
Hari sudah pukul satu siang ketika Nisa sampai rumah Uwak Ujang. Tak dilihatnya ada siapa pun dirumah. Wak Ning juga tidak ada.
Nisa segera mencuci muka dan sholat zhuhur. Setelah selesai barulah Nisa makan siang. Selesai makan Nisa mencuci piring. Padahal pagi tadi sebelum pergi tak ada piring kotor. Dan pula semua sudah makan.
"Kenapa banyak sekali ya?" batin Nisa.
Setelah selesai Nisa segera menyapu lantai lalu memilih jemuran yang sudah kering. Lalu segera di lipatnya.
"Semua kerjaan beres. Aku mau istirahat sebentar" Batin Nisa setelah melihat rumah sudah rapi dan bersih. Segera Nisa bangkit lalu menuju kamarnya. Tubuhnya terasa lelah. Dengan cepat mata Nisa pun terpejam.
Suara azan membangunkan Nisa.
"Sudah ashar rupanya." Nisa pun bangkit lalu membersihkan tubuhnya. Dinginnya air begitu menyegarkan. Tubuhnya terasa bugar kembali.
Selesai mandi Nisa segera shalat. Setelahnya barulah Nisa menuju teras depan rumah.
"Sudah sore kenapa tidak ada orang dirumah ya? Dan pula tak ku dengar ada orang yang pulang. Apa aku yang terlalu nyenyak tidur ya?" Nisa bicara sendiri sambil melihat langit.
Di jalan kecil depan rumah itu banyak anak kecil seusia Laras sedang bermain kejar kejar. Mereka menyebutnya permainan Benteng bentengan. Ada dua kelompok yang mempertahankan bentengnya. Anggota kelompok berusaha merebut benteng lawan. Tiap anggota kelompok boleh keluar benteng. Siapa yang diluar benteng akan dikejar lawannya sampai dapat. Kelompok yang lebih dulu memegang benteng lawan merekalah yang menang.
Mereka bermain bersepuluh, Jadi satu kelompok ada lima orang. Terlihat salah satu kelompok tinggal seorang diri mempertahankan bentengnya. Semua temannya sudah tertangkap. Nisa merasa geli melihat bocah itu kepayahan harus ke kanan ke kiri menghalau musuh yang coba merebut bentengnya.
Melihat mereka bermain, Nisa teringat teman temannya. Ingat Poppy dan Yenni, Juga teman temannya yang lain. Medi, Wawan, dan Doni adalah temannya yang jago maen benteng bentengan. Kalau satu tim dengan mereka di pastikan mereka akan menang terus. Cengar Cengir sendiri Nisa mengingatnya.
Hingga azan magrib berkumandang tak ada satu orang pun yang kembali. Edo, Rio bahkan Putri Tak juga pulang. Rasa khawatir tiba tiba saja menghantui.
Wak Ning juga tak ada dirumah. Kalau Wak Ujang memang sudah bekerja besok atau lusa baru kembali.
Penasaran tak membuat Nisa diam saja. Segera Nisa bangkit dan menunaikan sholat maghrib.
Setelah shalat Nisa merasa lebih tenang. Nisa segera di dapur. Melihat apakah ada lauk untuk malam ini.
"semua masih banyak. Sebaiknya ku hangatkan saja." Ujarnya kemudian.
Tak perlu waktu lama Nisa sudah selesai menghangatkan lauk. Ia pun segera makan. Setelahnya segera Nisa membereskannya.
Jam sudah menunjukkan pukul 07.05 malam. Nisa kembali duduk di teras depan. Tampak anak anak sudah pulang mengaji. Nisa oun tergerak untuk menanyakan tentang Rio dan Putri.
"Dik dik.. sini sebentar." Panggil Nisa pada seorang anak perempuan.
__ADS_1
anak itu mendekat, "Iya, kenapa kak?"
"Apa kamu mengenal Putri?"
Anak itu hanya mengangguk.
"Apa Putri tadi mengaji juga, Dimana dia. apa Adik melihatnya?"
"Tidak Kak, Putri tidak mengaji hari ini."
"Benarkah? Baiklah kalu begitu terimakasih ya."
Nisa makin heran. Pergi kemana orang orang dirumah ini. Sudah malam belum juga pulang.
Nisa pun kembali duduk di teras. Merasa bosan Nisa pun masuk dan memilih menonton tivi.
Tak lama kemudian terdengar suara mobil berhenti di depan. Segera Nisa bangkit. Dilihatnya sebuah mobil online blue bird berhenti. Dari dalam keluarlah Rio, Putri dan Wak Ning. Tampaknya mereka dari berbelanja. Terlihat dari banyaknya kantong yang mereka bawa.
"Syukurlah mereka kembali." Batin Nisa.
"Ngapain kamu liat liat?" Hardik Wak Ning. Merasa tak enak Nisa pun masuk.
"Aduh... Ada maling."!" Tiba tiba suara Wak Ning terdengar menjerit.
Nisa pun bergegas keluar kamar dan melihat Wak Ning di kamarnya sedang mengacak acak lemarinya.
"Kenapa Ma?" Tanya Rio yang juga baru masuk ke Kamarnya Mamanya itu.
"Ada maling, cincin Mama hilang."
"Cincin? Cincin apa Ma?" Tanya Putri yang baru selesai mandi.
"Cincin Mama nggak ada Put.."
"Salah tarok kali Ma" Putri menenangkan.
"Nggak mungkin, kemarin malem masih ada."
"Bukannya mama selalu pake nggak pernah lepas?" Tanya Rio heran.
__ADS_1
"Iya tadinya cincinnya mau Mama cuci. Makanya di lepas. Nggak taunya tadi Mama Lupa dan tarok di lemari. Sekarang malah hilang di ambil maling."
"Mending kita cari aja dulu Wak" Nisa menyarankan.
"Cari kemana? Saya sudah cari dikamar ini nggak ada. Atau jangan jangan di atas Kamu ya Nisa? Kamu maling ya?" Wak Ning langsung menuduh Nisa.
"Aku bahkan nggak pernah liat cincin Uwak. Dan nggak mungkin aku mencurinya Wak." Nisa merasa heran kenapa Wak langsung menuduhnya.
Wak Ning tidak menggubris Nisa segera Ia keluar kamar dan menuju kamar Nisa. Putri dan Rio hanya mengekor di belakang mamanya.
Wak Ning segera mencari tas Nisa. Di bongkarnya semua barang barang Nisa.
"Nah ini apa?" Wak Ning menunjukkan sebuah cincin yang ditemukannya di tas Nisa.
Nisa terheran heran bagaimana mungkin cincin itu ada disana.
"Nggak Wak, Aku sama sekali tidak tahu bagaimana bisa cincin itu ada disana."
"Jangan pura pura kamu Nisa? Apa kamu pikir cincin ini akan datang sendiri masuk sendiri ke tas kamu ini." Hardik Wak Ning.
Nisa hanya terdiam tak tahu harus menjawab apa untuk membela diri.
"Ma.. nggak mungkin Nisa mencuri Ma. Kita selidiki dulu." Rio mencoba membela Nisa.
"Jangan membela maling Rio. Mau diselidiki bagaimana lagi jelas jelas kita lihat sendiri lagi bukti cincin Mama di tasnya Nisa."
"Ya aku hanya tidak percaya kalau Nisa yang mencuri Ma. Pasti ada yang nemfitnahnya." Rio kembali membela Nisa.
"Memfitnah? Apa maksud kamu. Siapa yang memfitnah. Jelas jelas cincinnya ada disini."
"Sudahlah Ma jangan di panjangi. Malu di dengar tetangga. Lagi pula cincin Mama kan sudah ketemu." Putri ikut ikutan membela Nisa.
"Kalian kenapa membela maling? Mama tidak suka ya pelihara maling dirumah. Hari ini cincin yang dicurinya. Besok apalagi uang?". Wak Ning kembali menyudutkan Nisa.
Nisa kembali terdiam. Tak tahu harus membela diri seperti apa. Nisa sendiri heran bagaimana bisa cincin itu bisa berada ditasnya. Sungguh terlalu orang yang memfitnah dirinya.
"Sudah ah terserah Mama. Putri capek mau tidur." Putri pun pergi meninggalkan kamar yang ditempati Nisa.
Tinggallah Rio, Nisa dan Wak Ning. Tampaknya Wak Ning tidak terima Nisa dibebaskan dari mencuri cincinnya.
__ADS_1