
"Kamu nggak mau tanya-tanya aku lagi? Kan aku tokoh dari cerita kamu.”
Keenan mengambil tempat di hadapanku. Tangannya sempat menaruh jus mangga kemasan untukku seraya berusaha membaca coretan pensil yang sengaja kutulis tidak rapi.
“Belum. Masih cukup kok imajinasiku dari jawabanmu yang dulu itu,” jawabku sambil mengangkat kepala, menatapnya. Posisinya yang sedekat ini tiba-tiba mengingatkanku pada kejadian dua tahun lalu. Memori yang sukses meloloskan seulas senyum tipis di bibirku.
Dua tahun lalu, semua orang tahu aku suka menulis. Semua orang tahu aku punya karya yang sudah dibukukan. Dan aku sendiri tahu kalau aku benar-benar mencintai dunia tulis lebih dari apa pun. Dulu, saat semua orang sibuk bermain atau mengobrol dengan yang lain, aku biasanya malah duduk seorang diri di bangku pojok belakang. Sekali-dua kali, kadang Keenan tiba-tiba datang dan duduk di mejaku sambil tangannya bermain bola basket. Sejenak mengabaikan teman yang lain dan malah bercakap denganku. Aku masih ingat sekali, dia sering menanyakan apa yang sedang aku tulis.
Mungkin karena hal itu, aku mulai punya rasa kagum padanya. Sifat-sifat baiknya juga merupakan alasan lainnya. Keenan itu tipe orang yang rela berbalik arah demi menolong seorang nenek menyeberang jalan. Dia bahkan rela terlambat acara super penting demi membantu seorang teman yang ban motornya bocor. Semua kebaikannya benar-benar menginspirasiku untuk menulis sebuah cerita: andai saja aku jadi orang spesial dalam hidupnya.
Saking nekatnya, aku memberanikan diri meminta kesediaannya menjadi tokohku. Pun memintanya bersedia memberiku sedikit waktu untuk melakukan tanya jawab seputar hal-hal kecil—dan beberapa hal konyol—tentangnya. Aku bahkan menawarkan diriku menjadi pendengar nomor satunya kapan dan dimana pun ia butuh. Berusaha membuat diriku terlihat meski sampai sekarang Keenan tak pernah datang padaku menyetor keluh kesah atau bahagianya.
Sampai aku sadar bahwa aku sedang memaksakan diri, aku berhenti. Berhenti bertanya tentang dirinya, perasaannya, atau apa pun itu. Berhenti dan menyerah pada akhir yang sudah kutahu dengan baik.
“Bagaimana kamu bisa mengabaikan aku yang ada di depanmu? Hei, Kheira,” panggil Keenan sambil menjentikkan dua jarinya di depan mukaku. Segera menarikku dari alam bawah sadar.
“Maaf. Aku tiba-tiba harus berpikir apa yang harus dilakukan si tokoh perempuan,” sahutku asal. Rasanya aku jadi semakin pintar berbohong. “Kamu tadi bilang apa?”
“Kenapa kamu suka nulis?” ulangnya sabar.
Sejenak berpikir, mulutku terbuka, “Ini sarana refreshing buatku. Aku bisa jadi apa pun dan siapa pun di tulisanku. Nggak ada yang bisa keberatan kalau di tulisanku aku menikah dengan semua member Super Junior, hehe. Aku suka berimajinasi, ini menyenangkan,” kataku panjang lebar. Beberapa kali kuselipkan tawa saat kurasa jawabanku agak tak masuk akal.
“Berat ya ternyata,” komentarnya sok paham, “kalau bisa jadi apa pun, kenapa memilihku jadi karakter ceritamu? Aku sebenarnya penasaran dari dulu.”
Baru saja tanganku akan meraih jus mangga, niatku berubah. Otakku berputar, bingung apakah pertanyaannya harus kujawab dengan jujur atau tidak.
“Eh, bagaimana hubunganmu dengan Dinda? Apa masih baik-baik saja?” jawabku balik bertanya. Mau dipikir berapa kali pun rasanya aku tak sanggup kalau harus jujur padanya. Lagipula aku sudah menyerah sejak pertandingan basket terakhirnya. Percuma juga kuungkit soal rasaku padanya.
“Baik kok.” Keenan menyesap es tehnya, “aku dan dia sama-sama baik dan sehat.”
__ADS_1
“Bagus—”
“Ngomong-ngomong, kenapa sekretariat selalu sepi waktu aku datang?” tanyanya penasaran, memotong kalimatku.
“Kamu selalu terlambat. Yang lain sedang menghitung total donasi yang kita dapat buat acara besok. Aku izin menyelesaikan satu bab ini, hehe.”
Kepalanya mengangguk. Cepat ia habiskan segelas es teh yang ia bawa. Berniat menyusul yang lain karena mungkin saja ia sedang merasa canggung. Aku juga bersyukur karena—sekali lagi—bisa menghindari situasi semacam itu.
***
Hari ini semua anggota SLSY sibuk. Acara amal yang semula akan diadakan di halaman kampus mendadak pindah ke Panti Asuhan Asih. Para senior sibuk menghitung ulang pengeluaran yang mungkin diperlukan dan besarnya donasi yang akan disumbangkan. Sementara aku diminta mengawasi proses pengambilan barang yang sudah pasti diberikan dari ruang penyimpanan ke mobil pick up yang akan mengantarnya ke panti asuhan.
Setelah dua kurir berangkat ke tempat acara, kuhitung ulang barang-barang yang tersisa lalu mencatatnya ke buku catatan yang selalu kubawa sejak dua tahun lalu. Rasa-rasanya itu adalah sebuah barang yang wajib kubawa kemana pun aku pergi. Kapan pun aku ingin menulis, buku itu akan selalu setia menjadi wadahnya, termasuk saat pertandingan terakhir Keenan. Ah, bahkan tulisan hari itu, yang kutulis khusus untuk Keenan, sudah berubah jadi sobekan yang siap dikirim. Meski nyatanya nyaliku tak pernah cukup untuk memberikan surat itu padanya. Surat yang berisi pernyataan menyerahku padanya. Menyerah tepat pada saat aku sadar bahwa aku benar mencintainya.
Selesai memastikan jumlah barang, aku keluar. Sepertinya hari ini aku tidak akan pulang ke rumah karena menyiapkan acara esok. Tidak masalah buatku. Toh, aku memang lebih suka suasana di sini daripada di rumah. Setidaknya aku akan capek karena bekerja, bukan jengah mendengar teriakan.
“Ra, habis ini kamu sama Keenan tolong ke katering buat pesen semua yang ada di daftar ini, ya? Pihak kateringnya nggak ngerti dijelasin lewat telepon, minta orang dari kita datang langsung,” pinta Kak Lintang sambil menyerahkan selembar kertas yang berisi pesanan. Tiga-empat kalimat ia tambahkan untuk memperjelas rinciannya.
“Enggak bisa, Ra. Kamu harus ambil pesanan nasi kotak buat makan malam kita hari ini juga soalnya. Lagian Keenan itu orang paling gabut setelah kamu. Oke, ya?” sanggah Kak Lintang, “aku balik ke sana lagi, ya. Kamu berani kan nyuruh Keenan buat nganter kamu? Apa sekalian aku aja yang suruh?”
Buru-buru kepalaku menggeleng. Lebih baik aku tidak menambah pekerjaan Kak Lintang. Kak Lintang pasti sudah pusing memikirkan ulang susunan acara besok.
Selepas memberikan sejumlah uang untuk membayar pesanan, Kak Lintang pergi. Kakiku melangkah pelan seraya otakku menyusun kalimat untuk disampaikan ke Keenan. Semoga dia bersikap biasa saja padaku.
“Nan,” panggilku sambil menepuk pundaknya pelan, meminta sedikit fokusnya dari kegiatan mengecat properti, “Kak Lintang minta kita ke katering buat ngurus pesanan besok sama ambil makan malam hari ini. Bisa? Tapi kalau kamu sibuk aku bisa naik ojek online aja buat pulangnya.”
“Ngapain naik ojek online? Aku anter aja. Kapan?” tanyanya.
Aku menghembuskan napas lega, bersyukur dia bisa cepat melupakan sesuatu. “Sekarang.”
__ADS_1
“Sekarang?” Dahinya mengernyit. Pandangnya beralih antara kuas yang dipegangnya dan aku. “Habis satu properti ini selesai aku cat, ya? Kasihan Sekar kalau warnanya nggak rata karena ada yang kering duluan. Lima menit paling lama deh.”
Aku mengangguk, “Aku tunggu di luar, ya.”
Lima menit menunggunya bisa kugunakan untuk menulis. Lima menit menunggunya bisa kugunakan untuk mengingat momen pertamaku dibonceng motor olehnya. Momen pertama sekaligus satu-satunya.
Dua tahun lalu, ketika Hari Kartini 2013, seluruh warga SMA Nararota memakai pakaian adat daerah. Hal ini biasa dilakukan selain untuk memperingati jasa Ibu R.A. Kartini juga melestarikan kebudayaan bangsa.
Sepulang sekolah, kelasku merencanakan untuk melakukan foto kelas. Rencana ini tercetus mendadak. Aku dan Riris—salah satu teman kelasku—sama sekali tidak tahu. Seluruhnya, kecuali aku dan Riris, bahkan sudah berangkat ke studio foto. Sampai ada yang sadar kalau Riris tidak ada, mereka segera menelepon Riris yang kebetulan sedang bersamaku.
Saat itu mereka mengabarkan rencana mereka dan berkata akan menunggu sampai Riris datang. Dua orang bahkan kembali untuk menjemput Riris dan aku. Beruntung sekali aku hari itu.
Dua orang yang kembali adalah Keenan dan Abriansa, sudah kutebak salah satunya pasti Keenan. Karena aku sadar bukan aku yang diprioritaskan, kubiarkan Riris memilih tumpangan. Pikirku setengah menduga bahwa Riris akan memilih Abriansa karena motor matiknya jelas lebih ramah dengan kain jarik Riris yang sempit dibanding motor cowok milik Keenan. Benar saja, akhirnya aku harus membonceng Keenan yang bisa kubilang cukup mendebarkan.
Bagaimana tidak mendebarkan? Sepanjang jalan mereka mengebut. Aku yang duduk menyamping di atas motor begituan jelas merasa ketar-ketir. Hingga tanpa sadar tangan kiriku berpegangan kuat pada besi belakang jok dan tangan kananku bertumpu pada punggungnya yang tertutup jas beskap.
Begitu sampai studio foto, ternyata kami masih harus menunggu lama sekali. Aku bahkan sempat diam-diam mengambil fotonya yang suntuk menunggu. Penungguan sepanjang abad itu ternyata tidak sebanding dengan pengambilan foto kami yang cuma butuh sepuluh sampai lima belas menit.
Jam setengah tujuh malam, kami selesai. Keenan memberiku tumpangan lagi karena rumah yang searah dan tidak ada orang rumah yang bisa menjemputku. Tidak seperti perjalanan berangkat, ia tak lagi mengebut. Ditambah rute jalan yang berbeda, yang ternyata ia buta arah, jadilah aku yang menuntunnya. Tenangnya malam membuatku menikmati sisa perjalanan itu. Ia bahkan sempat melucu dengan serius melihat telapak tangan kirinya saat kubilang nyawaku ada di genggaman tangannya.
Hal terakhir dari hari paling berkesan itu adalah ketika ia ikut melambaikan tangan kanannya di depan rumahku sambil berkata, “Dadah…,” sebagai tanda perpisahan, meski aku tahu keesokan paginya kami akan kembali biasa saja.
“Yuk, Ra! Aku udah selesai, nih.” Suara Keenan tiba-tiba masuk, menarik kesadaranku kembali ke permukaan. Kulihat tangannya masih kotor karena cat yang memang sulit dibersihkan.
“Ayo,” sahutku akhirnya setelah membenahi catatanku.
Sekali lagi aku bersyukur. Hari ini ingatan berbonceng motor dengannya akan segera kuperbarui.
***
__ADS_1