
C
E
K
I
D
O
T
********
"Cieeeeee yang udah di akuin sebagai pacar dan adik kandung nih" Sejak pulang dari kampus tadi Maura terus di goda oleh kedua sahabatnya yang tak pernah letih.
"Duuuhhh kalian kenapa sih ? pada salah minum obat ya??" Ujar Maura yang mengulurkan tangannya untuk mengecek suhu tubuh kedua sahabatnya.
"Pantesan... kalian panas tandanya GILA" Ujar Maura dan langsung berlari ke dalam kamarnya.
"Maura!!!!!!!!!!!!!!! Keluar gak lo?!?" Ujar zoya yang tak terima tapi Maura sudah terlebih dahulu mengunci pintu kamarnya.
TING TONG
Bell apart mereka berbunyi dan acha segera membuka pintu untuk melihat siapa tamu yang datang di sore seperti ini. Sedangkan zoya sudah stand by menunggu Maura keluar di depan pintu kamar Maura.
"Eh Jevan ? mau cari Maura ya ?" Ujar acha saat melihat ternyata Jevan lah yang menjadi tamu sore hari ini pemirsa!.
"Iya, ada nggak?" Tanya Jevan.
"Dia lagi sakit semenjak dia ketemu andin tadi dan dia gak mau keluar dari kamarnya Jev..." Dusta acha yang sebenarnya ingin mengerjai Maura melalui Jevan.
"Sakit? Terus dia gak papakan?" Jevan terlihat panic dan itu cukup lucu untuk mengerjai Maura.
"Gak tau Jev, dia gak mau keluar gimana kita tau??? Lo aja yang coba masuk gimana? Yuk..." Acha langsung menarik Jevan untuk masuk dan mengode Zoya.
"Psst.." Kode Acha untuk Zoya yang mendapat tanggapan positif dari Zoya.
"Apaan?" Tanya zoya tanpa mengeluarkan suara.
"Kita kerjain Maura" Bisik Acha tanpa sepengetahuan Jevan.
"Maura... buka pintunya!! Jevan cari nih" Ujar zoya dengan lembut.
"Kalau itu beneran Jevan suruh aja pulang karena pasti dia sibuk bujuk adiknya!!" Ujar Maura yang sedikit teriak dari dalam kamarnya.
"tMTuh kan ? Gimana tuh Jev.." Ujar Acha yang semakin membuat Jevan panik.
"Sayang... buka pintunya sayang, aku di sini dan gak akan bujuk Andin kok, kan akunya sayang sama kamu..." Ujar Jevan lembut agar Maura mau membuka pintunya.
"Itu beneran suara Jevan atau tipuan kalian doang?!?" pekik Maura yang masih tidak mau membuka pintu kamarnya.
"Sayang ini beneran aku... buka pintunya ya??? Ayo dong sayang" Ujar Jevan dan kali ini benar-benar membuat Maura segera membuka pintunya.
CEKLEK
"Jevan?"
"AAAAAAAAAAAAAA!!!!"
"Eh kalian apaan sih teriak-teriak!!! Aku kan Cuma pake masker doang!!!" kesal Maura dan menutup kembali pintu kamarnya.
Kenapa bisa seperti itu? Tadi saat Jevan ingin melihat Maura di balik pintunya, Maura sedang menggunakan masker wajahnya tapi itu membuat Jevan terkejut bukan main.
"Sayang maaf ya ? aku kira apaan tadi.. aku gak tau sayang, buka ya" Ujar Jevan yang sangat lembut membuat kedua sahabatnya cengo akan sikap Jevan yang berbeda bahkan sangat manis saat bersama Maura.
"Iya aku gak marah kok" Ujar Maura saat ia sudah membuka pintunya dan membersihkan wajahnya.
"Tapi kenapa tadi di tutup lagi???" Tanya Jevan yang takut akan kemarahan Maura yang berpengaruh dengan hubungan mereka.
"Tadi aku mau bersihin wajah aku karena tadi kamu kaget kan???" Ujar Maura yang di balas anggukan oleh Jevan.
__ADS_1
"Oh ya, kamu mau ngapain ke sini ?" Tanya Maura yang sedikit bingung.
"Tadinya aku mau ngajak kamu makan malam di rumah aku tapi kata Acha kamu sakit, kamu udah makan? Duh sayang jangan kamu pikirin deh tentang si Andin itu ya? Nanti yang ada kamu sakit sendiri jadinya" Ujar Jevan yang menyiratkan ke khawatiran.
"Siapa bilang aku sakit cuma karena Andin?!?" Ujar Maura yang tak terima.
"Acha" jawaban singkat Jevan membuat Maura menatap Acha dengan tatapan membunuh sedangkan yang di tatap hanya cengar-cengir gak jelas.
"Peace..." Ujar acha yang menunjukan 2 jarinya membentuk huruf V dan segera pergi seraya menarik Zoya yang juga terlibat.
"Lenapa sih?" Tanya Jevan yang bingung.
"Tadi Acha cuma mau ngerjain aku jadi dia bohongin kamu, aku gak papa kok" Ujar Maura menenangkan Jevan yang terlihat sangat khawatir.
"Yakin gak papa atau kamu Cuma buat aku nggak khawatir ? iya kan?" Ujar Jevan yang masih belum percaya.
"Kamu gak percaya sama aku?" Maura malah menjawabnya dengan pertanyaan yang membuat Jevan terdiam.
"M-maksud aku bukan gitu, aku percaya sama kamu tapi aku Cuma khawatir aja sama kamu." Jelas Jevan yang membuat Maura tersenyum sangat manis dan hal itu membuat hati Jevan menghangat.
"Makasih" Ujar Maura.
"Untuk?" Jevan mengernyit bingung.
"Untuk perhatian kamu" Ujar Maura dan kini Jevan yang tersenyum.
"Sama-sama dan itu sudah kewajiban ku sayang" Jevan mengelus puncak kepala Maura sambil tersenyum.
"Oh ya tadi kamu mau ajak kamu kemana ?" tanya Maura kembali ke topik awal.
"Aku mau ajak kamu makan malam di rumah aku, kamu bisa kan?" Tanya Jevan.
"Bisa kok, jam berapa ? biar aku siap-siap" Ujar Maura.
"Pakai yang simple aja kok dan gak usah ribet-ribet" Ujar Jevan sambil tersenyum karena antusias pacarnya.
"Emang siapa yang mau ribet-ribet sih, aku Cuma nanya jam berapa biar aku bisa siap-siap dan ngatur waktu karena nanti ada film favorit aku di tv sebentar lagi" Ujar Maura yang membuat Jevan malu sendiri.
"Oke deh" Ujar Maura dan tersenyum menatap Jevan.
"Ya udah aku pulang dulu ya" pamit Jevan.
"Emang mau kemana buru-buru amat" Ujar Maura yang sebenarnya hanya sekedar basa-basi.
"Aku mau jalan sama teman dulu dari pada di omelin nanti kalau gak kasih kabar" Ujar Jevan hati-hati takut pacarnya neting.
"Oh ya udah hati-hati ya, jangan lupa tanya sama teman kamu, kapan nikah kamu sama dia biar bisa di kasih kabar tiap detik" Ujar Maura sambil tersenyum dan itu membuat Jevan jadi yakin kalau pacarnya ini sedang cemburu.
"Kok gitu? Kamu marah?" Tanya Jevan.
"Gitu kenapa ? marah ? enggak kok, lagian untuk apa aku marah? Terus marah sama siapa?" Tanya Maura yang hanya membuat Jevan bingung untuk menjawabnya.
"Marah sama aku karena aku jalan sama teman" Ujar Jevan seperti anak kecil.
"Ngapain marahin kamu, toh kamu cuma jalan sama teman doang, kan kalau aku jalan sama teman,kamu gak akan marah. " Ujar Maura yang kembali tersenyum. Senyuman yang sangat horror untuk Jevan.
"Mm iya ya... jadi aku boleh pergi kan ?" Tanya Jevan yang minta izin kepada Maura.
"Boleh kok dari tadi malah.. ya udah cepet gih sana... nanti teman kamu curiga lagi kalau kamu selingkuh.." Ujar Maura yang lagi-lagi membuat Jevan jadi ragu untuk pergi.
"Aku di sini aja deh" Ujar Jevan dan membuat Maura bingung.
"Loh kenapa di sini? Nanti kalau teman kamu nyariin gimana?" Tanya Maura dengan sungguh-sungguh.
"Woi kalian nih kenapa sih ? lo marah sama Jevan Maura?" zoya dan acha kini ikut bergabung karena sudah muak mendengarkan percakapan mereka.
"Apaan sih lo ca, gue gak marah kok" Ujar Maura.
"Terus kenapa lo ngomong gitu ? seakan-akan lo cemburu" Ujar zoya dan Jevan juga menatap Maura menunggu jawabannya.
"Oh gue ngomong gitu karena takut teman Jevan nyariin, gue orangnya nyantai kok 'kan Cuma teman' karena gue juga punya temen kayak gitu makanya gue bilang gitu sama Jevan dan bentar lagi gue mau jalan sam dia— Eh bentar, kayaknya gue salah bicara ya ???" Ujar Maura panjang lebar dan di akhirnya ia baru ingat kalau Jevan kini pacar yang posesif.
"Tunggu dulu! Kamu bilang teman kamu kayak gitu terus kamu mau jalan ? siapa ?" Tanya Jevan penuh selidik.
__ADS_1
"Mmm ak-akuu emang mau jalan karena aku mau nobar" Ujar Maura pelan dan menunduk takut salah bicara lagi jika ia memandang mata Jevan.
"Maura jawab aku, sama siapa?" Tanya Jevan datar.
"Sama teman" jawab Maura yang masih tertunduk.
"Iya siapa nama temannya?" geram Jevan.
"Namanya..." Maura sangat takut mengucapkan nama temannya.
"Maura..." Maura semakin takut saat namanya di panggil Jevan walau kali ini lembut dari yang tadi.
"A-aku sama teman SD aku Jev.." Ujar Maura sambil melirik wajah Jevan lalu kembali merunduk saat mengetahui Jevan menatapnya tajam.
Maura melirik ke arah kedua sahabatnya yang hanya terdiam dan juga memasang wajah takut di sampingnya. Akhirnya Maura berusaha memberanikan diri untuk menatap kedua sahabatnya agar di beri pertolongan.
"Oh yang di maksud Maura itu kita sama yang lain Jev, rame kok..." Ujar zoya tapi saat Jevan menatapnya tajam, zoya ikut menunduk dan menyenggol Acha dengan siku tangannya.
"Kamu mau bohongin aku ? iya ? dan lo zoya! Lo tau kan kalau gue marah kayak gimana ?!?" Tanya Jevan kepada Maura dan membentak zoya.
"Huh? Kok jadi gue. Gue kan cuma— kayaknya gue harus pergi dan gak mau ikut campur lagi, ca ayo..." Zoya menyeret Acha untuk ke kamar mereka dan meninggalkan Maura sendiri.
Maura memaki temannya dalam hati karena telah meninggalkannya dan Maura sekarang benar-benar takut kepada Jevan dan kini ia juga tidak punya topeng lagi untuk berpura-pura berani. Semuanya sudah musnah saat Jevan menyatakan dengan tulus kalau ia ingin bersama Maura.
"Aku... hiks... aku pergi sama.. hiks..." Entah kenapa tiba-tiba hatinya bergetar ketakutan sekali dan tanpa sadar Maura sudah terisak.
Jevan yang melihat itu segera meredam emosinya, menarik nafasnya dalam-dalam dan segera membimbing Maura untuk duduk terlebih dahulu.
"Maaf kalau aku udah buat kamu ketakutan, aku cuma mau kamu jujur aja" Ujar Jevan lembut tapi Maura masih takut untuk menatapnya.
"Aku pergi sama Ilham hiks.. hiks... ilham yang bareng Andin...hiks... waktu di party...hiks..." kejujuran Maura selalu mengalir saat ia dalam keadaan menangis dan dia sudah menguatkan mentalnya jika Jevan akan memarahinya.
"Ilham? ya udah jangan nangis lagi ya? Aku gak suka ngeliat kamu nangis.." Ujar Jevan yang menangkupkan wajah Maura dengan kedua tangannya, menghapus air mata Maura dengan ibu jarinya lalu mengecup kening Maura dengan cukup lama.
"Aku minta maaf kalau udah buat kamu khawatir dan kesal Jev.." Ujar Maura dengan tangis yang mulai mereda.
"iya aku maafin tapi aku gak –"
TING TONG
Bunyi bell itu menghentikan ucapan Jevan, Maura yang sepertinya tak ada tanda-tanda untuk membukakan pintu hanya duduk saja dan Jevan lah yang membukakan pintu untuk tamu di apart kekasihnya.
"Jevan? Kok lo bisa di sini?" Tanya tamu itu yang tak lain adalah Ilham dengan pakaiannya yang terlihat rapih dan harum parfumnya yang dapat tercium oleh Jevan walau jarak jauh sekali pun.
"Gue pacar Maura jadi gak ada salahnya main ke tempat tinggal pacar sendiri, lo sendiri ngapain ke sini?!?" Tanya sinis Jevan.
"Lo pacar Maura?" Tanya ilham seakan tak percaya.
"Lo gak inget sama apa yang gue bilang di party!!" Ujar Jevan agar ilham mengingat semua kata-kata Jevan.
"iya gue tahu tapi..."
"Tapi apa? Lo perlu bukti ?" Tanya Jevan yang menyela ucapan Jevan.
"Iya gue butuh bukti dan setelah lo kasih bukti maka gue gak akan ganggu Maura lagi" Ujar ilham yang masih berdiri di depan pintu tanpa di persilahkan masuk. Jevan sendiri ke dalam untuk mencari bukti bahwa ia pacar Maura.
"Buktinya Maura" Ujar Jevan yang berdiri bersama Maura saat baru muncul dari dalam.
"Maura ? lo maksa dia buat ngaku jadi pacar lo? Itu tipuan murahan" Ujar ilham meremehkan.
"Sayang kayaknya aku gak punya cara lain..." Ujar Jevan yang langsung menyatukan dua bibir mereka dan Maura membalasnya hal itu membuat ilham merasa kalah dan harus mundur. Tak lama kemudian ilham pergi dengan sendirinya dan Jevan belum melepaskannya.
"WOI! Dasar lo!! Main makan adek gue aja!!" Marcell yang melihat kejadian itu segera memisahkan Maura dengan Jevan. Mereka masih berada di depan pintu tanpa rasa malu. Saat Maura tersadar wajahnya langsung merona malu dan segera masuk ke dalam tanpa mempersilahkan kedua pria di depan pintu tadi untuk masuk.
"Gue cuma mau buktiin aja ke ilham.." Ujar Jevan sambil cengengesan dan Marcell hanya menggelengkan kepalanya lalu ikut masuk ke dalam apart adiknya.
.
.
.
TBC
__ADS_1