
Jam dinding menunjukkan pukul 06.30 Pagi ketika Akbar membangunkan Niko.
"Nik, bangun. Mau sekolah nggak? Udah siang"
"Hem.... iyyaaa..." Niko mengucek ngucek matanya.
"ayok mandi.. tuh udah ada nasi uduk, kita sarapan dulu."
"Bar.. kayaknya aku nggak ke sekolah dulu hari ini. Lu izinin gua ya. Bilang aja gua sakit."
"Ooh.. Iya udah kalo gitu. Hayuk dah kita sarapan. Gue udah laper."
"Iya."
"Jadi Lo mau di kosan aja atau gimana nih?"
"Kayaknya gue nanti mau ke pabrik Om Gun aja lah. Rada sianganan jam 9 mungkin."
"Hem... Nanti pintu lu kunci aja ya Nik. Tempat biasa."
"Baik boss.."
Setelah sarapan Akbar pun bergegas ke sekolah meninggalkan Niko sendirian di kos.
Tak lama kemudian Niko pun mandi, berganti pakaian lalu melajukan mobilnya ke jalan raya. Tujuannya adalah butik Mamanya. Niko belum berani menyapa mamanya. Dia hanya ingin memastikan Mamanya ada di butiknya.
Selang berapa menit kemudian, Niko pun sampai. Di lihatnya butik mamanya sudah buka. Tampak beberapa karyawan sedang bersih bersih.
Niko pun memanggil salah satu karyawan mamanya yang Niko kenal.
"Mbak Lastri..." Panggil Niko dari dalam mobil. Niko hanya menurunkan sedikit kaca mobilnya. Takut mamanya melihatnya. Niko belum siap membicarakan masalah fajar tadi dengan mamanya.
"Iya Den..." Mbak Lastri mendekat.
"Mama ada Mbak?"
"Ada Den.. Mau saya panggilkan?"
"Jangan Mbak. Saya cuma mau nanya aja kok. Jangan bilang saya mampir ya Mbak."
Setelah memastikan Mamanya ada di butik Niko pun pergi. Satu tujuannya hanya pabrik roti Oom Gunawan.
Masih pukul delapan ketika Niko sampai di pabrik. Suasana pabrik sudah ramai. para karyawan sudah dari pagi tadi memulai aktivitas di pabrik, bahkan ada yang sudah berapa kali mondar mandir mengantar roti lalu balik lagi ke pabrik.
Niko segera turun dari mobil, masuk ke pabrik dan mencari Om Gun. Banyak dari para karyawan pabrik sudah mengenal Niko. Karena itu Niko pun masuk langsung ke ruangan Om Gun, Adik mamanya.
Namun ternyata di dalam ruangan tidak ada orang.
"Om Gun kemana ya? Apa belum datang?"
Niko pun keluar ruangan dan mencari ke ruang produksi. Tetapi tak juga di temukannya. Jadi Niko memutuskan keluar, melihat barangkali Om Gun sedang ada di bagian packing. Ternyata nihil, Om Gun juga tidak ada disana.
Sedang memperhatikan pegawai yang packing roti, tiba tiba Niko melihat gadis manis yang baru datang. Gadis itu nampak celingukan mencari seseorang.
"Mau apa gadis itu. Sepertinya Dia bukan au membeli roti" Batin Niko
Niko pun segera mendekat dan bertanya pada gadis itu.
"Kamu cari siapa?"
"Oh..maaf saya mencari Pak Gun?" Jawab gadis itu.
__ADS_1
"Pak Gun sedang pergi, Ada perlu apa?"
"Saya kemarin sudah janji akan bekerja hari ini."
"Mau kerja kenapa telat? Sudah siang begini?" ujar Niko, gadis itu nampak terkejut Niko berkata ketus dan mengomelinya datang terlambat.
"Maaf saya tadi ada keperluan. Karena itu Saya mencari Pak Gun apa beliau menerima jika saya datang jam seperti ini jika bekerja?" Akui gadis itu.
"ckck.. Kamu itu niat kerja tidak? Oh iya Apa kamu tidak sekolah?"
"Maaf saya hanya ingin bertemu Pak Gun, Jika Beliau tidak ada sebaiknya saya menunggu di depan saja."Gadisbitu melangkah pergi.
"Hei tunggu..." Niko mengejarnya
"Menyebalkan. Kenapa Ia malah pergi" batin Niko
Niko nampak bersejajarkan langkahnya dengan gadis itu yang tak lain adalah Nisa.
"Om sedang pergi membeli alat perbaikan. Jika kamu mau aku akan menelponnya." Niko nampak melunak.
"Oh ya siapa nama kamu?"
"Nisa"
"Saya Niko" Niko mengulurkan tangannya.
Nisa mengambil uluran tangan Niko dan menjabatnya.
"Tunggu sebentar akan Ku telpon Om Gun."
Niko nampak sedikit menjauh. Kemudian berbicara di telpon.
Terdengar dering telpon tetapi belum juga di angkat.
"Aku di pabrik Om."
"Baguslah. Jangan kemana mana, Om segera kembali."
Tak lama kemudian Niko mematikan telponnya dan mendekati Nisa.
"Om Gun segera kembali ke pabrik. Mungkin Ia sudah di perjalanan."
Nisa hanya diam mengangguk. Ia kemudian malah memilih duduk. Nisa nampak kelelahan. Tetapi Ia masih bersemangat.
Tak lama berselang, sebuah mobil memasuki area parkir pabrik. Seorang Pria keluar dari mobil
"Nah itu Om sudah kembali." Niko menunjuk ke arah Pak Gunawan.
Setelah menurunkan barang barangnya, Pak Gun menghampiri Nisa dan Niko.
"Sudah lama Nis?" Sapanya pada Nisa.
"Belum lama kok Pak."
"Jadi bagaimana? Kenapa kamu kesiangan? Apa kamu sudah ke sekolah dulu tadi?" Pak Gun bertanya bertubi tubi.
"Tidak pak sebenarnya tadi Nisa disuruh Uwak kerja bantu bantu dirumah orang dulu. Jadinya kesiangan begini."
"oh begitu, Jadi apa kamu batal kerja disini?
"Tidak pak, Saya justru mau. Tapi ya itu tadi... Saya pagi kerja dulu baru kemari."
__ADS_1
"Apa kamu tidak lelah? Kalau seperti itu kamu tidak bisa sambil sekolah."
"Saya tidak bisa menolak kata Uwak pak, Saya memang berencana tahun depan lanjut sekolah lagi."
"Ya sudah kamu coba beberapa hari, kita lihat perkembangannya, Saya tidak mau kamu kelelahan bekerja. Kalau sudah banyak kerja di tempat lain kamu tidak usah masuk saja. Saya bisa kena masalah kalau terlalu memaksakan pekerjaan ke kamu"
"Maafkan saya Pak jika Saya jadi merepotkan Bapak."
"Ya sudah tak apa, Kamu masuk dulu ke dalam. Ganti sama seragam pabrik. Hari sudah terlalu panas untuk keliling ke toko atau warung. Kamu bantu didalam saja."
Nisa pun segera masuk dan menghampiri loker tempat karyawan dan bergegas mengganti pakaiannya dengan seragam yang sudah tersedia. Nisa hari ini membantu bagian mengadon bahan. memasukkan telur gula dan gendum.
Tampak Bu Ayu sedang mengajarinya cara mengadon bahan roti.
"Kamu ngapain disini?" Tiba tiba Pak Gun menegur Niko. Ternyata Niko asik memperhatikan Nisa dari kejauhan.
"Nggak kok Om. Hanya mampir."
"Kamu nggak sekolah?"
"Libur Om." Niko cengegesan.
"Libur terus setial hari. Ayo ikut Om. Mama mu pasti mencarimu. Kau kabur dari rumah ya." Pak Gun mengamit lengan Niko dan mengajakkan keluar ruangan tempat Nisa mengadon roti.
Niko diam saja tangannya di tarik Omnya menuju mobil. Padahal Ia masih mau mengintip Nisa. Tapi apalah daya..
"Kamu ngapain kabur dari rumah? " Om Gun membuka percakapan ketika didalam mobil.
"Kabur? Siapa Om?"
"Ya kamu. Siapa lagi. Malah bolos sekolah pula. Kamu itu sudah SMA Nik. belajarlah bertanggung jawab, sekolah yang bener. Kan kamu bakal mewarisi perusahaan Papamu." Tegur Om Gun.
Om Gun tidak tahu kalau perusahaan Papa Niko sudah lama gulung tikar. Hampir dua tahun ini. Beruntung kerapat Papanya mau menerima Papa Niko bekerja. Jika tidak, Pasti Papanya Niko sudah jadi pengangguran sekarang.
"Mama cerita apa sama Om?"
"Nggak. Mamamu juga ngomong kamu nggak ada dirumah. Itu aja. Ya mamamu pikir kamu pergi main dan nggak pulang."
"Em..Mama nggak cerita apa apa tentang semalam sama Om." Batin Niko.
"Om apa aku boleh bantu kerja di pabrik?"
"Apa? Terus sekolahnu gimana?"
"Ya aku tetap sekolah dong Om. Nanti pulang sekolah baru aku ke pabrik." Niko tersenyum lebar.
Niko berusaha membujuk Omnya. Padahal niatnya bukan bekerja bantu di pabrik, Tetapi Hanya ingin mengenal Nisa lebih dekat.
"Aku penasaran dengan Nisa tadi. Sepertinya Dia butuh seseorang. Yeah seseorang seperti aku ini." Batin Niko sambil senyum senyum sendiri.
"Hei.. malah senyum senyum. Mikirin apa kamu?"
"Nggak kok Om."
"aa...kamu mikirin gadis tadi ya. si Nisa."
"Nggak kok Om." Niko mengelak.
"Ckck..kamu ini Niko Niko. Oke Oke. kamu boleh ke pabrik. Tapi ingin Om nggak mau kamu bolos sekolah dan pergi tanpa izin mamamu lagi."
"Oke Om. Beres."
__ADS_1
"Asyiik aku kerja di pabrik juga.Bareng Nisa" Pekik Niko dalam hati.