
Enam jam. Kami menunggu selama enam jam sampai akhirnya Kak Hedi membuka pintumya dari luar. Kak Hedi heboh bukan kepalang menemukan kami memekik kaget saat tersungkur ke dalam ketika pintu terbuka tiba-tiba. Jelas saja tersungkur, aku dan Keenan sudah tertidur di balik pintu karena kelelahan mengobrol tanpa henti.
Dari Kak Hedi, kejadian itu menyebar cepat ke seluruh anggota SLSY. Seperti pada umumnya gosip, kami tidak bisa membungkam kabar itu. Aku jadi mengerti apa yang dikatakan Keenan tempo hari terkait kabarnya dengan Dinda dulu. Jadi, seperti itu juga yang kami lakukan setelahnya, sampai tiga semester kemudian.
Meski tak jarang, setelah kabar yang menyebar itu, aku jadi sering menerima surat-surat kebencian. Surat-surat itu biasanya berasal dari satu-dua orang yang sama, yang dikirim terus menerus. Namun, Keenan mana tahu. Aku menyimpan semua ini darinya. Sama seperti perasaan yang terus kusimpan rapat-rapat.
Bukan perkara mudah untuk tetap bersikap biasa saja ketika perlakuan Keenan—ini menurutku—tidak seperti teman biasa. Dia bicara dengan lembut, nyaris tak pernah membentakku. Dia juga selalu ada hampir di semua waktu pentingku selama tiga semester ini. Ditambah kebiasaannya yang suka mengelus ujung kepalaku dan ajakannya tiap minggu untuk keluar bersama, entah ke bukit di belakang hotel itu atau ke tempat baru lainnya. Semua perlakuannya terasa begitu berbeda, bukan sekedar teman biasa. Selama tiga semester ini, semua orang yang kukenal bahkan iri padaku yang bisa sedekat itu dengan Keenan. Ini benar-benar membuatku frustasi.
Dalam masalah ini, anggap saja aku mengingkari janjiku. Faktanya aku selalu berpura-pura tidak menaruh rasa apa-apa pada Keenan. Sayang sekali aku harus berbohong terus menerus padanya. Namun, tidak bisa kupungkiri, ketakutan terbesarku adalah suatu saat nanti ia tahu segalanya tentang aku dan perasaanku, entah dariku atau orang lain.
Aku bertanya-tanya, apa jadinya bila Keenan tahu kebenarannya? Mungkin ia akan menolak bicara dan bertemu denganku. Mungkin ia akan marah padaku. Atau yang terburuk, ia tidak mau punya hubungan apa-apa lagi denganku. Aku tahu sekali Keenan. Dia paling benci dibohongi dan dimanfaatkan. Dan sialnya, sudut pandangnya bisa saja menilaiku demikian.
Hati kecilku berbisik, memintaku mengatakan saja yang sejujurnya pada Keenan. Dengan begitu aku bisa menepati janjiku dan merasa lega. Bahkan ada kemungkinan ia juga punya rasa yang sama denganku, menilik dari kebiasaannya selama tiga semester ini.
Namun, otakku berkata lain. Aku tidak bisa berbuat apa-apa sampai Keenan tahu sendiri. Itu mungkin akan lebih menyakitkan bagi Keenan bila mengetahuinya dari orang lain, tapi setidaknya Keenan tahu bahwa aku tulus karena tidak menuntut lebih. Lagi pula aku sudah berbohong, kalaupun sekarang aku jujur, kebohonganku yang lalu tetaplah sebuah kebohongan. Tidak bisa lagi diubah jadi apa-apa. Terlebih, bagaimana caraku menyampaikan ini semua? Datang padanya lalu berkata, “Hai, Keenan. Aku selama ini suka kamu loh,” sambil tersenyum lebar begitu saja? Konyol sekali aku. Jelas tidak bisa begitu.
Empat hari empat malam aku galau soal hal itu. Mungkin itu tidak penting bagi Keenan atau semua orang lainnya. Tetapi aku merasa perlu tahu kebenarannya. Aku tidak bisa terus menerka-nerka. Aku tidak bisa menyiksa diriku lebih lama lagi. Hubunganku dan Keenan harus kupertegas, sama seperti ketika aku memastikan hubungan Keenan dengan Dinda dulu.
“Tidak ada salahnya berbicara. Meski tidak berhasil, setidaknya kamu punya sebuah kepastian. Setidaknya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan setelah itu, entah bertahan atau pergi.”
“Jadi wanita itu memang susah, tapi harus selalu kuat, Nduk. Kita memang terikat budaya timur untuk tidak mengejar laki-laki, tapi bagi Ibu tidak ada salahnya menanyakan. Akan lebih baik bila kita tahu kebenarannya. Jadi, waktu ke depannya tidak akan terbuang untuk hal yang percuma.”
Itu dua nasihat Ibu. Menambah sebuah alasan bagiku untuk sungguh-sungguh menyampaikan tanya terbesarku.
Malam keempatku bimbang, akhirnya aku memutuskan. Aku berhak menanyakan perasaannya. Aku berhak mengetahui kebenarannya. Sekalipun aku tahu bila kejujuranku mungkin akan menyakitinya, tetapi itu sebanding dengan waktuku di masa depan. Kelihatannya aku memang egois. Namun, seperti kata Ibu, setidaknya aku punya sebuah kepastian.
Esok selesai kuliah, aku akan menanyakan langsung padanya. Sekali lagi kukatakan hal itu pada diriku sendiri sebelum tidur. Mengingatnya terus menerus agar aku tidak lupa.
Keesokannya, jadwal kuliahku berubah. Bu Amel menginginkan jam tambahan di sore hari untuk mengganti kelasnya yang dulu pernah kosong. Aku terpaksa menunda niatanku. Kalau malam nanti Keenan kosong dan mau bertemu denganku, aku berjanji akan segera bertanya padanya.
Meskipun satu kampus dan fakultas, tetapi aku memang jarang bertemu dengannya. Aku selalu sibuk dengan tugas kuliahku di kelas dan jarang ke kantin. Entah bagaimana dengannya. Sehingga aku hanya berkirim pesan dengannya selama di kampus. Aku bersyukur ia tidak pernah protes atau keberatan. Selain itu, bersamanya di kampus secara terang-terangan rasanya seperti memanggil mautku sendiri. Sama seperti saat SMA dulu, ia tetap jadi orang-orang populer yang tak akan pernah luput dari perhatian.
Tepat pukul 6 sore, Bu Amel mengakhiri kelasnya. Dua jam bersama dosen mengerikan itu benar-benar tantangan yang lumayan. Bukan masalah susahnya kuliah, tapi setiap Bu Amel yang mengajar dunia rasanya berjalan lebih lambat. Sampai-sampai kantuk selalu menghampiri kalau Bu Amel mulai membuka mulutnya—maksudku berbicara—di depan kelas.
Keluar kelas, langit sudah gelap. Gelap karena senja juga karena mendung. Cepat aku bergegas ke parkiran motor saat ponselku berdering: Ansa menelepon. Kuangkat deringnya dan kudengar apa maksud hatinya. Kecelakaan, ia mengabarkan sebuah kecelakaan. Ibunya kena musibah jatuh ditabrak orang. Penabraknya lari karena korbannya sudah tergeletak di jalanan dengan bersimbah darah, entah masih hidup atau tidak. Dan Ansa langsung menyusul ke rumah sakit begitu mendapat kabar itu.
Itu memang masalah Ansa. Aku sebenarnya tidak terlalu peduli. Namun, motor yang dipakai Ansa untuk menyusul ibunya adalah motorku. Sejak pagi ia sudah meminjamnya, saat aku baru sampai di parkiran, untuk keperluan survei lokasi donasi selanjutnya. Itu sebabnya ia menelepon dan memberi kabar padaku.
__ADS_1
Tanpa sadar, aku menghembuskan napas kecewa. Semesta rasanya tidak mendukungku. Bahkan sekarang pun, rintik hujan mulai turun. Terpaksa langkahku kembali ke lorong kampus, berteduh sambil berpikir bagaimana caraku bertemu Keenan dan mengatakan segalanya.
“Suka banget sih bengong?” sapa seseorang sambil menarik buku bawaanku tiba-tiba, “oh kamu belajar pake buku ini juga? Sama dong!”
Suara khas ini. Tanpa menoleh pun aku sudah tahu itu Keenan. Ia berjalan bersisian denganku, mengikutiku sampai lorong kampus.
“Kamu nggak takut di lorong kampus gelap-gelap begini sendirian?” tanyanya sambil berbisik. Tangannya menunjuk ke sepanjang lorong kampus yang memang remang dan sepi. Jelas saja, hanya ada beberapa kelas—termasuk kelasku—di seluruh kampus ini yang punya jadwal sampai sesore ini. “Untung kan aku masih nungguin kamu di sini,” pamer Keenan dengan senyum lebar.
“Kamu nungguin aku?” tanyaku heran, “kenapa?”
Bahunya mengedik, “Karena kayaknya aku punya feeling kamu nggak bisa pulang sendiri hari ini.”
Dahiku mengernyit heran. Mataku memicing, curiga darimana ia tahu hal itu. Sebelum aku sempat bertanya ia kembali menjelaskan kalau Ansa yang memberitahu dan memintanya mengantarku pulang. Ansa memang sudah berusaha menghubungiku saat kelas, tetapi aku tidak menyangka bahwa ia akan menghubungi Keenan juga ketika aku tak kunjung menjawab panggilannya.
Aku tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya. Lagi pula aku memang butuh waktu berdua saja dengan Keenan. Sekarang malah rasanya Tuhan sendiri yang membantuku.
Kami berjalan ke lorong yang menuju parkiran mobil. Kebetulan sekali Keenan membawa mobilnya hari ini. Ia juga tidak keberatan menggantikan aku membawa dua buku paketku yang lumayan tebal sepanjang jalan ke parkir mobil. Sesekali ia bahkan sengaja menakut-nakutiku dengan menceritakan kisah hantu dan menunjuk sebarang tempat yang menurutnya bisa jadi rumah hantu.
“Ra, kita makan mi rebus dulu ya sebelum pulang? Aku lapar, hehe,” izin Keenan ketika mesin mobil mulai menderu. Kepalaku otomatis mengangguk karena rasanya aku butuh lebih banyak waktu untuk memulai apa yang akan kusampaikan. Sekaligus mengisi perutku yang memang sudah protes minta diisi. Kelas tambahan Bu Amel benar-benar menguras tenaga.
Baru sepuluh menit melaju, Keenan sudah meminggirkan mobilnya. Warung sederhana di pinggir jalan ini memang sudah biasa jadi langganan kami. Meskipun hanya mi instan rebus biasa, tapi rasanya sungguh luar biasa. Apalagi dimakan ketika suasana dingin karena hujan begini.
Baiklah, aku akan mulai mengatakannya sekarang. Kupikir tidak ada waktu yang lebih tepat dibanding sekarang.
“Keenan, aku mau bicara,” mulaiku. Mataku kokoh menatapnya, mengamati ekspresinya ketika empat kataku keluar. Namun, segera menunduk ketika ia menatap balik.
“Aku tahu,” balasnya santai, “tapi jangan sekarang. Kita makan dulu. Nanti saja saat di jalan. Setuju?”
Seulas senyumnya lalu terbit. Auranya sudah berbeda. Seolah ia jadi seseorang yang tidak biasa aku kenal. Aku mati kutu. Terpaksa kusetujui permintaannya dan makan dalam diam. Ini pertama kalinya setelah tiga semester ini, aku dan ia saling diam.
Aku benar-benar menyiapkan mentalku setelah dua mangkok mi tandas di hadapan kami. Kami bahkan tidak bertengkar untuk menentukan siapa yang membayar pesanan. Ia tanpa bicara langsung membayar dan beranjak ke mobil. Sungguh, ini benar-benar mendebarkan.
Kenapa rasanya ia jauh sekali?
Setelah aku selesai mengaitkan sabuk keselamatan, mobil mulai berjalan. Kutata ulang seluruh kalimat yang ingin kukeluarkan. Sepertinya aku harus super-duper hati-hati agar tidak membuatnya salah paham.
“Aku—”
“Ini punyamu,” ucapnya memotong suaraku. Tangannya menyodorkan selembar kertas terlipat. Sobekan yang rasanya familiar sekali di otakku.
Mataku melebar saat tanganku membuka lipatannya. Itu surat yang kucari selama satu setengah tahun ini. Bagaimana mungkin surat ini malah dikembalikan oleh Keenan? Aku yakin sekali ia sudah membaca surat ini. Pantas saja ia aneh hari ini. Aku bertanya-tanya darimana ia bisa dapat surat ini. Namun, suaraku rasanya enggan terdengar.
__ADS_1
“Aku sudah menemukannya sejak dulu, sebelum kau mencari-cari surat itu.” Keenan memulai penjelasannya, “Maaf karena berbohong padamu sejak dulu.”
Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Ini tidak seperti yang kubayangkan. Seharusnya Keenan yang terdiam karena terkejut, tapi ternyata aku yang begitu. Rencana-Nya memang tak pernah bisa kutebak.
“Waktu kita terkunci di ruang penyimpanan dulu, sebenarnya itu kusengaja. Ibumu memintaku menahanmu agar tidak datang. Dia tahu persidangan itu akan sangat menyakitimu,” lanjutnya lagi. Sesekali Keenan memalingkan fokusnya padaku, memastikan aku masih mendengarkan setiap kalimatnya. “Aku juga tahu tokohku dalam ceritamu itu awalnya hanya sebuah alasan. Dan maaf, hari ini Ansa juga berbohong karena aku.”
Ini sungguh di luar ekspektasiku. Sungguh tidak menyangka kalau Ibu akan melakukan hal itu. Ah, pantas saja waktu itu Ibu tidak berkomentar apapun saat aku pulang malam harinya. Ibu bukan hanya mengerti, tetapi juga tahu segalanya.
Pikirku berputar. Kalau Keenan sudah tahu semuanya sejak dulu, lalu apa artinya tiga semester ini? Sebenarnya siapa yang membohongi siapa?
“Kenapa kamu nggak pernah bilang apa-apa ke aku?” tanyaku parau. Sekarang aku jadi ingin menuntut penjelasan. Peduli setan dengan tujuan awalku menemuinya hari ini.
“Karena kamu nggak pernah tanya. Karena kupikir kamu bisa bertahan dan terus menjadi temanku. Kamu bilang kamu menyerah, jadi bukannya nggak bakal ada yang berubah meski kamu tahu semua ini?” jawab Keenan ringan, “yang terbaik selalu bisa bertahan sampai akhir.”
Aku tertegun. Jadi, ia memang sengaja mempermainkan aku. Keenan memang berniat memberitahuku saat aku sudah tidak tahan. Bukankah ini tampak seperti momen perpisahan yang disengaja?
“Baiklah. Jadi, apa maumu?” sergahku cepat. Berlama-lama membahas hal ini membuatku jengah juga. Mungkinkah dulu Dinda juga mengalami hal seperti ini? Ngomong-ngomong, kenapa rasanya rumahku jauh sekali dari kampus?
“Ada sebagian hal yang nggak bisa berubah. Jadi, mari kita berteman saja.”
Obrolan kami usai. Keenan mengakhirinya dengan senyuman puas sementara bibirku terkunci rapat. Dadaku rasanya sesak mau meledak. Ini seperti aku ditolak sebelum aku mengatakan apa-apa padanya.
Tidak sampai dua menit, mobil berhenti. Kami sudah sampai di depan rumahku. Tanpa mengatakan apa-apa aku langsung turun, tidak peduli pada Keenan yang mau meminjamkan payung untukku. Tanpa sadar kakiku berlari. Air mataku sudah merembes, bersatu dengan tetes hujan yang membasahi badanku.
Mobilnya kembali melaju ketika aku menutup gerbang rumahku. Namun, kakiku rasanya kaku. Air mataku terus jatuh sampai aku tidak bisa membedakan tubuhku yang menggigil dingin atau kecewa setengah mati. Mungkin kesedihan seperti ini yang dirasakan Ibu ketika Ayah mengakui perselingkuhannya dengan tenang dan senang.
Aku tidak bisa masuk ke rumah sekarang. Ibu pasti akan sangat cemas melihat kondisiku yang menyedihkan seperti ini. Sudah kepalang tanggung, jadi akan kutumpahkan segala rasaku bersama hujan yang semakin menderas. Akan kutata ulang semuanya dengan baik sampai aku lupa kalau aku pernah terpuruk seperti ini.
Baru lima menit aku diam dan menangis di pintu gerbang. Hingga akhirnya pintu rumah terbuka dan sosok Ibu keluar sambil membawa payung. Bergegas ia menghampiriku dengan ekspresi cemas dan iba. Lihat saja, Ibu bahkan kasihan padaku. Aku benar soal membuatnya khawatir.
Perlahan ia memelukku, tidak peduli dengan bajunya yang akan basah. Ia tidak mengatakan apa-apa, tapi aku tahu ia sangat mengerti apa yang kurasa. Sebentar ia mengangkat bahuku, mengajakku berpindah ke dalam rumah yang lebih hangat. Rumah yang selalu bisa memangkas rasa sedih Ibu dan aku. Aku bersyukur masih punya Ibu sebagai tempat berpulangku.
Persis seperti janjiku, aku menata ulang perasaanku saat pertama melangkah ke dalam rumah. Sama ketika melihat pertandingan basket terakhirnya dulu, aku menyerah. Sekali lagi aku menyerah, tepat di saat aku memiliki keberanian menyatakan rasa. Seterusnya, bukankah aku harus selalu menyerah seperti ini?
Tuhan memang Maha Membolak-balikkan Hati.
***
__ADS_1