Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
Eps 26


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul delapan pagi, tetapi Nisa belum juga berangkat kerja jadi ART di rumah tetangga. Melihat itu Wak Ning sedari tadi gelisah. Pasalnya baru kemarin Nisa kerja hari ini sudah mau bolos. Tetapi mau bagaimana lagi, Wak Ning tidak mau ambil resiko di omeli suaminya sendiri pagi pagi begini.


"Nisa, sini sebentar" Panggil Wak Ning.


"Iya, kenapa Wak?"


"Kamu pergilah ke rumah Wak Leha sana, Dia pasti sudah menunggu."


"Tapi Wak..."


"Dengar Nisa.. Kamu kan mau sekolah, Nah mumpung sekarang belum masuk sekolah mending kamu giat giat sekolah, maksudnya buat nabung. Iya kan?"


Nisa hanya terdiam. Sejujurnya Nisa enggan bekerja jadi ART, Nisa lebih suka kerja di pabrik roti saja.


"Wak, Nisa lebih suka kerja di pabrik saja." Ujar Nisa sambil menunduk, Tak berani menatap langsung Wak Ningnya.


"Kamu kan baru kemarin kerja Nis, masak sekarang sudah mau berhenti. Wak tidak enak sama tetangga kalau begitu." Wak Ning berusaha memelankan suaranya. Takut takut Wak Ujang, suaminya mendengar percakapan mereka.


"Nanti Nisa saja yang sekalian pamit ke mereka Wak, Jadi Wak tak perlu merasa tidak enak begitu sama mereka."


"Kamu itu nggak paham paham ya." Wak Ning tampak kesal.


Tiba tiba Wak Ujang sudah berada di belakang Wak Ning tanpa disadarinya.


"Kenapa Ma? Mama mau nyuruh Nisa kerja si tempat tetangga lagi?"


"Bukan gitu Pa, Mamakan nggak enak sama tetangga kalau Nisa udah berhenti kerja, kan baru kemarin mulai. Masak udah berhenti."


"Kalau Mama ngerasa nggak enak, kenapa nggak Mama aja yang kerja sama mereka. Anak sekecil Nisa saja bisa kerja disana apalagi mama dong. Gampang pasti." Ujar Wak Ning tersenyum.


"Papa ini apa apaan, Malu dong Pa? Nggaklah, Mama gengsi tau. Masak Mama kerja sih, kerja di rumah tetangga pula. Duh apa kata mereka Pa. Nanti Papa dibilang nggak sanggup ngidupi Mama lagi dong. Nggak ah Pa."


"Tuh kan Mama aja gengsi, Pake acara maksa Nisa kerja. Itu artinya Mama dan Papa nggak sanggup biayain hidup Nisa. Apa yang kayak gitu Mama nggak malu."


"Aduh aduh Papa ini. Bikin Mama jadi pusing aja. Ya udah terserah deh Nisa mau kerja atau nggak, pusing Mama." Wak Ning pun berlalu meninggalkan Wak Ujang dan Nisa. Ia lebih memilih masuk ke kamarnya daripada terus berdebat dengan suaminya.


"Aku nggak bakal menang debat pagi pagi keg gini sama Papa. Besok besok aja suruh Nisa kerja lagi, mending sekarang aku rebahan di kasur." Batin Wak Ning.


Sepeninggalan Wak Ning, Nisa dan Wak Ujang tertawa tawa.


"tuh sekarang beres kan. mending sekarang kamu siap siap kerja ke pabrik. Kamu udah belanja kan?"


"Sudah Wak, bahkan Udah Nisa masakin buat makan siang nanti juga kok." Ucap Nisa sambil tercengir lebar.


"Baguslah kalau begitu. Terimakasih banyak ya Nisa."

__ADS_1


"Iya wak. Kalau gitu Nisa pamit ya Wak. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warohmatullah hiwabarakatu." balas wak Ujang yang di ikuti Nisa dengan mencium punggung tangan Waknya itu.


Langkah kaki Nisa nampak lebih ringan pagi ini, Ia senang sekali. Hari masih jam tujuh tiga puluh pagi dan Nisa bisa langsung pergi ke pabrik roti.


Nisa melawati rumah Pak Budi, Nisa pun mendekati istri Pak Budi yang sedang menyiram bunga bunga si halaman.


"Assalamualaikum Bu" Sapa Nisa.


"Waalaikumsalam, Lo Nisa. Ayo masuk."


"Iya bu." Nisa pun membuka pagar dan mendekati Bu Budi yang masih menyiram bunga.


"Bu maaf Nisa tidak bisa lagi kerja disini."


"Looh kenapa Nis? kan kamu baru kerja kemarin, apa nggak betah kerja sama ibu?"


"Bukan begitu Bu, Nisa hanya merasa tidak mampu kerja jadi ART. Dan Nisa juga sebelumnya sudah kerja di pabrik roti. Tetapi karena tidak enak sama Wak Ning sudah mencarikan kerja jadinya kemarin Nisa ambil semua kerjanya. Jadi ART iya kerja di pabrik juga iya."


"Duh kalau gitu ya sudah nggak apa. Kamu juga masih terlalu muda harus jadi ART, nanti kalau dinas sosial tau bisa bisa saya juga kena, Karena Wak kamu yang mohon mohon mangkanya saya terima. sebenarnya saya juga masih bisa kok kerjain semua pekerjaan rumah sendiri."


Nisa hanya tersenyum mendengar jawaban Bu Budi. Tak lama kemudian Nisa pun Pamit.


Tak lupa Nisa juga mampir ke rumah Wak Leha dan rumah Bu Fitri. Dengan alasan yang sama Nisa pun pamit mundur dari pekerjaanya.


Nisa sudah benar benar siap bekerja pagi ini.


"Nah kamu datang pagi hari ini Nisa" Sapa Pak Gun ramah.


"Iya Pak. Alhamdulillah saya sekarang bisa kerja di pabrik pagi, Saya tidak kerja jadi ART lagi Pak." Jawab Nisa sambil tersenyum.


"baguslah kalau begitu. Nah jadi kalau pagi kamu ikut pengantaran. naik sepeda saja, nanti di bantu sama Siska packing rotinya. Minta rute pengantarannya sama Siska juga ya."


"Iya Pak."


"Siska sini sebentar." Pak Gun memanggil salah satu Karyawannya bernama Siska.


"Iya Pak." Wanita berkulit putih itu mendekat.


"Ini Bisa, dia baru disini. Kamu bantu dia packing dan kasih tau rutenya."


"Baik Pak."


"Nisa kamu belajar sama Siska ya. Saya tinggal dulu."

__ADS_1


"Baik Pak."


Pak Gun pun pergi. Nisa dan Siska pun menuju ruang packing. Siska dengan cekatan membantu Nisa packing beberapa roti dan menaruhnya di sepeda. Setelah selesai Siska menyerahkan peta rute pada Nisa.


"Ini rute kamu Nis, kamu hafal daerah sini tidak?"


"Lumayan Kak." Ujar Nisa sambil melihat peta rutenya.


"Perlu aku temani tidak?" Tawar Siska.


"Boleh kak."


"Iya tapi hanya satu toko saja ya, setelah itu kamu lanjut sendiri."


"Baik kak."


Nisa dan Siska pun melajukan dua sepeda. Satu sepeda berisi roti dinaiki Nisa dan satu sepeda di naiki Siska tanpa roti.


Tak sampai sepuluh menit mereka tiba di toko yang pertama. Toko "Fadhil".


"Permisi.. Roti Gun" Sapa Siska.


Nisa diam memperhatikan bagaimana Siska bekerja. Tak lama kemudian Pemilik toko keluar.


"Iya.. wah kebetulan roti saya habis Dik. Saya mau yang coklat sepuluh, kacang lima, roti tawarnya tiga, yang kacang ijonya lima ya."


"Baik bu." Siska mencatat pesanan Ibu tadi di nota dan menjumlahkannya. Lalu mengambil roti pesanan bu Fadhil di keranjang.


"Ini bu rotinya, dan ini notanya."


"terima kasih ya" Jawab bu Fadhil sambil menyerahkan uang seperti di nota.


"Terima kasih bu" Nisa dan Siska pun pergi dari toko Fadhil.


"Nah gampangkan Nis, kamu bisa sendiri tidak. Harganya ada di list ini ya."


"Iya Kak. InsyaAllah Bisa."


"Kalau kamu bisa aku mau balik ke pabrik lagi nih, dan disini ada kalkulator kalo kamu kesulitan menghitung."


"Baik kak. makasih ya."


"Ya sudah kamu hati hati, jangan lupa tandain di peta toko yang sudah kamu mampiri. terus kalo rotinya habis kamu balik dulu ke pabrik ya."


"Baik kak."

__ADS_1


"Ya sudah kita pisah disini. Kamu hati hati ya Nis."


Nisa pun mengangguk dan berpisah dengan Siska. Dengan perlahan Nisa mengayuh sepedanya ke toko selanjutnya. Toko "Rena".


__ADS_2