Jatuh Hati

Jatuh Hati
30. Pernikahan


__ADS_3

HAPPY READING :D


*****


Di kediaman Brasmana sudah terlihat sangat ramai walaupun ini malam hari. Ya! Sekarang adalah waktu pernikahan Jevan dan Maura yang akan berlangsung. Nuansa di ruangan ini berwarna putih seperti permintaan pengantin wanita agar terkesan elegant dan suci. Semua wanita di sini juga memakai dress berwarna putih dan para lelakinya memakai kemeja putih yang di sampiri dengan jas hitam. Semua yang datang hanya sebatas kerabat mereka karena Maura tidak banyak orang yang tahu tentang pernikahannya karena cukup keluarga besar dan para sahabat mereka yang tahu.


Saat semua sudah duduk rapih mengelilingi meja tempat ijab Kabul, penghulu mulai memimpin akad nikah ini. Rizal dan sandi sudah duduk di belakang putranya bersama aulia juga sedangkan rusdi duduk di sebelah penghulu sebagai wali nikah anaknya.


Kemudian kata-kata sakral itu pun terucap dan di balas dengan lantang oleh pengantin laki-laki. Jevan menghela nafas lega setelah menyelesaikan semuanya. Akhirnya Maura menjadi miliknya seutuhnya tapi ia akan menepati janjinya sebagai orang dewasa kepada ayah dan juga papanya. Terlihat mama Maura dan Jevan yang masuk ke dalam kamar dengan terburu-buru tapi masih terlihat anggun dengan langkahnya. Jevan masih duduk menanti pacar abadinya keluar dari kamar itu.


"Jevan sekarang kamu sudah jadi seorang suami maka dari itu perbanyaklah bersabar dan dengarkan dari istri kamu di saat ada masalah atau pun tidak karena kita perlu kompromi dengan istri, kamu tau kan sama kalimat ini 'di balik pria yang sukses ada wanita yang kuat' maka dari itu kita perlu bertukar pendapat sama wanita kita" Ujar Rizal yang membuat Jevan mengangguk dan tersenyum.


"Iya yah aku akan mempraktekan apa yang ayah saran kan.." Ujar Jevan mantap tapi ada yang janggal dari kata-katanya.


"Ayah? Sejak kapan kamu manggil papa dengan sebutan ayah ?" heran Rizal dengan panggilan dari Jevan.


"Sejak Maura jadi istri aku pa eh ayah maksudnya hehe Jevan lagi belajar manggil papa dengan sebutan ayah, karena Maura kan panggil papa dengan ayah" terang Jevan sedangkan para ayah yang mendengarkan penuturannya hanya tersenyum bahagia.


"Assalamualaikum.." suara itu mengejutkan semuanya dan semua pasang mata ini tertuju pada wanita cantik yang baru saja keluar dari persembunyiannya.


Jevan tersenyum melihat wanitanya sedang berusaha duduk di sampingnya yang di bantu oleh kedua ibunya. Semuanya juga tampak terpesona akan kecantikan wanita ini yang dari tadi sengaja di sembunyikan oleh kedua ibu ini.


"Waalaikumsalam" setelah tersadar dari pesona Maura semuanya menjawab salam dari Maura.


"Assalamualaikum suami ku" Ujar Maura dengan senyuman yang terpasang di wajahnya.


"Waalaikumsalam istri ku" Ujar Jevan.


Maura mencium tangan Jevan di depan seluruh saksi yang ada dan sesudahnya Jevan mencium kening istrinya dengan tulus juga di depan seluruh saksi. Setelah itu mereka berhadapan kepada orang tua mereka untuk mencium tangan dan berterima kasih karena tanpa orang tua mereka, mereka tidak ada di dunia.


Setelah akad nikah berlangsung para tamu di persilahkan untuk memakan makanan yang sudah di hidangkan. Jevan dan Maura juga sudah memutuskan tidak ada resepsi pernikahan tapi hanya ada pesta kecil-kecilan yang tidak sungguhan kecil bagi mereka karena orang tua mereka tidak akan bisa menerima hal itu. Pesta itu berlangsung setelah akad nikah selesai. Pengantin baru pun ikut makan bersama tamu.


"Gila lo! Selama seminggu ini kita kira kalian bener-bener putus tapi lo nikah dan gue baru tahu sekarang karena nyokap lo yang ngundang, tega amat lo!" Ujar Zoya yang kesal pada sahabatnya yang satu ini.


Mereka sudah berbaikan semenjak Maura harus memberi jarak pada Jevan sebelum pernikahan dan setelah itu Maura memilih libur ke rumahnya di Jakarta jadi kedua sahabatnya mengira kalau mereka berdua sudah memutuskan untuk benar-benar berpisah sampai pernikahan pun berlangsung, sahabatnya tak mengira jika Mauralah yang menjadi pengantin wanitanya.


"Tuh dia nih yang ngelarang, omelin aja nih dia" Ujar Maura yang menunjuk Jevan yang hanya bisa tersenyum simpul.


"Lo kenapa Jev? Tumben muka lo gitu, apalagi ini hari pernikahan lo bray .." Yuza memukul lengan Jevan pelan.


'Tau tuh" timpal Tio dan para wanita hanya mengangguk menunggu jawaban dari Jevan.


"Hue mau jawab tapi yang lain gak boleh denger karena ini urusan lelaki" Ujar Jevan yang sebenarnya ingin mengusir para wanita ini dengan halus.


"Oh gitu ya udah.." Maura menarik Zoya dan Acha lalu membisikan sesuatu ketelinga sahabatnya setelah itu mereka bertiga tersenyum.


"Oke kalau gitu kita pergi ke sana aja.." Ujar Maura.


"Mau ngapain jauh banget sih sayang.." Ujar Jevan yang tak setuju dengan arah yang di tunjukan istrinya, dimana ada cowok-cowok yang sempat menginginkan Maura.


"Tapi kamu mau bicara tentang lelaki sama dua sahabat kamu itu, aku juga mau ngobrolin tentang wanita di sana wleee.." Maura menjulurkan lidahnya lalu pergi meninggalkan suaminya dan sahabatnya itu.


"hlHahaha rasain lo dapet lawan lo.." Ujar Tio dan Yuza seraya menertawakan Jevan.


"Huh ganjen!" gumam Jevan yang melihat Maura berdekatan dengan Ilham dan Aksa yang juga masing-masing membawa kekasihnya tapi tetap saja hati Jevan panas bila mengingat dua orang itu yang juga pernah mengharapkan Maura sebagai kekasih. Jevan pun memilih bergabung dengan yang lain sampai Andin pun berada di hadapannya.


"Kak selamat ya" Ujar Andin dengan senyumnya yang di paksakan.


"Sama-sama" Ujar Jevan yang juga tersenyum.


"Kalau aku gak bisa jadi pacar atau pendamping kakak, apa aku masih bisa jadi adik kakak kayak dulu?" Ujar Andin.


Jevan tersenyum lalu mengacak rambut Andin " ya dek tapi lain kali gak boleh kayak gitu dan jaga lah wibawa di depan semua orang, oke?" Ujar Jevan dan Andin tersenyum karena ia telah mendapatkan kembali sosok kakak dari Jevan, tak ada lagi niat untuk menjadikan Jevan pendampingnya karena ia membutuhkan Jevan hanya sebagai seorang kakak untuk melindungi dirinya dan menyayanginya bukan untuk mencintainya dan selalu ada di sisinya di setiap saat.

__ADS_1


"Kak aku gabung sama yang lain dulu ya kak, sekali lagi selamat ya atas pernikahan kakak semoga langgeng..." Ujar Andin tulus dan Jevan hanya mengangguk dengan senyuman yang tak hilang dari wajahnya.


"Gila lu Jev pantes aja Maura lebih milih Aksa daripada lo karena lo lebih asik sama Andin dari pada Maura yang udah berstatus istri lo di hari pertama.." Ujar Yuza sambil tertawa.


"Enak aja lo! Jelas gue milih Maura lah! Si Andin tuh cuma minta maaf dan kelihatannya dia tulus dan dia juga gak mau lagi ganggu gue dan lo liat sendiri dia lebih milih gabung sama teman-temannya dari pada gue kan, eh tadi lo bilang apa ? Maura milih Aksa ? Mana dia?" Jevan mengedarkan pandangannya.


"Itu tuh liat..." Yuza menunjukan wanita yang memakai gaun pengantinnya sedang bergandengan cowok berjas abu-abu.


"Dia baru gandeng Aksa pas ngeliat lo sama Andin dan berarti dia cemburu jadi kesimpulan dari gue, Maura bisa juga yaa cinta sama orang kayak lo" Ujar Tio yang ikut nimbrung lalu pergi lagi takut akan amukan Jevan.


"Sialan lo ja, awas aja lo!!!" kesal Jevan yang telah panas dengan Maura dan malah tambah panas karena ucapan Tio.


"Hahaha lo adem aja soalnya dia lagi panas jadi jangan sama-sama panas okey?" kini Marcell yang ikut nimbrung lalu pergi menuju tempat adiknya berada.


Jevan melirik Marcell yang sempat menepuk pundaknya. "Heran gue, pada cosplay jadi guru. Berasa murid gue di ajarin mulu! Ada lagi gak yang mau cosplay ini?" Ujar Jevan yang sudah pasrah dengan semua orang yang ikut nimbrung di tengah kecemburuannya.


"Ada lagi kok, gue belum.. tenang aja gue gak akan menggurui lo tapi gue cuma mau bilang... rasain lo gak dapet jatah malam pertama hahaha.." Ujar Yuza yang juga ikut pergi.


"Sahabat gak ada akhlak! Kalau emang jatah gue gak bakal dapet ampe wisuda. Anjirlah!! Udah gak dapet jatah, di tinggal bini lagi. Nasiiib~" Ujar Jevan dengan tangis yang di buat-buat dan Jevan pergi menuju di mana bundanya berada karena di sana lebih baik dari pada berkeliaran di antara tamu apalagi bertemu para gebetannya yang cantik dan Jevan malah takut siap nikah langsung cerai.


****


2 bulan kemudian . . .


Bisik-bisik tetangga pun terdengar #eh bukan tetangga tapi para mahasiswa dan mahasiswi yang mengagmi satu pasangan yang baru saja menikah ini. Mereka tambah tampan dan juga cantik, Jevan semakin giat untuk menyelesaikan skripsinya yang belum kelar. Begitupun Maura yang di sibuki oleh organisasi yang baru ia masuki beberapa bulan lalu jadi mereka jarang bertemu di kampus sedangkan di rumah mereka terus meluangkan waktu untuk bersenda gurau dan berpacaran karena sudah halal.


"Sayang kamu bisa anter aku gak ke tempat kak Aksa..." ucap Maura yang tampak memasukkan buku-bukunya ke dalam tas dengan cepat lalu kembali masuk ke kamar mengambil barang yang tertinggal sedangkan yang di ajak bicara sedang mengetik sesuatu dengan laptopnya di atas kasurnya.


"Aku gak bisa sayang. Emangnya kamu mau kemana sih sampai harus di anter biasanya juga sendiri kan.." Ujar Jevan tanpa mendengar kemana Maura pergi.


"Oh yaudah gak papa kok, aku cuma mau test aja.." Ujar Maura yang segera mengambil kunci mobil, jaket dan juga topi kesayangannya yang di belikan Jevan kemarin sewaktu mereka berlibur ke bali.


"Test apaan sih sayang..?" Tanya Jevan yang masih fokus dengan kegiatannya.


"kemana ? dan kenapa aku mesti marah..?" Ujar Jevan yang terlihat tenang dan bingung secara bersamaan atas ucapan Maura.


"Gak papa sih, gak harus marah juga. Lagian kalian juga temen, Aku mau ke tempat kak Aksa. Aku berangkat dulu ya." Ujar Maura setelah Jevan melepaskan tangannya dan cepat-cepat keluar sebelum Jevan tersadar.


5 menit kemudian saat Maura baru saja di lift. Ya mereka tinggal di appartement yang di belikan oleh orang tua Jevan karena Jevan ingin membeli rumah dengan uangnya sendiri. Maura terus tersenyum melihat ponselnya yang terus bergetar karena Jevan menelfonnya tapi Maura mencoba mengabaikannya karena jika mengangkatnya maka Maura tak jadi ke rumah Aksa dan semua tugasnya tidak akan ia selesaikan.


Ting!


Bunyi lift pun berdenting tandanya Maura sudah sampai ke lantai tujuan. Baru saja satu langkah Maura mengeluarkan kakinya keluar, seseorang yang baru masuk ke dalam lift itu menariknya lagi ke dalam lift.


"Eh siapa lo main nar– Loh kamu .. aku kira siapa, kenapa sayang?" Tanya Maura lembut saat mengetahui orang itu adalah Jevan.


Jevan yang nafasnya masih terengah-engah karena harus melalui tangga darurat untuk mengejar Maura yang menggunakan lift untuk turun. Jevan baru sadar setelah berapa langkah Maura memasuki lift kalau Maura menyebutkan nama Aksa. Jevan masih belum bisa membiarkan Maura berdekatan dengan Aksa karena menurut kabar yang di dengar Jevan kalau Aksa sedang di tinggal tunangannya ke Swedia untuk sekolah. Jadi jaga-jaga perlu dong apalagi cinta Jevan ke Maura tuh udah mentok bahkan Jevan rela nunggu Maura sampai wisuda tapi kalau sebatas yang ia lakukan saat pacaran mah lewat #hehe yang kepo??


Sampai di dalam appartement Jevan masih diam dan tak melepaskan pegangan tangannya. Jevan meraih air minum untuk ia minum dengan sebelah tangannya sedangkan Maura hanya bisa menunggu sebuah kata yang terucap dari mulut suaminya.


"Mau ngapain ke rumah dia?" introgasi pun di mulai, Maura yang duduk di hadapan Jevan menatap Jevan tanpa rasa takut.


"Mau ngerjain tugas kan aku sama dia satu organisasi" sahut Maura santai tanpa ia tahu kalau amarah Jevan sedang bergejolak di dadanya tapi dapat ia tahan.


"Kamu satu organisasi sama dia ? organisasi apa ?" Tanya Jevan lagi.


"MAPALA" sahut Mauraq lagi yang kini sedikit takut karena Maura tahu kebenarannya.


"MAPALA ? dan aku gak tahu kalau kamu juga ikut ke organisasi itu ? kenapa kamu nanya tugas itu ke Aksa padahal aku juga ikut di sana dan malah aku adalah ketua dari organisasi itu dan aku juga yang sedang menyusun acara untuk kegiatan kalian lancar di tahun ini" Jevan masih menahan amarahnya yang ingin meledak karena rasa sayangnya lebih besar dari amarahnya.


"Maaf kan aku gak tahu, aku juga baru masuk dan kak Marcell yang setujuin, aku kira dia udah bilang sama kamu tapi taunya enggak, mana aku tahu kalau jadinya gini. Kalau gak boleh aku keluar aja deh kan kamu ketuanya, terserah sama kamu aja deh lagian kan sekarang kamu suami aku yang tempat ku meminta izin" Ujar Maura dengan kepala merunduk.


Jevan tak bisa berkata apa-apa lagi jika Maura sudah seperti ini, dia lebih baik diam dan mengalah atau Maura akan pergi karena sakit hati. Jevan masuk ke dalam kamarnya dan meninggalkan Maura yang di luar sendiri.

__ADS_1


Maura merasa bersalah dan dia harus merendahkan sedikit egonya untuk membujuk Jevan agar tak marah padanya. Maura tau kalau Jevan tidak akan marah lagi jika Maura bersikap lembut dan menuruti perkataannya. Satu jurus Maura yang tak pernah kalah dari amukan Jevan adalah bersikap manis layaknya kucing saat di belai majikannya.


"Sayang..." Maura memanggil lembut Jevan yang berada di dalam kamar.


Jevan sedang menyibukan dirinya dengan laptopnya dan membalas panggilan Maura dengan gumaman. Maura terlihat jengkel karena sekarang ia tahu kalau Jevan benar-benar kesal dengan kelakuannya yang terus memancing kecemburuan Jevan.


"Jevan maafin aku karena gak minta izin kamu ya. Maaf..." Ujar Maura yang sudah duduk di samping Jevan.


"Iya jangan di ulangin lagi ya" Ujar Jevan tanpa memandang Maura dan Maura tahu jika Jevan masih marah padanya.


Maura menyender di pundak Jevan kemudian berkata "Kamu beneran udah maafin aku"


"Udah, aku lagi ngerjain tugas nih tapi katanya kamu mau ketempat Aksa" Ujar Jevan dan kali ini Maura kesal dengan sifat cemburu Jevan yang tak bisa ia duga.


Maura beranjak dari tempatnya dan keluar dari kamar meninggalkan Jevan fokus dengan tugasnya sendiri.


Jevanpun ikut kesal, niatnya mau ngambek eh malah semakin kesal karena istrinya malah mendengarkan ucapannya yang sedang terbakar cemburu. Jevan melihat keluar ruangan dan tidak mendapati Maura. Akhirnya ia pergi mencari Maura walaupun ke rumah Aksa sekali pun.


Sudah satu jam Jevan berkeliling kota bandung tapi ia belum juga menemukan Maura dimana pun, bahkan di rumah Aksa sekalipun. Jevan kembali pulang dengan wajah lesu dan merebahkan tubuhnya yang lelah di atas kasur ternyamannya itu.


"Jevan~ Kamu marah banget ya sama aku? Aku minta maaf pake banget deh. Jangan gituuu." Entah dari mana Maura keluar tiba-tiba ia sudah berada di atas tubuh Jevan dengan kedua kakinya mengapit tubuh Jevan tepat di atas ranjang mereka.


Jevan yang terkejut karena kedatangan Maura berusaha menggeser posisinya untuk menyenderkan punggungnya ke kepala ranjang sedangkan Maura tetap pada posisinya yang menghadap suaminya. Jevan sempat kehilangan akal jika Maura mengeluarkan sifat nakalnya sedikit demi sedikit di hadapannya karena ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menahan dirinya sampai Maura wisuda dan ia berharap semua akan terasa cepat.


"Sayang kamu maafin aku kan.." Maura menghadapkan wajahnya di ceruk leher milik Jevan dan bersandar ke dada bidang Jevan berharap Jevan tak lagi marah padanya.


"Kata siapa aku marah sama kamu ?? aku gak marah kok" Jevan mengelus rambut Maura dengan tangan kirinya dan tangan kanannya melingkar di pinggang Maura *udahsahgakpapadong.


"Tadi kamu cuma jawab hmm doang pas aku minta maaf dan keluar ninggalin aku entah kemana" Ujar Maura layaknya anak kecil.


"Aku tadi cemburu karena kamu milih Aksa daripada aku walaupun dia sahabat aku sekali pun dan aku cuma ngambek doang, aku pergi tadi karena aku nyariin kamu karena tadinya aku yang nyuruh kamu ke tempat Aksa jadi aku cemas kalau kamu beneran ke tempat Aksa" terang Jevan yang benar-benar lembut.


"Aku minta maaf ya??? Maafin ya? Ya? Ya?" Ujar Maura yang seperti anak kecil, menatap Jevan dengan binar-binar di matanya.


"Iya si bawel kesayangan ku.." Jevan gemas melihat Maura, ia mencubit pelan pipi istrinya lalu entah kenapa Jevan terdiam sambil memandangi bibir ranum milik istrinya ini. Jevan ******* habis bibir yang sudah menjadi candunya, itu miliknya sekarang dan sampai kapanpun akan menjadi miliknya.


Saat ciuman itu menjadi ******* dan berakhir panas, Jevan melepaskannya dengan nafas mereka yang bersahutan karena kehabisan nafas akibat ciuman panas itu.


"hhh...hhh maaf ya sayang aku khilaf.." Ujar Jevan yang sudah merebahkan Maura di atas ranjang dengan kancing baju yang sedikit terbuka.


"No problem aku juga kelepasan hhh..hhh" Ujar Maura yang juga sedang menetralkan nafasnya.


"hufftt.. aku gak sabar nunggu kamu wisuda.." Ujar Jevan dengan suara serak seperti menahan gairah.


"Kalau kamu gak sanggup nahan, aku gak masalah.." Ujar Maura dengan posisinya masih berbaring di atas ranjang.


Jevan kembali mendekat ke arah Maura, ia kembali mencium istrinya dengan tangannya yang aktif memakaikan kembali kancing baju Maura. Lalu Jevan kembali melepaskannya.


"Aku masih bisa tahan karena belum waktunya... CUP" Jevan mencium kening Maura penuh kasih.


"Makasih sayang" Ujar (Maura) yang memeluk Jevan dan Jevan membalasnya dengan pelukan penuh cintanya.


"Iya sayang, semuanya ku lakukan karena aku mencintaimu, benar-benar mencintaimu" Ujar Jevan yang memberi kebahagiaan tersendiri untuk Maura karena telah mendapatkan suami yang benar-benar mencintainya walau pernikahan mereka belum terjadi apa-apa tapi kisah-kisah istimewa sudah banyak yang mereka lalui.


.


.


.


.


TBC

__ADS_1


__ADS_2