
Sabtu, 6 Juni 2020, adalah hari yang begitu dinanti oleh tiga orang sahabat. Sebuah hari istimewa untuk bertemu sahabat lama. Sebuah hari sempurna untuk ketiganya menepati janji tujuh tahun lalu di Tugu Muda.
Siapa lagi orang-orang yang sangat mementingkan persahabatan di atas segalanya meski mereka sendiri sudah tidak bertemu bertahun-tahun kalau bukan Jessie, Keana dan Kheira?
Bukankah sudah dikatakan kalau kebetulan yang mempertemukan mereka adalah kebetulan paling indah?
Begitu seharusnya semua persahabatan. Ia takkan lekang oleh waktu, tidak akan hilang walau dimulai ulang. Sama seperti ketiga sahabat ini yang saling menguatkan diri meski tak saling bertatap atau berkata.
Ada banyak yang terjadi pada hidup mereka. Ketiganya punya pengalaman berharga yang masing-masing mereka jalani untuk terus hidup dan berkembang. Meski tak jarang beberapa liku justru membahayakan nyawa atau membawa mereka ke titik terendah dalam hidup.
Namun, seperti embun yang selalu hadir di tiap pagi atau kupu-kupu yang mengembangkan sayap di akhir metamorfosis, ketiganya berhasil melewati segala tantangan. Ketiganya berhasil menjadi kupu-kupu dengan sayap yang lebar dan indah. Benar-benar siap untuk terus bertahan dalam kehidupan yang kadang tidak adil.
Ah, kembali lagi pada hari Sabtu ini.
Pagi-pagi sekali Jessie sudah bersiap. Ia baru sampai di Semarang tadi malam dengan pesawat. Semangat membara membuatnya berhasil menyelesaikan pekerjaan rumah dalam waktu singkat di pagi hari. Ia bahkan sudah menyelesaikan semua pekerjaan kantor dan menolak ajakan Ricky—atasannya di kantor sekaligus calon orang istimewa di hidupnya—untuk keluar hari ini.
Jessie bahagia sekali sejak Keana mengirim pesan dan mengajak bertemu tiga minggu lalu. Setelah ajakan Keana, group chat yang selalu sepi berubah jadi ramai. Kheira bahkan ikut nimbrung dan berjanji untuk datang menemui mereka. Sebenarnya mengobrol lewat chat juga bukan masalah besar—kelewat mudah malah—tetapi entah mengapa tujuh tahun ini tidak pernah ada obrolan yang berarti dan bertahan lebih dari sehari.
Pukul dua siang, ia sudah sampai di DP Mall. Jessie sengaja datang lebih dulu karena biasanya jam-jam seperti ini DP Mall ramai pengunjung. Pun ia memang ingin sambil mengenang betapa sering mereka menghabiskan waktu kosong entah untuk belajar atau hanya nongkrong di bagian food court kesukaan mereka. Ia bahkan bisa melihat bayangan mereka yang dulu mengantri di depan kedai susu kesukaan Kheira.
Tempat ini tidak banyak berubah, jadi Jessie tidak butuh waktu terlalu lama untuk sampai di lantai paling atas dan memilih kursi yang biasa mereka gunakan semasa SMA dulu. Kenangan-kenangan masa lalu terus melintas di kepala Jessie hingga menerbitkan seulas senyum. Ia dulu bandel sekali, tetapi sekarang ia sudah berubah banyak. Entah bagaimana dengan Keana dan Kheira nanti. Ia bahkan masih tidak percaya akan bisa bertemu dua sahabat baiknya lagi setelah sekian lama.
“Jessie?” sapa sebuah suara lembut.
Jessie otomatis menoleh. Lantas mendapati sesosok gadis berambut sebahu dengan dress selutut berwarna moka. Wajahnya dengan cepat mengingatkan ia pada seorang gadis berambut panjang di masa lalu.
“Kheira?” tanyanya setengah terkejut-setengah senang. Sedetik bertatapan keduanya segera menghambur dalam pelukan hangat.
Tanpa disuruh, keduanya sudah duduk dan kembali mengobrol dengan heboh. Saling menceritakan beberapa kisah yang mereka lewati tanpa kehadiran sahabat. Keduanya bahkan belum sempat memesan apa-apa. Pikir mereka, mereka akan memesan ketika Keana sudah datang. Jadi, mereka bisa mengulang kenangan mengantri bersama-sama di kedai pilihan mereka.
__ADS_1
“Ngomong-ngomong, orang tuaku akhirnya bercerai waktu kita kuliah semester satu. Maaf ya aku nggak pernah kasih kabar apapun di grup,” cerita Kheira. Otaknya sempat kembali ke masa-masa kuliahnya. Ada begitu banyak kenangan menyakitkan saat itu. Namun kini ia baik-baik saja, bahkan bisa tertawa bersama Jessie yang menurutnya sudah berubah banyak.
Di mata Kheira, Jessie sudah jauh lebih feminim. Dulu ia sempat kaget saat tahu Jessie suka ikut balapan motor dan bergaul dengan orang-orang tidak baik. Namun Kheira bersyukur karena tampaknya Jessie tetap baik—sangat baik malah—dan tidak terpengaruh kenakalan lingkungannya.
“Tidak apa-apa. Ada hal-hal yang memang sulit kita ceritakan, bahkan pada sahabat sendiri. Aku juga begitu. Setelah melalui banyak waktu, perpisahan orang tuaku ternyata tidak begitu mempengaruhiku. Buktinya aku bisa jadi setegar ini. Mungkin salah satunya karena kejadian mereka. Bukankah begitu, Ra?” sahut Jessie ceria.
Kheira hanya mengangguk. Kheira tidak mau berlarut-larut membahas kesedihan, jadi ia mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya. Juga bertanya-tanya mengapa Keana belum juga datang padahal sudah setengah jam lebih dari waktu janji.
Mulai habis topik antara mereka, Jessie memutuskan untuk mengirim pesan ke group chat. Berharap Keana akan membaca dan membalas tanya tentang keberadaannya.
“Keana ikut jadi relawan apa sih? Ini bukan sih?”
Kheira tiba-tiba menyodorkan ponselnya saat Jessie hendak menelepon Keana. Layarnya yang besar dengan jelas memuat judul berita tentang kegiatan sukarelawan yang Keana ikuti. Bersama mereka membaca artikel tersebut. Jarang-jarang kegiatan sukarelawan seperti itu dijadikan headline portal berita online. Mereka bangga karena ternyata sahabat mereka yang satu itu mengikuti kegiatan amal super besar dan cukup berjasa pada negara.
Namun, ekspresi bangga mereka hanya bertahan sementara. Kegiatan itu memang mengesankan, tetapi terdapat beberapa relawan yang malah menjadi korban dan tidak tertolong. Dan nama Keana ada pada daftar korban itu.
Jessie mengerang tidak mungkin. Cepat tangannya mencari pesan yang dikirimkan Keana di group chat. Matanya masih jelas melihat pesan itu dikirim langsung oleh Keana sekitar tiga minggu lalu. Namun ketika ia menggulir obrolan itu ke atas, ia baru sadar bahwa Keana tidak pernah terlibat obrolan selama sepuluh hari terakhir. Sama sekali tidak ada pesan atau stiker yang dikirim Keana pada rentang waktu itu. Notifikasi terakhir dilihatnya pun menunjukkan hal yang sama.
“Apa aku melewatkan sesuatu?”
Kheira dan Jessie terperanjat. Seketika mereka menoleh ke sumber suara. Suara serak yang tidak familiar dengan logat yang sama: mereka tahu itu milik Keana.
Kenapa Keana bisa tiba-tiba hadir di sini? Apa mereka sedang bermimpi?
Itu yang Kheira dan Jessie pikirkan.
“Kenapa kalian menangis?” tanya Keana lagi yang serempak dijawab mereka dengan gelengan.
Entah mimpi atau bukan mereka tetap bangkit dan memeluk Keana erat-erat. Mereka juga tidak peduli bila tangis mereka bertambah kencang. Apalagi dengan pandangan aneh orang-orang yang seolah melihat teletubbies berpelukan, mereka lebih tidak peduli. Kesedihan yang begitu mendalam berganti dengan kebahagiaan tak terhingga.
__ADS_1
Ketiganya berhasil menepati janji mereka pada senja tujuh tahun lalu.
Lalu obrolan berpindah ke mana-mana. Kheira dan Jessie penasaran sekali dengan apa yang terjadi pada Keana selama pengabdiannya sebagai relawan. Keana membenarkan bahwa ia hampir mati kalau saja tenaga medis tidak datang tepat waktu. Ia memberitahu keduanya bahwa ia punya bekas luka yang masih belum hilang akibat salah satu peristiwa di masa kebaktiannya. Ponselnya bahkan hilang, itu sebabnya ia tak pernah menjawab pesan apa pun. Ia juga kehilangan seorang teman yang kebetulan salah satu kenalan Jessie, Anggara.
Sampai berjam-jam mereka bercerita ini-itu. Mereka tertawa lepas. Seolah semua beban selama tujuh tahun berhasil terangkat dengan mudah. Mungkin setelah ini mereka akan kembali ke rutinitas masing-masing. Tetapi esok lusa mereka masih bisa bersua kembali. Malam itu mereka bahkan berjanji untuk sering berkirim kabar di group chat. Hari itu benar-benar berjalan dengan sempurna.
Pukul delapan malam, ponsel Kheira berdering. Sejenak pamit untuk mengangkat, matanya melihat ke sekeliling demi mendapati sesosok favoritnya sudah berdiri di depan kedai waffle, tidak terlalu jauh dari tempatnya berkumpul. Kepalanya mengangguk lantas mematikan sambungan telepon, kembali bergabung bersama Jessie dan Keana.
“By the way girls, aku pamit duluan, ya. Aku udah dijemput sama dia,” pamit Kheira sambil menunjuk ke arah seorang laki-laki.
Jessie dan Keana menoleh, mengikuti arah telunjuknya. Lantas menatap Kheira setengah tidak percaya. “Seriusan?” tanya mereka kompak.
Gantian Kheira yang tertawa. Lucu sekali respons keduanya. Ia sudah membayangkan mereka tidak akan percaya begitu saja. “Aku punya sesuatu buat kalian. Masing-masing dapat satu, jadi jangan berebut,” sambung Kheira sambil mengeluarkan dua buah paket.
Paket itu berisi satu set kebaya berwarna merah muda dan undangan pernikahan yang tampak lucu dengan ukiran nama yang dicetak timbul dengan indah: Keenan-Kheira. Dua minggu lagi tanggal yang tertera pada undangan. Jessie dan Keana malah bangkit dan memeluk Kheira. Kebahagiaan dan haru benar-benar terlihat pada wajah ketiganya.
“Selamat, ya, Ra. Kapan kalian pacaran?” ucap Keana dengan sumringah.
Sayangnya, Kheira malah menggeleng. Senyumnya masih tergantung di bibir. “Kami tidak pernah pacaran. Kami hanya berteman sampai akhir. Yang terbaik memang selalu bertahan,” jelas Kheira berseri.
Tidak beberapa lama, Keenan datang menghampiri. Mungkin sudah terlalu lama baginya menunggu di depan kedai waffle. Ia juga merasa harus menyapa sahabat Kheira yang juga teman SMA-nya.
Perjuangannya dengan Kheira harus berujung baik. Pernikahan mereka memang telah diimpikan laki-laki itu. Keenan merasa harus membahagiakan Kheira bagaimanapun caranya, termasuk dengan menjadikannya teman seumur hidup. Ketulusan dan keteguhan hati Kheira benar-benar menyentuhnya. Lima tahun bertahan dengan rasa yang mengiris seharusnya mengubah perasaan gadis itu, entah benci atau hilang sama sekali. Namun, nyatanya tidak. Sebaliknya, malah perasaannya sendiri yang berubah. Entah sejak kapan Keenan suka Kheira ada di dekatnya, pun tertawa dan makan bersamanya. Sepertinya ia akan sangat berbahagia bila wajah Kheira jadi hal pertama yang dilihat ketika bangun tidur nanti. Yang terbaik akan selalu bertahan, dan Kheira adalah yang terbaik bagi Keenan.
Sekali lagi, Kheira pamit. Bersama Keenan ia melangkah meninggalkan Jessie dan Keana dengan dua undangan pernikahan yang tercetak apik. Kheira berharap, suatu hari Jessie dan Keana akan menyusulnya menemukan setengah jiwanya.
_::FIN::_
__ADS_1