
*Banyak typo bertebaran Guys! Harap bijak membaca dengan seksama!!! Terimakasih kerja sama anda semua!!!!!!!
Distance And Longing
⏩ Author pov
Kesedihan terus melanda perasaan Jin, keputusasaan telah tertanam dalam hati kecilnya.
Berpikiran tentang adiknya, yang sudah memutuskan untuk bunuh diri.
Ketika mereka bertiga tengah beristirahat di sebuah toko kecil, ponsel seorang kakak bergetar di dalam saku celananya.
Karena Jin sedang melamun dalam pikiran yang menggulungnya secara perlahan-lahan.
Dia sampai di tegur Suga untuk mengangkat panggilan masuk itu, Jin mengikuti seruan temannya. Dia mengangkat panggilan dari nomor yang tidak ada di daftar kontak ponselnya.
"Apa anda ..., punya saudara ..., yang bernama Yuju? ....,"
Jin langsung sadar dari ingatan yang berkelit dari pemikiran suramnya. Menjawab pertanyaan itu, dengan sebuah jawaban yang menyemangatkan.
"Iya, ..., aku adalah ..., kakaknya, ....,"
"Adik anda ..., sedang berada di rumah sakit ..., tolong! ..., anda harus cepat datang. ..., dia membutuhkan kehadiran keluarga nya, ..., di sini!, ...,"
"Baik aku akan ke sana, ..., berikan alamat ..., rumah sakitnya! ..., ....,"
Jin mendengarkan baik-baik si penelpon, memberitahu nama alamatnya
Bergegas tanpa sebuah rencana terlebih dahulu, dia bersama Suga dan Eunha pergi menuju sebuah rumah sakit yang jaraknya cukup jauh dari kota, yang tengah menjadi tempat peristirahatan.
Jalanan ramai dan macet coba di lalui mobil sedan merah itu, mendahului kendaraan-kendaraan di depannya yang menghalangi perjalanan.
Ketidak sabaran seorang kakak terhadap kecemasan perasaannya, ingin segera mendampingi adiknya di mada yang sulit.
Jin tidak bisa duduk dengan tenang di jok mobil, Suga mengatkan untuk tetap dalam keadaan tenang dan pikiran dingin.
Tapi apalah daya ketika pikiran sedang mengalami kekalutan yang menggunung, nasihat hanyalah angin sesaat yang berhembus begitu saja.
Dalam kecepatan penuh mereka menembus perjalanan panjang menjadi pendek dalam waktu yang singkat.
Setelah mobil terparkir dengan aman di parkiran rumah sakit, Jin dan kedua temannya pergi ke tempat resepsionis.
Menanyakan ruangan operasi adiknya, penjaga mengatakan banyak yang sedang mengalami operasi di beberapa ruangan.
Jin menjadi kebingungan, dimana ruangan yang benar te.pat adiknya berada.
Sampai suatu ketika ada seorang laki-laki bertumbuh tinggi datang menghampiri mereka, dia menanyakan apa mereka adalah keluarga Choi Yuna.
Jin langsung mengangguk tanpa berbasa-basi terlebih dahulu, laki-laki itu menunjukan jalan menuju ruangan dimana Yuju berada.
Tangisan kesedihan melanda kedua bola mata sang kakak yang berdiri di depan jendela yang tidak tertutupi garden hijau pekat.
Lirihan suara serak keras terdengar keluar dari cegukan yang tidak di sengaja di adakan, Jin tidak kuasa menahan rasa sayangnya terhadap adiknya, yang terbaring di meja operasi.
Berbagai macam alat terpasang si seluruh tubuhnya, pembedahan organ tubuh tengah di lakukan beberapa dokter dan suster mengelilingi tubuh adiknya.
Gemertaran kuku jari Jin yang bawah maupun yang atas, dia tidak bisa sabar ataupun damai dalam keadaan panik seperti sekarang.
Suga menepuk pundaknya, berharap temannya merasa lebih baik, dengan dukungan juga semangat yang dia utarakan.
Jun menghampiri Seokjin, dia memberikan tas Yuju padanya.
Jin mengatakan terimakasih walau pengucapan yang tidak begitu jelas di lafalkannya, tapi Jun tahu apa maksud ucapan balasan dari seorang Jin.
Dia kembali lagi ke tempat awal, menunggu di tempat duduk yang sudah memanas bahkan hampir mendidih tinggal di angkat.
__ADS_1
Setelah menunggu kepastian jawaban tentang keadaan di dalam, dalam 5 jam dokter dan semua perawat keluar bersamaan.
Tapi hanya satu dokter yang mau berinteraksi dengan mereka semua yang menunggu, karena sebagiannya lagi memilih pergi dan bungkam.
"Bagaimana Dok, adik saya ... Apa dia baik-baik saja?" Jin langsung berhadapan dengan dokter, ketika dokter itu akan mengatakan sesuatu dia telah memotong ucapannya sebelum mengatakan satu kata patah
"Banyak berdoa dan tidak boleh putus asa! Harapan hidup masih berada di dalam detak jantungnya, kita berharap saja. Semoga beberapa jam ke depan, pasien cepat kembali sadar dari komanya." Dokter menyentuh bahu Jin, memberi semangat padanya untuk tidak mudah menyerah pada keadaan ke depan yang akan berlangsung sangat lama
Seorang kakak tidak kuat lagi berdiri, tak kala mendengar bencana adiknya yang dalam pertarungan hidup dan mati.
Hati kecilnya seakan di peras-perus hingga keluar rasa empedu, kemudian dia tidak memiliki rasa pahit untuk mengobati dirinya sendiri.
Tak berapa lama ponsel yang di genggaman Jin berbunyi kembali, setelah beberapa jam yang lalu terus mengaktifkan suaranya tanpa henti.
Taehyung calling Me
Terlihat di layar ponsel setelah di angkat ke atas, Jin termenung beberapa detik sebelum mengangkat panggilan masuk itu.
Penekanan tanda telpon hijau di geserkan ke atas, Jin mengajar telpon itu.
"Yuju ..., dari tadi aku ..., menelpon mu. ..., kenapa kamu tidak ..., membalas pesan yang aku kirim ..., apa kamu marah ..., padaku. ..., karena tidak percaya pada ..., ucapan mu, ..., semalam? ..., ....,"
"Yuju ..., dia ..., tidak akan ..., mendengar ..., suara mu lagi. ..., ....,"
"Tunggu! ..., siapa kau, ..., berani mengambil ponsel ..., kekasih ku! ..., ....,"
"Choi ..., Seokjin. ..., adikku ..., dia sedang terbaring ..., Taehyung! ..., ....,"
"Apa maksud mu ..., Jin? ..., ....," Taehyung telihat bingung di baluy dengan rasa penasaran
"Datang saja ..., ke sini........." Jun mengatakan alamat rumah sakit itu dimana, Taehyung segera mematikan telpon panggilan nya
Ia segera membereskan barang bawaanya dari dalam lemari, memasukan kembali ke dalam koper dengan tergesa-gesa.
Setelah beres semua ia pergi dari kamar hotelnya, di koridor hotel. Ia di sapa Yerin, yang tidak ia respon ataupun lihat.
"Cepat minggirlah!" Teriak Taehyung, dia seperti mengeluarkan emosi marah jiwanya
"Kau mau kabur ya, bagaimana dengan keputusan yang akan segera di tanda tangani, kau tidak bisa lari begitu saja...."
"Aku tidak lari, aku hanya sedang terburu-buru pergi, bisnis bisa dilanjutkan kapan saja. Tapi nyawa seseorang ... apa bisa di tunda." Taehyung mendorong tubuh Yerin dengan bahunya, ketika dia memaksa melewati gadis itu untuk sampai di depan pintu
"Nyawa seseorang, siapa yang dia maksud." Yerin berbalik kebelakang, memperhatikan gerak langkah yang begitu cepat di lakukan laki-laki itu
"Jimin!" Yerin berteriak sambil berlari, mencari keberadaan saudaranya yang entah berada dimana
Ketika dia menemukan sang kakak segera dia menariknya keluar dari hotel, dengan langkah yang cepat dia mengarahkan saudaranya menuju tempat parkiran mobil.
"Sebenarnya apa yang kau mau?" tanya Jimin sambil membuka pintu mobil
"Ikuti kemana dia akan pergi." Yerin masuk ke dalam mobil, duduk di sebelah Jimin yang baru saja menempatkan posisi nyaman menyetir nya
"Taehyung lagi, mau kemana sih dia." Jimin menyalakan mesin mobil, kemudian mengemudikan mobilnya keluar dari parkiran melancarkan aksinya menguntit mobil rekan bisnisnya dari belakang
"Kemana dia bukan ururusan mu Jimin," ucap Yerin greget
"Ya ... Udah jangan di lanjutkan lagi, penguntitan nya ok." Jimin memberhentikan mobilnya, di pinggir jalan
"Jimin yang so baik, cepat jalankan mesinnya kembali kalau tidak...!" Seru Yerin, sambil menaikan kedua alisnya ke atas bibir menggulung geram
"Let's go, princess." Jimin kembali mengemudikan mobilnya dengan benar dan cepat, demi mengejar ketinggalan jarak yang sangat jauh dari pandangan di dalam
Tidak ada yang di ijinkan masuk ke dalam ruangan untuk menemani Yuju, hanya beberapa dokter yang sering masuk dan keluar, di ikuti suster di sebelahnya.
Pemuda itu berkumpul bersama keluarga Yuju, mereka menjadi perkumpulan yang sedang berdoa dengan harapan tinggi di pundak mereka.
__ADS_1
Dua jam telah berlalu tidak ada tanda-tanda atau pergerakan yang di lakukan semua orang yang sedang menunggu.
Seseorang berlari dari kejauhan menuju tempat mereka, satu persatu orang-orang di sekitar mulai melihat ke arahnya.
Sampai Jin menoleh ke depan dia terlihat begitu marah, tanpa pikiran yang dingin.
Ia mendorong tubuh seseorang itu ke tembok dan mencengkram kedua sisi kerah jaket kulit putih yang tengah dia kenakan.
"Kenapa adikku menjadi begini, apa yang telah kau lakukan padanya hah!"
"Kenapa kau marah padaku Jin, aku masih tidak percaya jika di dalam sana adalah Yuju." balas Taehyung sama kerasnya dengan suara lantang Jin
"Kau sedang pura-pura tidak mengerti bukan, akting mu tidak akan mempengaruhi pikiran ku tentang keburukan mu pada adikku,"
"Pura-pura ... Tidak pantas aku pura-pura tidak mengerti Jin. Aku sungguh tidak tahu, apa yang terjadi padanya...."
Taehyung menunduk sedih, dia merasakan kekecewaan berat pada dirinya. Karena telah gagal menjaga Yuju, dari marabahaya yang menimpanya sekarang.
"Terserah mau percaya atau tidak, aku tidak peduli pada kalian semua ... Aku hanya ingin melihat Yuju sekarang." Taehyung mendorong tubuh Jin, dia segera berlari masuk ke dalam ruangan ICU
Saat Jin akan menyusul tindakan yang di lakukan Taehyung, dirinya di tarik Suga yang kembali melakukan penenangan pada jiwa temannya.
"Jangan di cegah Jin, biarkan dia bertemu dengan adikmu." Suga melepaskan tarikan tangan nya, dia membiarkan Jin bebas dari rasa dorongan kuat batin yang tengah berkeliaran di dalam tubuhnya
Berjalan pelan-pelan langkah kaki yang tidak bisa di angkat lagi untuk melangkah, Tatapan kekosongan melihat kekasihnya terbaring tidur di ranjang yang di penuhi banyak alat di kedua sampingnya.
Air asin yang menetes keluar semakin banyak dan membanjiri kedua sisi pelipis wajah tampannya.
"Bagaimana bisa! ...,"
"Wanita kuat seperti mu terluka...,"
"Yuju ... Kamu bilang padaku, akan menjaga dirimu baik-baik,"
Taehyung berdiri di ujung ranjang, di depan matanya sudah jelas sosok gadis kesayangan nya.
"Katakan padaku Yuju ... Siapa yang telah berani melakukan kejahatan padamu...,"
"Yuju!"
Taehyung menunduk dalam kesedihan yang tidak dapat di katakan lagi, di sebabkan tekanan batin yang menyiksa untuk di ungkapkan.
Memegang kuat besi panjang ranjang, suara serak ketika dia menangis dengan cegukan kecil yang menitik beratkan jalur pernapasannya.
Redupan kedua bola mata gadis manis bernama Yuju, tengah bereaksi samar-samar pandangan matanya memandang.
Kekaburan nampak tidak jelas, pengecualian terhadap gambaran yang tertangkap lensa hitam menguatkan tekadnya untuk melihat.
Perasaan terkejut terjadi dalam gejolak dadanya, hirupan napas yang di bantu selang oksigen membuat suara pernapasannya terdengar keras.
Taehyung langsung jeli mendengar suara aneh di dengar telinganya, ia segera mendongak wajahnya di tatapnya sang gadis pujaan yang masih setengah sadar, dengan linangan air mata.
"Yuju." Taehyung menghampiri sisi tubuh Yuju, ia langsung menggengam salah satu telapak tangan kekasihnya
"Taehyung," ucap pelan Yuju, bibirnya tidak bisa mengucapkan banyak kata
"Sayang ... Jangan banyak bergerak dan mengatakan sesuatu padaku." tangan Taehyung yang kiri, mengelus lembut pucuk rambut Yuju
"Taehyung, maafkan aku! ... Aku sangat menyesal, tidak bisa menjaga diri dengan baik. Kita ... tidak pantas lagi untuk bersama. Maaf...!" batin Yuju
Air mata yang berjatuhan ke samping, Taehyung menghapusnya dengan ibu jarinya.
"Kenapa tangisan Yuju, aku hanya ingin senyuman darimu. Tapi aku harus menahan keinginan itu, demi kebaikan mu sendiri." senyuman khas Taehyung kembali lagi, ketampanan yang di bumbuhi guratan menawan itu membuat Yuju, semakin meluncurkan air suci di kedua sisi wajahnya
"Jangan menghiburku terlalu jauh lagi Taehyung, aku tidak sanggup menyakiti perasaan mu lagi," Yuju tidak bisa mengatakan apa yang ia pikirkan dan rasakan hanya tangisan dan ucapan dalam hati yang bisa mewakili semua perasaannya
__ADS_1
Bersambung*.................