
Hari ini hari kelulusan. Pengumuman kelulusan pagi tadi benar-benar disambut haru oleh seisi sekolah, terutama angkatan 17. Jelas saja. Enam hari disibukkan dengan mengarsir lembar jawaban untuk menjawab soal-soal Ujian Nasional yang bisa dibilang memusingkan, akhirnya terbayar dengan satu kata yang dicetak besar dan tebal dalam surat pengumuman: LULUS.
Atas seratus persen kelulusan angkatan 17, OSIS Nararota mengadakan acara kelulusan yang cukup meriah. Sore harinya, setelah mendengarkan pesan-pesan singkat dari kepala sekolah, 354 siswa melakukan sujud syukur di lapangan upacara. Barulah selanjutnya mereka melakukan tradisi kelulusan SMA Nararota: coret-coret baju almamater biru dan menerbangkan balon harapan.
Seluruhnya bergembira. Baju almamater biru yang penuh coretan jelas melambangkan kebahagiaan dan kebanggaan. Baju yang bisa dibilang selalu menemani setiap perjalanan non akademik mereka, yang biasanya membirukan area stadion dan pertandingan lain. Sebagian orang tertawa dan berpelukan, beberapanya bahkan tak percaya kalau mereka bisa lulus. Sebagiannya lagi sibuk saling membubuhkan tanda tangan ke almamater biru kawan lainnya. Sisanya sudah sibuk berfoto memamerkan momen kelulusan itu.
Satu jam menikmati canda tawa dan bau spidol, panitia OSIS mulai menyiapkan acara selanjutnya. Balon-balon biru berjumlah ratusan mulai dikeluarkan. Satu per satu lantas dibagikan ke seluruh anggota angkatan. Acara penutup paling sakral akan segera dimulai bersamaan senja yang mulai hadir.
Berbondong-bondong, seluruh angkatan 17 mulai berjalan keluar sekolah. Bersama mereka memenuhi trotoar dan melangkah menuju Taman Tugu Muda yang jadi salah satu simbol Kota Semarang. Letak sekolah yang hanya 400 meter dari taman kota memberi mereka kesempatan untuk memamerkan momen tersebut. Jalanan bahkan sempat lumpuh 10 menit karena 354 siswa menyebrang ke taman yang jadi pusat Kota Semarang, berseberangan dengan Lawang Sewu yang masih berdiri megah.
Sampai di Taman Tugu Muda, kelompok-kelompok kecil mulai terbentuk. Hampir setiap orang berkumpul dengan orang-orang terdekat semasa sekolah. Ketua OSIS menyampaikan satu-dua kata agar seluruh anggota angkatan menghargai setiap masa yang telah mereka lalui. Satu-dua orang bahkan terisak kala mereka sadar bahwa kehidupan sesungguhnya akan dimulai dan jauh lebih kejam dibanding masa sebelumnya.
__ADS_1
Saat mentari mulai terbenam, sang ketua OSIS mengeluarkan secarik kertas yang telah digulung rapi. Tangannya cekatan mengikatkan tali balon pada gulungan kertas yang berisi harapan. Yang lantas diikuti 353 siswa lainnya, tak terkecuali tiga sahabat itu: Kheira, Jessie dan Keana.
Sama seperti kebanyakan hubungan persahabatan lain, semuanya dimulai dari kebetulan. Bagi ketiganya, itu adalah kebetulan paling beruntung yang terjadi semasa SMA. Kebetulan saja mereka sekelas waktu tahun pertama. Kebetulan saja mereka sekelompok Fisika saat tugas pertama. Kebetulan saja mereka bisa akrab dan saling memahami. Benar-benar sebuah kebetulan yang mereka harap bisa terus terjadi agar segalanya terasa ringan.
Namun, ketiganya tahu, hari itu mungkin saja kali terakhir mereka bertemu. Atau mungkin saja kali terakhir mereka saling berarti satu sama lainnya.
“Aku nggak mau pisah sama kalian,” ucap Kheira serak. Dia adalah orang pertama yang meneteskan air mata di antara ketiganya.
“Dengar. Aku tahu masing-masing dari kita punya jalan hidup yang berbeda.” Jessie melepaskan pelukannya, mulai menghibur dua sahabat dan dirinya sendiri, “tapi apapun yang esok terjadi, kalian tetaplah sahabatku, salah satu tempatku berpulang. Dan aku harap kalian pun merasa begitu.”
Kheira mengangguk sambil menyeka air matanya, bersiap menanggapi, “Kalian akan tetap jadi sahabatku. Kita tetap harus kuat meski tak lagi saling mendampingi.”
__ADS_1
“Apapun yang terjadi, suatu saat kita harus bertemu, saling tertawa dan berbagi cerita. Oke?” susul Keana dengan seulas senyum di wajah.
“Oke.”
Persahabatan mereka tak akan putus, bahkan bila terpisah jarak dan waktu. Ketiganya berjanji hal yang sama. Saling bersumpah untuk tidak lupa tentang apa yang telah mereka lalui.
Setelah saling tersenyum dan mengangguk, bersama-sama mereka lepaskan balon dalam genggaman. Seraya berdoa semoga harapan mereka sampai ke Tuhan, mereka berpelukan lagi. Menghargai setiap detik bahagia yang tersisa adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan.
26 Mei 2013, kala matahari sempurna tenggelam, 354 harapan berhasil terbang menaiki balon biru.
***
__ADS_1