Jatuh Hati

Jatuh Hati
The Ending


__ADS_3

Dua tahun berlalu ~


Maura tengah memegang erat tangan anaknya menuju ruangan suaminya setelah dari tempatnya bekerja. Selama ini Maura membuka café untuk membunuh kebosanannya karena terus di tinggal suaminya tapi semenjak kehadiran Awan, hidupnya tak lagi membosankan dan suaminya semakin perhatian dengan dirinya.


Kini mereka tengah mengantarkan makan siang Jevan yang masih bekerja di kantor. Mereka sengaja tidak memberi tahu Jevan kalau mereka akan datang. Saat sudah di depan pintu ruangan ayahnya awan segera berjalan cepat untuk mengetuk pintu ruangan ayahnya.


Tok...tok...tok...


"Masuk" Ujar seseorang dari dalam yang tak lain adalah Jevan.


TOK...TOK...TOK


Awan memukul pintu ruangan ayahnya semakin keras dan Maura hanya cekikikan melihat tingkah menggemaskan anaknya.


"Masuk... siapa sih ?" Maura mendengar Jevan yang kesal dari dalam dan itu membuat Maura semakin tertawa geli karena ulah anaknya.


TOK...TOK...TOK...TOK...TOK..


Awan terus menerus mengetuk pintu ayahnya dan saat terdengar langkah kaki yang ingin membukakan pintu, awan segera berlari ke arah ibunya dan memeluk erat kaki ibunya.


"SIAPA SIH? Eh kok kamu bisa di sini ?" Jevan terlihat salang tingkah saat melihat wajah Maura yang menahan tawa lah yang ada di balik pintu.


"Bisalah, nih anak kamu katanya lagi pengen jahilin bapaknya" Ujar Maura dan awan segera menyembunyikan wajahnya dan memeluk erat kaki ibunya.


"Oh jadi siapa yang tadi gangguin papa kerja ???" Ujar Jevan untuk menakut-nakuti anaknya dan berjalan mendekati anak perempuannya itu.


"HAAAA!! Ini dia penjahat kecilnya...! Aduh..! aduh! Awan sakit papa nak..."


"Awan jangan di pukul dong papanya.." Maura memegang tangan awan yang ingin kembali memukul Jevan.


"Lagian muka papa celem maa.." Ujar Awan yang benar-benar menggemaskan.


"Hahahaha muka kamu di bilang serem sama anaknya haha" Maura tertawa terpingkal-pingkal mendengar penuturan anaknya.


"Awan jahat sama papa, papa mau ngambek aja..." Jevan masuk ke dalam ruangannya dan kembali duduk di kursi sambil membuang mukanya dari putrinya.


"Yaahh maaa papanya ngambek" Ujar awan yang mengadu pada mamanya dan mama segera membantu anaknya untuk membujuk Jevan.


"Ayo kita bujuk papa sayang.." Ujar Maura dan ikut menyusul Jevan bersama Awan.


"Papa cayang... papana Awan yang paling ganteeeng.. ini Awan bawain bekal mamam siang ntuk papa" Ujar awan yang sudah lancar di usianya yang baru dua tahun.


Maura hanya membantu awan meletakan makan siang Jevan di meja kerja Jevan dan tugas membujuk Maura serahkan pada awan.


"Gak mau! Awan jahat sama papa" Ujar Jevan lagi dan awan segera memanjat kursi untuk dapat duduk di pangkuan ayahnya. Jevan hanya terkejut, tak menyangka dengan apa yang di lakukan anaknya persis seperti ibunya yang nekat jika menginginkan sesuatu.


"Awan cayang papa tadi Awan cuma takut papa malah cama awan" ucapnya lucu dengan lidah yang masih patah-patah untuk menyampaikan sesuatu pada papanya.


"Beneran awan sayang papa ?" Tanya Jevan yang sangat gemas pada anaknya.


"Iya kan awan anak papa paling cantik.." kedua jari telunjuknya menekan pipi tembamnya membuat Jevan semakin gemas.


"Kalau awan sayang sama papa, coba cium pipi papa" Ujar Jevan sambil menunjukan pipi kanannya.


Awan segera mencium pipi papanya dengan cepat dan Jevan menarik awan ke dalam pelukannya sambil menggelitiki perut anaknya. Awan tertawa lepas dan ruangan ini sudah di penuhi oleh tawa awan sedangkan Maura ikut bahagia dengan melihat betapa sayangnya Jevan pada anaknya.


"Nah sekarang putri cantiknya papa sama mama dulu yaa.... Tolong izinkan hamba mengerjakan tugas hamba sebentar lagi ya tuan putri..." Ujar Jevan yang menurunkan Awan dari pangkuannya dan Awan segera berlari ke arah ibunya.


Biasanya Maura memilih duduk di sofa bersama Awan tapi kali ini hanya Awan yang duduk di sofa sedangkan Maura duduk di kursi di depan meja kerja Jevan. Maura sengaja ingin menjahili dan menggoda Jevan yang terlihat sedang fokus. Maura yang hanya menggunakan dress selutut membuat paha putih mulusnya terlihat ketika ia sedang duduk. Maura mengeluarkan ponselnya dan asik memainkan ponselnya mengabaikan Jevan yang jadi kehilangan fokus.


Jevan memang fokus memperhatikan monitor laptopnya tapi saat pemandangan di belakang laptopnya menarik perhatiannya Jevan jadi kehilangan fokus. Jevan berusaha untuk tetap fokus tapi gagal.


"Sayang kamu duduk di sofa aja yah.. aku ngerjain ini sebentar aja..." Ujar Jevan dengan nada memelas pada Maura dan Maura hanya tersenyum kecil.


"Emangnya kenapa sih ? kan aku gak ganggu kamu" Ujar Maura dengan tampang yang tak berdosa.


"HUH!" Jevan hanya menghela nafasnya dan kembali berusaha fokus tapi paha putih mulus itu seperti melambai-lambai ke arahnya membuat Jevan menyerah jika sudah begini.


"Ya udah aku makan dulu tapi kamu yang suapin" Ujar Jevan pasrah dan Maura hanya tersenyum penuh kemenangan.


"Makanya kalau di suruh makan itu ya makan! Sini Awan mama suapin juga.." Ujar Maura yang segera membuka kotak nasi itu untuk makan suaminya dan anaknya.


Maura duduk di sofa bersama Jevan dengan awan yang berada di pangkuan Jevan. Jevan terus memakan tiap suapan dari istrinya begitu juga Awan. Tangan kiri Jevan berada di paha mulus Maura tanpa terlihat oleh Awan sedangkan Maura yang risih karenanya terus menepisnya tapi tangan Jevan yang nakal terus saja berada di atasnya dan mengusapnya pelan.


"Jevan!" kesal Maura sedangkan Jevan hanya terkekeh pelan.


"Makanya jangan di godain" Ujar Jevan yang tetap pada posisinya.


Dan Maura hanya mendengus kesal jika sudah senjata makan tuan seperti ini.




Setelah pulang dari kantor Jevan, Maura langsung ke rumah mertuanya karena bunda sandi yang memintanya untuk ke rumah karena bunda sandi merindukan cucu kesayangannya. Ayah rizal sedang tidak ada di rumah makanya Maura mau datang ke rumah sekalian menemani bunda sandi yang kesepian. Maura juga membantu bunda memasak di dapurnya dan Maura juga sudah memberi tahu Jevan kalau ia sedang berada di rumah Jevan dan berencana menginap di sana.



"Ueekk...uueeekk" entah mengapa tiba-tiba perut Maura merasa mual dan ia segera berlari ke kamar mandi.



"Kamu kenapa sayang ??" bunda sandi ikut cemas mengekori Maura yang belum selesai mencuci mulutnya.



"Gak tahu nih bun dari kemarin gak enak badan.." Ujar Maura yang melihat wajah pucatnya di cermin.



"Di periksa gih kedokter entah penyakitnya bahaya tuh" Ujar bundanya yang khawatir dengan menantu kesayangannya.


__ADS_1


"Gak usah bun mungkin aku cuma masuk angin karena minggu-minggu ini sering mandi malem soalnya gerah.." Ujar Maura mengabaikan rasa tak enak di badannya.



"Duh sayang, kamu tuh gak boleh mandi malam-malam... di usahain jangan deh" Ujar bundanya yang memang sangat menyayangi Maura seperti anaknya sendiri.



"iya bun..." Ujar Maura dan kembali berjalan menuju dapur.



"Mamaaaaaaaaa Awan mau belenang..." Ujar Awan dari ruangan lain dan Maura segera mencari awan.



"Tapi udah mau sore sayang nanti kamu masuk angin.." Ujar Maura dan bunda sandi pun ikut hadir di antara mereka.



" Ya udah mama ambil baju renang untuk kamu dulu ya sayang, bunda tolong jagain awan ya bun.." Ujar Maura



"Iya sayang, Awan sama Oma ya sambil tunggu mama.." Ujar bunda sandi dan Maura segera berlari kecil untuk mengambil baju renang anaknya tapi saat ia salah menginjakan kakinya dan lantai terasa licin yang membuatnya tergelincir.



BRUGHHH



"aargghhtt..."



"Ya ampun sayang!!!" Jevan yang baru saja datang segera berlari menolong Maura berdiri.



Maura merasakan sakit di perutnya dan terlihat banyak darah yang mengalir di pahanya dan Jevan sangat terkejut melihat hal itu. Bunda sandi yang baru melihat kejadian itu juga ikut cemas dengan awan yang berada di dalam gendongannya.



"Oma mama kenapa ???" Tanya awan yang juga khawatir melihat mamanya mengeluarkan darah dan merintih kesakitan.



"mama cuma jatuh sayang kamu sama Oma dulu yaa.." Ujar bunda sandi pada awan



"Jevan sekarang cepat bawa Maura ke rumah sakit, biar awan sama bunda nanti nyusul..." Ujar bunda sandi pada Jevan dan Jevan kembali menggendong Maura untuk secepatnya membawa ke rumah sakit.




"Gimana Maura Jev??" Tanya Tio mewakili semuanya yang juga ikut khawatir.



Jevan hanya menggeleng karena memang ia belum mendapat kabar dari dokter dan kembali menundukan kepalanya karena fikiran negative membayangi sesuatu yang tak baik tentang Maura di kepala Jevan. Saat dokter baru saja keluar semuanya mendekat dan Jevan juga segera bertanya tentang Maura pada Jevan.



"Maaf pak kami tak bisa menyelamatkan keduanya, saya menyelamatkan istri bapak tapi tidak dengan janin yang sedang di kandung istri bapak..." Ujar dokter itu menjelaskan, semuanya yang mendengarkan di sana sangat terkejut.



"Janin ?" Tanya Jevan bingung.



"Iya pak, istri bapak sedang mengandung sudah 3 minggu, ibu Maura sudah bisa di jenguk.. kalau begitu saya permisi.." dokter itu berlalu sedangkan Jevan masih shock dengan apa yang sudah di sampaikan oleh dokter tadi.



"Aku mohon kalian jangan bilang pada Maura tentang hal ini.." pesan Jevan dan melangkah mendahului yang lain.



Jevan memasuki ruang rawat istrinya, ia melihat wajah pucat istrinya dengan mata yang masih terpejam. Tanpa sadar Jevan menitikan air mata mengingat keguguran yang baru terjadi. Kenapa ia bisa tidak tahu dengan anak keduanya yang baru saja berada di dalam perut istrinya ?. Jevan mencium tangan istrinya.



"Maafin aku sayang karena aku gak bisa jagain kamu dan anak kita ... semoga dia tenang di sana .." Ujar Jevan yang tak sadar kalau Maura sebenarnya hanya menutup matanya dan tidak tidur.



"Maksud kamu anak kita ? apa Jev ?" Tanya Maura yang membuat Jevan terkejut.



"Jawab aku Jev.." Ujar Maura tapi Jevan hanya membisu sampai akhirnya keluarganya lah yang menjelaskan semua itu pada Maura.



Maura sangat terpukul mendengar kabar buruk yang menimpa anak keduanya yang belum sempat melihat indahnya dunia. Maura menangis dalam diam sama seperti Jevan yang juga masih sedih atas kehilangan anaknya. Tapi semua memberi semangat untuk Jevan agar Jevan tegar karena jika Jevan juga rapuh maka mereka berdua akan terus di liliti kesedihan yang mendalam dan melupakan keberadaan awan yang juga membutuhkan kasih sayang mereka.



\*\*\*\*

__ADS_1



Seminggu sudah berlalu tapi Maura masih belum bisa menerima kejadian itu. Jevan sudah mencoba berkali-kali untuk menghibur Maura tapi hasilnya nihil, Maura terus diam tanpa ada senyuman di wajahnya. Maura selalu menghabiskan waktunya di kamar dan jarang sekali makan. Membuat tubuhnya menjadi kurus kering dan semakin pucat dengan lingkaran hitam di sekitar matanya.



Putri kecilnya saja sangat merindukan mamanya yang biasanya selalu memperhatikan dirinya. Dia Awan, Awan saja takut untuk menemui mamanya setelah kejadian di rumah sakit itu. Di fikiran Awan yang masih anak-anak itu, ia yang salah karena dirinya mamanya jadi begini. Mamanya yang terjatuh karena ingin mengambil baju renangnya jadi dia menyalahkan dirinya sendiri dan itu ia pendam sendiri. Tapi saat ini Awan memberanikan diri untuk menemui mamanya di kamar mamanya.



"Maaa.." panggil Awan ragu tapi Maura sama sekali tak menoleh seperti biasa.



Perlahan Awan berjalan mendekat ke arah Maura namun Maura masih belum bereaksi apapun. Sampai akhirnya tangan mungil awan yang menyentuh wajah Maura membuat Maura menatap anaknya penuh kesedihan.



"Maafin awan ya maa kalena awan mama jadi gini, kalena awan mau belenang dan mama jadi jatuh.. maafin awan ya maa.. awan gak mau mama kayak gini, awan mau main cama mama lagi tapi mama telus kayak gini... awan kecepian maa" Ujar gadis kecil ini.



Hati Maura tersayat pilu mendengar penuturan putri kecilnya ini. Semua yang telah ia lakukan membuat ia melupakan putri kecil kesayangannya ini. Maura baru kembali bisa melihat cahaya kehidupan dari wajah Awan yang membuat hatinya nyaman. Maura memeluk anaknya itu penuh kasih sayang dan kerinduan yang mendalam.



"Maafin mama ya sayang..." Jevan yang mendengar suara Maura dari balik dinding segera masuk ke dalam kamarnya.



Jevan tersenyum melihat Maura menangis sambil memeluk Awan. Kemudian Maura tersenyum menatap Awan yang juga tersenyum kepadanya. Jevan terharu melihat pemandangan di depannya tapi ia bersyukur dan berharap Maura kembali seperti dulu. Maura yang ceria dan selalu menjahili atau menggodanya setiap saat dan bukan yang seperti ini, sangat mengerikan.



"Awan mau main sama mama ya ??" Ujar Maura dengan senyuman yang sudah berada di wajahnya.



"Iya maa, kita jalan-jalan yuk" ajak awan dan Jevan ikut bergabung dengan keluarga kecilnya itu.



"Papanya gak di ajak nih.." Ujar Jevan membuat dua wanita kesayangannya menatap ke arahnya.



"Papa juga ikut lah..." Ujar Awan dengan tawa imut itu lagi yang sangat di rindukan Jevan karena sewaktu Maura masih di masa kelamnya Awan ikut seperti itu bahkan ia tidak ingin bermain dengan siapapun.



"Ya udah Awan ganti baju gih, mama juga mau siap-siap" Ujar Maura dan awan segera berlari ke kamarnya untuk bersiap-siap. Awan adalah anak yang mandiri walau terkadang manja dengan kedua orang tuanya maklum masih kecil.



"Paa.." Jevan menoleh menatap Maura yang memanggil dirinya.



"Apa sayang ?" Tanya Jevan.



"Maafin aku ya karena udah gak bisa jaga dia baik-baik dan udah mengabaikan kamu sama awan" Ujar Maura yang kembali meneteskan air matanya yang langsung di hapus oleh Jevan.



"Kamu gak boleh bicara kayak gitu, aku maklumi kamu tapi lain kali jangan kayak gini yaa.. aku jadi takut untuk kehilangan kamu.." Ujar Jevan yang terbawa suasana.



"Ya maafin aku Jev, aku janji gak akan mengulangi hal ini lagi" Ujar Maura sambil memeluk suaminya.



"Udah ah kok jadi sedih-sedihan gini tapi katanya mau pergi sama Awan.." Ujar Jevan mengalihkan suasan yang terlihat menyedihkan ini.



"Iyaaa.. aku mandi dulu ya.." Ujar Maura.



"Barengan aja yuk biar cepet.." Ujar Jevan yang kembali menjahili istri tersayangnya ini.



"Huuu enak aja.. mau modus tuh.." Ujar Maura yang langsung berlari ke kamar mandi dan menguncinya dengan cepat sebelum Jevan mendahuluinya.



Jevan tersenyum menatap pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Ia sangat bahagia bisa melihat senyuman dan tawa istri serta anaknya lagi. Jevan akan terus menjaga kebahagiaan mereka apapun halangannya. Jevan akan berusaha untuk terus mempertahankan ini semua. Berharap keluarganya akan terus seperti ini, penuh dengan cinta, tawa dan kasih sayang.



Orang tua mereka berdua yang melihat Maura kembali seperti semula hanya tersenyum dan bahagia karenanya. Maura dan keluarga kecilnya kembali berkumpul di rumah keluarga Jevan bersama sahabatnya dan juga kedua orang tuanya. Ia kembali merindukan masa-masa mereka seperti ini. Selalu melemparkan canda dan tawa penuh keakraban dan menghapuskan kesedihan secepat mungkin jika ia datang. Semoga saja keluarga besar dan persahabatan mereka akan tetap utuh selama mereka mempertahankannya dengan segenap jiwa mereka.



Apabila cinta memanggilmu, ikutilah dia. Walau jalannya terjal berliku-liku. Dan apabila sayapnya merangkulmu, pasrah dan menyerahlah kepadanya walau pedang yang tersembunyi di sayap itu melukai mu. Dan jika dia bicara kepadamu, percayalah walau ucapannya membuyarkan mimpimu, bagai angin utara mengobrak-abrik pertamanan.



Keabadian tak menyimpan apa-apa kecuali cinta, karena cinta adalah keabadian itu sendiri.

__ADS_1



TAMAT


__ADS_2