Jangan Sakiti Hati Ku

Jangan Sakiti Hati Ku
Benteng Itu


__ADS_3

Sudah dua pekan semenjak kejadian pertengkaran papi dan bunda kisya.


Sejak hari itu papi pergi meninggalkan rumah yang telah menjadi bagian dalam hidupnya,  rumah dimana penuh banyak kenangan bersama buah hatinya,  tapi rasa cinta pada Bella sekretaris nya begitu besar hingga rela meninggalkan istri dan anak kesayangan nya.


Bunda kisya terus membujuk anak nya untuk keluar kamar,  tapi al tak pernah keluar,  bunda sering datang ke kamar anak nya untuk mengecek keadaan anak kesayangan nya itu,  menyuapi nya,  bunda tak pernah menangis di depan al karena  bunda tak ingin anak nya tau bahwa ia pun masih terluka,  namun bunda ingin anak nya tahu bahwa dirinya kuat agar anak nya tak sedih lagi.


Hingga saat ini Al masih tak percaya dengan apa yang terjadi dalam hidup nya,  ia mengurung diri di kamar dan masih belum menerima semua ini. Al begitu menyayangi papi nya tersebut,  papi nya adalah cinta pertama nya,  al bahkan ingin menikah dengan laki laki seperti papi joan,  yang begitu menyayangi keluarga dan begitu melindungi dirinya,  tak pernah melukai hati nya sama sekali.


Pi,  papi pernah bilang tak akan membiarkan siapapun menyakiti ku,  membuat ku menangis,  ternyata maksud papi orang lain tak boleh tapi papi lah yang boleh melakukan nya?  Begitu kah? 


Pi,  kau selalu menjaga hati ku,  tapi sekarang,  kau lah yang menyakiti hati ku,  kau sakiti sehancur hancur nya,  kau bahkan pergi demi wanita lain,  apalah arti kehadiran ku dalam hidup mu pi?  Aku selalu merasa menjadi anak paling beruntung karena terlahir sebagai anak tunggal kesayangan mu dan bunda,  kenapa papi jahat sekali?? apa ini yang kau sebut cinta yang tulus?


Air mata al terus mengalir membasahi pipi nya,  ini mimpi buruk.


Itulah yang ada di pikiran nya.


Altha bangun dari tempat tidur,  berdiri menghadap dinding di kamar nya,  sebuah bingkai foto besar terpampang disana,  3 orang tersenyum bahagia tampak dalam bingkai foto itu.


Al mengambil bingkai itu, menatap seraya mengingat moment saat foto ini di ambil, siapa yang sangka senyum di foto ini tak akan ada lagi di rumah ini.


Apakah di foto ini papi tersenyum karena terpaksa? karena ada aku di hadapan mu pi?


Altha geram, ia melempar nya bingkai foto tersebut dengan keras


Prangg


Pecahan kaca dari bingkai foto itu berserakan di lantai,  Al melangkah kan kaki nya mendekati bingkai itu,  pecahan kaca menusuk kaki nya mengeluarkan darah dari kaki putih nya,  ah rasa sakit itu sepertinya tak lagi al rasakan,  tentu saja rasa sakit kaki nya tak sebanding dengan rasa sakit di hati nya.

__ADS_1


Bunda yang saat itu hendak ke kamar altha begitu terkejut mendengar suara kaca dari kamar anak nya, ia segera mendekati kamar altha.


"Al sayang,  buka pintu nya nak,  jangan di kunci sayang,  apa kau terluka nak?  Bukalah sayang bunda khawatir" Ucap bunda di balik pintu,  namun tak ada jawaban,  al asik dengan dunia nya sendiri.


Pikiran Al kosong, ia mengambil tongkat bisbol di dekat bingkai foto yang tergeletak di lantai,  dengan segera ia memukul dengan keras secara berulang ulang kali pada bingkai itu,  menumpahkan segala rasa amarah kesal sedih kecewa nya pada sebuah bingkai foto.


"Aaaagghhhh!!!!  Aku benci papiiiii!!!" Teriak nya, air mata sudah tak terbendung. Air mata itu telah mengalir deras di wajah cantik altha


Brakkk


Tiba tiba pintu kamar di dobrak paksa oleh pelayan di rumah mereka,  seketika bunda terkejut melihat kondisi anak nya itu, darah segar mengalir di kaki al. 


"Sayang" Bunda kisya hendak mendekati anak nya


Gubrag


***


Kamar Altha


Dokter keluarga telah memeriksa al,  bunda semakin khawatir dengan kondisi anak nya itu, altha terlihat sangat kacau.


Ia menjadi kurus dan begitu pucat, selamg berapa jam kemudian al bangun dan melihat bunda nya tertidur lelap di samping nya dengan tangan bunda yang menggenggam tangan nya erat.


Altha bisa melihat mata bunda yang begitu sembab,  al merasa bersalah telah membuat bunda nya menangis.


*A*pa yang telah aku lakukan?

__ADS_1


"Bunda.. " Lirih nya


"Iya sayang, bunda disini sayang,  ada yang kau inginkan nak? " Jawab bunda yang langsung terbangun begitu mendengar suara anak nya


"Bunda maafkan sikap al,  padahal bukan hanya al yang sedih dan terluka,  bunda pasti lebih terluka dari al kan?  Maafkan al yang egois ini bun,  harus nya kita saling menguatkan dan bangkit kembali,  kita harus nya tunjukkan pada papi bahwa kita bisa bahagia tanpa dirinya, tapi al malah egois" Al menangis, tak sadar bahwa sikap nya selama ini malah menambah kesedihan bunda nya


"Iya sayang,  maafkan bunda juga ya? bunda tak bisa memberikan keluarga yang bahagia dan keluarga yang lengkap untuk mu, ayo kita sama-sama saling menyembuhkan,  menguatkan dan harus hidup lebih bahagia lagi,  cuma al yang bunda punya sekarang kalau anak bunda ini sedih bunda ikut sedih, al anak yang kuat bunda tau itu dan kita pasti bisa lalui ini,  oke sayang? " Bunda dengan senyum manis sambil mengelus lembut kepala putrinya.


"Baik bun,  bunda jangan tinggalin al ya,  al pun cuma punya bunda,  al butuh bunda" Al memeluk erat bunda kesayangan nya itu


***


Hari berlalu,  al telah kembali bangkit,  dia tak ingin terlalu lama larut dalam kesedihan,  dia harus kembali kuliah setelah cukup lama dia absen. 


Al melihat dirinya di cermin,  terpantul gadis cantik dan modis. 


"Cinta?  Cinta pertama ku mengkhianati ku dan bunda,  aku tak akan mudah jatuh cinta pada siapapun, aku tak akan mudah terjebak pada kebaikan laki laki manapun, aku tak akan membiarkan siapapun menyakiti dan melukai hati ku lagi, biar aku yang menyakiti kalian dan melukai kalian para kaum lelaki brengsek! " Ucap al berbicara pada dirinya di pantulan cermin itu.


Ya,  al telah membangun benteng besar dalam hatinya,  ia lebih baik melukai daripada di lukai,  dia akan membalas rasa sakit ini pada pria agar mereka tau rasanya di campakkan.


Ia berjanji tak akan menangisi pria manapun lagi, hati nya terlalu terluka namun ia harus tetap melanjutkan hidup nya. Al akan membuktikan bahwa ia bisa hidup bahagia meski hanya berdua dengan bunda.


Aku lakukan semua ini hanya untuk bunda, hidup ku hanya untuk bunda. Aku tak akan membiarkan bunda menangis, dan aku tak akan menangis di hadapan bunda lagi.


Pergilah Joan Wijaya, berbahagia lah dengan jalang kesayangan mu.


**

__ADS_1


__ADS_2