Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
Episode 25


__ADS_3

Hari beranjak senja ketika Nisa keluar dari pabrik. Nisa bergegas pulang ke rumah Uwak Ujang.


Nampak dari kejauhan Wak Ujang dan istrinya sedang duduk di depan teras. Wajah Wak Ning tampak masam melihat Nisa datang.


"Assalamualaikum Wak." Nisa mengucapkan salam dan mencium punggung tangan wak Ujang dan Uwak Ning.


"waalaikumsalam, darimana Nis?" Tanya Wak Ujang


"Ya dari mainlah Pa. Darimana lagi." Wak Ning berkata ketus sambil matanya melotot pada Nisa.


Nisa hanya menunduk di tatap begitu oleh sang Uwak.


"Ya sudah mandi sana, sudah sore."


Nisa pun segera masuk ke rumah dan menuju kamar mandi. Tubuhnya terasa segar diguyur air. Lelahnya tubuh juga ikut menguap pergi.


Keluar kamar mandi dilihatnya Wak Ning berjalan kearahnya.


"Dengar, jangan bilang Uwakmu kalau kamu wak suruh pergi bekerja jadi ART. Awas kalau kamu bilang bilang." Ancam wak Ning.


"Tapi kenapa wak? Bukannya wak yang menyuruh Nisa jadi ART?"


"Duch.. Kamu jangan banyak tanya, Pokoknya jangan bilang. Bilang saja itu kemauan kamu sendiri."


"Nggak, Nisa nggak mau"


"Nggak mau apa Nis?" Wak Ujang tiba tiba sudah berdiri di belakang Wak Ning.


"Anu.. Pa.. itu Nisa nggak mau masakin sarapan besok, iya nggak apa apa juga, kita beli aja."


"benar Nis?"


"Nggak Kok wak, Itu wak Ning nyuruh Nisa kerja jadi..."


"Jadi apa aja yang Nisa sukai" potong Wak Ning.


"Jadi Nisa sudah kerja?" Tanya Wak Ujang.

__ADS_1


"Nggak kok Pa. Udah Nisa pake baju sana." Usir Wak Ning sambil mendorong tubuh Nisa ke kamar. Nisa hanya menurut dan masuk kamar.


Dari kamarnya Nisa masih dapat mendengar percakapan kedua Waknya itu.


"Kamu jangan aneh aneh nyuruh Nisa kerja Ma, Aku mengajaknya ke Palembang itu mau aku sekolahkan disini Ma."


"Papa ini apa apaan, Mama nggak nyuruh Nisa kerja. Nisa sendiri yang mau. Lagian duit darimana mau sekolahin anak orang, Buat anak sendiri saja pontang panting nyekolahinnya."


"Ya Papa tau sekarang keuangan kita lagi sulit, Tapi Papa benar benar ada niat sekolahin Nisa, besok lusa pasti ada saja rejekinya."


"ada aja rejekinya darimana Pa? Tuh pikirin bayaran LKS Rio sama bayaran Lesnya Putri udah nunggak dua bulan."


"ckck.. Pokoknya Papa nggak mau Nisa kerja, Apalagi yang nyuruh itu Mama. Kalau pun Nisa mau kerja ya jangan kerja yang berat berat."


"Udah Papa jangan banyak ngayal mau sekolahin anak orang. Pokoknya Mama nggak sudi Nisa di sekolahin. anak sendiri aja bayarannnya nunggak melulu.


Wak Ning pun berlalu meninggalkan Wak Ujang di tempat tadi.


Tubuh Nisa terasa benar benar lelah, Jadi setelah mandi Nisa segera tertidur. Suara Wak Ujang memanggil untuk makan malam tak terdengar lagi.


"Nyenyak sekali Nisa tidur, Dari mana saja Ia seharian ini. sepertinya Nisa benar benar kelelahan." Ujar Wak Ujang yang tak berhasil membangunkan Nisa.


Suara azan subuh membangunkan Nisa dari tidurnya. Segera Nisa bangun menunaikan panggilan Allah, setelah shalat subuh barulah Nisa memulai aktifitasnya didapur.


Seperti biasa Nisa menanak nasi, melihat ada bahan apa yang bisa Ia masak untuk pagi ini. Ternyata tak ada apa apa di dalam kulkas. Jadilah Nisa hanya memasak nasi goreng dengan bumbu alakadarnya saja.


Rupanya di rak ada ikan Teri Palembang. Segera Nisa membuat sambal dengan Teri itu, Sedang memasak sambal teri membuat Nisa merindukan rumah. Mamanya suka sekali membuat sambal teri. Nisa dan Kak Mita suka sekali makan dengan lauk itu. Kalau Dik Laras lebih suka di goreng di campur dengan bawang goreng saja.


Disimpannya dalam dalam rasa rindu akan rumah itu di hatinya. Dengan tergesa Nisa menyelesaikan masakannya.


Tak lupa Nisa membuat teh hangat untuk menghangatkan pagi ini.


"Kamu sudah masak Nis?"


Nisa nampak terkejut wak Ujang sudah berada di dapur dan duduk di meja makan.


"Sudah Wak. Masak nasi goreng sama sambel Teri."

__ADS_1


"Hem.. nanti kamu ke tukang sayur ya, nih buat belanja. Wakmu jarang mau masak di dapur, lebih suka beli. Jadi nanti kamu belanja saja, terserah mau lauk apa."


"Iya Wak."


"Nisa duduk dulu sini."


"Iya Wak" Nisa pun duduk di dekat Wak Ujang.


"Apa kamu bekerja sekarang?"


"Ya Wak, Kemarin Nisa kerja di Pabrik Roti Pak Gun. Tapi paginya Nisa kerja bantu bantu dirumah tetangga juga."


"Kerja apa dirumah tetangga Nis? Kamu tidak capek apa? Nanti kamu sakit."


Nisa hanya diam menatap meja makan.


"Kerja yang di pabrik saja Nis, Wak Ning kan yang menyuruh kamu kerja dirumah tetangga kan?"


"Bukan begitu Wak, Wak Ning tidak enak karena kemarin sudah janji sama tetangga karena Nisa mau kerja. Nggak taunya Nisa juga udah diterima kerja di pabrik."


"Ya sudah, mulai hari ini kamu kerja satu saja. Apa di pabrik. Apa di tempat tetangga. Terserah kamu. Tapi jangan begini, banyak sekali. kamu seperti orang tua yang banyak tanggungan saja."


"Iya Wak. Tapi tolong jangan di marahi Wak Ningnya. Wak Ning tidak salah Wak. Nisa yang jadinya tidak enak.".


"Ya sudah tidak apa, nanti Wak yang bicara sama Wak Ningmu."


"Terima Kasih Wak."


"Ya, kamu kerjanya setengah hari saja kalau di pabrik ya."


"Iya Wak."


"Ya sudah, kamu sudah mandi belum. pergi mandi lalu kita sarapan. saudaramu juga lagi bersiap ke sekolah lagi ini.


"Iya Wak terima kasih ya Wak.".


"Iya, kita sama sama nabung biar cepat kamu bisa sekolah lagi."

__ADS_1


"Iya Wak."


"Nanti kita telpon Mamamu juga."


__ADS_2