
Nisa masih bersenandung kecil ketika sudah sampai rumah Uwak Ujang.
Dilihatnya Uwak Ning sudah kembali dan sedang duduk di depan televisi menonton acara gosip siang.
"Kamu darimana?" Tanya Uwak Ning tanpa menoleh.
"Dari berjalan di sekitar sini Wak."
"ooh begitu. Ku pikir kau sudah minggat kembali ke Muara Enim sana." Uwak Ning menjawab ketus.
"Huft.. Uwak ini...." Nisa mengeluh dalam hati. Geram rasanya mendengar Uwaknya bicara seperti itu.
Tetapi rasa itu Ia buang jauh jauh. Nisa teringat ingin menceritakan kejadian tadi. sekaligus ingin minta izin dengan Uwaknya itu.
"Uwak sebenarnya tadi aku....."
"assalamu lalaikum, Ma.. kami sudah pulang." Ternyata Rio dan Putri sudah pulang sekolah.
Mereka segera melepas sepatu dan mencium punggung tangan Mamanya. Uwak Ning tersenyum melihat dua anaknya sudah pulang sekolah. Hanya Edo yang belum pulang. Edo pulang jam Tiga sore. Sedangkan Rio dan Putri jam dua belas sudah pulang sekolah.
Rio dan Putri pun bergegas ke kamar mengganti pakaiannya.
"Kamu tadi mau ngomong apa Nis?" Tanya Uwak Ning.
"Anu Wak... Tadi Nisa....."
"Ma.. mau makan!" Putri berteriak dari kamar. Membuat Uwak Ning beranjak ke dapur. Nisa pun urung bicara pada Uwak Ning.
"Nanti sajalah" batinnya.
"Nis, ayo makan juga." Ajak Rio.
"Iya"
Mereka pun menuju dapur untuk makan siang. Selama makan Nisa memilih diam. Terdengar Putri dan Rio bercerita kejadian kejadian tadi di sekolah.
Nisa hanya tersenyum menimpali percakapan di meja makan tersebut.
__ADS_1
Setelah Makan siang. Rio dan Putri beristirahat di kamar mereka. Putri lebih suka di kamar Mamanya. Nisa ingin mebicarakan pembicaraan tadi yang tertunda. Jadi Ia.memutuskan untuk menemui Uwaknya itu dikamarnya.
"Tok tok.. Wak." Nisa mengetuk kamar uWaknya.
"Kenapa Yuk Nisa?" Tanya Putri membukakan pintu kamar.
"Em... Mamamu mana?" Nisa celingukan melihat Uwak dikamarnya. Ternyata Uwaknya tak ada dikamar.
"Mama pergi Yuk. Tauk deh kemana." Putri menjawab sambil merebahkan tubuhnya ke kasur.
"Oh begitu. Nanti saja."
Nisa pun berlalu.
"Huft.. Uwak kemana sih." gerutu Nisa. Ia memilih merebahkan tubuhnya di kamar.
"siang siang panas gini Uwak kemana ya?" Batinnya. Nisa nampak gelisah belum juga mendapat restu untuk bekerja.
Tiba tiba Ia teringat handphone Kak Yudit. Segera Ia mengambilnya di tas ranselnya.
"Apa kakak sebegitu mengkhawatirkan aku, banyak sekali miskolnya" Batin Nisa sambil tersenyum.
Nisa pun segera mengetik pesan singkat pada Kak Yudit.
Maaf Kak Tudit, Nisa baru sempat pegang handphone nya. Nisa tadi sudah dapat kerja. Tapi belum cerita sama Uwak. Semoga Uwak mengizinkan. doakan ya Kak. Oh ya, Apa kakak sudah ke rumah Nisa. Bagaimana Mama Kak? Kalau kakak ke rumah bilang Nisa baik baik saja. Jangan khawatir kan Nisa. Makasih kk
selesai menulis pesan, Nisa memilih tidur siang.
*************************
Azan Ashar berkumandang membangunkan tidur Nisa. Segera Nisa mengambil wudhu dan sholat Ashar terlebih dulu.
Setelah selesai Nisa ke pekarangan belakang. Mengangkat jemuran tadi pagi kemudian melipatnya dan menaruhnya di rak. Ia tak tahu dimana meletakkannya, Jadi Nisa hanya meletakkannya di rak dekat televisi.
"Sudah sore, Apa Uwak Ning belum kembali." pikir Nisa.
Hampir magrib Wak Ning baru kembali, Rio dan Putri sedang mengaji. Sedangkan Edo sedang pergi dengan temannya sejak tadi. Hanya ada Nisa dirumah.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Wak Ning menuju depan tivi menonton film india kesukaannya. Melihat Uwaknya sedang santai Nisa pun mendekat, bermaksud menyampaikan.hal yang tertunda sedari tadi.
"Wak.... " panggil Nisa.
"Hem......"
"Wak.. Nisa tadi sudah di terima kerja."
"kerja dimana kamu?"
"Pabrik Roti yang si dekat sini wak."
"Apa? Pabrik roti? Tidak! Tidak boleh" Wak Ning tiba tiba meninggikan suaranya.
"kenapa wak?" Nisa tak bisa menyembunyikan rasa kecewanya.
"Pokoknya tidak boleh." Wak Ning mematikan televisinya.
"Kamu ini Nisa, Wak itu dari tadi sudah keliling mencarikan kamu kerja. Itu tempat Wak Fitri saja. Wak sudah janji tadi kamu kerja bantu bantu disana. Ada Wak Leha juga yang mau. Rumah Pak Budi juga."
"Banyak sekali wak."
"Kamu bantu mereka merapikan rumah. mencuci dan menyetrika juga. Mereka bayar kamu harian. Seharinya dua puluh ribu. Semua si cuci pakai mesin cuci kok. Terus juga Wak sudah bilang ke mereka kalau kamu izin jika Wak Ujangmu ada dirumah. Tapi nanti kalau wak Ning sudah pergi kerja kamj bisa pergi kesana. Kan enak begitu Nisa. Iya kan?"
"Iya Wak." Nisa mendadak lesu.
"Dan juga Nisa, kamu kerjanya selesaikan dulu kerja dirumah sini baru kamu boleh kerja tempat lain. mengerti kamu?"
"Iya Wak. Nisa mengerti."
"Ya sudah sekarang kamu pijat dulu kaki Wak. Kaki Wak pegal pegal, sejak pagi keliling mencarikan kamu kerja."
"Iya wak "
Jadilah Nisa sambil menunggu azan magrib memijat kaki Uwaknya.
Nisa masih ragu bekerja jadi ART (Asisten Rumah Tangga) itu. Sejujurnya Ia lebih suka di pabrik roti saja. Tapi apa mau di kata, Uwak tidak mengizinkan. Jika Ia bersikeras tentu tidaklah baik untuknya.
__ADS_1