Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
Terpaksa Jadi ART


__ADS_3

Azan subuh sudah berkumandang membangunkan hamba hamba NYA yang masih terlelap. Tetapi tidak begitu dengan Nisa. Nisa sudah sedari tadi berkutat dengan dapur. Pakaian sudah di cucinya. Tinggal di keringkan di bawah matahari. Piring sudah bersih. Lantai sudah di sapu serta di pel. Nisa tinggal menunggu nasi matang. Pagi ini Nisa akan membuat nasi goreng. Sambil menunggu nasi matang, Nisa kembali ke kamar. Ia mencari hp dari Kak Yudit. Selalu ada pesan dan missed call dari Kak Yudit.


******


Nisa sedang sibuk tidak? Kakak sedang ada dirumah Mama. Kak Mita ingin bicara sama kamu.


******


Ada pesan lain juga.


*******


Nisa angkat telpon nya Dik.


********


"Ada apa ya "pikir Nisa.


Nisa pun segera mengetik pesan balasan ke kak Yudit.


*********


maafkan Nisa kak. Nisa jarang pegang hp nya. Tidak biasa juga melihat hp terus..Kak Mita mau ngomong apa ya kak? gimana dengan Mama kak. Nisa pengen nelpon Mama, pengen cerita juga. Tapi gimana ya kak? Salam buat Mama Ya kak kalau Kakak kerumah. Makasih Kak Yudit. Salam sayang buat kalian semua.


************


Nisa menitikkan air mata mengetik pesan itu. Tak ingin berlarut larut dengan kesedihan, Nisa pun bangkit keluar kamar. Nisa segera kedapur menyiapkan bumbu nasi goreng. Nasi juga kebetulan sudah matang. Segera Nisa memasak nasi goreng spesialnya. Tak lupa Nisa menambahkan telur sebagai menu pagi ini. Teh hangat pun sudah siap di atas meja.


"Wah enak nih.." Edo yang sudah rapi dengan seragamnya segera mengambil piring dan duduk manis di meja makan.


"Ayok duduk juga Nis." Ajak Edo.


Putri dan Rio yang sudah siap dengan seragamnya pun ikut bergabung di meja makan. Hanya wak Ning yang belum juga keluar kamar.

__ADS_1


"Enak nih kalau ada Kak Nisa. Jadi anak yang masak. Mama jadi tambah santai aja." Celutuh Putri.


"Hush ngomong apa kamu." Tegur Rio. "Nanti mama dengar bisa kebakaran rumah kita."


"Ayo habiskan makan nya terus berangkat sekolah." Edo melerai adik adiknya.


"Iya."


Mereka pun melanjutkan sarapan tanpa bersuara lagi. Setelah selesai Putri dan Rio.langsung berangkat bersama.


Sebelum ke sekolah, Edo kembali menanyakan perihal pekerjaan Nisa.


"Jadi kamu sudah memutuskan kerja dimana Nis?"


"Belum tau Kak. Hanya saja Nisa merasa lebih senang jika kerja di pabrik saja."


"Itu bagus Nis. Mending kerja dimana yang kamu suka. Jadi kamu juga kerjanya tak terbebani."


"Ya sudah kamu hati hati ya. Kakak berangkat dulu. Assalamualaikum."


Nisa pun bergegas masuk dan membereskan sisa sarapan tadi.


"Nis.. kamu sudah selesai?"


"Iya Wak." Jawab Nisa.


Ternyata Uwaknya baru selesai mandi.


"Ayo kita berangkat tempat Bu Leha dulu. Uwak antar kamu kesana." Ajak Uwak.


"Tapi wak... Nisa lebih suka kerja di pabrik roti saja daripada kerja jadi pembantu."


"Kerja di pabrik itu sulit Nisa. Mana kamu pasti kebagian nganter nganter roti lagi. Keliling panas panasan. Udah kerja yang ini saja. Ayo cepat." Uwak Ning segera menarik tangan Nisa.

__ADS_1


Nisa pun hanya diam mengikuti langkah kaki Wak Ning.


Wak Ning menunjukkan rumah Pak Budi yang tak jauh dari rumah wak Ning. Sedangkan rumah Bu Fitri dan rumah Bu Leha agak lumayan jauh. Wak Ning segera mengajaknya masuk ke rumah Bu Leha.


"Nanti Kalau sudah di rumah Bu Leha kamu ke rumah Bu Fitri, Bilang saja kamu kemari mau kerja kata Bu Ning kemarin Begitu. Nah rumah Bu Fitri yang rumah bercat orange itu. Sebelahan rumah sama Bu Leha, jadi gampang kan kamunya. Terus nanti kalau disini sudah kamu baru tempat Pak Budi. Rumahnya kan deket rumah Uwak. Yang Uwak kasih tunjuk tadi. Kamu inget kan?" Wak Ning bicara panjang lebar.


"Iya Wak."


"Assalamualaikum. Bu Leha.. Bu?"


"Iya." Nampak seorang Wanita paruh baya membukakan pintu. Nampaknya itu Bu Leha, Beliau seorang bidan dirumah sakit Umum kota Palembang. Sepertinya Bu Leha akan dinas pagi ini.


"Oh Bu Ning. Mari masuk. Sudah saya tunggu sedari tadi."


Wak Ning dan Nisa segera masuk.


"Iya Bu. Ini saya mengantarkan Adik ini yang mau kerja kemarin. Namanya Nisa."


Nisa pun segera mencium punggung tangan Bu Leha.


"Oh Nisa. Ayo kebelakang Nis. Ibu sudah mau pergi ini. Ayo ayo. Nanti ibu jelaskan apa saja kerja kamu." Bu Leha mengajak Nisa ke belakang.


"Bu Leha saya langsung pulang saja ya." Pamit Wak Ning.


"Iya bu Ning." Teriak Bu Leha dari dalam rumah.


Kembali ke Nisa dan Bu Leha yang didalam. Nampak Bu Leha segera mendetailkan pekerjaan Nisa. Ia juga menunjukkan dimana letak detejen, sapu, pel dan semua yang berkaitan dengan pekerjaannya.


"Nah nanti colokin ke sana ya kaluau mau nyuci. Airnya ambil yang di drum biru dulu. kalau mau menjemur pakaian jemurnya di sana. Kalau sudah kerung setrikanya besok saja. Nah sapu sama pelnya disini. Kamar kamar nggak usah di bersihin. Nah juga ini dirumah jarang ada orang kalau pagi. Suami sama anak saya sudah berangkat. Kalau kamu sudah selesai kamu bisa pulang. Kuncinya tarok sana ya." Bu Leha menunjukkan tempat Ia biasa menaruh kunci.


"Kalau kamu kemari rada siang nggak ada orang ambil kunci disini ya. Saya mau pergi. Ini upah kamu. Tiga puluh ribu ya. Ibu lebihin hari ini. semoga kamu betah kerja sama Ibu."


Ibu Leha pun pergi dengan terburu buru.

__ADS_1


__ADS_2