
C
E
K
I
D
O
T
*****
"Aku sering takut tau kalau berdua in kaya gini sama kamu" Ujar Maura langsung tanpa malu-malu lagi agar Jevan mengerti kenapa Maura selalu gugup di depannya.
"Takut kenapa kan aku gak makan orang.." Ujar Jevan sambil meletakan minuman yang baru saja ia buat di meja yang ada di ruangan ini.
Ya! Mereka sedang berada di Appartement Maura sambil menonton movie marathon. Jevan mengerti jika Maura masih tidak ingin berbicara dengan sahabatnya makanya Jevan membawa Maura terpisah dari sahabatnya yang sekarang mungkin berada di base.
"Tapi kamu suka gigit..." Maura tersenyum kecil mengingat pertama kali first kissnya di ambil oleh Jevan.
"Kan gigitnya lembut, kamu juga suka kok.." Jevan membela dirinya lalu meletakan kepalanya di bahu Maura sambil menyandar ke sofa.
"Enak aja! Aku gak suka wleee, itu kan kamu yang maksa dan main nyosor aja!" Maura menjulurkan lidahnya dan mendorong kepala Jevan yang tertumpu di bahunya.
"Hahaha yang penting itu jadi moment indah kita kan?" Jevan menaik turunkan alis matanya sambil memperlihatkan deretan gigi putihnya yang rapih.
"Iya deh... iya" Ujar Maura mengalah karena ia tak akan mungkin menang jika berdebat dengan Jevan. Jika semakin ia melawan maka makin banyak kata yang Jevan ucapkan dan setiap kata itu akan membuat Maura merona malu.
"Hahaha cieee tumben ngalah" Jevan mencolek pipi Maura dan Maura hanya tersenyum tipis.
"Sayang kamu laper gak ?" Tanya Maura dan Jevan menatap Maura heran.
"Kenapa?" Tanya Maura yang tak mengerti mengapa Jevan menatapnya begitu.
"Kamu manggil aku apa?" Ujar Jevan yang lagi-lagi membuat Maura memerah.
"Oh jadi aku gak boleh aku manggil kamu sayang, ya udah aku manggil sayangnya sama kak Aksa aja" Ujar Maura dan bangkit dari sofa yang tadi ia duduki.
"Eh enak aja, gak papa kok tapi kan jarang aja kamu manggil aku gitu" Ujar Jevan yang tak lagi marah jika Maura menyebut nama Aksa karena Jevan tahu kalau Aksa sudah bertunangan dengan kekasih lamanya.
"Ya ya ya terserah deh, jadi kamu laper beneran nggak?" Tanya Maura seraya megikat rambutnya asal.
"Iya nih laper dari tadi ngemil mulu, lagian udah malam... sekalian makan malam" Ujar Jevan dan mengikuti Maura kemana pun Maura melangkah.
"Ya udah kamu tunggu di depan aja, aku masak dulu untuk makan malam kita" Ujar Maura tapi tak di dengarkan oleh Jevan.
__ADS_1
Maura mengambil alat-alat dan bahan-bahan yang akan ia masak lalu meletakannya di dapur. Ia mengupas, mencuci dan memotong semua bahannya dengan cepat. Saat terlihat Maura sedang menunggu masakannya matang, Jevan mendekat untuk mengganggu Maura. Jevan memeluk Maura dari belakang.
"Iih apaan sih bis, aku kan lagi masak... tunggu di luar aja deh.." Ujar Maura namun Jevan belum melepaskan.
"Males.. bosen nungguin kamu sendiri, enakan di sini lebih fresh..." Ujar Jevan sambil menghirup dalam-dalam aroma tubuh Maura di ceruk leher Maura.
"Duhh Jevan... geli ih... sana nanti gosong loooh" Ujar Maura namun Jevan terus melakukan aktivitasnya.
Maura mematikan kompor saat ia rasa masakannya sudah matang walau ia sedikit terganggu karena adanya mahluk yang menempel di tubuhnya ibarat anak monyet dengan induknya.
"EHEM!!" deheman keras dari belakang mereka membuat mereka terdiam dan Jevan menghentikan aktivitasnya mengganggu Maura. Maura juga terdiam dan susah rasanya untuk menoleh agar melihat ke sumber suara itu walau ia tahu siapa yang mempunya suara khas itu. Jevan pun begitu karena posisinya dengan Maura begitu intim.
"Jadi ini yang kalian lakukan selama di bandung tanpa pengawasan papa!!!" Maura terpaku saat mendengar suara yang sudah lama tak ia dengar.
Suara itu milik ayah Maura. Jevan pun ikut terdiam dan perlahan mereka membalikan tubuh mereka dengan kompak dengan keringat dingin yang sudah bercucuran dari kening mereka.
"Papa..."lirih Maura dan takut menatap papanya.
"Paa ini gak seperti yang papa fikirkan kok pa.." Ujar Maura yang berjalan mendekat ke arah papanya.
"Rizal kamu lihat sendiri bagaimana putra mu ini..." Ujar papa Maura dan munculah sesosok lagi lelaki paruh baya dari belakangnya serta para wanitanya yang mengekori keduanya.
"Kayaknya papa berubah pikiran" Ujar Rizal membuat Jevan menatap ayahnya was-was, mamanya dan mama Maura juga menatapnya sangar suasananya mendukung untuk mereka terlihat sebagai narapidana yang tertangkap.
"Paaa..." baru saja Jevan ingin menjelaskan tapi papanya –Rizal– sudah lebih dulu berbicara.
"Minggu depan kalian akan menikah..." putus Rizal yang sudah berdiskusi lebih dulu dengan Andre. Papa Maura.
"Gak ada cerita, setelah menikah kalian masih bisa kuliah dan kami pun sudah tak perlu waspada lagi akan perbuatan kalian yang tak terduga" Ujar papa Maura.
Maura menghembuskan nafas kesalnya dengan wajah yang di tekuk Maura kembali ke dapur dan memindahkan masakannya tadi ke meja makan.
"Jadi Maura lagi masak tadi" Ujar Sandi –mama Jevan– setelah ketegangan itu telah mendapatkan keputusan.
"Iya bun..." sahut Maura dengan lesu.
"Udah dong jangan lesu gitu, kami melakukan ini demi kebaikan kalian" Ujar Aulia kepada anak bungsu yang sangat ia sayangi.
"Tapi maaaa... masih banyak yang ingin Maura lakukan" sanggah Maura namun mamanya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Sayang... memang masih banyak yang ingin kamu lakukan dan itu bersama Jevan dan kami takut kalian melakukan hal yang tidak sewajarnya sebelum nikah" Sandi memberi pengertian pada Maura karena memang ia menginginkan secepatnya menjadikan Maura menjadi istri putranya.
"Iya deh bun, Maura setuju tapi bunda, mama, papa, dan ayah harus bilang sama Jevan untuk gak ngapa-apain aku sebelum wisuda..." pinta Maura dan kedua ibu ini tersenyum.
"Baiklah nanti mama bilang sama papa kamu" Ujar aulia.
"Ya udah yuk, kita udah di tungguin di meja makan.." Ujar sandi sambil membawa nasi dan yang tertinggal.
"Nih dia lama banget para ibu-ibu sama calon ibu" goda Rizal pada princess cilik mereka.
__ADS_1
"Papa... ayah jahat banget tuh pa..." rengek (
Maura pada papanya dan semuanya tertawa tak terlebih Jevan yang menatap kekasihnya penuh makna.
Mereka menghabiskan makan malam dengan aman dan kembali melanjutkan perbincangan hangat di ruangan yang di sediakan Maura untuk menonton di appartement nya ini. Maura tersenyum melihat dua keluarga yang bersatu, saling melemparkan tawa dan mengusulkan saran apapun itu. Ia bersyukur bisa kembali bertemu dengan ayah rizalnya dan Maura juga bersyukur pangeran kuda putih tetap menjadi takdirnya.
"Mmm paaa masalah pernikahan itu, emangnya gak kecepetan paa..." Ujar Maura karena hatinya bisa belum tenang jika tidak di putuskan dengan benar-benar final.
"Bagi papa seminggu itu lama banget dan hari ini serta besok kalian boleh menghabiskan waktu kalian tapi sesudah itu kalian di pingit dan gak boleh saling berhubungan sampai acara pernikahan..." terang Andre, Jevan yang mendengar itu sempat shock karena ia paling tak bisa jauh dari Maura.
"Tapi paa.. kenapa harus di pi–"
"Gak ada sanggahan lagi! Kalian pilih mana, di nikahin seminggu lagi dan harus menjalani pingitan atau di pisahkan sampai kalian wisuda" kini Sandi angkat bicara, ia tahu anaknya paling tidak bisa berjauhan dengan Maura jadi sandi sengaja agar Jevan menerimanya tanpa protes.
"Maura pilih di pisahin aja bun" ucapan Maura membuat semuanya terkejut.
"Apaan? Enggak! Jevan gak mau! Jevan milih di nikahin minggu besok kalau kamu milih itu aku juga punya dua pilihan untuk kamu, yang pertama di nikahin seminggu lagi atau di nikahin sekarang!" Para orang tua hanya tersenyum melihat perjuangan Jevan yang tak ingin berpisah dengan Maura sedangkan Maura malah memilih untuk berpisah.
"Eh kok gitu sih,,, ya deh aku ikut kamu aja" ucapan Maura membuat orang tua Jevan mengulum senyum dan mengangguk-anggukan kepalanya, ia benar-benar menyukai Maura, apalagi saat melihat sikap penurut Maura pada Jevan membuat mereka semakin menyukai Maura menjadi menantu.
"Pokoknya kalian harus menikah secepatnya" entah kenapa para ibu begitu kompak mengatakan itu sedangkan kedua anaknya hanya terdiam cengo melihat ibu-ibu ini.
"Mmm ya udah kita pulang dulu ya~ Jevan, Maura dan kalian gak boleh ngelakui yang enggak-enggak sebelum waktunya..." Ujar Andre mengingatkan dan para orang tua bangkit dari duduknya, Jevan dan Maura pun mengantar orang tua mereka sampai parkiran.
"Iya tenang aja paa.." Ujar Jevan dan Maura hanya memandang Jevan kesal.
"Tapi nyicil-nyicil dikit boleh kok Jev.." bisik aulia di telinga Jevan yang juga dapat di dengar oleh Maura.
"Ih mama apaan sih?!?"kesal Maura pada mamanya yang seakan menyuruhnya masuk ke dalam lubang buaya.
"Kami pulang dulu ya sayang... ingat-ingat pesan kami nak.." pekik Sandi yang sudah berada di dalam mobil.
"Ya bunda... hati-hati ya.." Ujar Maura sambil melambaikan tangan sambil menunggu mereka menghilang di antara jalan itu.
Saat orang tuanya sudah pulang, Maura menatap Jevan yang tersenyum penuh makna. Maura hanya melayangkan tinjunya saat Jevan mendekat ke arahnya.
"Tapi kata mama kamu boleh nyicil kok yang.." Ujar Jevan manja.
"Enak aja! Enggak sampai aku wisuda!" Ujar Maura dan meninggalkan Jevan yang cekikikan geli melihat kekasihnya itu antara marah dan grogi jika berhadapan dengan dirinya.
Mungkin inilah takdir mereka yang nikah muda dan entah hubungan rumah tangga yang bagaimana yang akan mereka bangun nanti tapi yang pasti mereka membangun hubungan rumah tangga tidak menggunakan batu bata, semen atau pasir karena itu bahan-bahan membangun rumah mereka bukannya rumah tangga. #hehe salam damai dari saya sambil mengucapkan selamat pada pasangan Maura Jevan yang seminggu lagi akan menikah.
.
.
.
.
__ADS_1
TBC