
Rumah Nenek nampak sepi ketika kami tiba. Kami pun bertanya tanya apakah Nenek dan Umeh belum pulang dari kebun. Nenek dan Umeh meski telah berumur masih tetap bekerja di kebun. Mereka berdua merawat kebun milik mantan Bupati Muara Enim. Sudah sejak lama mereka bekerja disana. Sedari Papa kecil. Kebun itu penuh dengan buah rambutan, duku, durian, pohon kelapa dan aneka sayur mayur. Setiap musim buah tiba, Nenek biasanya akan panen hasilnya bagi dua dengan pemilik tanah. Tetapi, sudah hampir tiga tahun belakangan mantan Bapak Bupati, Pak Saleh selalu mengikhlaskan semua hasil kebun kepada Nenek dan Umeh.
"Assalamualaikum.. Mak.. Bak!" Panggil Mama
Tak ada sahutan dari dalam. Mungkin mereka memang belum pulang.
" Nek.. Nek.. Umeh.." Aku pun mencoba memanggil.
Tak berapa lama pintu pun terbuka. Nampak kakak sepupuku yang membukanya. Hardi.
"Di.. Kau disini? Mana Nenek dan Umeh?" Tanya Mama.
Kak Hardi adalah anak tertua dari Mang Udin. Rumah mereka juga tak seberapa jauh dari sini.
"Ada Wak. Masuklah. Nanti ku panggilkan, ayok Nisa". Kak Hardi pun bergegas ke belakang.
Aku pun mengikutinya. Sudah lama juga kami tak bertemu. Kami seumuran, bersama Randy, anak Mang Sarman. Kami bertiga seumuran. Hanya berbeda bulan kelahiran saja.
Kami pun segera ke belakang, Ternyata Nenek dan Hardi sedang membakar pisang. Kami pun membawa pisang yang telah matang itu ke ruang tamu untuk di makan bersama sama.
Ternyata di ruang tamu Mama sedang berbicara serius dengan Umeh.
"Mak.. Tadi Sarman dan Udin datang. Mereka menagih Hutang almarhum suamiku. Apakah Mak tahu sesuatu." Mama bertanya dengan sangat hati hati.
"Ya tentu saja aku tahu. Suamimu meminjam uang pada Sarman. Untuk membayar hutangku pada Pak Saleh." Umeh mengaku tanpa basa basi bahkan tanpa memikirkan perasaan Mama.
" Apakah benar sampai seratus juta Mak?"
"Tidaklah.. Mana mungkin Aku berhutang pada Saleh seratus juta. Hanya tiga puluh juta. Ya sisanya Masih ada pada Mak. Tinggal sepuluh juta lagi."
__ADS_1
"Jadi Suamiku hanya meminjam tiga puluh juta atau bagaimana Mak? Aku tidak mengerti."
"Hei Desi.. Kenapa kau banyak tanya? Kenapa tak kau lunasi saja hutang itu. Bukankah anakku itu PNS gajinya besar. Belum lagi dia meninggal pasti dapat uang santunan. Kenapa tak kau pakai saja uang itu untuk membayarnya." bentak Umeh sambil berdiri bahkan berkacak pinggang.
Melihat itu Nenek pun maju untuk melerai.
"Dik sudah, jangan seperti itu" ucap Nenek lembut mengusap pundak Umeh.
"Jangan ikut campur Nek. Anakku itu tidak pernah lagi memberiku uang. Apalagi sejak Ia menikah. Baru minta seratus juta saja Istrinya sudah marah marah". Umeh menepis tangan Nenek lalu duduk kembali.
"Bukan begitu Mak. Aku hanya penasaran. Kenapa suamiku meminjam uang sebesar itu. Sedangkan Ia bukanlah orang yang suka berhutang pada orang lain seperti itu."
"Des... Sarman dan Udin itu bukan orang lain, Mereka adik beradik. Anak anakku." Hardik Umeh.
"Memang Mak.. Tetapi..."
"Sudah sudah.. Jika kau ingin mengetahui yang sebenarnya biarkan Bak yang menceritakannya Des. Dik sebaiknya kau ke belakang sana. Tenangkan dirimu." Perintah Nenek pada Istrinya itu. Umeh pun menuruti Nenek lalu beranjak dari duduknya.
"Lalu, Mak mu ternyata meminta lebih kepada suamimu. Mak meminta sebesar seratus juta, dengan alasan membayar hutang hutang Mak yang lain. Suamipun mengiyakannya."
Tutur Nenek berat.
" maafkan Bak Des, Bak tak bisa menghalangi keinginan Mak mu. Malah sekarang memberatkanmu" mata Nenek mulai berkaca kaca.
"Heh Nek, tak apalah. Toh aku pun meminta tak sering. Kenapa harus di besar besarkan. Lagipula Ia berhutang itu pada adiknya. Kalau bukan dengan adiknya iya bisa modar kita pasti minta bunga. Wah kalau sudah sepuluh tahun kurasa besar juga ya Nek bunganya." Ujar Umeh yang tiba tiba muncul sambil membawa minuman teh dan kopi.
"Anakmu telah mengiyakan untuk melebihkan saat membayarnya Mak. Jadi semuanya malah seratus dua puluh Mak" ujar Mama.
"Halah nambah sedikit itu. Kalo ke lindah darat bisa bisa sudah lima ratus juta sekarang. Ya kan Nek?" Ujar Nenek tenang.
__ADS_1
"Dik Dik.. Seratus saja tak ada uang untuk membayarnya. Apalagi sebesar itu." Timpal Nenek
"Sudah ku bilang lebih baik kita cicil saja Pak Saleh. Tapi Kau tak mau Dik. Sekarang malah memberatkan anakmu."
"Hah kau ini Nek. Bisanya menyalahkan ku saja."
"Memang semua salahmu Dik, mau di bagaimanakan. Memang nyatanya begitu."
"Sudahlah Bak. Mak. Tak perlu bertengkar. Aku kemari hanya ingin mengetahui soal hutang ini. Itu saja. Artinya memang benar suamiku meminjam uang dan berniat mengembalikannya lebih." Ujar Mama melerai. Mungkin Mama jengah mendengar Umeh dan Nenek saling menyalahkan.
"Artinya kau akan membayarnya kan Desi?" Tanya Umeh cepat.
"Tentu Mak. Aku tak ingin memberatkan hisab suamiku".
"Baguslah. Oh ya, bagaimana Uang pensiunnya? Sudah Kau cairkan? Dapat berapa?" Tanya Umeh penuh selidik.
"Astagfirullah Dik.. Sudah cukup Kau memberatkan menantuku dengan hutang 100 juta itu. Sekarang Kau meminta Uang duka itu pula?" Nenek geleng geleng kepala tak mengerti jalan pikiran Istrinya.
"Nek dalam rejeki anak lelakiku masih ada hakku sebagai ibunya. Aku hanya mengambil sedikit bagianku. Apa itu salah?" Bela Umeh.
"Sudah Mak Bah. Cukup." Mama melerai. "Iya mak, uang itu sudah cair. Tiga puluh juta. Ini buktinya Mak. Mak bisa melihat dan membacanya. Aku memberikan sepuluh juta ini untuk Mak dan Bak. Selebihnya dua puluh juta ada padaku sepuluh juta hak anak anak. Dan sisanya kemungkinan akan membayar uang pada Sarman dan Udin" jabar Mama pada Nenek dan Umeh.
Sepertinya Umeh akan menyahut tapi buru buru di potong Nenek. "Sudah cukup itu bagianmu Dik. Jangan Kau ambil lagi. Kasihan cucu dan menantuku. Harusnya sekarang beban nafkah itu menjadi tanggung jawab kita." Nenek menjadi sedih.
"Tak apa Bak. Doakan saja Desi lancar berdagang, semoga Allah mencukupkan semua kebutuhan Desi dan anak anak Bak"
"Iya Nak, Bak selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian"
"Kami pamit dulu Mak, Bak. Sudah mau magrib"
__ADS_1
Kami pun bergegas pulang setelah berpamitan.