Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
Di Usir


__ADS_3

Wak Ning masih saja terus menyudutkan Nisa. Seperti tak terima cincinnya dicuri Nisa.


Berjam jam itu itu saja yang dibahasnya. Bagaimana bisa cincin itu disana. Sedangkan Nisa sama sekali tidak mengaku jika Nisa yang mengambil. Rio yang menjadi penengah mulai kebingungan.


"Nisa lebih baik kamu mengaku saja. Saya juga belum ada niat melaporkan kamu ke polisi kok. Jadi lebih baik kamu mengaku saja sekarang. Atau kamu mau saya panggil polisi saja." Wak Ning mulai mengancam.


"Apa yang harus saya akui Wak. Nisa tidak mengambilnya."


"Masih saja kamu berkelit. Kamu tahu tidak tetangga kita yang diujung sana. Pak Rahmat. Dia itu seorang polisi. Kamu mau Wak bawa kesana biar kamu mengaku."


"Sumpah Wak Nisa tidak mengambilnya. Nisa tidak tahu bagaimana.cincin itu bisa disana." Nisa terus membela diri.


"Mama sudahlah kok malah dibuat panjang begini Ma. Toh cincin Mama sudah ketemu. Tak perlu diperdebatkan lagi. Tidak mungkin Nisa mencurinya Ma. Tak perlu pula melibatkan Pak Rahmat segala Ma. Nanti kalau ternyata Nisa benar bukan yang mencurinya Mama mau di laporkan sebagai orang yang mencemarkan nama baik Nisa. Menuduh orang mencuri. Mama mau begitu?"


"Kamu ini Rio harusnya membela Mama bukannya membela si maling ini."


"Ma.. Nisa bukan maling Ma. Pasti ada yang memfitnahnya."


"Kalau begitu siapa?"


"Rio tidak tahu. Sudahlah Ma. Sudah malam. Lebih baik kita istirahat. Nisa juga besok mau kerja. Rio juga. mau sekolah. Mau juga Ma tetangga sudah mau tidur kita masih juga meributkan hal ini."


"Ya sudah kamu tidur sana Rio."


"Nggak.Mama juga tidur. Kita semua tidur." Ujar Rio.


"Oke Oke." Wak Ning mengalah.


"Kamu dengar Nisa. Saya tidak akan tinggal diam. Kamu tunggu saja. Saya aman mengawasi kamu terus." Ujar Wak Ning mengancam Nisa. Lalu mereka semua pun bubar dari kamar Nisa dan menuju kamar masing masing.

__ADS_1


Malam semakin larut. Tetapi Nisa masih belum juga bisa memejamkan matanya. Nisa masih memikirkan tuduhan Uwaknya. Kenapa ada yang begitu tega memfitnahnya.


Nisa sama sekali tak tahu siapa pelakunya. Apa maksud dan tujuannya memfitnah Nisa sedemikian keji.


Dan pula kenapa orang itu melakukannya. Bagaimana pula orang itu masuk kerumah ini dan memasukkannya kedalam tasnya Nisa.


Nisa sama sekali tak dapat menduga siapa orang yang mefitnahnya.


Azan subuh sudah berkumandang tetapi Nisa belum juga terjaga. Nisa baru tertidur ketika pukul satu pagi. Badannya juga terasa lelah. Pikirannya juga tak dapat istirahat meski matanya terpejam.


Jam Enam kurang Lima belas Nisa terjaga.


"Astagfirullah, Subuh hampir lewat." Segera Nisa bangkit dan menunaikan shalat subuhnya.


Dengan tergesa Nisa memasak sarapan. Meski kesiangan bangun ternyata orang rumah juga belum ada yang bangun.


Jam Enam lewat dua puluh semua anak anak Wak Ujang sudah duduk di meja makan. Edo juga sudah pulang. Entah jam berapa Edo pulang Nisa tak ingin bertanya.


"Apa apaan ini dompetku kenapa bisa kosong begini. Siapa lagi ini yang maling? Astaga pagi pagi begini maling sudah berkeliaran." ujar Wak Ning sambil mebolak balik dompetnya.


"Kenapa sih Ma? Masih pagi udah teriak teriak." Edo buka suara.


"Edo.. Kamu tau tidak semalam. Cincin Mama hilang. Taunya si Nisa yang maling. Sekarang dompet mama kosong. Pasti dia lagi nih. Heh Nisa ngaku kamu. Kamu kemanakan uang ku? Kapan kau masuk kamar? Hah?" Wak Ning langsung menuduh Nisa.


"Tidak Wak bukan aku."


"Mana ada maling mau ngaku. Kalau semua.maling ngaku bisa penuh penjara. Apa gunanya ada polisi dan hukum." Wak Ning melototi Nisa.


"Mama jangan menuduh Nisa terus Ma." Edo ikut membela.

__ADS_1


"Kalian ini malah membela maling. Kamu.. Kamu keluar dari rumah ini sekarang. Saya tidak mau pelihara maling. Keluar kamu." Wak Ning mengusir Nisa.


"Mama apa apaan. Kenapa mengusir Nisa." Rio dan Edo menghalangi Mamanya yang mulai membenahi baju dan barang Nisa dan memasukkannya ke tas.


Nampaknya Wak Ning benar benar serius mengusir Nisa. Tak di gubrisnya Edo dan Rio bicara. Sampai Putri pun mulai masuk kamar Nisa.


"Na jangan usir Nisa. Nanti Papa pulang gimana?" Ujarnya.


"Masalah Papa urusan Mama. Pokoknya anak ini harus keluar sekarang juga. Dan kalian, mending siap siap sekolah. Kamu Nisa cepat masukkan barang barang kamu. Jangan ada yang kamu tinggalkan. Itu juga baju kamu di belakang bawa sekalian. Saya tidak mau melihat satu pun barang kamu."


Nisa tak mampu berkata kata. segera Ia membereskan barang barangnya. Dengan berurai air mata Nisa memasukkan semua barangnya. Dirapikannya semua barangnya ke tas. Melihat Nisa sudah berkemas Edo dan rio tak bisa menghalanginya lagi.


"Lebih baik aku mengalah sekarang. Daripada terus si pojokkan Wak Ning begini. Biarlah waktu yang membuktikan kebenarannya. Aku yakin Allah tidak akan tinggal diam melihat hambaNYA di fitnah oleh saudaranya sendiri seperti ini." Ujar Nisa menenangkan hatinya sendiri sambil terus berkemas.


Kepala Nisa terasa pusing karena terus menangis. Rio dan saudaranya sudah pergi ke sekolah. Tetapi Nisa belum juga menyelesaikan mengepak kembali barang barangnya. Jujur saja kaki terasa berat meninggalkan rumah Wak Ujang terlebih lagi Wak Ujang tidak ada dirumah saat ini.


"Apa ku tunggu Wak Ujang pulang saja baru aku pergi ya?" Nisa bergumam sendiri sambil melipat pakaiannya.


Pikirannya terasa kalut. Nisa tak mau kalau nanti wak Ujang kembali mendengar cerita versi Wak Ning yang memfitnahnya. Dua kali malah. sama sekali belum ada jejak siapa pelaku pencurian bahkan terus memfitnah Nisa. Nisa benar benar bingung dan tak enak hati dengan Wak Ujang.


Takut nanti wak Ujang mendengarkan fitnah Wak Ning dan nengadukannya pada Mamanya. Betapa malu pasti Mana mendengar anaknya mencuri. Padahal Nisa sama sekali tak melakukannya.


"Ngapain kamu bengong. Cepat beresin semua. Atau mau saya seret kamu keluar." Hardik wak Ning sambil menatap Nisa dengan tajam dan menusuk. Tatapan yang menusuk melukai hati Nisa. Tega sekali Wak.


"Tidak Wak. Bisakah Nisa menunggu sampai wak Ujang kembali dari bekerja. Nisa akan bicara pada wak Ujang sekalian pamit." Nisa meminta pada Waknya itu.


"Apa? Pamit? Kamu mau mengadu pada suamiku. Licik kamu Nisa. Kamu mau pamit nanti ku sampaikan pada Wakmu. Tak perlu kau tunggu Wakmu pulang. Entah kapan Dia pulang entah besok, lusa atau tahun depan. Masih lama. Jadi lebih baik kamu berkemas ceoat." Wak Ning terus saja meninggikan suaranya.


Nisa pun tak lagi bicara, Dengan segera Nisa memasukkan pakaiannya ayang tersisa ke tas. Lalu melangkah keluar.

__ADS_1


Sebelum pergi Nisa pamit pada Uwaknya itu. Tetepi tangan Nisa di tepisnya. Malah caci maki dan fitnah pencuri yang di terimanya.


Nisa pun pasrah dan melangkah pergi dari rumah.


__ADS_2