Jarak Dan Kerinduan

Jarak Dan Kerinduan
Number eight


__ADS_3

Sesuai request dari kalian!


Distance And Longing


⏩Author pov


Eunha terus menelpon nomor Yuju, Suga tengah melacak ponsel adiknya Jin.


"Sudah kau temukan belum?"


"Belum ada pertanda ponselnya, membutuhkan waktu 5 menit untuk melacaknya," jawab Suga sambil terus fokus dan berusaha melacak sinyal


"Aku tidak tahu, bagaimana bisa Yuju memutuskan untuk bunuh diri. Apa Taehyung menyakiti dirinya, sehingga dia mempunyai niatan buruk seperti itu," pikiran Jin, bermonolog mencari penjelasan yang masih menjadi sebuah misteri


"Tidak mungkin Taehyung berani mengkhianati Yuju, pasti ada sesuatu yang terjadi pada Yuju ... yang membuat dia terdorong untuk bunuh diri kak," ujar Eunha, mengamati situasi dengan menolak tuduhan Jin pada kekasih temannya


"Benar juga kata Eunha, Jin. Kita tahu sendiri, hubungan mereka seperti apa. Tidak mungkin Taehyung, menyakiti perasaan Yuju. Dia sangat mencintai adikmu, dia juga rela mati demi adikmu." Suga menemukan sesuatu di layar laptop nya, ia segera memberitahu Jin mengenai perkembangan lokasi ponsel Yuju


Mereka bertiga langsung menuju lokasi ponsel yang telah di lacak, dengan memakai kendaraan mobil sedan Suga.


Perjalanan di tempuh di kecepatan paling tinggi, Eunha mencoba menghubungi ponsel Taehyung, sayangnya nomornya tidak aktif.


Tetap pokus pada pencarian ke tempat yang sudah di tentukan, perjalanan memakan waktu lama membawa rasa kegelisahan yang memberatkan pikiran.


Pagi hari sudah tiba, seorang Taehyung tengah menikmati sunshine yang menghangatkan penglihatan matanya.


Ia menghirup udara segar masuk ke dalam setiap jalur pernapasan nya, menganti oksigen lama dengan yang baru dia hirup.


Seorang gadis tengah memperhatikan tingkah laku nya, dari kejauhan sambil mengenakan kaca mata.


Gadis itu sangat tertarik dengan kepribadian Taehyung, dia mencoba mendekati tempat Taehyung dengan langkah pelan.


Namun, langkah yang mengendap-endap di lakukannya ketahuan juga oleh Taehyung.


Dia berdiri kaku di belakang tubuh Taehyung, laki-laki itu mengabaikan keberadaan nya. Berjalan melewati dirinya, tanpa peduli untuk melihatnya walaupun sekilas mata.


Gadis itu mendengus kesal, pesona yang ia tunjukan tidak menimbulkan ketertarikan pada laki-laki yang telah memikat hatinya.


Sampai suara teriakan memanggil nama Yerin, yang di kenali oleh Taehyung.


Laki-laki itu berjalan menghampiri Taehyung, dan bebicara dengannya.


"Kau ... Habis menikmati sinar mentari, kenapa tidak mengajakku?"


"Aku mengajak mu, kita tidak terlalu dekat. Bagaimana aku harus mengatakan ajakan ke padamu, kau aneh sekali,"


"Sebagai rekan bisnis, kau bisa beralasan seperti itu untuk dekat denganku,"


Taehyung tertawa aneh mendengar perkataan Jimin.


"Ohh iya, apa gadis yang tengah memperhatikan kita." Taehyung melihat kebelakang sekejap, lalu mengalihkan pandangannya menatap Jimin


"Dia adalah kekasihmu?"


"Kekasih ku, yang benar saja. Dia gadis yang membawa kesialan bagiku, setiap aku berpergian ke luar kota, gadis itu selalu ikut denganku. Ohh ya benar, lebih tepatnya dia adalah musuh karier ku," jawab Jimin, sedikit santai mengenai Yerin sauadari nya


"Lalu kenapa kau membawa musuhmu, kalau keberadaan nya ... menyusahkan mu?" Taehyung sedikit penasaran dengan jawaban Jimin


"Ketakutan adalah hal yang utama dalam hidupku, aku takut pada kemarahan kakaknya. Dia bisa membunuhku tanpa memberi belas kasihan, jadi mau tidak mau aku harus menuruti permintaan nya,"


"Ya sudah aku permisi pergi, kita bicarakan bisnis beberapa jam lagi. Aku ingin mengerjakan sesuatu di kamar, sampai jumpa." Taehyung pergi dari hadapan Jimin, dia tidak lagi mempunyai rasa penasaran terhadap hubungan Jimin dengan gadis itu


Yerin berjalan menghampiri Jimin, dan bertanya mengenai pembicaraan yang di lakukan keduanya.


"Ingin jawaban jujur atau bohong?"


"Ingin kuburan atau kematian!"


"Sama-sama tidak hidup,"


"Kalau begitu, kalian bicara apa tadi?"


"Kami berdua membicarakan dirimu." Jimin berjalan ke arah samping, jawaban saudaranya membuat Yerin senang bukan main


"Benarkah, apa yang kalian bicarakan tentt diriku." Yerin dengan semangatnya mengejar langkah kaki Jimin


"Tidak usah kamu tahu, itu tidak penting tahu,"


"Sangat penting bagiku, berarti kecantikan ku mulai di rasakan nya,"


"So cantik sekali, dia tertarik juga tidak."


"Apa maksud mu?"


"Dia malah membenci mu."

__ADS_1


"Jimin, awas saja ya kau!" Yerin mengejar Jimin, yang berlari dari kemarahannya


Terlihat 3 orang keluar dari sebuah mobil, satu wanita dan dua orang laki-laki.


Ya mereka adalah Jin, Suga dan Eunha. Mereka berdua menuju tempat ponsel Yuju, tak berapa lama Jin menyuruh Eunha menghubungi nomor adiknya, dia melakukan perintah dengan baik.


Sebuah dering suara khas ponsel Yuju terdengar, mereka dengan tergesa-gesa mendekati sumber suara.


Di temukan lah ponsel Yuju, yang tergeletak di atas tembok pembatas jembatan.


Jin langsung mengambil ponsel adiknya, ia merasakan kebingungan yang aneh.


"Ponselnya di sini ... Lalu Yuju ada dimana?" keresahan kembali lagi pada diri seorang kakak, yang tidak menemukan dimana adiknya


"Kita akan mencarinya, tenang Jin. Ayoo Eunha, kita bertiga harus berpencar. Kita juga tidak boleh lost kontak, ok." ujar Suga, menengahi permasalahan


Mereka bertiga berpisah satu sama lain, memperluas pencarian Yuju. Sementara itu, Taehyung tengah berbicara bersama dengan kliennya semalam.


Tetap dalam pengawasan seorang gadis yang mulai tergila-gila padanya.


Gadis itu terus memperhatikan Taehyung, bahkan melayani dia ketika makan sedang  berlangsung.


Taehyung bisa merasakan rasa suka gadis itu padanya, tapi rasa kesetiaan yang sudah melekat di hatinya. Tidak menggoyahkan perasaan cintanya, untuk berpaling ke arah wanita lain.


"Dia terus mengabaikan keberadaanku, apa aku tidak menarik di matanya. Dia terus saja, mengalihkan perhatiaan nya, ke arah lain," batin Yerin


Kembali lagi pada situasi pencarian, Jin dkk. Tidak menemukan sosok Yuju, mereka hampir putus asa tidak ada gambaran keterangan dari orang-orang sekitar.


"Apa kita ubah saja tempat pencarian, kita pergi ke kota lain saja," solusi Suga, membuat Jin merasa tidak enak perasaan nya


"Kita tetap saja mencari di sini, aku yakin adikku masih berada di tempat ini." tiba-tiba saja Jin mengikuti naluri hatinya, berjalan ke arah pembatas jembatan ia melihat ke bawah menatap arus sungai yang cukup deras


Di hulu sungai yang mengalir deras, di permukaan datarnya. Setelah melihat air terjun dari atas.


Ada sekumpulan pemuda yang tengah memancing ikan di sana, mereka sedang bersendu gurau.


Salah satu dari mereka pergi untuk buang air kecil, mereka tetap melanjutkan pembicaraan yang menyenangkan itu, untuk menghilangkan rasa bosan.


Ketika salah seorang dari mereka selesai dengan kesibukan pribadinya, laki-laki itu berjalan tenang menyusuri jalanan sungai.


Jarak yang ia tempuh berbeda dengan yang pertama ia lewati, laki-laki itu memang suka berpetualang di alam bebas.


Sampai gambaran matanya, memotret kejadian aneh yang terbentang jauh di depan matanya.


Karena rasa penasaran yang tinggi, laki-laki itu mencoba mendekati lokasi kejadian aneh menurut penglihatan matanya.


Sesosok jasad di lumuri lumpur di sekujur tubuhnya, sehingga tidak di kenali wajahnya apa dia seorang wanita atau pria.


Syok dan takut, ketika ia berjalan lebih dekat lagi dengan jasad itu.


Tidak bisa di tahan lagi teriakan histeris nya, melihat jelas manusia yang sudah meninggal di depan matanya.


"Orang mati!"


Teriakan menggelegar yang terlepas dari dalam tenggorokan nya, membuat teman-teman sekumpulan nya mendengar suara jeritan itu.


Di tempat pemancingan............


"Itu suara si Woozi bukan, sih?" tanya salah seorang temannya, yang mendengar jeritan temannya


"Hooh, itu si Woozi. Kenapa dia teriak-teriak kaya cewe. Aneh kan?" jelas salah seorang temannya lagi, sambil mengangkat kail


"Udahlah dia begitu udah biasa di lakuin, abaikan saja," ujar salah seorang lagi


Tapi teriakan itu semakin menjadi, mereka tidak bisa diam dengan kepala dingin menunggu pacingan lagi.


"Kayaknya, beneran dia lagi dapet musibah." salah seorang dari mereka lari ke arah air terjun, di ikuti kedua temannya lagi


"Heh ... Dino, Hoshi, Jun kalian mau kemana ... Ini gimana pancingan kalian semua, gua kagak sanggup nanganinya!" teriak Wonwoo, memprotes sikap rekan-rekannya


"Teman lebih penting dari pada ikan!" teriakan balasan dari Dino


"Ya ... Gua tahu, tapi gimana nanti kailnya ada ikan yang nyangkut woyy!!!" Wonwoo terpaksa menunda kailnya, seperti kebanyakan temannya ia bersedia meninggalkan harta yang tengah ia arungi


Setelah kedatangan sekumpulan temannya, Woozi berteriak kembali.


"Woyy mayat, nih." teriak Woozi sambil nunjuk ke arah jasad itu


Mereka berempat dengan langkah hati-hati mendekati arah tunjukan Woozi, mereka juga bergelut dengan rasa penasaran.


"Benar kata lu Zi, dia udah mati," ucap Dino yang baru memastikan keadaan jasad itu sekilas


"Eehh ... Tunggu-tunggu!" ucap aba-aba June


"Apaan lu Jun." Hoshi menyenggol lengan Jun, yang berada di sampingnya

__ADS_1


"Dia kaya perempuan ya!" ucap June kembali, sambil memastikan kebenarannya


"Eeh ... Lu jangan deket-deket kalau dia gentayangin lu gimana woyy," larangan ketakutan Wonwoo meresahkan


"Diamlah, orang mati mana ada gentanyangan lagi." Jun memeriksa napas dari jasad itu, ia terkejut sampai terjatuh dari posisinya


"Whaaah!" perasaan Jun jadi jantungan


"Ada apa Jun?" tanya Woozi


"Kita harus bawa dia ke rumah sakit!"


"Lu gila Jun, dia siapa?" tanya heran Hoshi


"Dia." Jun menunjuk ke arah jasad hidup itu


"Ohh dia masih hidup Jun, lu yakin?" tanya Dino memastikan kengganjalan pikirannya


"Iya, gue yakin." jawab June sambil mengangguk


"Lu semua pada punya duit kagak, hah. Kita aja lagi mancing buat makan, lah ... Ini so-soan mau bantuin orang yang kagak di kenal," protes Wonwoo, memprioritaskan masalah utamanya


"Jiwa kemanusiaan, walau kita kagak punya duit tapi niat dulu lah. Baru mikirin duitnya, rezeki datang belakangan." balas Jun, sambil memangku kepala wanita itu


"Iya juga sih, tapi Jun Lu yakin kan, dia kagak ngerepotin kita nanti?" tanya bimbang Dino


"Kagak, udah cepat bantuin gue!" bentak Jun


Semua teman-teman sebayanya, membantu June membawa wanita itu pergi ke rumah sakit.


.+_++_++_++_++_++_++_++_++_++_++_+.


Wanita yang awalnya di temukan oleh Woozi, di tolong bersama oleh teman-temannya tengah berada dalam pemeriksaan dokter di ruang ICU.


Mereka duduk berjejer di bangku selasar rumah sakit, menunggu jawaban yang tidak pernah mereka tanyakan walau penasaran.


Jun tidak merasa heran dengan sebuah tas hang sejak tadi ia pegang dengan erat.


Tak berapa lama, dokter muda keluar dari ruangan. Semua berkumpul mengelilingi dokter tersebut.


Bertanya-tanya mengenai kondisi wanita itu, pada si dokter dengan banyak di lontarkan mereka.


"Tenang! Pasien sedang kami tangan-i, kami meminta persetujuan dari suaminya untuk melakukan operasi secepat mungkin," sungut Dokter, menjawab pertanyaan mereka berlima


"Operasi mana ada duit gua," ujar Wonwoo gelisah galau dan meradang


"Operasinya bisa di tunda dok?" June mulai merasakan tidak enak perasaan batin nya


"Tidak bisa. Operasi ini antara hidup dan mati, jadi di antara kalian siapa suaminya?"


"Suami dari mana, kami berlima masih bujangan dok. Keluarga juga bukan," jawab Woozi, kalah dengan keadaan


"Nanti saja di bahasanya yang terpenting, di antara kalian siapa yang mau bertanggung jawab atas tindakan operasi ini?" Dokter sudah tidak mempunyai banyak waktu, untuk beradu mulut dengan para pemuda itu


"Dia." mereka berempat nunjuk Wonwoo


"Ko gua sih, kagak dah." Wonwoo menggeleng kepala menolak


"Ohh baiklah, anda silahkan ikuti suster kemana dia pergi. Tanda tangani secepatnya, lalu ... tunggu hasilnya." ucap Dokter lega, ia kembali masuk ke dalam ruangan


"Kalian menjebak gua, sendirian nih kagak ada yang mau ikutan," umpat Wonwoo dengan perasaan kesal nya


"Udah Woo, terima aja. Udah sana pergi!" suruh Jun, demi nyawa seorang manusia


Wonwoo terpaksa mengikuti suster yang membimbing nya. Langkah yang berat ia kerjakan dengan paksaan, dia di bawa ke tempat resepsionis.


Bertanda tangan, kemudian di pintai uang. Wonwoo meminta kesenjangan waktu untuk bayaran operasi, ia berjanji akan membayarnya setelah suksenya operasi itu.


Dia di kawal 2 security di kedua sampingnya, berjaga-jaga kalau dia itu berucap bohong.


Tawa meledak ketika dia sampai di hadapan teman-temannya.


"Jun, gimana nih. Kita kagak punya duit buat bayar?" Wonwoo mulai cemas dan bingung


"Tas ini ... tas wanita itu kan. Gue akan coba cari duit di dalam sini." Jun membuka isi tas coklat muda tersebut ragu dalam hatinya, gerah dalam jiwanya


Tak di temukan sepeser uang pun di dalam tas ataupun dompet yang di temukan, hanya sebuah kartu kredit saja terselip rapi di dalam sela-sela kecil dompet itu.


"Ini bisa bantuin masalah biaya operasi ini." Jun mengambil kartu kredit itu lalu di berikan pada orang yang bernama Wonwoo


"Tunggu dulu Jun, bukankah ini nomor telepon keluarganya." Wonwoo melihat kartu identitas seorang laki-laki di tempat yang sama


"Choi Seokjin, cepat telpon nomor ini!" pinta Jun


Semua temannya menggeleng kepala, mereka mengatakan tidak mempunyai pulsa untuk memanggil nomor tersebut.

__ADS_1


"Kita telpon dari rumah sakit ini saja, agar mereka percaya dan cepat ke sini. Ayoo Woo, ikut gue." Jun narik pakaian Wonwoo untuk mengikuti langkah kakinya dengan cepat


Kisah masih berlanjut di part berikutnya.......


__ADS_2