Jatuh Hati

Jatuh Hati
15. Sosok di masa lalu


__ADS_3

HAPPY READING :D


****


"Lo kenapa ??" Tanya Aksa kepada sahabatnya yang terlihat memikirkan sesuatu.


"Gue tau kok pasti lo udah ketemu dia dan gue rasa dia emang dia, tinggal gue cari bukti aja.." Ujar Aksa dalam hatinya.


"Gak papa cuma capek aja..." Ujar sahabatnya itu.


"Ya udah lo balik aja ke base dan istirahat dari pada nanti lo malah sakit.." Ujar Jevan.


"Lo gak berubah tetap jadi emak gue ya Jev.."


"Dengan senang hati Cell..." sahut Jevan pada sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri, yaaa!! Dia Marcell, dia adalah seseorang yang selalu mengerti Jevan dan di saat semua orang tidak ada untuk Jevan, Marcell datang dan selalu welcome untuk Jevan begitu sebaliknya.


Marcell kembali melihat seorang cewek yang menarik perhatiannya sejak ia berpapasan di toilet tadi. Namun segera ia tersadar saat Jevan mengajaknya untuk pulang karena sejujurnya ia memang sangat lelah dan ia hanya menuruti sahabat yang selalu bawel untuk menjaganya. Jevan.




Drrrt...Drrrt...



Sesuatu dari sakunya bergetar, ia segera mengambilnya dan ternyata ada yang menelfonnya. Keningnya berkerut menatap Id dan No telfon itu. Ia heran sejak kapan nomor si dia tersimpan di ponselnya. Tampaknya ia sangat tidak ingin menjawab telfon dari orang yang sudah menurunkan moodnya saat ini tapi kedua sahabatnya yang berada di sampingnya sejak tadi menatapnya penuh curiga.



"Apaan sih?!?" ucapnya karena tatapan kedua sahabatnya yang membuatnya risih.



"Angkat!" Ujar tegas kedua sahabatnya secara bersamaan dan membuatnya terpaksa mengangkat telfon itu.



"Hallo..." sahutnya saat ia sudah menekan tombol hijau dan menatap kedua sahabatnya dengan tatapan 'puas kalian'.



"Dimana sekarang ?!?" Tanya seseorang di sebrang sana.



"di jalan"



"bisa ke rumah gak ?? sekarang ??"

__ADS_1



"gak bisa!"



"Please?"



Dia melemparkan tatapannya pada kedua sahabatnya 'gimana ?' dan kedua sahabatnya mengangguk pasti.



"jam berapa ?" tanyanya lagi ke pada orang di sebrang sana.



"sekarang bisa ?"



"oke.."



Setelah menjawab itu ia mematikan sambungannya secara sepihak dan kedua temannya tersenyum penuh makna. Ia hanya mendelikan matanya melihat kelakuan sahabat-sahabatnya.




"gue juga"



Ternyata dan ternyata, itu semua hanya rencana mereka dan dengan tak berdosanya ia mengumpankan sahabatnya demi niat tak baik mereka.



"Emang! Karena kalian yang mau bukan gue kalau nggak... kalian aja deh pergi gantiin gue.." ucapnya dan kedua sahabatnya menatapnya tajam dan penuh ancaman.



"iya...iya..."



Segera ia mengganti baju dengan di ikuti dengan kedua sahabatnya untuk bersiap pergi. Ia hanya menggeleng melihat kelakuan sahabatnya tapi itu semua akan menjadi kebahagiaan untuknya karena kedua sahabatnya sejatinya menjadi tameng untuknya di sini. Sekarang yang ia fikirkan adalah apalagi yang akan di lakukan oleh –orang yang menelfonnya– kepadanya. Takut ? pasti! Karena mana mungkin orang itu akan melepasnya begitu saja dan ia tak tau apa alasannya.


__ADS_1


\*\*\*\*



Di sebuah rumah yang sudah di sulap menjadi sangat cantik dan indah karena pemiliknya sedang mengadakan party dadakan ala mereka. Aksa, Tio dan Yuza sudah siap dengan tampilannya yang sangat menarik perhatian kaum hawa di acara ini, begitupun dengan ketua mereka Jevan. Dia sudah merancangnya sebaik-baiknya dan di bantu oleh adik manisnya dengan 3 temannya, siapa lagi kalau bukan andin, nadia, Karin dan luna.



"Perlu ya lo buat party kayak gini ?" Tanya Marcell yang baru saja datang ke kamar Jevan.



"Perlu lah! Buat ngasih tau mereka kalau lo udah balik dan ada lagi kok... udah lo tenang aja" sahut Jevan yang tersenyum lebar menahan rasa bahagia yang rasanya ingin meledak dan membuat heran Marcell dengan sikapnya sekarang.



"Terserah lo, gue ke kamar dulu" Marcell kembali pergi meninggalkan Jevan yang masih memandang ke kaca dengan senyumnya yang mempesona. Sesekali ia melirik ke arah ponselnya di atas nakas dan kembali tersenyum melihat wajahnya.



Fikirannya tengah melayang ke tamu spesial yang dia undang. Semoga saja apa yang ia rencanakan berjalan sesuai keinginannya. Jevan menyisir rambut dengan jemarinya lalu mengangguk puas.



"Jev yuk keluar..." Jevan menatap andin yang sudah berada di sampingnya.



Sejujurnya Jevan sangat geli melihat kostum yang di pakai andin saat ini karena sempat terlintas di fikiran Jevan kalau andin ingin menggodanya tapi yang ada Jevan terlihat jijik dan terkesan menjauh namun Jevan Pothing aja dari pada salah langkah.



"yuk..." Jevan pun berlalu lebih dulu dari pada andin membuat andin mengerutkan keningnya.



.



.



.



.


__ADS_1


TBC


__ADS_2