Jatuh Hati

Jatuh Hati
5 : Yang Hilang dan Menyerah


__ADS_3

Seperti dugaanku, hidupku baik-baik saja setelah Ayah pergi. Begitu pun bagi Ibu. Perlahan-lahan Ibu mulai bangkit. Hari-harinya tidak lagi dipenuhi tangisan seperti kemarin. Ibu bahkan mulai menjalankan usaha kue keringnya. Membuatnya jadi lebih besar dan berkembang, tidak terbatas seperti ketika ada Ayah dulu. Meski akhirnya aku jadi lebih rajin pulang untuk menemani Ibu sampai kurasa ia bisa sungguh-sungguh menerima perceraiannya dengan Ayah.


Meski waktuku kini lebih banyak di rumah, aku masih tetap melakukan kegiatan menulisku. Buku catatanku tak pernah ketinggalan walau aku membantu Ibu membuat kue kering pesanan tetangga. Sama seperti Keenan, Ibu juga suka penasaran dengan apa yang kutulis lalu menyerah karena tulisanku terlalu kecil dan tipis.


Sama halnya dengan Keenan dan Putri, aku pun mulai terbuka pada Ibu. Kuceritakan hal apa saja tentang diriku. Sebisa mungkin aku tidak akan berpura-pura atau abai terhadapnya. Ibu adalah satu-satunya keluarga bagiku dan aku tidak bisa menyia-nyiakannya. Apa-apa yang terjadi padaku, kurasa Ibu juga harus tahu, termasuk perasaanku untuk Keenan dulu.


“Cara terbaik mendekati laki-laki adalah dengan menjadi temannya. Tidak ada pertemanan yang benar-benar serius antara laki-laki dan perempuan. Salah satu di antaranya pasti akan jatuh cinta.”


Itu tiga kalimat Ibu saat kukatakan bahwa aku sudah cukup puas dengan berteman. Setelahnya Ibu malah bercerita soal kisah teman kuliahnya yang menikah dengan sahabatnya sendiri. Seolah sedang memberiku semangat: mungkin saja aku bisa berakhir baik dengan Keenan.


Namun, tetap saja aku menggeleng. Kesempatan itu tidak akan pernah ada. Keenan tipe orang yang setia. Jadi, ia tak mungkin meninggalkan Dinda tanpa alasan jelas hanya demi aku. Sekali lagi kuceritakan—pada Ibu dan diriku sendiri—kalau aku sudah menyerah soal perasaanku saat pertandingan basket terakhirnya semasa SMA. Aku baru akan menunjukkan surat spesial yang kutulis untuk Keenan di akhir pertandingan itu, sampai kusadari bahwa surat itu hilang dari selipan buku catatanku.


Tidak, kepalaku menggeleng ragu. Tidak mungkin surat itu hilang. Buru-buru aku pamit ke Ibu untuk mencari surat itu ke kamar, barangkali terjatuh di sana. Walaupun sudah menyerah, tapi aku tidak akan melupakan kenangan itu. Surat itu adalah satu-satunya ingatan paling baikku tentangnya, sudah menjadi salah satu benda paling berhargaku. Aku tidak bisa kehilangan surat itu begitu saja. Suatu hari nanti aku harus memberikan surat itu pada Keenan. Itu janjiku pada perasaanku sendiri.


Otakku berputar, mengingat kenangan terakhirku memegang atau memainkan surat itu. Dua minggu ini sepertinya aku tidak membacanya sama sekali. Aku dan Ibu sibuk beradaptasi dengan perubahan suasana rumah. Tiga minggu ini sepertinya—tunggu. Tepat tiga minggu yang lalu, aku sepertinya membukanya sekilas di ruang penyimpanan barang-barang donasi milik SLSY.


“Benar,” kataku dalam hati. Mataku mulai bersinar dalam harapan. Namun, tidak mungkin aku bisa mencarinya sekarang. Sekarang sudah malam dan Ibu tidak akan mengizinkanku untuk keluar dengan alasan konyol seperti itu. Baiklah, mungkin Ibu mengerti, tapi rasanya tidak pantas bagi seorang gadis keluar selarut ini.


Kuputuskan untuk mencarinya esok pagi-pagi sekali. Aku akan minta izin Ibu untuk menyusulnya ke pengadilan setelah mendapatkan surat itu. Aku yakin sekali kalau aku bisa menemukannya dengan mudah mengingat tiga minggu ini—tepatnya setelah acara amal di panti asuhan—tak ada banyak orang yang keluar-masuk ruang penyimpanan.


Baiklah. Sekarang aku bisa sedikit tenang. Aku akan tidur lebih cepat hari ini agar bisa bangun lebih awal. Rencana paling bagus yang bisa kulakukan sekarang.


 


Esoknya, pukul 06.00 WIB aku sudah ada di Sekretariat SLSY. Ibu mengizinkanku pergi setelah mendengar alasanku yang sebenarnya. Ia bahkan mengizinkanku tidak mengikuti persidangan perceraiannya dan Ayah walau langsung kutolak karena niatku adalah tetap mendampinginya.


Sampai di sana, ternyata pintu ruang penyimpanan terkunci. Bodoh sekali aku karena sebelumnya tidak menanyakan ke Kak Lintang atau Kak David dimana kuncinya disimpan. Hingga tiga puluh menit aku menunggu jawaban keduanya, barulah aku tahu bahwa Keenan-lah yang membawa.


Dua puluh menit selanjutnya kuhabiskan untuk menghubungi Keenan. Benar-benar perjuangan keras untuk membuatnya mengangkat telepon dariku. Itu pun hanya sebentar—hanya sempat menyampaikan apa maksudku—karena menit selanjutnya ponsel Keenan kembali tidak aktif, entah karena apa.


Tidak ada yang bisa kulakukan selain menunggunya. Aku juga tidak bisa menghubunginya lagi karena selain nomornya tidak aktif, baterai ponselku juga sudah sekarat. Aku lupa mengisinya tadi malam sebab terlalu panik mencari selembar kertas itu. Ah. Seraya menunggu Keenan datang, aku akan mencari charger yang biasanya ditinggal anak-anak SLSY di sekretariat. Setengah  jam sudah cukup untuk menghidupkan ponselku lagi, bila memang ada charger yang tertinggal.


Benar saja, aku menemukan charger putih bertuliskan ‘star’, yang menurut pendapatku adalah milik Kak Lintang. Santai, kutancapkan kabel ke connector ponsel. Berhasil, ponselku mulai terisi. Sementara mengisi baterai, tanganku mengambil buku catatan dari dalam totebag biru. Membuka lagi halamannya satu per satu untuk memastikan sobekan surat itu benar-benar tak ada di sana.


Dua puluh lima menit sejak aku memindai buku, Keenan datang. Mukanya setengah malas saat menyerahkan kunci ruang penyimpanan. Sekali lagi bertanya buat apa aku butuh kunci itu sambil tangannya menancapkan colokan charger di sebelah charger ponselku. Ah, rupanya ponselnya sama-sama sekarat. Pantas saja nomornya jadi tidak aktif.


Lantas aku pergi, meninggalkan Keenan yang mulai bermain ponselnya. Aku memang sengaja menolak tawarannya yang ingin membantuku. Tentu saja, kalau ia yang menemukan surat itu dan membacanya lebih dulu, maka hancurlah segala pandangan baiknya terhadapku. Atau mungkin ia malah menganggapku memanfaatkan masalah pertengkaran orang tua kemarin untuk bisa dekat dengannya. Tidak, aku tidak mau dianggap serendah itu, walau sebagian kecil otakku memang berpikir begitu.


Begitu membuka pintu, kuganjal pintunya dengan batu bata kecil agar pintunya tidak tertutup dan terkunci sendiri—karena tipe pintu yang tidak akan terbuka dari dalam. Kuncinya sengaja kubiarkan tergantung di lubangnya agar aku tidak perlu kerepotan membawanya ke sana kemari. Dari ujung ke ujung, kutelusuri satu per satu kardus yang berjajar rapi. Memeriksa siapa tahu ada selembar kertas yang terselip di dalam atau di antaranya.


Ruang penyimpanan ini tidak terlalu besar, tetapi isinya cukup padat. Ada sekitar seratus kilogram gula pasir, tiga kuintal beras, dua sampai tiga puluh liter minyak goreng dan bertumpuk-tumpuk kardus lainnya yang berisi pakaian bekas layak pakai. Aku menyesal telah meremehkan pencarian selembar kertas yang ternyata tidak mudah ini. Kini aku ragu apakah aku akan bisa menemukan selembar kertas itu.


Aku sudah mulai bosan mencari ketika jam tanganku menunjukkan pukul setengah sepuluh pagi. Itu artinya aku sudah menghabiskan satu jam tanpa hasil di sini. Keenan mungkin sudah pulang atau tertidur karena aku tak kunjung kembali.


“Ra, masih di sini?”


Baru saja kupikirkan, laki-laki itu sudah muncul. Awalnya ia hanya berdiri di pintu, melihat aku yang berjongkok di lantai sambil tanganku meraba isi kardus dan rongga antarkardus. Kupikir pertanyaannya konyol juga. Jelas-jelas ia masih melihatku di sini, tapi tetap ia tanyakan juga.


“Kamu cari apa sih? Udah sejam loh kamu ubek-ubek barang di sini. Aku bisa bantu apa?” tanyanya sambil melangkah santai. Saking santainya sampai-sampai kakinya tidak sengaja tersandung batu bata yang kupakai untuk mengganjal pintu hingga badannya jatuh berdebum di lantai dan tidak sempat menahan pintu yang tertutup. “Aw! Sakit banget ternyata,” ringisnya.


Sebentar aku tertawa, baru menolongnya. Meremehkan betapa berhati-hatinya dia dalam berjalan, memintanya benar-benar bangun dari tidur. Keenan hanya bisa mencibir pelan, tidak berdaya untuk membalas gurauanku.


“Kayaknya aku memang sedang sial hari ini. Bangun-bangun disuruh langsung ke sekretariat, nungguin sejam, dan kesandung ganjal pintu sampai jatuh. Apalagi—”


Tiba-tiba saja tawaku pudar. Aku dan Keenan otomatis saling berpandangan, mata kami melebar, menyadari sesuatu.


“Pintu!” kata kami bersamaan. Seketika kami menyongsong pintu, menarik dan mendorongnya sekuat tenaga. Usaha apa pun kami lakukan untuk membuatnya terbuka. Namun, nihil. Pintu itu tak bergerak barang sedikit pun.

__ADS_1


“Mana HP-mu? Kita bisa minta tolong Putri atau siapa pun yang tinggal di dekat sini. Mereka pasti bisa menolong kita,” usulku mencoba tenang.


Tetapi Keenan malah menggeleng, “Masih dicharge bareng HP-mu di sana.”


Bibirku mendesah tanpa sadar. Kakiku juga berjalan bolak-balik untuk memikirkan cara lain yang masuk akal. Tujuan awalku masuk ke ruangan ini hilang sudah. Aku mungkin tidak akan mendapatkan surat itu dan kehilangan kesempatan untuk menemani Ibu di pengadilan.


Sial. Jangankan mendampingi Ibu, menghubunginya saja tidak bisa kulakukan.


“Ra, tenang dong. Kita bisa pikirin bareng-bareng. Pasti ada jalan keluarnya,” bujuk Keenan pelan.


“Mana bisa aku tenang? Dua jam lagi aku seharusnya ada di pengadilan, menemani Ibu. Tapi aku malah terjebak di sini tanpa alat apa pun yang bisa kita manfaatin,” sangkalku cepat. Kalau tidak kutahan, bisa-bisa aku sudah menyumpahi Keenan karena menghancurkan rencanaku.


“Kan ada aku juga di sini. Aku janji kita bakal bisa keluar cepet. Maafin aku ya, Ra,” katanya lagi setengah memohon.


“Walaupun kamu di sini, tapi Ibuku nggak ada yang nemenin. Aku anak satu-satunya, seharusnya aku ada di sana,” balasku frustasi.


Keenan menunduk. Matanya menyorotkan rasa bersalah yang amat dalam. Sekali lagi bibirnya terbuka dan berucap, “Maafin aku, Ra.”


Aku menghela napas pasrah. Aku memang tidak akan bisa menang dari Keenan. Ketulusannya benar-benar bisa membujukku yang sedang emosi. Sedetik kupejamkan mata, mengambil napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan. Siap untuk berbicara dengan kepala dingin.


“Oke. Apa yang sekarang bisa kita lakuin buat keluar dari sini?” tanyaku mulai tenang.


Kepalanya kembali terangkat. Sedikit ceria hadir di matanya meski rasa bersalah masih menguasai. “Mungkin kita bisa coba cara yang di sinetron-sinetron. Kita jatuhin kuncinya pakai jepit rambut atau peniti terus kita seret lewat bawah pintu. Gimana?”


Gantian aku yang menggeleng. “Lihat celah di bawah pintu,” tanganku menunjuk ke bagian bawah pintu, “cuma ada beda sekitar empat sampai enam milimeter. Itu kecil banget. Sementara kunci ini tebalnya ada sekitar satu sentimeter. Belum ditambah dengan kunci lain dan gantungannya yang diatur sepaket dengan kunci utamanya. Hampir nggak mungkin kita bisa dapetin kunci itu lewat  bawah pintu.”


Keenan mendesah kecewa, terpaksa setuju dengan penjelasanku yang memang masuk akal. Kami kembali melihat sekeliling, memeriksa apakah ada jendela atau ventilasi yang cukup besar untuk salah satu dari kami lewat. Sekaligus mencari saklar agar ruangan ini tidak terlalu gelap. Namun, nihil. Semua usaha kami tidak menghasilkan apapun. Ruangan ini tetap remang-remang dan terkunci. Jalan buntu.


“Mau apalagi? Kita cuma bisa menunggu sampai ada yang datang. Semoga ada yang sadar kunci ruangan ini masih tergantung di luar dan membukanya untuk kita,” jawabku pasrah. Lantas aku duduk bersandar pintu. Aku tidak mau menunggu ketidakpastian ini—yang entah sampai berapa lama—sambil berdiri. Itu pasti akan sangat melelahkan.


Keenan pun begitu. Ia menyusul duduk di sampingku, ikut bersandar ke pintu. Dalam posisi sedekat ini, aku bisa mencium bau parfumnya yang tidak berubah sejak dulu. Duduk berdampingan begini malah mengingatkanku pada kejadian dua tahun lalu, tepat ketika sekolah mengadakan Character Building Camp—atau yang biasa kami sebut CBC—dengan tujuan membentuk karakter kami. Kegiatan ini merupakan kegiatan rutin tahunan bagi siswa tahun kedua yang diadakan di Bantir, bumi perkemahan yang dikelola oleh para tentara militer.


Namun, yang tidak kusangka adalah Keenan memilih untuk duduk di tempat kosong di sebelahku. Aku yang biasanya tidak terlihat, sekarang malah dipandang penuh cemburu oleh hampir seluruh teman perempuan. Apalagi sepanjang jalan Keenan dan yang lain tetap menghibur seisi bis dengan canda dan tawa. Bahkan sampai setengah jalan seisi bis bernyanyi bersama-sama dengan dipimpin olehnya. Kami benar-benar ramai, seolah pamer pada kelas lain tentang keseruan yang ada bersama kami.


Saat bis mulai menanjak, kami baru diam. Prihatin seraya berdoa semoga bis ini kuat dan baik-baik saja hingga kami sampai di Bantir dengan selamat. Saat itulah Keenan mengajakku mengobrol, berbicara soal ini-itu dengan volume rendah agar tak terlalu menarik perhatian. Itu pertama kalinya kami berbicara panjang-lebar tanpa halangan apapun. Meski akhirnya tetap terpotong karena akhirnya kami sampai di bumi perkemahan.


Tiga hari dua malam tenaga kami dikuras habis. Para tentara militer yang memimpin kegiatan kami sama sekali tidak mengizinkan kami bersantai-santai. Walau begitu, kami tetap menikmati jalannya acara karena ada banyak hal yang baru pertama kami lakukan di sana. Selain itu, para tentara di sana tidak terlalu galak, cukup berbeda dari yang kupikirkan. Kebanyakan dari mereka malah konyol, membuat kami tertawa meski selalu mengakhiri hari dengan hukuman fisik seperti lari atau push up.


Sama seperti berangkat, kami menaiki bis pembagian yang sama. Hampir separuh penumpang langsung terlelap ketika pertama kali duduk di kursi bis. Perjalanan pulang tentu tidak akan semeriah perjalanan berangkat.


Seperti biasanya, aku duduk sendiri. Walau yang lain bertukar-tukar pasangan, aku tetap duduk sendiri di bagian tengah. Miris sebenarnya kalau kubayangkan lagi. Namun, tiba-tiba Keenan datang dan tetap memilih duduk di sampingku, bahkan ketika masih banyak pilihan kursi kosong baginya.


Seperempat jam pertama, masih ada beberapa orang yang bercerita ulang mengenai apa yang terjadi saat kegiatan CBC. Seperempat jam selanjutnya semua orang sudah tertidur, termasuk aku dan Keenan.


Sungguh, aku sebenarnya sudah jatuh terlelap kalau saja bis tidak mengerem mendadak yang menyebabkan keningku terantuk jendela. Sejenak mengaduh seraya mengusap kening, mataku beralih ke Keenan yang sepertinya tertidur nyenyak. Saking nyenyaknya sampai aku yakin dia bisa jatuh ke gang di tengah bis walau aku hanya mendorongnya dengan ujung jari telunjuk. Tanpa sadar aku tertawa. Bahkan di saat seperti ini aku masih bisa berpikiran iseng.


Sampai beberapa lama, aku masih saja memandanginya. Parasnya benar-benar sempurna, dan aku mulai merasa menyukainya. Ah, seandainya aku bisa mengenalnya lebih dekat, pikirku sayang. Saat ia menggeliat untuk menyamankan posisi, mataku langsung terpejam: berpura-pura tidur. Aku tidak mau tertangkap basah sedang memandanginya. Aku tidak mau dia berpikiran aneh tentangku dan akhirnya menjauh.


Baru saja aku berpikir demikian, Keenan malah menyandar padaku. Kepalanya nyaman menempel di kepalaku dan badannya menumpu berat ke arahku. Posisinya dekat sekali, sampai aku bisa mendengar deru napasnya yang teratur. Pun mencium bau parfumnya yang lumayan harum.


Saat itu, aku membeku. Badanku seketika kaku dan aku tidak sanggup bergerak yang macam-macam, takut membangunkannya. Aku masih ingat, jantungku berdebar tak karuan sampai aku takut dia bisa merasakan degupannya. Aku bahkan terus menutup mataku agar aku tidak harus mengubah posisinya yang sudah nyaman—ini kubuktikan karena posisi tidurnya sama sekali tidak berubah meski bis mengalami perjalanan yang tidak mulus.


Hampir satu jam posisiku begitu. Leherku yang sudah kaku kusandarkan pada bahunya, sudah kepalang tanggung jadi sekalian saja. Namun, baru sepuluh menit, dia akhirnya menggeliat lalu bangun. Badannya sudah duduk tegak, tetapi kepalaku masih menyandar bahunya. Hingga beberapa saat setelahnya, ia membangunkan aku lantas memberitahu kalau kami sudah hampir sampai.


Sepanjang sisa perjalanan itu, kami tidak berbicara apa-apa. Aku tahu, itu bukan hal spesial baginya. Mungkin setelah ini, hubungan kami akan tetap biasa saja, tidak akan ada banyak perubahan. Dan aku benar soal hal itu.


“Ra?” panggil Keenan tiba-tiba. Tangannya mengayun di depan wajahku untuk menemukan kembali fokusku. Aku merasa malu, rasanya aku selalu hilang di masa lalu ketika berdekatan dengannya. Buru-buru kutolehkan pandangku ke arahnya. “Aku boleh tanya sesuatu?” ulangnya lagi yang langsung kujawab dengan anggukan, “sebenarnya kamu tadi cari barang apa? Segitu pentingnya ya sampai harus ke sini di hari sepenting ini?”

__ADS_1


Baiklah, sepertinya aku harus memberi tahu sebagian kebenarannya. Ia memang pantas tahu, tapi tidak perlu semuanya ia ketahui.


“Nggak terlalu penting sebenarnya. Tapi aku cuma nggak bisa kehilangan barang itu. Itu satu-satunya kenangan paling kuat tentang seseorang di masa laluku,” jawabku santai.


“Mau aku bantu cari? Belum ketemu, kan? Bentuknya apa? Baju?” tanyanya bertubi-tubi.


Lihat, kan? Dia memang baik, selalu ingin membantu orang lain yang kesusahan. Dia memang pantas jadi anggota SLSY.


Namun, kepalaku menggeleng, menolaknya sambil tersenyum. Surat itu kutulis untuk Keenan, jadi Keenan adalah orang nomor satu yang tidak boleh tahu tentang surat itu. “Bukan, bukan baju. Barang itu cuma selembar sobekan kertas. Itu adalah surat yang kutulis buat orang yang kusuka, yang niatnya mau kuberikan waktu kelulusan di Tugu Muda. Tapi aku nggak cukup berani, jadi kusimpan surat itu sampai nanti nyaliku muncul.”


“Jadi, gitu. Kenangan yang susah dilupain, ya?”


Aku tertawa. Keenan yang sok tahu seperti ini malah menghiburku. “Bukan susah, tapi nggak bisa,” ralatku cerah.


“Mau kubantu?” tawarnya setelah diam beberapa detik, “lumayan kan buat mengisi waktu sekarang?”


“Nggak,” sahutku cepat, “emm, maksudku, mungkin surat itu nggak hilang di sini. Aku udah sejam di sini, tapi sama sekali nggak lihat ujungnya.”


Bisa kulihat Keenan sangsi, tapi mengangguk juga saat kubalas tatap matanya dengan penuh keyakinan. Ia mengalah. Kalau aku tidak malu, mungkin aku sudah kembali ke lamunan masa laluku. Namun, Keenan ada di sini, aku tidak boleh mengabaikannya terlalu lama. Dia bukan tipe orang yang bisa diabaikan hanya karena lamunan.


“Ngomong-ngomong, ini nggak terlalu menyakitkan.” Aku memulai topik, hal yang biasa dilakukannya. Sekalimatku itu menimbulkan kerutan di keningnya, penasaran aku berbicara soal apa. “Soal perceraian ibuku. Kamu benar, Tuhan yang menyelesaikannya untukku. Mereka akhirnya memutuskan berpisah, mungkin itu yang terbaik,” lanjutku.


Keenan tampak sedih. Bisa kulihat matanya menatapku dengan kasihan. Di antara semua orang, Keenan adalah orang terakhir yang kuharap bisa menatapku seperti itu. Aku lebih suka kalau ia bersikap biasa saja padaku. Persis seperti yang selalu dilakukannya ketika SMA. Apalagi di saat seperti ini.


“Kamu nggak perlu kasihan ke aku,” ucapku sambil tertawa, “aku akan sangat berterima kasih kalau kamu bersikap biasa aja atau membelikanku es krim setelah ini. Sejujurnya aku nggak pengen datang ke persidangan mereka siang ini. Aku sebenarnya masih takut membayangkan mereka benar-benar terpisah.”


Perlahan, meski samar, kulihat seulas senyum terbit di wajahnya. Tangannya mengelus ujung kepalaku dengan lembut. “Aku senang kamu bisa kuat. Kamu bisa tagih es krim ke aku  sebanyak apapun.”


Alisku terangkat ke atas. Rasa jail mulai menghampiriku. Aku nyaman diperlakukan dengan baik olehnya, tapi aku harus tahu kejelasan hubungannya dengan gadis lain di masa lalu. Aku memang bilang kalau aku sudah cukup puas dengan berteman dengannya, tapi tetap saja aku penasaran. Mungkin sekarang ia bisa bercerita balik padaku.


“Sebanyak apapun sepanjang tahun ini?” pancingku, “kayaknya bakal ada yang cemburu  nanti.”


Keenan malah tergelak, tertawa lebar. “Siapa yang mau cemburu?”


“Emm, Dinda mungkin? Jujur aja deh, dia pasti nggak tahu kalau kamu sering nemenin aku ke tempat itu untuk menenangkan diri kan?” terkaku disertai senyum lebar. Sesungguhnya ini menyakitkan menggoda orang yang kusukai dengan kekasihnya. Namun, harus kuteruskan agar seluruhnya jelas.


“Kau pasti bercanda! Mengapa dia harus tahu tentang kamu?” Keenan mengambil jeda, “kalian semua temanku. Dia nggak harus cemburu karena satu temanku yang lain.”


Aku tahu aku memang hanya bernilai teman baginya. Namun, Dinda? Aku sama sekali tidak menyangka Keenan akan berkata begitu.


“Sebenarnya dari dulu kamu udah salah paham. Aku memang dekat dengan Dinda, tapi nggak pernah punya rasa apapun padanya. Itu sebabnya aku selalu diam saat kamu tanya soal itu. Maaf ya, bukannya bermaksud pelit, tapi memang karena aku bingung harus bilang apa,” jelas Keenan panjang-lebar.


Aku semakin terperangah. Ternyata seperti itu? Bodoh sekali aku. Kenapa hal sepenting ini tidak kutanyakan sejak dulu? Malah kudengarkan apa kata orang.


“Orang-orang memang bilang begitu. Aku nggak pernah menyangkal karena kayaknya percuma. Jadi, ya udahlah,” tambahnya seolah tahu pikiranku.


“Wah, aku baru tahu sekarang. Sama sekali nggak kebayang kalau itu cuma gosip,” kataku menanggapi. Tanpa sadar kepalaku menggeleng heran.


“Ra, ceritain soal orang yang dulu kamu suka dong. Orang itu berarti temen SMA kita, kan? Siapa tahu aku bisa bantu kamu. Aku kenal banyak orang loh.”


Lagi, kepalaku menggeleng. Aku jelas tidak bisa memberitahunya. Ini seperti mengakui dosaku di hadapan orang yang kusiksa.


“Aku nggak bisa,” elakku cepat, “dia hanya masa laluku. Aku udah nggak bisa suka dia lagi sekarang. Aku sebenarnya udah menyerah dari dulu. Hehe.”


Keenan merengut. Aku malah tertawa. Kami terus berbicara soal apapun sampai bibir kami lelah tertawa. Terkunci dan menunggu bersamanya kurasa tidak terlalu buruk. Dibanding melihat Ayah bersama keluarga barunya di persidangan, aku lebih memilih terkunci di ruangan kecil ini. Aku mungkin sudah tidak punya orang berstatus ayah, tapi aku punya teman yang menyayangiku.


***

__ADS_1


 


 


__ADS_2