menikah Papa dan Mama Nisa pindah ke Ranau. Papanya bertugas di sana. Nisa, Mita dan Laras semua lahir di sana. Saat Nisa kelas satu SD mereka pun kembali ke Muara Enim.
Setelah membacakan al fatiha di pusaran Papanya, Nisa dan keluarga pun kembali pulang ke rumah.
Rencana sore hari ini mereka akan melihat sebuah rumah yang akan di beli Mama.
Sebenarnya Mama Nisa mulai khawatir karena Nenek Ali makin sering datang. Memang bukan bertemu mama langsung hanya datang seperti biasa tetapi beberapa hari ini Nenek Ali menginap di kamar atas. Membuat Mama tak bisa tidur nyenyak. Belum lagi ketika fajar mama sudah harus bangun untuk pergi berjualan ke dusun dusun. Biasanya mobil jemputannya akan datang sekitar pukul empat, Jadiah Nisa dan Mita bergantian bangun menemani Mama sampai mobil jemputannya datang. Sungguh membuat tak tenang.
__ADS_1
Mama juga mencemaskan Kenapa sampai empat puluh hari Mang Sarman dan Mang Udin tak juga datang padahal mereka berjanji tiga hari akan datang lagi. tetapi tak juga datang bahkan ketika Mama mengembalikan surat pernyataan beberapa minggu yang lalu baik mang Sarman bahkan mang Udin tidak ada di rumah. Jadilah surat itu di titip ke istri Mang Sarman, Cik Fatimah.
"Tok Tok Tok" terdengar suara pintu di ketuk saat ba'da ashar. Ternyata Mang Udin dan Mang Sarman serta Nenek yang datang.
Wak Nel dan istrinya masih di rumah. Besok mereka akan kembali. Jadilah mereka ikut tahu semua tentang piutang Papa.
Setelah membuatkan minum Mama pun duduk di ruang tamu.
Nampaknya tamu Mama hari ini sudah siap menagih hutangnya kembali.
"Iya Bak. Sebenarnya aku sudah menunggu kalian kapan akan datang kemari." tutur Mama pelan dan tenang.
"aku sudah menyiapkan tiga puluh juta untuk membayar hutang suamiku. Aku minta maaf jika tak datang untuk mengantarkan."
__ADS_1
"kenapa hanya tiga puluh?" tanya Mang Udin sedikit meninggikan suaranya.
"Maaf Din.. Aku hanya ada tiga puluh jika kau mau. kalau tidak aku tidak memaksa."
"terima saja Din." ujar Mang Sarman.
"maaf din sebenarnya aku pun sudah membagi uang duka kepada Emak dan Bak. jadi hanya itu yang ku punya." terang Mama.
"kau dengar sendiri kan Din. disini aku sebagai penengah kepada anak anakku. Din, Sarman dan kau Desi, aku tidak ingin ada keributan apapun. Jika kau ada Kau hanya perlu membayar tiga puluh juta lagi Des. Sisanya biar aku yang menanggungnya. Itu adalah hutangku yang dilimpahkan pada suamimu. sekarang malah di limpahkan padamu. harusnya akulah yang bertanggung jawab atasnya. maafkan ketidakberdayaan Bak mertuamu ini Desi." Nenek mulai tersedu.
"Aku akan berusaha menyicilnya Bak." tutur Mama.
"kau Udin dan Sarman jangan kau ganggu saudara Iparmu ini. Aku tidak ingin masalah ini panjang melebar kemana. Jika Desi belum ada uang maka jangan memaksanya."
__ADS_1
Iya Bak." jawab Mang Udin dan Mang Sarman hampir bersamaan. setelah meminum teh dan menerima uang dari Mama, Nenek dan para mamang Nisa itu pun pamit pulang.
Nisa dan keluarganya pun bernafas lega atas keputusan Nenek mereka. sekarang mereka bisa fokus ke kehidupan mereka. masalah sisa yang tiga puluh juta itu wak Nel pun berjanji akan membantu jika nanti waktu panen tiba. Alhamdulillah masalah mereka satu ini bisa berangsur selesai.