
HAPPY READING :D
****
"Zoya..!! Acha...!! Kalian di jemput ?" Tanya Maura yang bersiap untuk pergi ke kampus.
"Iya ....." jawab Zoya dan Acha malas, mereka pun masih berada di kasur nyaman.
"Kalian gak ngampus?" Tanya Maura yang sudah siap dengan kaus kebesarannya dan juga celana jeans kesayangannya. Maura menatap ke dua sahabatnya yang masih di balik selimut.
"Kita gak ada kelas pagi Maura, kita ada kelas siang nanti" Ujar Zoya yang heran melihat Maura sudah siap.
"Ya udah gue pergi dulu" Ujar Maura yang melangkah pergi
"Tunggu dulu ! lo mau pergi kemana ? kitakan gak ada kelas pagi ini terus nanti kalau Jevan tanya" Ujar acha menahan Maura untuk tidak pergi.
"Ada deh kepo aja, bilang aja sama Jevan gue lagi nyari pengeran kuda hitam" Ujar Maura dan segera pergi sebelum serangan banyak pertanyaan dari sahabat-sahabatnya membuatnya kembali diam di dalam kamar.
Belum lama Maura pergi, bell apartnya kembali berbunyi dan dengan langkah malas Zoya dan Acha keluar untuk melihat siapa yang bertamu pagi-pagi seperti ini.
"Jevan???" Zoya terlihat kaget karena ia mengira kalau Maura pergi dengan Jevan dan ucapan Maura tadi hanya gurauan saja tapi itu semua salah.
"Maura mana? Belum bangun?" Tanya Jevan yang tak menghiraukan wajah shock dan muka bantal kedua sahabat pacarnya ini.
"ulUdah bangun cuma dia..."
"Dia kenapa?" Jevan mulai merasakan hal yang tak enak.
"Dia udah pergi" jawab Acha karena sudah lelah menunggu zoya menjawab pertanyaan Jevan.
"Kemana? Sama siapa?" Tanya Jevan lagi.
"Dia gak bilang mau kemana dan sama siapanya tapi tadi dia Cuma bilang kalau Jevan nyariin dia 'bilang aja sama Jevan gue lagi nyari pengeran kuda hitam' gitu katanya" Ujar Acha dan ekspresi Jevan berubah seketika.
Jevan langsung pergi tanpa ada kata atau salam perpisahan untuk kedua sahabat pacarnya. Zoya dan acha hanya menatap aneh kepergian Jevan dan mereka kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
Sedangkan Maura di sini sedang menikmati udara pagi yang segar dan di temani satu novel yang selalu menjadi favoritnya 'Shadow and Bone' itu adalah judulnya. Cerita tentang grisha cantik dan teman sejati yang akan menjadi cinta sejati itu semua impian Maura. Maura mengalihkan pandangannya sebentar dari novelnya menuju ponselnya yang bergetar.
"Jevan?" keningnya berkerut dan sepertinya Maura baru mengingat sesuatu.
'bilang aja sama Jevan gue lagi nyari pengeran kuda hitam' kata-katanya yang ia ucapkan kepada sahabatnya.
"Apa Jevan tadi ke apart terus zoya sama acha bilang gitu?"gumam Maura.
__ADS_1
Kilasan masa lalu melintas di fikirannya. Saat masa kanak-kanaknya.
'hai plincess cilik, aku adalah pangelan kuda hitam yang akan melebut kamu dali pangelan kuda putih jika dia menyakiti mu' Ujar pemuda kecil itu sambil menggenggam tangan gadis kecil itu dan menjauhkan gadis kecil itu dengan pemuda kecil lainnya yang di sebut pangeran kuda putih.
'Kamu tidak akan bisa melebutnya kalena dia akan aku jaga selamanya' Ujar pangeram kuda putih dan princess cilik yang tak lain Maura kecil itu pun tertawa pelan.
Maura terdiam dan kembali mengingat kalau Jevan selalu membenci pangeran kuda hitam walau itu hanya masa lalu mereka. Maura segera mengangkat telfon dari Jevan namun panggilan itu sudah terlanjur berakhir. Tubuh Maura bergidik. Maura bertanya-tanya apa yang akan terjadi setelah ini. Dengan panik Maura segera menelfon Jevan dan Jevan mengangkatnya.
"Dimana?" Tanya Jevan dari sebrang sana.
"Aku di taman kota da–" kata-katanya terputus karena Jevan mematikannya lalu Maura berusaha menelfon kembali dan pria itu menolak panggilan darinya. Mulut Maura menganga lebar. Maura mencoba menelpon sekali lagi, namun pria itu langsung menekan tombol reject. How rude! Semarah itukah dia? Batin Maura kesal. Ia tidak mempercayai sikap Jevan yang kekanak-kanakan.
"Maura?!?" seseorang memanggil namanya. Maura segera membalikan tubuhnya dan mencari sumber suara yang memanggil namanya dan Maura sudah bisa menebak siapa pemilik suara itu. Wajah Jevan terlihat kusut, pria itu yang seharusnya berpakaian rapih dengan rambut yang pasti selalu di tata rapih kini sudah acak-acakan. Ekspresi Jevan lelah dan berantakan. Jevan berjalan mendekat ke arah Maura. Taman kota pagi ini selalu sepi dan hanya ada beberapa orang yang melintas terburu-buru namun di sini hanya mereka berdua yang terlihat santai.
Tatapan Jevan kini menatap Maura garang, mulutnya mengatup keras. Nyali Maura langsung menciut, rasa kesalnya hilang begitu saja. Maura tersenyum meminta pengampunan dari Jevan.
"Hai Jevan, kenapa?" Tanya Maura berusaha untuk membuat suasana yang tegang ini mencair.
Jevan tidak menjawab apa-apa, tatapannya seakan berkata 'you are in big trouble'. Jevan menarik lengan Maura sehingga tubuh Maura membentur tubuhnya pelan. Maura terkejut, namun memutuskan untuk tidak bergerak. Jevan memeluknya sangat erat, begitu erat sampai rasanya tubuh mereka menyatu. Jevan bahkan tidak membiarkan tubuh Maura bergerak untuk membalas pelukannya. Kedua tangan Maura terkunci rapat di depan dadanya. Jevan melingkarkan tangan kanannya di punggung Maura sementara tangan kirinya menekan lembut kepala Maura ke dadanya. Jevan menurunkan wajahnya dan berbisik di telinga Maura.
"Apa kamu mendengarnya?"
Maura mengangguk, jantung Jevan berdetak lantang dan sangat terdengar di telinganya. Cepat dan menggebu-gebu. Mengingatkan Maura pada jantungnya sendiri setiap Jevan memperlakukannya seperti ini.
Maura berusaha melepaskan pelukan Jevan sebelum menjawab. Maura tidak mampu bicara dalam posisi seperti ini, suaranya pasti akan terdengar memalukan karena gugup. Namun, semakin Maura mendorong dada Jevan maka semakin Jevan mempererat pelukannya. Maura bisa mendengar Jevan tertawa pelan penuh kemenangan.
"I'm not gonna let you go. Ini hukuman untuk kamu karena telah membuat ku terbakar cemburu" Ujar Jevan yang tersenyum lebar.
Maura sempat takut Jevan akan berbuat macam-macam. Namun, Jevan hanya mempererat pelukannya mengistirahatkan dagunya di puncak kepala Maura. Maura tahu ia bisa mempercayai pacarnya ini.
"Aku cuma ingin baca buku dan menikmati pagi ini menghirup udara segar karena hari-hari sebelumnya aku sudah di sibuki banyak tugas yang membuat ku stress" Maura berharap Jevan menerima alasannya. Jevan menghela nafas lega namun ia masih terlihat kesal.
"Aku bilang gitu sama Acha cuma bercanda dan aku gak tahu kalau dia beneran bilang sama kamu, maaf banget ya" lanjut Maura dengan sungguh-sungguh.
Jevan mengecup puncak kepala Maura " I'm sorry too. Kamu memang butuh refresing."
Maura membeku, ciuman singkat dari Jevan membuat tubuhnya memanas. Maura mencoba mendorong tubuh Jevan menjauh, kepala pria itu menggeleng. "I'm not done." Ujarnya.
Maura cemberut, ia membenamkan kepalanya dalam-dalam ke dada Jevan, berharap tekanan dari wajahnya membuat dada Jevan kesakitan. Jevan malah tertawa geli. Dan mengusap rambut Maura yang halus.
"Udah selesai bacanya ?" Tanya Jevan saat ia sudah melonggarkan pelukannya dan menatap wajah kekasihnya yang teduh.
"Udah tapi aku Cuma pengen baca ulang aja" Ujar Maura yang tersenyum.
__ADS_1
"Aku minta untuk selalu kabarin aku dan jangan lu–"
"Jevaaaaan" rengek Maura. "Kamu jangan kayak gitu dong..."
"Jangan gitu?!?"
"Jangan overreacting Jevaaaan."
"Aku ? Overreacting?"
"Kamu matiin telfon aku pas kamu dengar tentang pangeran kuda hitam dari sahabat aku!"
"Aku takut Maura! Aku takut kalau dia benar-benar merebut kamu." Ujar Jevan seraya mengendalikan emosi.
"Maafin aku ya ? kamu gak perlu takut lagi, aku aja udah lupa siapa dia yang sebenarnya" Ujar Maura tapi itu belum menghilangkan rasa takut Jevan.
"Pangeran kuda hitam itu Aksa, apa mungkin dia masih ingat sama kamu makanya waktu aku belum tahu siapa kamu dia belain kamu terus" Ujar Jevan terang-terangan dan itu hanya membuat Maura tersenyum bahagia.
"Kak Aksa ? Dia kan sahabat kamu kalaupun dia ingat sama aku, aku pastikan hubungan kami hanya sebatas kakak dan adik, bukan seperti aku dan kamu" Ujar Maura yang cukup menghibur hati Jevan yang sangat takut kehilangan princess ciliknya.
Maura sangat senang mendapatkan pacar yang sangat mencintainya seperti Jevan tapi jika cintanya berlebihan maka itu akan berdampak buruk untuk dirinya. Jevan menghela nafas, ia mengira bahwa Maura marah padanya.
"Maaf aku berlebihan. Maura kamu tau kan aku paling gak suka kamu nyebut pangeran kuda hitam? Aku bukannya gak suka tapi aku terlalu takut aja." Ujar Jevan dengan menatap Maura penuh kelembutan.
"Jevan, I'm not mad..." kini Maura merasa bersalah.
"Udah sarapan?" Maura menggeleng.
"Ayo kita sarapan dulu.." Jevan menarik Maura menuju tukang bubur yang jualan di dekat taman kota itu.
"Kamu bawa mobil?" Tanya Jevan lagi dan Maura menggeleng.
"Aku ke sini tadi jalan, kan deket sama apartement aku.." sahut Maura dan Jevan hanya mengangguk.
"Bareng sama aku aja" Ujar Jevan final dan tak bisa di sanggah lagi.
Mereka menghabiskan sarapan mereka lalu pergi ke taman kota lagi untuk menikmati udara bersih di sana walaupun tidak benar-benar bersih karena polusi kendaraan pasti juga mampir ke taman itu.
.
.
.
__ADS_1
TBC