Jatuh Hati

Jatuh Hati
20. Kiss


__ADS_3

HAPPY READING :D


enjoy it!!!


*****


Mata elangnya yang tajam memaku setiap mata yang memandangnya agar tak memperhatikan yang lain. Dia Jevan yang tengah di mabuk asmara dengan seorang gadis yang tak pernah ia sangka akan hadir dihidupnya. Mulai dari kaleng yang di takdirkan mengenai kepalanya sehingga mobilnya lecet, Maura yang menjadi juniornya, Maura juga bersahabat dengan musuh-musuh adik kesayangannya –Andin, Maura juga yang selalu berani menentangnya tanpa rasa takut sedikit pun dan sejujurnya Maura juga cewek pertama yang di takdirkan mendapatkan first kiss nya Jevan.


"Kenapa ?" suara itu mengejutkan Jevan yang tengah menatap wajah sang kekasih. Malam ini mereka tengah menghabiskan satnight mereka di appartement Maura tanpa ada gangguan zoya dan acha.


"Gak, aku Cuma lagi lihat pemandangan yang sangat indah dan langka yang dapat aku dapatkan dalam hidupku" Ujar Jevan tanpa melepaska tatapannya.


"Lebay.." Maura mencubit pipi Jevan karena gemas dan Jevan hanya meraih tubuh Maura lalu merengkuhnya.


"Aku sayang sama kamu Maura, maafin aku sama kesalahan yang udah aku lakuin ke kamu.." Jevan mengatakannya dengan tulus dan mengusap pelan puncak kepala Maura dengan tangan kanannya sedangkan tangan kirinya melingkari pinggang Maura memeluknya dengan erat.


"Aku juga..." Ujar Maura malu-malu.


"Kayaknya aku harus pulang deh karena mama tadi chat aku.." Ujar Jevan seusai membaca pesan dari ponselnya.


"Oh gitu ya udah, yuk aku anter.." Ujar Maura.


*Cup


Setelah ciuman sekilas yang efeknya menggilas membuat Maura menjadi terdiam.


"Ehm.. tidur yang nyenyak yaa.." Ujar Jevan di depan pintu appartement Maura.


Maura hanya mengangguk dan menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dengan gerakan canggung.


"Kamu juga hati-hati di jalan ya"


"Ya udah kamu masuk gih dan jangan bolehin siapapun cowok yang masuk kecuali aku"


Maura mengangguk lagi lalu memutar badannya menghadap pintu, tubuhnya yang masih lemas dan rohnya yang seakan melayang akibat efek ciuman mereka tadi membuat Maura menutup pintunya dengan lambat.


"Aku masuk duluan yaa.." Ujar Maura pada Jevan dan Jevan hanya mengangguk dan tersenyum lalu Maura benar-benar menutup pintunya. Maura langsung bersandar di pintu sambil memegangi dadanya yang masih berdegup kencang. Perlahan-lahan tubuhnya pun jatuh dan terduduk di lantai saking lemasnya.


"Duh kok kayak gini sih, kemarin kan juga pernah tapi yang sekarang kenapa efeknya dahsyat banget ya ??" Tanyanya pada diri sendiri. "Apa ini yang namanya jatuh cinta ?" lanjutnya masih dengan sebelah tangan memegangi dada.


Tiba-tiba pintunya kembali ada yang mengetuk. Maura pun segera bangkit dan membuka pintunya untuk melihat siapa yang datang. Ternyata zoya dan acha yang baru pulang dari acara satnight mereka dengan gebetan mereka, siapa lagi kalau bukan Yuza dan Tio.


"Kok lo udah sampe ? Jevan mana ? kalian sebentar doang jalannya ?" Tanya acha yang heran karena biasanya Jevan akan membawa Maura sampai lupa dengan waktu.


"Gue gak kemana-mana dan gue juga minta Jevan untuk di sini aja tadi.." Ujar Maura dan berjalan kedalam appartementnya.


"What ?!? tapi kalian gak gitu-gitu kan?!?" Ujar zoya yang menatap Maura penuh selidik.


Semenjak zoya tau kalau Marcell adalah kakak Maura dan Jevan benar-benar sayang sama Maura, sejak itu lah zoya melepaskan Jevan untuk sahabatnya dan ia juga sudah mendapat pengganti yang memperlakukannya lebih baik dari pada Jevan.

__ADS_1


"Enggak lah!! Emang gitu-gitu an gimana ?" Tanya Maura polos.


"Ya elah zoya!! Lo ngomong sama anak kecil mana ngerti!" Ujar acha yang mendapat timpukan bantal dari Maura.


Acha melotot tajam ke arah Maura namun Maura tak memperdulikannya.


"Sialan lo!! Tau kok, gue tau!!" dusta Maura dan ia memilih untuk masuk ke dalam kamarnya sebelum banyak pertanyaan yang akan di lemparkan oleh sahabat-sahabatnya yang super kepo ini.


"Eh Maura! Oik!" Maura mengabaikan panggilan sahabat-sahabatnya itu dan memilih untuk bersemedi sambil mengingat bagaimana ciuman Jevan mampu memporak porandakan jantung dan juga hatinya.


*****


Kota Bandung pagi ini di selimuti mendung tipis di langitnya, tapi hujan sama sekali tidak berniat menyapa tanah di bawahnya. Maura tersenyum memandangi wajahnya di depan kaca yang sudah terlihat perfect. Ia melangkah keluar dari kamarnya menemui ke dua sahabatnya yang juga baru bersiap untuk pergi ke kampus.


"Are you ready??" Tanya Maura menatap zoya dan acha dengan wajah yang ceria begitupun dengan kedua sahabatnya.


"Yes we ready girls.." Ujar mereka bertiga seperti biasa mereka kompak. Itu seperti sebuah mantra mereka bertiga yang harus mereka ucapkan sebelu berangkat ke kampus. Berharap hal-hal bahagia menanti mereka walaupun dengan sedikit rintangan yang pastinya dapat mereka lalui dengan mudah.


"Ok lets go" Ujar Maura yang memberi aba-aba untuk mereka segera ke parkiran mencari mobil Maura lalu masuk ke dalamnya dan menancapkan gas hingga mereka sampai di depan Universitas Green KM yang sangat luas dan megah ini.


"Lo ada kelas apa hari ini?" Tanya zoya menatap Maura dan acha yang berfikir sejenak.


"Jasa Pembukuan" Ujar acha dan Maura secara bersamaan.


"Sama dong" Ujar acha.


"Kok kita bisa samaan ya?" Tanya acha sedangkan Maura menunggu zoya mengumpat seperti biasa.


"Kan kita satu jurusan dodol!!!" haha benar saja zoya akan berlawanan dengan acha pagi ini.


"Dodol? Enak aja! Lo tuh dodol lipet!" Ujar acha yang tak terima dan Maura segera mengambil ancang-ancang untuk melerai mereka.


"Stop!!! Kalian gak malu apa! Tuh Tio sama Yuza ngeliatin dari tadi" Ujar Maura membuat zoya dan acha celingukan mencari keberadaan Tio dan Yuza berada dan tanpa sadar mereka berdua sudah di tipu oleh Maura. Maura yang sedari tadi sudah keluar dari mobilnya bersiap untuk amukan kedua sahabatnya.


"Maura !!!!!!!!" pekik zoya dan acha mengejar Maura yang sudah lari lebih dulu.


BUGH


Maura menabrak seseorang yang akan membuat moodnya turun seketika.


Tap . . . Tap . . .Tap . . .


Ujung heals yang beradu dengan lantai keramik berbunyi mendengung di telinga Maura yang sudah terjatuh. Seseorang yang ia tabrak mendekat ke arahnya dan menatap merendahkan Maura.


"Lo??? Emangnya gak bisa lo gunain mata cantik lo itu untuk jalan" Ujar orang itu yang tak lain adalah andin yang di ikuti oleh antek-anteknya di belakangnya.


"oh ternyata Geng Manja yang sangat dan bahkan teramat manja! Maaf mata gue gak gue gunain untuk jalan tapi gue gunain untuk melihat pemandangan yang indah atau pun buruk seperti sekarang ini!" Maura bangun dari tempatnya dan membersihkan tangan dan bajunya lalu menatap sinis ke arah andin and geng nya.


Saat itu juga ke dua sahabatnya datang dan berdiri di samping Maura. Jevan, Tio, Yuza, Aksa dan juga Marcell kini memperhatikan kejadian yang menghebohkan seantero kampus pagi ini.

__ADS_1


"Oh jadi sekarang lo udah berani ngelawan gue!!! Gak kapok lo gue siram di party kemarin??" andin memutari Maura yang hanya diam sambil bersedekap tangan di depan dadanya. Sedangkan kedua sahabatnya menatap gerak-gerik antek-antek andin yang sepertinya sudah tak percaya diri lagi.


"kapok ??? ehem... zoya!! Acha!! Sebenarnya siapa yang belum kapok di sini?? Gudang nya masih seperti biasa kan?" Tanya Maura melirik ke dua sahabatnya lalu melemparkan tatapan meremehkan ke arah andin yang terdiam.


"Kayaknya gue gak akan takut lagi deh sama lo dan 2 curut yang childish ini!!" Andin menunjuk ke dua sahabat Maura dan menatap most wanted kampus mendekat ke arah mereka.


"Oh jadi sekarang kita yang harus takut gitu sama kalian ?!?" Ujar Maura menegang di tempat dan Maura yang sebenarnya sudah sadar kalau Jevan, kakaknya, Aksa , Tio dan Yuza sudah berada di dekat mereka.


"EHEM!! Ada apaan nih rame banget?" Tanya Tio mencairkan suasan yang semakin menegang.


"Nih si cewek songong udah nabrak gue dan gak merasa bersalah sedikit pun" Ujar andin yang di buat-buat manja agar mendapat simpati dari Jevan dan teman-temannya.


"Emang gitu ya Maura ?" Tanya Yuza.


"Tadi sih gue udah minta maaf tapi kayaknya gue tarik lagi karena gak pantes gue minta maaf sama dedemit kayak gini" Ujar Maura membuat andin melotot tajam ke arahnya.


"kak Jevan..." rengek andin.


"Jangan kira gue gak tau kalau lo yang udah buat nyokap gue kayak gitu sama gue kemarin malem!! Tapi ancaman nyokap gue gak ngaruh ke gue!! Ternyata lo gak sebaik yang gue kira!!" Jevan menghempaskan tangan andin yang ingin memeluk lengannya manja.


"ow.. ow jadi yang mau ngadu ke abangnya tapi di abaikan... kacian!!" Ujar zoya yang benar-benar membuat andin malu dan ketiga temannya sudah dari tadi meninggalkannya karena tak mau berurusan dengan Jevan the CS.


"Oh ya satu hal lagi yang harus lo tau, cewek songong yang lo bilang tadi adalah adik kandung gue!" Ujar Marcell dengan tenang membuat andin terkejut begitu pun dengan mahasiswa lain yang mendengar pengakuan Marcell.


"Kak... kak Marcell ka-kak kan-dungnya dia!?!" Ujar andin yang shock namun mereka yang melihatnya menatap bosan.


"Udahlah gue muak dan gue gak mau memperpanjang jadi bye!" Ujar Maura yang meninggalkan andin yang sebelumnya mengibaskan tangannya di wajah andin.


Maura terdiam dan terpaku menatap kepergian Maura yang berada dalam rangkulan Jevan dan juga di ikuti oleh zoya yang bersama Yuza dan acha yang bersama Tio sedangkan Aksa dan Marcell memainkan ponselnya.


"jadi mereka.." andin tak dapat menyelesaikan kata-katanya, kakinya lemas sesudah mengetahui semua fakta tentang Maura.


"huuuuu!!! Norak!"


"tau tuh norak!!"


"sok berkuasa sih lo jadinya di tinggalin!!" semua hinaan itu terdengar jelas di telinga andin membuat nya merasa panas dan tersulut emosi.


Dia memilih untuk pulang karena tak tahan dengan hinaan yang di lemparkan untuknya. Dia tak sanggup dan ingin sekali ia mengadukan itu semua kepada mama Jevan. Entah apa yang akan di lakukannya agar Jevan kembali padanya.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2