Jatuh Hati

Jatuh Hati
23. Calon Mertua


__ADS_3

HAPPY READING :)


****


Malam ini terlihat sangat special untuk kediaman Brasmana. Saat anak tunggalnya mengatakan ingin memperkenalkan pacarnya, sandi yang sebagai ibunya menyuruh pelayannya untuk masak banyak malam ini, apalagi sekarang suaminya sudah berada di sisinya lagi. Semoga ini awal yang baik untuk keluarga ini dan kedepannya selalu baik.


"Maaa paa..." Suara anak tunggalnya itu mengintrupsi mereka untuk segera keluar melihat siapa pilihan anaknya.


"Iya sayang, kalian sudah datang ? ayo kita temui pacar mu..." Ujar lembut sandi pada anaknya.


"Kamu tinggalin dia sendiri di depan ? Dasar kamu!! Kalau dia takut gimana ?" kesal papanya karena kelakuan anaknya.


"Katanya dia udah biasa di tinggal sendiri paaa..." Ujar anaknya itu yang membuat papanya tambah kesal.


"Itu kode bodoh! Papa aja ngerti masa kamu nggak" Ujar papanya yang menggelengkan kepalanya, sandi sebagai istrinya mengusap lembut lengan suaminya agar suaminya bersabar menghadapi putra kesayangan mereka.


"Maura..." panggil Jevan kepada seorang gadis cantik yang hanya menggunakan dress simple dan make up senatural mungkin yang duduk di ruang tamu.


"Iya..." jawab Maura dan menatap kedua orang tua Jevan yang berada di belakang Jevan.


"Kenalin ini orang tua aku dan maa... paa... ini Maura pacar aku..." Ujar Jevan.


Rizal yang mengenali sosok di depannya ini sempat terkejut dan terdiam cukup lama membuat Sandi merasa heran dan penasaran begitupun dengan Jevan sedangkan Maura hanya tersenyum kecil menatap rizal.


"Oooh princess cilik kesayangan ku..." Ujar Rizal dan merentangkan tangan menyuruh Maura untuk memeluknya.


"Ayah rizal.." Maura langsung memeluk ayahnya.


"Ternyata kamu sudah bertemu dengan pangeran mu ya? Dia ini pangeran kuda putih kamu dulu.." Ujar ayah Rizal yang kini menatap wajah Maura.


"Jadi... dia pangeran ku dulu ayah?" Tanya Maura yang di balas anggukan oleh ayahnya itu.


"Princess cilik kayaknya aku pernah mendengar itu..." Ujar Jevan dan tersenyum menatap Maura.


"Heii itu hanya ada di dunia kecil kita dan sudah menghilang saat kita tumbuh besar.." Ujar Maura membuat rizal terkekeh pelan.


"Tapi aku masih menjadi pangeran berkuda putih milik mu kan?" Tanya Jevan sambil mengerucutkan bibirnya.


"Iiih kamu kenapa sih?? Kenapa jadi kayak gini?? Iya kamu masih jadi pangeran berkuda putih milik ku" Ujar Maura.


"Mas aku baru mengingatnya, jadi dia princess ciliknya aulia dan andre kan ??" Tanya Sandi pada suaminya.


"Iya sayang" sahut rizal.


"CIEEEEE yang udah pake panggilan kesayangan lagi" goda Jevan yang mendapatkan tatapan sinis dari mamanya.


"Jevan! Kamu gak boleh ikut makan malam, ayo Maura kita makan dan tinggalin aja pangeran berkuda putih kamu terus cari pangeran berkuda hitam yang baru ya Maura..." Ujar mamanya sambil menarik Maura menuju ruang makan.


Rizal hanya tersenyum karena kebahagiaannya telah kembali seperti sedia kala. Sedangkan Jevan menekuk wajahnya karena ucapan mamanya mengingatkan Jevan pada sosok kecil yang ingin merebut princess cilik miliknya. Dia pangeran berkuda hitam yang juga menjadi sahabatnya kini. Dia adalah Aksa.


"Paaa bilangin mama tuh!!" Ujar Jevan yang seperti anak kecil.

__ADS_1


"Jevan... kamu tuh udah gede, di candain doang ngambek, ayo makan ..." Ujar papanya yang juga berjalan bersama anak tunggalnya yang manja itu.


Setelah makan malam, Maura berbincang-bincang bersama ayah Rizalnya dan juga bunda Sandi. Yaa! Maura sekarang memanggil sandi dengan panggilan bunda dan itu sangat menyenangkan hati Sandi yang sangat ingin anak perempuan.


"Maaa paaa kayaknya Maura harus pulang, takut kemalaman" Ujar Jevan mengingatkan orang tuanya karena melihat wajah lelah Maura.


"Kamu kenapa sih!! Kan mama masih ingin ngobrol bareng Maura!" kesal mamanya.


"Besok dia ada jadwal buat ngampus maa, kenapa mama larang-larang sih kan dia punya aku" Ujar Jevan yang tak kalah kesal dengan mamanya.


"Punya kamu? Kapan kamu minta Maura sama orang tuanya haaa!!!" Anak dan ibu yang satu ini kalau sudah begini akan tiada akhirnya dan Rizal lah yang akan menjadi wasit di ring tinju Jevan dan sandi.


"Sayang... Maura kayaknya sudah lelah, benar kata Jevan lebih baik dia pulang, besok-besok dia bisa ke sini lagi" Ujar Rizal memberi pengertian kepada istrinya.


"Kalau gitu Maura tinggal di sini aja" Ujar Sandi yang masih ingin bersama Maura, putri barunya.


"Sayang ini belum waktunya, sabar ya sampai mereka sudah wisuda" Ujar Rizal lagi.


"Aku gak mau nunggu Maura sampai wisuda cukup sampai Jevan wisuda saja" Ujar Sandi yang tak bisa di ganggu gugat lagi.


"Iya deh maa terserah mama, aku mau pamit dulu bawa Maura pulang, paa maa aku pergi dulu" Ujar Jevan yang menarik Maura pulang.


"Tunggu dulu" Maura melepaskan tangannya yang di tarik Jevan.


"Ayah Maura pulang dulu yaa... bunda Maura pulang yaa" Ujar Maura sambil menyalami satu-satu orang tua Jevan.


"Hati-hati ya nak..." Ujar sandi dan rizal kompak.


"Cieeeee" lagi-lagi Jevan menggoda ke dua orang tuanya.


"Gak papa maa.. aku tidur di kamar Maura aja hahaha" sahut Jevan dan meledak lah tawanya saat mamanya marah-marah.


"Jevan! Kualat nanti kamunya, nakal banget sih jadi anak" Ujar Maura membuat Jevan menghentikan tawanya dan membawa Maura ke dalam mobil sport merahnya.


"Iya sayang, mudah-mudahan kita kayak mereka yang sekarang ya" Ujar Jevan membuat Maura merona.


Maura memilih diam saat di perjalanan takut kalau dia akan salah tingkah dan terlihat bodoh di depan Jevan, begitupun dengan Jevan yang tak tau mau mulai percakapan dari mana dan hal apa.


"Makasih ya" Ujar Maura yang angkat bicara saat mobil Jevan sudah berhenti di parkiran.


"Untuk ?"


"Karena kamu udah bawa aku ke rumah kamu dan ngenalin aku ke orang tua kamu"


"Iya sama-sama tapi..."


"Tapi apa?"


"Tapi jangan pernah berpaling ke pangeran kuda hitam seperti kata mama ya sayang..."


"Enggak akan karena separuh jiwa ku telah bersama kamu..."

__ADS_1


"Makin pinter gombalnya, siapa sih yang ngajarin hmm" Jevan mencubit pipi Maura gemas.


"Kamu lah.." Ujar Maura sambil tertawa pelan.


"Ya udah masuk yuk" Ujar Jevan yang ikut turun dari mobil.


"Lho kamu gak pulang?" Tanya Maura bingung.


"Kan aku udah bilang mau tidur sama kamu" Ujar Jevan dengan entengnya.


"Eh eh kok gitu sih, kata aku cuma bercanda aja tadi.. Jevan jangan yang aneh-aneh deh" Ujar Maura.


"Aneh-aneh??, lagian kita juga pernah tidur bareng di kamar aku" Ujar Jevan asal.


"Ya tapi kan..." Maura tak dapat mengucapkan apa pun lagi.


"Hahaha tampang pasrah kamu lucu banget, aku cuma bercanda sayang..." Ujar Jevan sambil mengelus puncak kepala Maura.


Saat sudah sampai di depan apart Maura, Jevan segera pamit untuk pulang.


"Ya udah kamu baik-baik ya di sini, aku pulang dulu.." Ujar Jevan dan tak lama pintu apart kekasihnya ini terbuka dan munculah mahluk gaib, eh ? maksudnya sesosok yang menghentikan mereka tadi.


"Marcell ? lo belum pulang??" Tanya Jevan yang menatap Marcell yang sepertinya baru bangun tidurnya.


"Belum tadi gue ke tiduran, gue kayaknya tidur di base aja deh..." Ujar Marcell.


"Sama deh, lo bawa mobil ?" Tanya Jevan.


"Enggak, tadi gue bareng Yuza ke sini tapi dia udah pulang." Ujar Marcell.


"Ya udah bareng aja" Ujar Jevan.


"Sayang aku pulang dulu ya..." Jevan mengecup kening Maura.


"Hati-hati ya.. kakak juga jangan lupa makan" Ujar Maura sambil tersenyum karena perlakuan manis pacarnya dan megalihkan ke kakaknya.


"iya adikku sayang, kakak pergi dulu yaa udah ngantuk nih" Ujar Marcell sambil mengacak-acak rambut adiknya ini.


"Masuk gih sana" Ujar Jevan dan Maura segera masuk.


"Hati-hati ya, aku masuk duluan, bye" Maura segera masuk ke dalam apart nya.


"Bye sayang" sekali lagi perlakuan manis Jevan membuat hati Maura meleleh dan Maura segera lari ke dalam kamarnya untuk guling-guling dan jingkrak-jingkrak sendiri dan itu namanya salting. Mungkin cinta pertamanya yang dari kecil sampai sekarang sangat manis terasa.


Maura sampai tak mampu membendung rasa bahagianya lagi di hatinya. Rasanya ingin meledak bagai remaja yang baru jatuh cinta. Mungkin kamu juga merasakan hal yang sama jika kamu sedang jatuh cinta. Kadang cinta dapat membuat kita menjadi bodoh saat merasakannya.


.


.


.

__ADS_1


.


TBC


__ADS_2