Jangan Nikah Muda, Nak !

Jangan Nikah Muda, Nak !
Mama di Taksir Aki Aki


__ADS_3

Masih belum empat puluh hari. Tetapi kewajiban adalah kewajiban dan itu harus dilakukan dengan sesegera mungkin.


Hari ini adalah tanggal pembayaran kontrakan rumah Nisa. Biasanya Jika Nenek si empu punya rumah tidak kemari maka kamilah yang akan mengantarkan uang kontrakan ke rumah nenek Ali.


Rumahnya tak jauh dari sini. Mungkin sekitar lima menit sudah sampai. sudah dua tahun kami tinggal di rumah kontrakan nenek Ali ini. Selama ini beliau cukup baik. sesekali datang berkunjung. karena kami hanya menempati rumah bagian bawah maka bagian atas rumah adalah miliknya.


Rumah ini rumah model lama bertingkat dua dengan dinding papan dan lantainya juga papan. bagian atas yang merupakan dapur di gunakan sebagai kamar Kak Mita dan Nisa. di sekat dengan triplek untuk menutupi dari bagian kamar dan ruang tamu. setelah Papa meninggal bagian atas tempat kami tidur tak lagi di gunakan. Sekarang kami semua tidur di bawah. tangga ke atas sudah kami tutup agar tak ada yang bisa turun ke bawah. Bukan berprasangka buruk. Hanya mencegah. mengingat kami sekarang hanya sendiri tanpa Lelaki pelindung di rumah.


Ba'da zuhur Nenek Ali datang. Ia langsung ke atas, membersihkan rumah bagian atas. membuka jendela jendela dan pintu lalu mulai menyapu.


Melihat Nenek Ali datang Mama pun menyiapkan uang kontrakkan. Sengaja Ia membayar kontrakkan dua bulan. agar bulan depan Mama cukup tenang taklagi memikirkan uang kontrakkan.


Lalu Mama bergegas mengajak Nisa dan Laras ke atas.


Nisa dan Laras duduk di atas tangga. Melihat lihat pemandangan. sedangkan Mama duduk di ruang tamu dengan Nek Ali Hasan.


Dengan segera Mama memberikan uang kontrakan dua bulan kepada nenek Ali.


"mang ini uang kontrakan dua bulan."


"Desi.. sebenarnya kau tak perlu lagi repot repot membayar uang kontrakan seperti ini pada ku." ujar Nenek Ali sambil tersenyum. Terlihat Ia menghitung uang yang Mama berikan.


"maksud mamang apa? apa Mamang bermaksud mengontrakkan rumah ini pada orang lain?" Tanya Mama


Nenek Ali kembali tersenyum dan mengembalikan uang yang diberikan Mama. "bukan Des.. apa kau tak mengerti maksudku?"


Mama tampak mengeleng pelan.


"Tenanglah Des Jangan risaukan hal ini. Kau dan Anakmu tinggallah disini. Rumah ini ku berikan kepadamu dan anakmu." Nenek Ali mulai mendekati Mama dan duduk di sebelah Mama.


Nampaknya Mama mulai curiga dan menduga hal yang di maksud Nenek Ali.

__ADS_1


"maaf mang, Aku masih sanggup menghidupi anak anakku."


"Tak perlulah kau repot repot mencari nafkah lagi Des. Aku tau kau masih berduka. aku akan menunggu." Nenek Ali mulai memegang tangan Mama.


Tetapi Mama langsung menarik tangannya. Lalu segera berdiri.


"maaf Nek kami permisi" lalu mengajak Nisa dan Laras turun.


Mama segera masuk dan menyuruh Nisa menutup pintu dengan rapat.


Tubuh Mama terlihat pucat. tangannya bergetar. Melihat itu Kak Mita segera memeluk Mama.


"kenapa Ma? Apa yang terjadi?" tanya Kak Mita khawatir melihat keadaan Mama.


"ya Allah Mit.. Papa mu belum empat puluh hari tetapi sudah ada saja yang macam macam. Apa mamamu ini sebegitu rendahnya. Apa Mama sehina itu Mit?" mama sesegukkan.


Mama pun bercerita pada Kak Mita. sedang Nisa dan Laras hanya terdiam mendengarkan. Mungkin Laras tak mengerti kenapa. Tapi Nisa sedikit mulai memahami. Nenek Ali bermaksud menikahi Mama. Agar Mama tak perlu lagi mencari nafkah atau pun membayar uang kontrakan. Karena Nenek Ali akan menyerahkan rumah ini untuk Mama.


"mit pelankan suaramu." ujar Mama menenangkan "bisa jadi Nenek masih di atas"


"biar saja Ma.. biar dia sekalian mendengarkan biar sekalian ku beritahu Kajut. biar Nenek bangkotan itu tau rasa." (istri Nenek Ali di panggil Kajut. Panggilan suku Ogan. Karena Nenek Ali dan istrinya orang suku Ogan)"


"sudahlah Mit. sekarang kita harus banyak banyak berdoa pada Allah. meminta perlindungan Nya. Memang benar kata orang orang tua dulu. bau Janda memang sangat harum. apalagi Papamu baru meninggal."Ujar Mama memijat mijat kepalanya. Sepertinya tingkah Nenek Ali membuat kepala Mama jadi sakit.


"jangan lupa kunci pintu rapat rapat. sementara waktu kita harus bertahan disini. arwah Papamu masih disini. kita tidak boleh pergi sebelum empat puluh hari Papa." ujar Mama kemudian lalu menyandarkan kepalanya di kursi.


Kami semua menganggukkan kepala. Resah dan gelisah. Kami harus saling menguatkan dan saling melindungi. Karena sekarang tak ada lagi lelaki yang melindungi kami.


Masalah Mama datang bertubi tubi setelah Papa meninggal. Tak nyaman sekali rasanya ditinggal Papa seperti ini. Terasa ada yang pedih di dada ini. Entah apa. Aku sama sekali tak memahaminya. Tetapi ketika tiap kali mengingat Papa yang sudah meninggal terkadang membuat dadaku terasa nyeri. Sakit dan perih sekali.


Seperti ada darah yang mengalir keluar dari dada. Tapi tak terlihat. Perihnya lebih perih daripada ketika lututku berdarah karena terjatuh dari sepeda. Terjatuh sakit. Bahkan berdarah. Tetapi sakit didada ini tak terlihat.

__ADS_1


Sulit sekali memahami keadaan sejak Papa pergi. Semua terasa berbahaya bagi Mama. Mama jadi lebih protektif. Aku bahkan tak lagi mengaji di TPA kalau malam. Padahal aku harusnya mengaji di waktu malam. sekitar pukul 18.30. Sekarang aku harus mengaji sore. Berarti aku tak lagi bertemu Putra.


Aku harus bertahan. Karena bagaiman pun juga ini senua deni kebaikan kami. Dan pula tempat TPA itu searah rumah Nenek Ali Hasan. Bisa jadi hal hal yang tak diinginkan terjadi. Bukan suuzon hanya waspada kata Mama.


Aku cukup lega karena malam jumat saat hafalan semua santri dan santriwati menyetor hafalan setelah shalat magrib bersama. Itu artinya aku akan bertemu dengan Putra.


Lagi pula aku akan melihatnya jika pergi dan pulang dari mengaji. Iya. Putra nampak menungguku di halaman rumahnya. Karena ke TPA melewati rumahnya.


Putra akan di halaman saat aku pergi dan Putra masih di sana saat aku pulang. Seolah Putra sengaja menungguku. Bukan GR. Hanya aku harus PeDe. Begitu kata Yenni dan Poopy. Dua sahabat karibku yang selalu setia disisiku.


Malam ini malam jumat, kami bertiga sebentar lagi sampai rumah. Tak biasanya pintu rumah tertutup rapat.


"Ma..Mama" Laras memanggil Mama karena pintu terkunci.


"Ma..Mama" kali ini Kak Mita yang memanggil. Tak juga ada jawaban dari dalam


Kali ini aku yang mencoba. Sambil mengetuk pintu dengan keras aku memanggil Mama.


"Ma..Mama"


Taklama pintu terbuka. Wajah mama memetah. Matanya sembab .


"Kenapa Ma?" Kak Mita bertanya dengan khawatir. Kami bertiga lalu memeluk Mama. Saling rangkul dan menguatkan.


"Nenek Ali tadi datang lagi. Dia membawakan mama cincin. Ia benar benar serius dengan niatnya. Mama takut sekali."


"Ya Allah Ma. Apa yang harus kita lakukan."


"Entahlah Nak. Semoga Ia tak berani lagi. Mama sudah menolaknya bahkan mengancam akan memberitahu istrinya tentang kelakuannya. Semoga itu membuatnya takut."


"Semoga saja Ma." Jawabku.

__ADS_1


__ADS_2