Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
2. Hutang


__ADS_3

Sudah empat puluh hari sejak Papa pegi. Kami sudah beraktifitas seperti biasanya.


Alhamdulillah. Taspen Papa juga sudah cair. Mama merencana membeli rumah. Sebulan sebelum Papa meninggal, Papa juga sudah meminjam bank sebesar 20 juta. Ada total 60 juta di tangan. Pinjaman Papa di bank juga sudah di urus. Pinjaman 20 juta itu langsung hangus karna si peminjam meninggal dunia. Di bantu Wak Panji, Kakak Mama yang bekerja di bank B** semua pencairan pun muluskan.


"Tok.. Tok.. Tok"


"Siapa?" Tanya Mama yang baru saja menyimpan uang tadi ke lemari.


"Sarman dengan Udin Cak (Cak berarti Kakak besar/Tertua)" jawab suara di luar.


Ternyata Mamang Mamangku(Mamang artinya Paman/Adik Papa) datang. Mereka adalah adik adik almarhum Papa. Papa empat bersaudara. 3 lelaki dan 1 perempuan. Papa anak tertua. Nenek dan Umeh (Nenek artinya Kakek dalam bahasa Indonesia dan Umeh berarti Nenek perempuan) juga masih ada. Sehat walafiat.


"Masuklah dik.." ujar Mama sambil membukakan pintu.


Kulihat kak Mita langsung membuatkan teh di dapur. Sedangkan dik Laras masih asyik bermain di teras samping dengan Ilham dan Dita.


"Ada apa Dik?" Tanya Mama.


Memang aneh rasanya melihat kedua Mamangku datang. Apalagi ketika Papa sudah tak ada, dulu saja sangat jarang mereka kemari. Jangankan hari hari seperti ini, Lebaranpun tak pernah mereka berkunjung. Kami selalu bertemu dan berlebaran di rumah Nenek. Padahal rumah kami berdekatan dengan Nenek dan Mamang Udin. Tapi entahlah nampaknya mereka enggan datang.


"Langsung saja ya Cak, kami berdua datang kemari ingin menanyakan hutang Almarhum Cak Sak (Cak Sak artinya Kakak besar/Kakak tertua) kepada kami bertahun tahun Lalu." Ujar Mamang Sarman.


"Hutang? Hutang apa dik?" Tanya Mama terkejut. Bagaiman tidak, Papa bukan orang yang suka berhutang.


"Sekitar 10 tahun yang lalu, Cak Sak ke Muara Enim meminjam Uang sebesar Seratus Juta. Pada saat itu Cak Sak sekeluarga masih di Ranau." Ujar Mang Sarman mengingatkan.


Memang sejak menikah Papa dan Mama pindah ke Ranau, Ogan Komering Ulu Selatan. Papa tugas di sana. Sedangkan Mama sejak menikah hanya jadi Ibu Rumah Tangga biasa. Kesibukannya hanya di rumah. Sesekali Mama akan menjahit. Terbukti banyak sekali taplak meja, sarung bantal, dan barang lainnya kreasi tangan Mama.


"Bagaiman bisa Man Cakmu meminjam Uang sebesar itu tanpa sepengetahuan ku istrinya."ujar Mama keheranan.

__ADS_1


" Sedangkan meminjam uang ke bank ini saja sudah berpuluh tahun aku mengajaknya tak juga di Indahkan, Bahkan saat Laras sakit demam berdarah dulu aku menyuruhnya meminjam uang pun Cakmu lebih memilih menjual barang barangnya dirumah daripada Ia harus berhutang" Netra Mama mulai berembun.


"Tak mungkin bohong Cak. Kalau Cak tidak percaya, lihatlah ini" Mang Udin mengeluarkan kertas bermaterai. Ternyata isinya pernyataan Papa meminjam uang dengan Mang Sarman.


"Lihatlah Cak disini ada tanda tangan Cak Sak." Tunjuk Mang Udin.


Mama segera memanggil Kak Mita untuk mengecek surat pernyataan yang di tunjukkan Mang Sarman.


"Benar Ma ini tanda tangan Papa." Ujar Kak Mita.


"Ya sudah dik Sarman, dik Udin. Berilah kami waktu untuk membayarnya" . Mama mulai menangis.


"Maaf Cak. Bukankah Taspen Cak Sak sudah cair. Bagaimana Cak masih meminta waktu membayar. Lagi pula Cak, Cak Sak berjanji akan melebihi ketika mengembalikan uangku menjadi 120 juta" . Mang Udin mulai berapi api.


"Tenanglah Mang Udin. Pasti kami bayar." Kak Mita bersuara.


"Hei anak kecil jangan ikut campur kalau orang tua bicara" hardik Mang Udin berang kepada Kak Mita.


"Begini saja Cak. Kami beri waktu Cak beberapa hari ini. Mungkin saja Cak masih mengurusi Taspen Cak Sak. Kalau sudah cair tolong segera lunasi. Lagi pula Cak, Udin akan menikahkah Anaknya si Rika habis lebaran nanti. Memang masih beberapa bulan lagi. Ramadhan pun belum tiba, karena itulah kami berharap Cak sudah melunasinya. Oh ya, uang pinjaman itu milikku dan Udin. " jelas Mang Sarman.


"Terima kasih Man pengertianmu. Cak juga ingin mencari tahu dulu kebenaran surat ini. Bisa kau fotokopi kan kertas itu kalau tidak biar Cak saja yang memegangnya." Ucap Ibu.


"Tidak, nanti Cak robek dan tidak membayar. Karena kami tidak punya bukti" Mang Udin mulai berang lagi.


"Astagfirullah din... Tidak. Sungguh kotor sekali pemikiranmu itu. Cak tidak akan melakukan nya. Bagaimana mungkin Cak memberatkan Almarhum Cak Sak pun dengan hutang hutangnya." Air mata Mama makin deras.


"Sudahlah din. Coba kau tenang dulu." Mang Sarman mengelus pundak Mang Udin.


"Ya sudah Cak. Silahkan Cak pegang surat ini. Sarman yakin Cak tidak akan ingkar. Sarman akan kesini tiga hari lagi Cak. Sarman akan mengambil surat ini, dan syukur syukur Cak sudah mencairkan Taspen Cak Sak". ujar Mang Sarman.

__ADS_1


"Kami langsung pamit saja Cak" Mang Sarman dan Mang Udin langsung Pamit.


Setelah Mang Sarman dan Mang Udin pamit, barulah Nisa keluar kamar. Kamar yang hanya berdinding triplek sebagai sekat antara ruang tamu dan dapur memungkinkan Nisa mendengar semua percakapan para Mamang dan Mamanya.


"Ma.. " ujarku mendekati Mama.


"Bagaimana ini Ma? Apa benar yang dikatakan Mang Sarman dan Mang Udin tadi?" Tanyaku hati hati.


"Entahlah Nisa. Mama tidak tau. Mama juga bingung"


"Apa mungkin Mang Sarman bohong Ma?" Tanya kak Mita tiba tiba.


"Kenapa menuduh seperti itu mita?, ayo duduk sini." Ujar Mama melihat Kak Mita yang sedari tadi hanya berdiri saja.


"Nisa.. Suruh adikmu masuk dulu". Perintah mama


Aku pun bergegas memanggil Laras untuk masuk, sedangkan Dita dan Ilham memilih pulang.


"Kenapa Ma?" Tanya Laras.


"Laras, mungkin kamu masih kecil baru kelas 2 SD. Tetapi kamu adalah bagian keluarga ini. Jadi kami juga harus tau. Tadi Mang Sarman dan Mang Udin datang. Mereka mengatakan bahwa almarhum Papa memiliki hutang sebesar 100 juta. Bahkan Papa kalian berjanji akan mengembalikan 120 juta." Ujar Mama menerangkan pada Laras, karena Laras tidak mendengar pecakapan Mama dan Para Mamangku tadi.


"Jadi bagaimana Ma?" Tanya Laras.


"Mama belum tau. Sejujurnya Mama agak ragu. Apa mungkin Papamu berani meminjam Uang sebesar itu. Dan untuk apa Papamu meminjamnya. Papamu bahkan tidak pernah bercerita apa apa pada Mama."


"Menurut Mita, kita selidiki dulu Ma. Bagaimana kalau kita tanya Nenek. Mungkin Papa pernah cerita tentang hutang piutang ini." Saran Kak Mita.


"Benar juga Ma. Ku rasa Nenek pasti tau tentang ini" jawabku cepat.

__ADS_1


" Baiklah nanti Mama akan ke tempat Nenek. Dan Mita tolong kau ke rumah Uwak Panji. Ceritakan padanya masalah ini. Suruh dia menemui Mama secepatnya. Laras temani Kak Mita ya" perintah Mama. "Dan Nisa kau temani Mama ke tempat Nenek. Mama agak malas kalau kesana sendirian" sambung Mama serasa bangkit menuju kamarnya.


Setelah bersiap kami pun bergegas pergi ke rumah Nenek sedangkan Kak Mita dan Dik Laras ke rumah Uwak Panji dengan naik angkot.


__ADS_2