
Dengan gontai Nisa meninggalkan rumah Wak Ning. Tak punya tujuan lain selain ke pabrik. Hari sudah siang, waktunya bekerja.
Tetapi dengan tas besar di punggungnya sebenarnya Nisa malu. Akan berkata apa Nisa pada Pak Gun. Haruskah berkata Ia diusir dari rumah karena di tuduh mencuri. Pasti Pak Gun akan memecatnya pula karena bisa saja Nisa mencuri di pabrik.
Tetapi Nisa masih percaya. Pak Gun tak seperti itu. Lebih baik Nisa bergegas karena Bisa bisa Semua sudah berangkat ke rute masing masing sekarang.
Sesampainya di pabrik semua sudah beraktifitas. Bahkan dijalan Nisa beberapa orang yang sudah berkeliling menjajakan kue ke jalan jalan.
Kepala Nisa terasa berat karena beban di pikulnya. Siapakah orang yang telah membuatnya jadi seperti ini. Nisa benar benar tak punya nama pelaku yang sudah memfitnahnya. Apakah Wak Ning sendiri yang menfitnahnya. Nisa benar benar tak tahu.
Harus berkata apa Nisa pada Wak Ujang jika Wak sampai tahu. Bagaimana jika Wak Ning langsung cerita ke Mama. Betapa kecewanya Mana mendengar putrinya mencuri di rumah kakaknya.
__ADS_1
"Huft.. kenapa jadi begini Ya Allah" Keluh Nisa sambil merebahkan tubuhnya di kursi di ruangan loker karyawan wanita.
Dari tadi Nisa hanya bersandar menenangkan pikirannya. Rasanya tak memungkinkan juka.berkeliling membawa sepeda hari ini. Bisa bisa sepeda bahkan dirinya bisa berbahaya menabrak orang atau bahkan di tabrak. Ah Nisa benar benar butuh istirahat.
Tetapi harus kemana Nisa sekarang. Nisa benar benar tak tahu. Apa harus ke tempat Wak Nga sekarang. Bisa saja Nisa menelpon Kak Defi, anak tertua Wak Nga untuk menjemputnya sekarang. Tetapi bagaimana kalau wak Ning sudah lebih dulu menceritakan kejadian ini pada Wak Nga. Ah ... Bisa bisa tak ada tempat untuknya.
Haruskah berhenti kerja sekarang. Belum sebulan sudah berhenti. Apa kata Pak Gun? Pasti Pak Gun sangat kecewa.
Jika Nisa mengontrak sekarang Nisa takut tak mampu membayarnya. Belum sebulan Nisa di kota ini. Tinggal di tempat Wak Ning adalah alasan agar bisa sedikit berhemat. Setidaknya Nisa bisa menabung daripada harus mengeluarkan uang untuk membayar sewa.
Kalau pun menyewa bagaimana perabotnya. Kasur, alat makan dan lainnya.
__ADS_1
"Aaaaargggght..." Pekik Nisa sambil menutup wajahnya dengan tas besarnya.
"Nisa kamu kenapa?" Tiba tiba Siska sudah ada di sebelah Nisa.
Di pandanginya Nisa yang tampak aut autan. Jilbabnya bahkan sudah miring kekiri.
"Kenapa Nis? Kenapa bawa tas besar begini. Kamu mau pergi ya?" Tanya Siska.
"Nggak kok kak. Aku...." Nisa tampak ragu ragu bercerita.
"Kenapa Nis? Cerita saja. Kakak bukan ember kok. mungkin kamu butuh tempat cerita, Kakak siap mendengarkan. Atau mungkin kamu butuh bantuan. Siapa tau kakak bisa bantu. Tapi kalau kakak terlalu memaksa, maaf ya Nis." Siska berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Kak.. Maaf. bukan begitu maksud Nisa. Nisa hanya bingung Kak." Nisa mulai buka suara.Di pabrik Siska memang yang paling dekat dengannya. Tetapi Nisa bukan orang yang bisa langsung cerita dengan siapa pun. Tetapi Kak Siska benar barang kali, Kak Siska ada solusi dari masalah yang dihadapinya sekarang.