Jatuh Hati

Jatuh Hati
1 : Kali Pertama


__ADS_3

Namaku Kheira Ilona Daniswara. Orang-orang biasa memanggilku Khei, Ra, atau Kheira. Menurutku, aku seorang gadis biasa yang mempunyai hidup terlalu biasa. Saking biasanya sampai aku bisa menebak apa saja yang akan terjadi di hidupku secara tepat. Termasuk ketika aku menyukai seseorang.


Cerita ini bermula ketika aku mengikuti organisasi kemahasiswaan yang sama dengannya tanpa sengaja. Yang kumaksud “tanpa sengaja” ini benar-benar tanpa niatan apa pun dariku, benar-benar murni tanpa tahu dia juga ikut mendaftar. Malah, kukira ia mendaftar ke organisasi nomor satu di kampus seperti BEM atau sejenisnya.


Sebaliknya, organisasi yang kuikuti saat itu adalah organisasi amal yang kupikir hanya diikuti oleh orang-orang biasa seperti aku yang menginginkan kegiatan di luar kelas reguler. Organisasi ini bernama SLSY, kependekan dari Save Life Save Yours, yang kupikir sedikit berlebihan. Seperti jenis dan namanya, organisasi SLSY bergerak di bidang sosial masyarakat untuk membantu kesulitan hidup orang lain. Dengan membantu sesama, kami berharap Tuhan ikut berbaik hati membantu dalam hidup kami sendiri.


Pertemuan pertama SLSY mengenalkan kami—seluruh anggota baru dan lawas—dengan suasana akrab. Ada sekitar 16 orang total seluruhnya, dengan jumlah anggota baru sebanyak 5 orang, seperti aku dan dia. Yang sayangnya—atau malah beruntungnya—satu pun dari kami berlima tidak boleh ada yang berubah pikiran dan memilih organisasi lain. Larangan ini didasari oleh banyaknya kegiatan amal yang akan dilakukan organisasi sehingga mengharuskan kami merelakan kebanyakan waktu, tenaga dan pikiran kami untuk organisasi ini saja.


Tidak seperti organisasi lain, SLSY tidak mengadakan semacam ospek atau peraturan tertentu yang membatasi anggota baru. Semua orang punya derajat yang sama untuk beraspirasi atau melakukan apa pun dalam sekretariat yang berukuran 10x12 meter.


Jelas saja. Ini organisasi amal. Semua yang kami butuhkan hanyalah kerja sama tim dan keikhlasan. Kalau kami tidak nyaman dengan suasana SLSY, maka mana mungkin kami bisa ikhlas berbagi kebaikan dengan yang lain. Itu yang selalu dikatakan Kak David selaku ketua SLSY.


Semboyan itulah yang membuat kami berbaur dengan cepat bersama semua orang. Dalam waktu seminggu saja aku sudah bisa membuka diri pada 15 orang lainnya. Sudah bisa tertawa santai dengan orang selain sahabatku sudah merupakan pencapaian terbesarku. Bahkan di lingkup inilah aku punya tempat yang bisa kuanggap rumah kedua.


“Kamu mau minum apa, Ra? Ada jus, teh dan air putih di sini,” tawar Keenan yang baru saja datang dan membawa seplastik minuman kemasan untuk diisikan ke kulkas sekretariat.


“Jus boleh deh.”


Sedetik setelah jawabanku, ia mengangguk. Menaruh sekotak jus mangga ke mejaku lalu kembali lagi untuk mengisi kulkas yang hampir kosong.


“Lagi nulis, ya?” tanyanya ringan, “cerita tentang aku nggak?”


Bibirku melengkung, tersenyum. Tanganku mengambil jus mangga dan menancap sedotan, mulai menyesapnya seteguk. “Terima kasih,” kataku sambil menunjuk jus mangga.


“Perasaan dari dulu enggak selesai-selesai deh. Aku udah penasaran, tahu?” komentarnya lagi.


Begitu selesai dengan urusan kulkas, ia beranjak ke mejaku. Duduk berhadapan denganku sambil menilik coretan yang kubuat di atas kertas. Lantas mendecak kesal karena coretanku tak pernah terlalu bagus untuk bisa ia baca dengan jelas.

__ADS_1


“Yang lain pada kemana?” tanyanya lagi ketika sudah menyerah membaca coretanku. Mengalihkan dan mencari topik baru memang keahliannya. Tangannya menggaruk tengkuk—tanda bingung—lalu membuka botol air mineralnya.


“Tadi Arif bilang mau survei tempat-tempat yang bakal dikasih sumbangan. Aku nggak ikut karena sore ini masih ada kelas,” jelasku lengkap.


Aku sudah hafal ia akan bertanya apa selanjutnya. Jadi kujawab saja sebelum ia benar-benar menanyakannya. Aku pun sudah hafal, setelah ini ia pasti akan mengangguk-angguk paham dan meminum air mineral tiga teguk.


Benar saja. Sedetik ia mengangguk puas—paham dengan penjelasanku yang lengkap—lantas meneguk air dari botolnya.


Satu. Dua. Tiga.


Begitu saja. Tangannya sudah menutup botolnya kembali dengan sigap.


Setelah ini, pilihannya ada dua: tidur siang di sekretariat atau menyusul yang lain ke lokasi survei. Dan apa yang paling kuharapkan adalah pilihan pertama. Karena dengan begitu, aku bisa berlama-lama melihatnya di dekatku.


Ah, bodoh. Apa sih yang kupikirkan?


Keenan bertanya lagi, yang sayangnya hanya bisa kujawab dengan kedikan bahu: tidak tahu. Mungkin saat ini bukan waktu yang kuharapkan. Lagipula aku sudah menyerah dulu, jadi aku takkan berusaha menahannya lagi. “Mau nyusul?” tanyaku keluar juga, “aku tanyain Arif dulu.”


Sejenak berpikir, kepalanya menggeleng. “Enggak usah deh. Aku lagi males sih sebenernya. Panas banget di luar. Pengen tidur aja di sini. Mumpung sepi jadi kipas anginnya kerasa, hehe.”


Sekali lagi, ia meneguk air mineralnya. Lantas menyamankan dirinya dengan bergeser ke kanan, memberi ruang lebih untukku, dan menumpu kepalanya di meja.


Setelah yakin posisinya enak, ia menguap dan berpesan, “Kalau kamu udah mau pergi, tolong bangunin aku, ya. Takut bablas kayak kemarin, hehe.”


Kepalaku mengangguk. Beruntung sekali aku bisa mengulang kenangan dua tahun lalu bersamanya. Kenangan yang—di tahun terakhir SMA-ku—ingin kukubur dalam-dalam.


Keenan Wisnu Yogatama. Dialah orang itu. Orang paling berkesan semasa SMA dulu. Aku mengenalnya saat kelas sebelas, ketika aku terpisah dari Jessie dan Keana. Ia ceria, murah senyum, berselera humor receh, apa adanya dan baik sekali. Sifatnya yang ramah memberikan rasa nyaman bagi siapa saja yang mengenalnya. Ah, dan jangan lupa paras rupawannya: lesung pipit di pipi kanan membuat wajahnya semakin enak untuk dilihat, tiada duanya.

__ADS_1


Aku mungkin harus berterima kasih pada Keenan. Kalau bukan karenanya, mana mungkin aku bisa merasakan yang namanya jatuh cinta di masa SMA. Meskipun kisah cintaku tidak berakhir indah seperti kebanyakan novel dan komik, aku cukup senang.


Sejak menyadari rasa itu sampai sekarang, otakku masih cukup waras untuk memahami bahwa jarak tak terlihat di antara kami begitu besar. Keenan yang populer tak mungkin melirikku yang kalau hadir pun tak terlihat. Dibanding Jessie dan Keana, aku tidak ada apa-apanya. Selain itu, jauh sebelum mengenalku, Keenan memang sudah dekat dengan gadis lain. Semua orang, termasuk aku dan Keenan, tahu itu.


Bahkan sampai saat ini, rasanya aku masih tidak percaya bisa jadi satu lingkungan dengannya. Sampai-sampai aku bisa saja percaya kalau ada yang bilang Keenan hanya berformalitas denganku.


Walaupun begitu, aku masih saja menyukainya. Kuakui memang aku yang bodoh.


“Kalau kau terus menatapku seperti itu, bagaimana aku bisa tidur?” ujar Keenan tiba-tiba. Matanya yang terpejam sejenak terbuka untuk memastikan aku sedang benar-benar memandanginya. Membuat kepalaku otomatis menunduk karena malu. Sudah pasti pipiku memerah karena tiba-tiba rasanya memanas.


“Maaf. Aku nggak sengaja. Emm, hanya cari inspirasi,” balasku tergagap-gagap.


Kepalanya mengangguk pelan lalu berdeham paham tanpa mengubah posisi kepalanya. Wajahnya tetap menghadap ke arahku dengan berbantal kedua lengannya. Seolah mengingatkanku pada kejadian dua tahun lalu.


Dua tahun lalu, Keenan juga pernah tertidur di depanku. Waktu itu, selesai kelas Biologi, seharusnya kelas kami berpindah. Seluruh anggota kelas sudah terburu-buru keluar mengejar kelas berikutnya. Menyisakan aku yang memang santai dan seorang murid laki-laki yag masih tertidur.


Karena iba, kuhampiri kursinya yang ada di pojok belakang kelas: berniat membangunkannya. Itu kali pertama kupandangi wajahnya baik-baik. Kusimpan rapat dalam ingatanku bagaimana pahat paras sempurnanya. Tetapi saat itu kami hanyalah dua orang asing. Jadi, kubangunkan ia setelah sadar kembali merengkuhku. Pun, langsung kutinggalkan ia setelah terbangun dan mengerti apa yang harus dilakukannya.


Aku yang sekarang jelas berbeda. Begitu aku yakin ia benar-benar tidur—ini ditandai oleh deru nafas yang teratur—segera kuperbarui ingatanku tentang lekuk wajahnya. Membandingkan kalau-kalau ada yang berubah selama dua tahun ini.


Aku tertawa, pikiranku memang selalu konyol berlebihan. Dua tahun bukan waktu yang lama. Rupanya tidak akan mengalami banyak perubahan. Lihat saja bibir merahnya yang dalam tidur saja masih tampak tersenyum. Juga garis di pipinya yang membekas akibat terlalu sering tersenyum dan tertawa. Sama sekali tidak berubah sejak dulu.


Asyik mengenang Keenan dan masa lalu membuatku tidak sadar bila hari beranjak sore. Terkejutlah aku karena tiba-tiba saja jam menunjukkan pukul 14.55 WIB. Tersisa lima belas menit sampai Bu Amel—dosen Pengantar Akuntansi yang terjadwal kelas sore—masuk. Tanganku dengan cepat merapikan barang-barang secara serampangan. Tak lupa kubangunkan Keenan dengan guncangan hebat di bahunya, seolah ada kebakaran dan bencana lainnya. Lantas buru-buru keluar mengejar waktu selesai berkata, “Bangun, Nan! Aku sudah telat kelas!” dengan lantang.


**                                                                                                   *****


 

__ADS_1


 


__ADS_2