
Akhirnya acara amal yang penuh tantangan ini selesai dengan sukses. Meski harus menginap beramai-ramai di Panti Asuhan Asih demi mendekorasi tempat, kami benar-benar merasa puas. Senyum dan tawa anak-anak panti cukup banyak memotivasi kami untuk terus berbuat baik. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang terlibat secara langsung membantu dekorasi kami. Aku berdoa semoga amalan kami dan bantuan mereka tidak sia-sia.
Setelah rapat akhir acara, Kak Lintang dan Kak David mengizinkan kami bubar untuk pulang dan beristirahat. Ternyata ada baiknya juga acara ini dilaksanakan hari Sabtu: seselesainya kami bisa istirahat sepuasnya tanpa takut bablas di jam kuliah.
“Hati-hati di jalan, Ra!” pesan Kak Rasya saat kami berpisah di tempat parkir. Pesannya kujawab dengan anggukan dan seulas senyum di bibir.
Pulang …, berarti tujuanku kali ini adalah rumah. Dua puluh menit di jalan akan kubayar dengan mandi bersih dan merebah seharian di kamar. Semoga saja aku bisa mengabaikan teriakan apa pun yang kudengar di rumah nanti.
PRANG!
Kakiku baru saja melangkah di teras, tetapi sudah kudengar piring pecah yang diikuti teriakan dan isakan. Otakku sudah berontak meminta kakiku pergi berbalik arah, tetapi hatiku menguatkan untuk coba bertahan.
“Aku pulang,” sapaku sambil melangkah masuk. Sebisa mungkin aku mempercepat jalanku dan tidak memedulikan Ayah dan Ibu yang sedang adu mulut di ruang makan. Bisa kurasakan sejenak hening ketika aku lewat tanpa berkata apa pun. Aku tahu Ibu sedang menahan isakannya dan Ayah sedang menahan vas bunga yang hendak dibantingnya.
“Kau lihat anak itu? Pulang-pergi begitu saja! Entah bermalam dengan siapa ia kemarin! Entah bagaimana kelakuannya di luar sana! Kau juga sama sekali tidak berguna jadi ibu atau istri! Sama sekali tak ada yang peduli padaku. Keluarga macam apa ini?!” teriak Ayah begitu kututup pintu kamarku. Samar-samar kudengar suara Ibu yang mencoba menjawab meski tercampur dengan isakan.
PRANG!
Itu suara vas bunga yang daritadi sudah dipegang Ayah. Kupikir, lama-lama barang pecah belah di rumah ini akan habis. Mungkin esok sepulang kuliah aku akan mampir ke toko perabot untuk membeli perlengkapan rumah tangga dari plastik.
“KAU ITU ISTRIKU! Seharusnya kau menurut denganku! Bukan malah membangkang dan membela anak sialan seperti Kheira! Ia bahkan sudah tidak pernah memanggilku lagi. Ia pikir darimana harta yang ia gunakan kalau bukan dari aku?! KAU ISTRI SEKALIGUS IBU YANG TIDAK BERGUNA!”
Sekali lagi Ayah berteriak. Aku khawatir dengan gendang telinga Ibu, semoga saja masih utuh. Namun, sepertinya Ayah sedang sangat kesal padaku sampai-sampai membawa aku yang tak pernah jadi topik pertengkaran mereka. Sebentar kudengar Ibu menjawab teriakannya dengan isakan lagi.
“DIAM KAU! Atau aku akan menamparmu!” sergah Ayah kesal. Setelahnya ia kembali marah-marah dengan emosi.
Sudah setengah jam sejak aku pulang dan mereka masih saja betah beradu pikiran. Padahal aku sudah merasa penat mendengar teriakan Ayah. Ditambah keluhan Ayah tentangku yang rasanya bikin kuping jadi panas. Aku sudah muak sekarang. Sempat kurasa heran karena Ibu masih saja kuat bertahan dengannya dalam situasi seperti ini selama lima tahun.
PLAK!
Kupikir Ayah akhirnya menampar Ibu. Isakan Ibu sudah berubah jadi tangisan. Suaranya meraung meminta Ayah pergi untuk menenangkan diri. Otakku sudah membayangkan Ibu sedang berlutut dan memohon-mohon pada Ayah, seperti kemarin-kemarin.
“Kenapa aku yang harus pergi?! Dia yang tidak peduli yang seharusnya pergi, bukan aku!” tolak Ayah keras-keras. Sedetik kudengar suara berdebum di lantai. Mungkin Ayah baru saja menghempas Ibu atau benda berat lain ke lantai.
Baiklah. Kurasa Ayah sudah mengusirku tadi. Kupikir waktunya sesuai karena aku sudah tidak tahan dengan semua teriakannya. Tanpa pikir panjang kuambil kunci motor dan totebag kuliah yang baru saja kuserakkan. Persetan dengan rencana mandi dan istirahatku.
Ibu masih menangis di lantai saat aku membuka pintu dengan kasar. Tak lupa kututup dan kukunci rapat-rapat kamarku. Aku tidak mau Ayah masuk dan menghancurkan apa pun di dalamnya.
“Nah, bagus! Si anak tak tahu diri ini keluar juga!” sapa Ayah sinis.
Aku mana peduli. Lebih baik kusimpan tenaga untuk membantu Ibu. Mau sekesal apa pun, aku masih tidak tega melihat kondisi Ibu yang seperti ini.
“Ibu, aku akan pergi karena aku tidak peduli. Buknnya kita harus menurut dengan orang itu?” kataku keras-keras. Memang sengaja kubalas kata-katanya dengan tidak menganggapnya ada.
“YAK! Aku ini ayahmu! Aku yang mencukupimu! Kalau tidak ada aku, kau dan ibumu mungkin sudah mati kelaparan,” sahut Ayah emosi.
Setelah mendudukkan Ibu di kursi dan memeluknya sebentar, aku berbalik. Mataku menatap benci pada sosok yang mengaku sebagai ayah.
__ADS_1
“Dengar, ya. Aku hanya akan memanggilmu ‘Ayah’ saat kurasa orang itu pantas kupanggil ‘Ayah’. Dan kau? Kau sama sekali tidak memenuhi syarat. Kalau kau cukup peduli dengan keluarga ini, kenapa tidak bisa meluangkan waktu untuk bercerita dan mendengarkan kami? Malah bersenang-senang dengan wanita lain yang tak ada hubungannya dengan kami atau kau. Kami bukan mainan yang bisa kau atur seenaknya. Aku bahkan tidak keberatan jatuh miskin dengan Ibu apabila bercerai denganmu. Lalu seluruh fasilitas ini darimu? Omong kosong! Aku melihat Ibu bekerja siang-malam saat kau tak ada. Satu-satunya alasan Ibu bertahan denganmu hanyalah karena ingin aku punya keluarga yang lengkap, yang bisa kupanggil ‘Ayah’ dan ‘Ibu’ saat bersama orang lain. Dia hanya tidak tega mengubah statusku jadi anak yatim, bukan karena masih mencintaimu atau butuh hartamu. Dan kau—”
PLAK!
Pipi kiriku tiba-tiba terasa panas dan perih. Ayah menamparku sekeras yang ia bisa. Tamparannya menghentikan unek-unekku yang tinggal sekalimat.
“Pergi kau!” titahnya penuh penekanan.
Dua detik kuhabiskan untuk memandangi mata coklat yang sangat kusuka ketika kecil, bukan sekarang. Entah setan mana yang tiba-tiba bisa mengubah Ayah sedemikian jauh.
“Baiklah,” kataku akhirnya, “nikmati waktumu di rumah sambil menenangkan diri. Terima kasih tamparannya. Hadiah ini tentu takkan kulupa sepanjang hidup.”
Badanku berbalik. Tanganku mengeratkan pegangan pada totebag. Ujung mataku sudah berair. Namun, gengsi menahanku untuk tidak menangis di depan Ayah dan Ibu.
“Kuharap Ibu baik-baik saja,” ucapku sambil memeluk Ibu sedetik, berusaha menguatkan Ibu, “aku pergi dulu.”
“Kheira …,” isak Ibu tak tertahan ketika pelukanku terlepas dan kakiku melangkah pergi.
Sekali pun aku tak menoleh lagi. Air mata sudah jatuh sejak kutinggalkan ruang makan. Entah kemana tujuanku, aku hanya ingin menjauh dari rumah. Entah sampai kapan.
***
Tahu-tahu aku sudah sampai di depan Sekretariat SLSY. Ini satu-satunya tempat yang terlintas di otakku ketika aku butuh tempat berlindung lain selain rumah. Setelah kuparkir motor bebekku dengan rapi, aku beranjak.
Perih di pipi masih kurasa meski hampir setengah jam sudah berlalu. Mataku juga kadang-kadang masih merembes saat pikirku tak sengaja mengingat pertengkaran tadi. Ini bukan hari pertamaku terlibat pertengkaran dengan Ayah dan Ibu. Namun, tamparan Ayah benar-benar menyadarkanku bahwa ia bukanlah sosok yang sama, yang menyayangiku sepenuh hati atau memakaikan sepatu saat aku kecil dulu.
Aku menghela napas. Mungkin ini memang saatnya aku dan Ibu melepas Ayah ke orang lain yang lebih pantas dari kami.
Aku berjinjit, mengambil kunci pintu yang biasa ditaruh di atas kusen. Berniat membukanya sampai aku sadar kalau ruangan itu ternyata tidak terkunci. Ah, mungkin orang terakhir lupa menguncinya. Setelah ini aku hanya harus mengecek isi ruangan untuk melihat apakah ada sesuatu yang hilang.
Lampu menyala. Kipas menyala. Aku sudah siap merenungi nasibku saat perutku berbunyi pelan. Sial, aku kelaparan. Aku lupa membawa sesuatu yang bisa kumakan. Mau keluar untuk membeli makanan pun rasanya malas dan malu. Malas karena aku sudah sangat lelah. Malu karena mata sembap dan pipi memar sama sekali tidak keren untuk dibanggakan. Jadilah aku menilik isi kulkas, siapa tahu ada makanan atau setidaknya susu yang kemarin dimasukkan Keenan.
Voila! Keenan memang selalu menjadi penyelamatku. Susu vanila kemasan masih belum tersentuh siapa pun, masih utuh di dalam kulkas. Cepat kuhabiskan susu itu dalam lima kali sedotan. Perutku masih terasa kosong, tapi susu tadi sudah cukup mengganjal. Lain kali akan kuganti susu yang kuminum tanpa sepengetahuan pemiliknya.
Pikirku bekerja, mereka ulang pertengkaran keluargaku hari ini. Otakku masih menerka-nerka apa yang salah dengan kami. Semuanya benar-benar membuatku lelah, termasuk soal rasaku pada Keenan.
Sejujurnya aku lelah. Berpura-pura menjadi orang baik tanpa masalah ternyata lebih sulit dari yang kubayangkan. Meski kuakui lebih sulit lagi menjadi orang yang terlihat baik-baik saja walau hati menjerit keras.
Ah, peduli amat dengan Ayah dan Ibu yang takkan berhenti berselisih atau perasaan pada Keenan yang tak kunjung menyerah meski sudah kupaksa.
Mataku terasa berat. Setelah puas menangis, kantuk mulai menghampiri. Kutumpu kepalaku di atas meja. Aku sudah siap terlelap saat pintu sekretariat tiba-tiba terbuka lebar.
“Kamu nggak pulang?” tanyanya kaget. Suara bariton yang familiar ini.
Setengah sadar aku menjawab tidak. Kantukku sudah benar-benar tak tertahan. Bibirku masih enggan berbicara hingga aku tak mengangkat kepala ketika menjawabnya. Aku rasanya malu bila menunjukkan keadaanku ini padanya.
“Ya ampun, pipimu kenapa?” tanyanya lagi dengan lebih terkejut. Sebentar ia panik karena aku tak kunjung menanggapi. Lantas keluar setelah memainkan ponsel pintarnya semenit.
Mungkin ia baru saja melihat pipi kiriku yang memar. Aku sendiri tidak tahu separah apa memarnya meski perih memang masih kurasa sampai sekarang. Seingatku, sepertinya pipiku tadi hanya memerah. Entahlah, yang penting sekarang aku bisa tertidur dulu.
__ADS_1
Baru sepuluh menit aku tertidur. Seseorang lagi-lagi masuk sambil membuka pintu lebar-lebar. Mataku yang—meski masih terpejam—memang sangat sensitif terhadap cahaya memicing lalu perlahan terbuka. Demi mendapati sosoknya yang sudah siap dengan baskom, sapu tangan, dan es batu, dahiku mengernyit.
“Kau mau apa?” tanyaku parau. Mataku mengerjap beberapa kali untuk mengumpulkan sisa kesadaran. Sampai aku bisa duduk dengan kepala terangkat, barulah ia ikut duduk di samping kiriku.
“Kamu kenapa? Habis kena rampok?” tanya Keenan penasaran. Sejenak ia menaruh es batunya ke baskom lantas membasahi dan memeras sapu tangannya dengan air es. “Duduk yang benar. Hadap ke aku dan tahan sakitnya,” tambahnya sambil menggeser bahuku agar duduk menghadap ke arahnya.
Pelan, ia mengompres pipiku. Sesekali ia membasahi dan memerasnya lagi saat rasa dinginnya mulai menghilang. Begitu terus sampai rasanya pipiku mati rasa karena dingin. Sebisa mungkin kuhindari tatap matanya
“Kenapa nggak pulang aja habis acara? Nggak capek?” tanyanya pelan-pelan. Mungkin dia tahu aku sedang tak begitu bersemangat soal ini. “Udah makan?” sambungnya lagi.
Aku menggeleng untuk menjawab semua pertanyaannya. Sepertinya aku harus berbohong lagi untuk menjawab semua tanyanya. “Aku … lupa bawa kunci rumah. Pintunya terkunci jadi aku nggak bisa masuk.”
Berbalik denganku, ia malah mengangguk-angguk. Setelah sepuluh menit mengompres, ia mengolesi bekas memarku dengan salep. “Selesai. Habis ini kita cari makan dulu yuk. Aku juga laper, hehe,” katanya sambil menutup obat salepnya, “kamu mau makan apa? Aku yang traktir deh. Eh, tapi carinya bareng aku naik mobil ya. Kemaren aku sempet pulang dan ganti pake mobil karena harus ngambil pesenan katering buat panti. Jadi sampai sekarang masih pake mobil deh.”
“Kamu aja yang pergi. Aku lagi pengen sendiri,” tolakku. Keenan mana peduli dengan penampilanku yang seperti ini. Mata bengkak bekas menangis, pipi memar yang kena salep, dan pakaian lusuhku sama sekali tak pantas untuk bepergian dengannya ke rumah makan mana pun.
“Mana bisa gitu,” bantahnya cepat, “kita pesan lewat drive-thru dan makan di mobil aja deh. Nanti aku anter kamu ke tempat yang lebih tenang dari ini. Oke?”
Dua detik diam, akhirnya kuanggukkan kepalaku. Mungkin tawarannya bukan ide yang buruk. Apalagi aku memang sedang kelaparan.
Keenan menepati janjinya. Setelah membeli makanan, ia mengantarku ke suatu tempat di daerah Gombel. Kawasan ini merupakan daerah perbukitan yang biasa ramai ketika pergantian tahun baru karena bisa melihat ke seluruh Kota Semarang. Banyak kafe dan warung yang didirikan di daerah sana dengan menawarkan keindahan langit malam Kota Semarang. Meski demikian, pada hari biasa kawasan itu memang tidak ramai dikunjungi.
Tempat yang kami kunjungi bukan kafe atau warung, tetapi area belakang yang sudah tak terpakai milik sebuah hotel yang cukup tua. Kata Keenan, area itu biasanya dipakai untuk perayaan tahun baru, tetapi dibiarkan ketika hari biasa. Meski tak terlalu bersih dan rapi, tapi tempat itu cukup bagus untuk melihat kota dari kejauhan.
Seperti memahami aku, Keenan membiarkanku makan dalam diam. Senja itu ia menemaniku duduk diam di kap mobil sambil menikmati angin yang berhembus perlahan. Ketenangan ini membantuku pulih dari ingatan menyakitkan tentang orang tua dan kepura-puraanku. Sepertinya aku harus mengubah sebagian caraku bertahan hidup. Aku tidak mau terus merasakan sesak seperti ini.
Aku belum tahu harus berbuat apa soal orang tuaku. Mereka di luar kendaliku. Namun, aku tahu harus berbuat apa setelah ini. Seluruh sesak ini kudapat karena terus menahan perasaanku. Aku harus segera berhenti berpura-pura, melepas topengku yang selalu tersenyum baik-baik saja. Seharusnya tidak akan ada masalah kalaupun orang tahu aku tidak sempurna. Apalagi dengan keberadaanku yang tak pernah terlihat. Mungkin seharusnya aku bersyukur karena dengan begitu aku tak perlu merasa selalu diperhatikan dan dikomentari.
Satu per satu lampu di bawah sana mulai menyala. Matahari nyaris tenggelam sepenuhnya, tapi aku masih enggan beranjak dari tempat ini. Keenan juga sepertinya tidak keberatan kalau harus menemaniku lebih lama lagi.
Keenan. Aku masih heran kenapa laki-laki ini hampir selalu ada di waktu-waktu susahku. Bahkan ketika Jessie dan Keana tidak bisa dan tidak tahu apa-apa seperti saat ini. Setengahnya aku bersyukur karena dia punya porsi kebaikan sama rata untuk semua orang.
“Aku berbohong,” kataku mengisi sepi. Kebanyakan lampu-lampu rumah di kota bawah sana sudah menyala. “Rumahku nggak terkunci dan aku nggak lupa bawa kunci,” lanjutku ketika Keenan mulai menaruh fokus padaku, “orang tuaku bertengkar. Kali ini aku yang jadi alasan mereka. Yang kamu obati tadi adalah bekas tamparan Ayah. Aku udah nggak tahan, jadi aku keluar dari rumah. Nggak kepikiran tempat lain, cuma sekretariat. Aku bahkan berhutang satu kotak susu putih sama kamu.”
Keenan diam, masih menunggu kalimatku yang mungkin belum usai. Seolah ia benar-benar tahu bagaimana harus memperlakukan aku.
“Itu bukan yang pertama, pertengkaran mereka sudah dimulai sejak lima tahun lalu,” sambungku. Tiba-tiba saja aku merasa ingin bercerita banyak hal pada Keenan. Kalaupun setelah ini ia menganggapku gila atau menjauhiku, aku sudah tidak peduli. Setidaknya aku tidak perlu berpura-pura lagi di depannya. Setidaknya ada satu orang yang mengenalku sungguh-sungguh. “Apa kamu memang sebahagia yang terlihat?”
Keenan tertawa. “Ya dan tidak. Aku memang bahagia, tapi tidak sebahagia itu. Aku hanya menganggap masalahku angin lalu. Kau tahu kenapa aku bisa begini?” tanyanya yang kujawab dengan gelengan, “itu karena aku percaya semua masalah akan selesai, entah olehku atau waktu. Aku percaya Tuhan akan membantuku. Sesungguhnya Dia tidak pernah meninggalkan kita.”
Aku tertegun mendengar kalimatnya. Jawabannya seolah menyadarkan betapa jauhnya aku dari Tuhan. Selain itu, aku selalu berpikir bahwa semua masalah harus kuselesaikan sendiri. Aku berjuang begitu keras untuk terlihat sempurna, bahkan di hadapan Tuhan. Kini Tuhan memintaku berserah diri pada-Nya, menguji ketidaksempurnaanku.
“Aku ikut prihatin dengan keadaan orang tuamu. Semua perubahan ini harus membuatmu semakin kuat. Anggap saja ini latihan kesabaran agar kamu tahu harus beradaptasi seperti apa untuk menghadapinya. Kapan pun kamu butuh ketenangan, kamu bisa ajak aku. Aku bisa jadi teman yang kau percaya,” ucapnya lagi seraya tersenyum.
Rasanya baru kali ini aku memiliki teman. Sampai-sampai air mataku menetes karena haru. Aku mengangguk, menyetujui. Bahagiaku menjadi teman sungguhannya lebih besar dibanding imajiku menjadi orang spesialnya. Mungkin sekarang aku tidak perlu menuntut lebih darinya. Aku sudah sangat bersyukur ada seorang kawan di sisiku ketika aku jatuh.
“Terima kasih,” kataku serak, “aku malah jadi pengen nangis lagi.”
***
__ADS_1