Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
30. Mama 3


__ADS_3

Hari sudah malam tetapi Nisa belum juga jelas dimana. Teman teman Mita juga sudah membantu tetapi belum juga ketemu Nisa


"Assalamualaikum"


Tiba tiba terdengar salam dari luar. Hatiku bertanya tanya akankan yang datang itu orang yang membawa kabar tentang Nisa.


Aku merasa cemas sekali, Nisa belum.juga kembali.


"Waalaikumsalam" Mita menjawab salam dan membuka pintu depan.


Ternyata yang datang Yudit dan Umar.


"Ma.." Mita memanggilku yang sedang berbaring di kamar.


"Iya, kenapa Mit?" Masih dengan berbaring aku menjawab. Rasanya kepalaku mulai sakit memikirkan Nisa yang belum kembali.


"Ada Yudit dan Umar di depan. Sepertinya ada kabar tentang Nisa Ma."


"Benarkah itu Mit?" Dengan semangat aku pin beranjak dari kasurku dan ke ruang tamu. Tak sabar rasanya mengetahui keberadaan Nisa.


"Umar, Yudit, Apa kalian sudah ada kabar tentang Nisa?" Tanyaku sumringah.

__ADS_1


"Ma duduk dulu." Ajak Mita. Karena terlalu semangat aku malah belum duduk dan langsung menanyakan Nisa pada mereka.


Aku pun segera duduk.


"Begini Ma, tadi siang Yudit bertemu dengan Nisa di sekitar terminal. Benarkan Yud?" Terang Umar.


"Iya Ma, Siang tadi Yudit melihat Nisa di dekat terminal. Nisa sedang makan di sebuah warung. Yudit segera menghampirinya. Karena merasa curiga mana mungkin Nisa jauh jauh ke terminal cuma buat makan di warteg."


"Lantas kemana Nisa sekarang Yud?" Tanya ku tak sabar.


"Ma, Sabar" Mita menenangkanku.


Tak ku gubris Mita. Aku hanya ingin segera tahu Nisa berada dimana sekarang.


"ckck" Aku geleng geleng kepala. Benar benar tak ku sangka Nisa seserius itu menanggapinya. Sekali kali kami bercanda tentang banyak hal. Tetapi tak ku sangka Nisa akan merespon seperti ini.


"Mama tenang saja. Yudit tadi memberikan salah satu Hp Yudit ke Nisa. Jadi kita bisa menghubunginya. Maaf Ma, Yudit tidak bisa mencegah Nisa pergi." Yudit menunduk dalam.


"Tak apa Yud, yang penting sekarang Mama tahu kemana Nisa pergi. Pasti dia ke rumah Wak Ujang. Dulu Nisa pernah bilang di ajak Uwaknya itu sekolah di Palembang saja. Barangkali sekarang Nisa akan menagih tawaran Uwaknya dulu."


"Iya Ma. Kalau begitu Yudit coba telpon Nisa dulu. Supaya kita bisa mengetahui apa Nisa sudah sampai atau belum"

__ADS_1


Aku pun menganggung. Tanda mensetujui gagasan Yudit untuk segera menghubungi Nisa. Tak sabar rasanya hatiku mendengar suara Nisa. Ah... anak itu kenapa senekat itu. Apa Dia masih ingat jalan ke rumah Uwaknya. Sudah lama sekali Nisa tak berkunjung ke Palembang. Apalagi ke rumah Wak Ujang agak sulit karena harus naik bus beberapa kali. Apalagi kalau Nisa sampainya malam. Bisa bisa tak ada lagi bus yang nisa di tumpanginya.


"Ah Nisa.. Kau dimana Nak." Aku benar benar semakin cemas.


Yudit segera menghubungi Nisa..


"Tut..."


"Tut..."


"Tut..."


Tak ada jawaban dari Nisa. Membuatku makin cemas.


Yudit mencoba beberapa kali. Tetapi tidak ada jawaban dari Nisa.


"Barangkali Nisa masih ada di jalan Ma" Yudit menenangkanku.


"Ya mungkin saja begitu Yud." Aku hanya duduk bersandar dengan lesu.


Entah dimana Nisa. Jika saja Papanya masih ada mungkin tidak akan seperti ini kejadiannya. Apalagi Nisa dan almarhum suamiku sangat dekat.

__ADS_1


Di tambah selama sakit Nisalah yang lebih banyak bersama Papanya. Nisa semester awal SMP kemarin masuk siang karena ada perbaikan gedung sekolah. Jadilah Ia yang menjaga Papanya Jika pagi mereka hanya berdua saja dirumah.


"Nisa... semoga kau baik baik saja Nak" Doaku dalam hati.


__ADS_2