Jatuh Hati

Jatuh Hati
18. Rasa Ini


__ADS_3

HAPPY READING :D


^^^


^^^^^


^^^^^^^ :P


Tok...tok...tok..


suara ketukan itu menganggu acara Jevan dan dengan berat hati Jevan menyudahinya demi membuka pintu yang sangat mengganggu itu.


Maura mendorong tubuh Jevan yang masih ingin mendekapnya dan akhirnya Maura lah yang membuka kan pintu itu.


"Eh kak Aksa ? ada apa kak ?" Tanya Maura saat medapati Aksa lah yang mengetuk pintunya.


Aksa memperhatikan lipstick yang Maura pakai sudah berantakan. Aksa semakin terkejut saat Jevan juga keluar dengan bekas lipstick juga ada di bibirnya.


"Kalian abis ngapain ???" Tanya Aksa.


"Tau tuh si Jevan !! kak bawa aku pergi" rengek Maura pada Aksa.


"Eh enak aja? Kamu udah jadi pacar aku jadi harusnya sama aku dan lo sa... lo gak berhak nanya gue abis ngapain, lebih baik lo tanya si Marcell apa maksudnya ngomong kayak gitu!!" Ujar Jevan dan kembali menarik Maura masuk dan menutup pintunya.


Jevan tersenyum licik saat mereka kembali berada di kamarnya hanya berdua tapi lagi-lagi Jevan merasa terganggu karena ada lagi orang yang mengetuk pintunya.


Tok... Tok... Tok...


"Apaan lagi sih!!" bentak Jevan kepada dua wanita cantik di depan pintunya.


"Ma...maaf Jev, gue cuma mau cari Maura..." Ujar zoya dan saat itu juga Maura keluar dan memukul lengan Jevan pelan.


"Apaan sih ! main bentak temen aku aja..." Ujar Maura sedangkan zoya dan acha mengerutkan keningnya karena bingung dan mereka melewatkan hal-hal penting yang terjadi pada sahabatnya yang satu ini.


"Ya maaf sweatheart..." Ujar Jevan lembut.


"Lain kali gak boleh lagi..." Ujar Maura sambil tersenyum.


"Apa cha? Zoya ?" Ujar Maura yang kini sudah beralih ke sahabat-sahabatnya.


"Pulang yuk, partynya udah selesai..." Ujar zoya sambil melirik Jevan.


"Oh iya ya, mmm Jevan ak–"


"STOP panggil aku Jevan, mulai sekarang panggil aku sayang atau aku –"


"Iya iya bawel... aku pulang dulu ya..." Ujar Maura tanpa kata sayang seperti yang di minta Jevan.


"Kamu lagi ngomong sama siapa??" goda Jevan.


"Sama kamu lah" Ujar Maura.


"Terus coba ulang lagi..." Ujar Jevan dan membuat Maura mengerti maksud Jevan.


"Sayang aku pulang dulu ya..." Ujar Maura dengan lancar walau jantungnya tak karuan.

__ADS_1


"Iya hati-hati ya sweatheart" Ujar Jevan sambil mengecup kening Maura dan setelah itu Maura beranjak pergi lalu berhenti lagi dan berbalik ke arah Jevan.


"Kenapa ?" Tanya Jevan heran.


"Ada yang tinggal..." Ujar Maura.


"Wpa ?" Tanya Jevan namun Maura langsung mencium pipi kanan Jevan lalu segera pergi dengan langkah cepat karena malu apalagi kedua sahabatnya memperhatikan mereka sejak tadi.


"Haha cewek yang unik, makin cinta gue sama lo..." Ujar Jevan setelah Maura dan sahabat-sahabatnya menghilang dari tembok rumahnya.


***


"Woi udah berani ya loo... cium-cium Jevan segala kalau dia cuma mainin lo gimana ?" Ujar acha dan Maura hanya membalasnya dengan senyuman.


"Jadi kalian pikir gue serius gitu ? kalau dia bisa main-main kenapa gue nggak ?!?" Ujar Maura dan tersenyum penuh makna sambil fokus ke jalan raya karena sedang menyetir.


"Gila lo! Berani banget lo ambil langkah kayak gitu! Sumpah lo keren Maura, gue bangga punya temen kayak lo..." Ujar acha lagi sedangkan zoya hanya tersenyum seadanya dan itu membuat Maura curiga, Maura mencium hal yang tak beres pada zoya.


"Lo kenapa ya ?" Tanya Maura pada zoya.


"Lo pacaran sama Jevan ?" Tanya zoya walau ia sedikit gelisah.


"Iya, emang kenapa ?" Tanya Maura.


Sedangkan acha menatap zoya dengan ekspresi terkejut.


"Jangan bilang lo cemburu!!" tuduh acha karena merasa aneh dengan sikap zoya.


"Gue gak cemburu, cuma gue takut aja lo cuma di manfaatin sama Jevan and the geng buat balas dendam sama lo dan juga kita..." Ujar zoya sedikit berdusta.


"Gue harap Jevan gak main-main sama lo" doa zoya dalam hatinya.


Mereka terus berbincang-bincang selama di perjalanan, entah mengenai Yuza dengan zoya atau Tio dengan acha atau mungkin tentang keanehan Marcell. Sikap Marcell masih membuat tanda Tanya besar di benak Maura namun Maura memilih untuk mengabaikannya saja.




"Jujur sama gue, apa niat lo bilang Maura pacar lo?!?" bentak Marcell kepada Jevan yang sedang bersantai menikmati angin malamnya.



"Apaan? Dateng-dateng marah-marah gak jelas! Terserah kek niat gue apa sama dia dan itu bukan urusan lo!!!" Ujar Jevan yang kesal dengan Marcell karena dari tadi Marcell terus penasaran.



Marcell menatap tajam Jevan yang hanya tersenyum menanggapi ucapannya. Marcell pun kembali bersikap santai saat terlintas di fikirannya ancaman apa yang pas agar Jevan mau melepaskan Maura.



"Mulai sekarang Maura urusan gue dan kalau niat lo jahat sama dia–"



"Apa ? lo mau ngancem gue! Emangnya lo siapa dia sampai urusan Maura jadi urusan lo!" kini Jevan yang menjadi tersulut emosi.

__ADS_1



"Gue ? kalau gue jawab jujur emangnya lo percaya dan apa lo bakal ngelepas Maura??" Tanya Marcell yang mulai tertarik untuk bermain-bermain dengan Jevan.



"Ih masalah ngelepas Maura itu tergantung ! tergantung lo siapa Maura!" Jevan berusaha untuk tetap tenang walau di dalam dadanya ia bergemuruh kencang.



"Gue tunangan Maura" Ujar Marcell dan tersenyum menatap wajah terkejut Jevan.



"Hahaha! Lo mau bohongin gue?!? Maura aja baru kenal sama lo pas party kemarin" Jevan tertawa karena tak habis fikir dengan akal-akalan sahabatnya ini.



"Gue gak bohong! Gue di jodohin sama ortu gue pas gue lagi di jerman makanya gue pergi dan masalah orang-orang yang ngejar gue kemarin cuma ancaman dari orang tua gue agar gue ke jerman untuk menuruti rencana dan pilihan mereka" Ujar Marcell yang tampak serius.



"Lo bohong! Pasti lo bohong!!" Ujar Jevan yang masih tak percaya.



"Kenapa ? lo gak terima ? tapi menurut kabar yang gue tahu lo cuma mau jadiin Maura target lo dan di sini gue jadi tameng buat Maura walaupun dia belum tahu siapa gue sebenarnya." Ujar Marcell dan Jevan tersenyum sinis.



"Terserah lo! Tapi hebat juga lo ya, cepet tau maksud gue apa ke Maura tapi tunangan lo bodoh banget! Dengan mudahnya dia terima gue jadi pacarnya, asal lo tau! Matanya berbinar pas gue nembak dia" Ujar Jevan yang sengaja memancing amarah Marcell tapi yang ia dapati hanya senyuman Marcell dan wajah tenangnya.



"Kayaknya lo salah nilai tunangan gue, mungkin besok lo akan melihat siapa dia sebenarnya" Ujar Marcell dan berlalu pergi meninggalkan Jevan yang sedang mencerna setiap kalimat yang di ucapkan Marcell.



"Kenapa gue ngerasa emosi ya!! Gue kan gak pernah bener-bener suka sama dia dan gue Cuma pengen dia di sisi gue doang! Mungkin karena gue ingin dia jadi babu gue doang!" Jevan menggumam tak jelas saat di tinggalkan Marcell.



.



.



.



TBC

__ADS_1


__ADS_2