
Enjoy your Life!
*
*
*****
Pagi ini tiga cewek ini merubah penampilannya yang biasanya terlihat simple dengan celana jeans, kini telah berubah mengikuti para cewek sejuta pesona tapi bedanya Maura, Acha dan Zoya memakai dress selutut yang simple dan sepatu highheels yang senada dengan warna baju mereka. Zoya memilih warena cokelat pastel, Acha memilih warna krem dan Maura memilih warna putih yang berpadu dengan warna cokelat yang terlihat pas di tubuh mereka.
"Yakin lo kalau kita bisa seperti ini?" Tanya Zoya kurang yakin.
"Yakin banget" jawab Acha.
"Tapi kalau kita ketemu mereka gimana dong??" Tanya Acha yang mulai ragu.
"Pakai sikap sok peduli dan cuek" Ujar Maura tapi membuat kedua sahabatnya bingung.
"Maksudnya??" Tanya Zoya.
"Kalau mereka manggil kalian, kalian harus dengerin sebentar dan kalian pura-pura ada kesibukan lalu pergi... tinggalin aja mereka, NGERTI!!!" Ujar Maura yang mengetahui sahabat-sahabatnya tak mengerti.
"Oke kalian lihat aja gue nanti" Ujar Maura.
"Tapi kalau gue yang ketemu Yuza duluan gimana Ra...??" Tanya Zoya.
"Pakai aja sikap cuek dan pura-pura gak kenal" Ujar Maura dan mereka berdua mengangguk.
"Udah siap??" Tanya Maura dan mereka berdua kembali mengangguk.
"Are you ready??" lagi-lagi mereka kembali mengucapkan mantra mereka di setiap pagi yang membutuhkan semangat.
"Yes we ready girls" sahut mereka kompak.
"Lets go" Ujar Maura dan mereka segera pergi ke parkiran dan menaiki mobil sport biru Maura.
Dengan hati yang tak karuan mereka menyiapkan segalanya dan menyusun rencana mereka masing-masing dalam benak mereka. Maura sudah mempunyai semua jawaban yang akan Jevan tanyakan. Tapi tidak dengan Zoya dan Acha yang masih ragu dengan apa yang akan mereka lakukan. Make up mereka memang natural tapi itu sudah menambah kecantikan mereka dari biasanya bahkan mengalahkan cantiknya cewek sejuta pesona yang sudah bermake up tebal.
"Eh mereka Maura, Zoya dan Acha kan?"
"Cantik bener ya"
"Mereka ngerubah penampilan kayaknya"
"Mereka kan pacar the most wanted kampus"
"Oh pantes aja mereka tambah cantik gitu"
"Mereka juga emang cantik tanpa make up sekalipun"
"Wah kalah dong gengnya si Andin tuh"
"Ini alamat saingan bah!"
Banyak sekali yang komentar tentang perubahan mereka bertiga tapi mereka abaikan. Mereka tersenyum mendengar banyak komentar itu mulai dari yang pro sampai kontra tentang perubahan mereka hingga akhirnya satu persatu cowok yang ingin mereka hindari datang.
"Maura" panggil sebuah suara yang sangat di kenali Maura dan Maura berbalik menatap sosok itu.
"Aku mau bicara sama kamu" Ujar sosok itu yang tak lain adalah Jevan.
"Silahkan" Ujar Maura.
"Tapi gak bisa di sini" Ujar Jevan.
"Oh gitu, maaf gak bisa, gue sibuk" Ujar Maura dan kembali melangkah kan kaki untuk pergi.
"Lo tau siapa gue kan! Gue gak pernah menerima penolakan!" pekik Jevan yang dapat menghentikan langkah tiga cewek itu.
"Aku juga mau bicara sama kamu" Yuza menarik Zoya dari Maura dan Acha.
"Aku juga ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" Acha juga di tarik Tio dan tinggallah Maura yang terdiam memikirkan sejenak apa yang akan ia lakukan karena telah membuat Jevan marah.
"Ngapain takut, kan dia yang buat kesalahan kemarin" batin Maura dan Maura kembali melangkah kan kakinya.
Saat mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya, Maura berlari karena takut Jevan akan menariknya dan membentaknya. Tapi langkah Jevan cukup lebar untuk mengejar Maura dan Maura merutuki dirinya sendiri karena memutuskan memakai dress dan juga sepatu heels.
"Stop!! Jangan kayak anak kecil lagi, okey?" Ujar Jevan saat berada di hadapan Maura.
"Oke kalau gitu minggir karena gue gak mau lagi ngeliat lo" Maura mendorong tubuh Jevan dari hadapannya.
__ADS_1
"Maura please dengerin aku dulu" Ujar Jevan yang mulai melembut.
"Apa?!??" Bentak Maura yang ingin sekali menjawab semua pertanyaan Jevan.
"Aku minta maaf" Ujar Jevan.
"Terus apa?" Tanya Maura lagi.
"Maksudnya??" Tanya Jevan tak mengerti. Maura bahkan sudah siap membuat Jevan gila hanya dengan jawabannya.
"Ya terus apa, setelah aku maafin kamu apa lagi? Apa lagi yang akan kamu lakuin" Ujar Maura yang membuat Jevan terdiam.
"Aku janji gak akan ulangin lagi tapi please kasih aku kesempatan" Ujar Jevan.
"Kesempatan itu bagi orang yang ngelakuin kesalahan tanpa sengaja tapi kamu sengaja Jev, udahlah aku gak mau ngelanjutin perdebatan ini lagi" Ujar Maura yang sedang melancarkan rencananya.
"Tunggu, aku mau ini di selesaikan baik-baik" Ujar Jevan yang mencekal pergelangan tangan Maura.
"Apalagi sih?? Aku tuh capek, aku males nyelesaian masalah yang kayak gini Jevan" Ujar Maura yang memasang wajah lelah.
"Tapi aku gak mau kita terlarut dalam masalah kayak gini" Ujar Jevan dengan wajah serius.
"Masalah apa? Memangnya kita punya masalah?" Lagi-lagi Jevan memasang wajah bingung.
"Aku tau aku salah. Aku gak mau kamu jauh dari aku." ucap Jevan yang tetap berusaha mengimbangi Maura.
"Kamu salah apa?" Jevan yang di tatap Maura dengan penuh ancaman hanya bisa menghela nafas dan memejamkan matanya sebentar.
"Aku tahu gimana nyelesaiin masalah dengan maksud kamu itu Jev, kita putus..." Ujar Maura yang sudah tak sanggup berhadapan dengan Jevan dan kembali berjalan dengan jantung yang berdebar kencang.
HAP
BUGH
Jevan menarik tangan Maura sehingga Maura membentur cukup keras tubuh Jevan. Jevan mendekapnya erat dan Maura tak dapat berbuat apa-apa.
"Lepas!" Ujar Maura tanpa memberontak.
"Aku udah bilang kan kalau aku gak akan ngelepasin kamu sayang" Ujar Jevan sambil mempererat pelukannya.
"Ya udah sekarang lepas atau kamu pengen bunuh aku di sini? Lepas sekarang." Ujar Maura mengalah karena Jevan terlalu erat belum lagi banyak mata yang sedang memperhatikan mereka dan kedua sahabatnya yang sudah menghilang.
"Dengerin aku, aku cuma gak mau ada salah paham, aku akui kalau aku juga salah karena mau aja ikut mereka." Jevan menampung wajah Maura dengan kedua tangannya.
"Aku janji gak akan ulangin lagi, setelah ini kamu janji akan maafin aku ya?" Ujar Jevan yang memulai semua penjelasan yang harus di jelaskan sedangkan Maura hanya menatap Jevan datar dan diam menunggu kelanjutan penjelasan Jevan.
Saat rasanya tak ada jawaban dari Maura, Jevan kembali melanjutkan penjelasannya. "Kemarin kata Andin dia lagi di kejar sama pria yang mau ngelecehin dia dan Tio nolongin dia kemarin sore, terus Tio nganter dia kerumah aku dan di sana juga ada Luna, Nadia dan Karin yang baru datang. Aku gak tau kalau mereka ngerencanain ini, Andin bilang sama aku kalau aku terlalu penakut sama kamu sedangkan kamu aja gak ada takutnya sama aku..." Jevan menghela nafas sebentar saat menyadari kenyataannya memang seperti itu.
Maura melirik wajah Jevan yang benar-benar muram, terbesit rasa bersalah di hatinya karena telah membuat Jevan seperti itu dan akhirnya Jevan menjadi bahan olokan oleh cewek sejuta pesona itu atau bahkan teman-temannya.
"Maaf, Saat itu aku merasa tersinggung dan setuju gitu aja sama ucapan mereka. Maaf juga karena egoku yang tinggi jadi ikut mereka ke Club. Tio, Yuza dan Aksa juga di ajak." Mata Jevan sudah berkaca-kaca karena dirinya merasa bersalah saat menjabarkan bagaimana kebodohannya kemarin.
"Aku kesal sama Aksa karena dia terlihat biasa saja kata dia gak ada yang harus dia takutkan dan setiap kata-katanya selalu meremehkan ku." Maura masih dia menatap Jevan yang mengelus pipinya.
"Di situ juga ada Marcell... Dia juga bilang sama aku kayak gini 'Gue cuma liatin aja sampai mana keberanian lo bersenang-senang malam ini' dan aku merasa tertantang, kamu tau kan kalau aku laki-laki, dan setiap laki-laki kalau di tantang pasti dia melawan" Ujar Jevan menatap wajah Maura yang tak menunjukan ekspresi apa-apa.
"Sayang jangan diam aja dong..." Ujar Jevan agar Maura membuka suaranya.
"Ya udah berarti kamu gak anggap aku ada dan hidup kamu itu hanya di kelilingi oleh gengsi dan tantangan, dan berpisah itu mungkin akhir dari kita" Ujar Maura yang terlihat santai.
__ADS_1
Jevan tak percaya jika Maura akan mengatakan hal itu. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak dapat mengakui kenyataan dan sekarang di saat akan kehilangan seseorang barulah penyesalan itu datang.
"Sayang please maafin aku, aku tahu aku salah..." Ujar Jevan yang memegang tangan Maura.
Maura tersenyum ke arah Jevan kemudian berkata "Aku maafin kamu tapi maaf gak ada kesempatan kedua... aku hanya gak mau merasakan sakit lebih dari ini" Ujar Maura sambil melepaskan tangan Jevan dengan lembut lalu pergi meninggalkan Jevan.
Tapi saat langkahnya mulai jauh Maura membalikan tubuhnya "Ada kalanya seseorang pantas di maafkan tapi tak bisa di beri kesempatan kedua, dan kalanya seseorang di beri kesempatan kedua tapi susah untuk di maafkan, kamu meminta aku memaafkan mu maka aku memaafkan mu dan aku tidak bisa memberi mu kesempatan kedua Jev. " Ujar Maura lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Tqpi aku gak akan pernah menganggap hubungan kita berakhir karena berakhirnya suatu hubungan itu jika seorang lelaki yang memutuskan untuk berakhir, aku akan mendapatkan mu lagi sayang" Ujar Jevan menatap bayangan Maura yang mulai menghilang.
\*\*\*\*
Gadis itu mendekati 2 pasang kekasih yang saling melempar tawa dan saat 2 pasang kekasih menyadari kedatangan gadis itu mereka terdiam.
"Maura.." Zoya terkejut saat melihat Maura berada di hadapannya.
"Gue kira kalian ngerti maksud gue tapi ternyata salah..." Ujar Maura lalu pergi dari sana.
"Maura..." panggilan Acha pun di abaikannya.
Entah kemana Maura akan pergi dengan hatinya yang kacau ini. Setelah berakhir hubungannya dengan Jevan kini ia harus melihat kedua sahabatnya yang tidak sehati dengannya. Lebih baik ia pergi dan menenangkan hatinya sejenak.
"Maura kenapa?"Tanya Yuza pada Zoya yang wajahnya sudah sedih begitu pun dengan Acha.
Mereka tau kesalahan mereka apa sampai Maura berkata demikian. Mereka mengerti apa rencana Maura tapi mereka juga tak bisa berjauhan dengan kekasih mereka yang sekarang. Sebenarnya niat Maura hanya untuk memberi pelajaran pada para lelaki itu menjadi sebuah kebencian karena kedua sahabatnya mengacaukan segalanya. Kepergian Maura pun tak ada yang mengejarnya, mereka tertahan hanya karena Yuza dan Tio meminta mereka untuk tetap tinggal. Mereka tau kalau mereka sahabat yang jahat karena sudah membiarkan sahabatnya pergi tanpa ada yang menemani padahal saat mereka jatuh Maura selalu ada untuk mereka.
Maura menghirup nafasnya dalam-dalam menikmati udara segar di sini. Maura berada di sebuah bukit yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi. Bukit ini adalah perbatasan antara bandung dengan Jakarta. Ia merenungkan dan meredam semua emosi yang bergejolak dalam hatinya, semua kebencian atau penyesalan dan berbagai emosi lainnya yang mencuat kesana kemari di benaknya.
"Gue gak nyangka kalian kayak gitu sama gue, apa karena ini orang tua gue gak bolehin gue keluar dan mengenal dunia yang munafik ini, ternyata dunia yang damai, saling bantu membantu dan penuh cinta itu hanya ada di fiksi dan realitanya mereka itu kejam." Ujar Maura pada angin yang menemaninya di sore yang teduh ini. Sudah 4 jam ia berada di sini dan bosan pun tak pernah menyapanya. Maura kembali mengingat bagaimana perjuangannya untuk kuliah di sini sampai ia bertemu Jevan secara tidak sengaja dan perdebatan yang entah kenapa membuat mereka berdua bisa dekat. Maura juga mengingat kembali apa tujuan ia datang ke bandung.
"Niat gue udah bener dan jalannya aja yang salah..." gumamnya sambil duduk memeluk lututnya di bawah pohon rindang di puncak perbukitan ini.
"Gue ke sini buat nuntut ilmu bukan malah pacaran atau hura-hura sama teman, apa gue juga salah mempercayai Zoya sama Acha sebagai teman gue??" tanyanya pada dirinya sendiri.
"Maafin gue Jev kalau kedatangan gue malah buat lo sakit, gue gak bermaksud kayak gitu sama kalian.. besok gue janji untuk gak ngerepotin kalian lagi..." Maura bersandar ke pohon rindang itu dan menutup matanya yang mulai basah karena air mata.
Tak lama kemudian seseorang datang sambil menutupi tubuh Maura dengan jaket. Orang itu memandang wajah Maura yang masih menangis dalam keadaan tidur. Orang itu mengecup kedua mata Maura dengan hati-hati lalu pipi dan terakhir bibir Maura. Orang itterus menatap lekat wajah indah Maura.
"Maafin aku yang membuat mu merasa seperti itu, kamu gak pernah salah tapi karna kesalahan ku ini yang membuat mu menilai apa yang kamu lakukan dulu salah sayang... aku mencintai mu" Ujar orang itu yang tak lain adalah Jevan.
Satu jam Jevan habiskan untuk memandang wajah kekasihnya ini. Ia melihat bahwa kesalahannya untuk mempermainkan hati princess ciliknya ini benar-benar membuat gadisnya terganggu. Saat melihat bibir Maura yang bergetar karena dingin, Jevan langsung menggendong Maura ke dalam mobilnya lalu mengantar kekasihnya itu pulang menuju base bukan apart Maura. Mungkin besok ia harus berjuang mempertahankan kekasihnya ini.
Hari pun sama kelamnya dengan suasana hati mereka. Hujan mengguyur mereka dengan derasnya air. Jevan melangkah hati-hati agar kekasihnya tidak terganggu dan terbangun..
.
.
.
.
TBC
__ADS_1